• Tidak ada hasil yang ditemukan

ADAT PERNIKAHAN ENREKANG

Dalam dokumen Makassar, 09 Juni 2019 Penulis (Halaman 135-140)

Oleh: Harianto Pembahasan

Salah satu adat yang kita angkat adalah budaya Perkawinan Suku Sasak/Lombok di Desa Bunde menjelang berlangsungnya prosesi pernikahan yang sangat unik dan sarat akan makna adalah adat yang terdapat dalam Budaya Suku Sasak. Dalam budaya Suku Sasak, pernikahan dilaksanakan dengan cara menculik si calon istri oleh calon suami yang disebut dengan istilah kawin culik. Tapi tentu, penculikan calon istri oleh calon suami ini dilakukan berdasarkan aturan main yang yang telah disepakati bersama melalui lembaga adat. Mungkin inilah satu-satunya penculikan di dunia yang dilegalkan dan harus patuh pada aturan main.

Kawin culik ini akan berlangsung setelah si gadis memilih satu di antara kekasih-kekasihnya. Mereka akan membuat suatu kesepakatan kapan penculikan bisa dilakukan. Perjanjian atau kesepakatan antara seorang gadis sebagai calon istri oleh penculiknya ini harus benar-benar dirahasiakan, untuk menjaga kemungkinan gagal

ditengah jalannya aksi penculikan tersebab oleh hal-hal seperti dijegal oleh laki-laki lain yang juga memiliki hasrat untuk menyunting sang gadis.

Hal ini dilakukan misalnya dengan jalan merampas anak gadis ketika ia bersama calon suaminya dalam perjalanan menuju rumah calon suaminya. Ini pula sebabnya, penculikan pada siang hari dilarang keras oleh adat karena dikhawatirkan penculikan pada siang hari akan mudah diketahui oleh orang banyak termasuk juga rival-rival dari sang penculik yang juga menghasratkan sang gadis untuk menjadi istrinya.

Disamping merupakan rahasia untuk para kekasih sang dara, penculikan ini pun harus dirahasiakan dan jangan sampai bocor ke telinga orang tua sang gadis. Kalau saja kemudian setelah mengetahui orang tuanya tidak setujui anaknya untuk menikah, di sini orang tua baru boleh bertindak untuk menjodohkan anak gadisnya dengan pilihan mereka keadaan ini yang disebut Pedait.Meskipun pada kenyatannya orang tua boleh untuk tidak bersetuju dengan calon menantunya (yang dalam hal ini lelaki yang menculik anak gadisnya) tapi, untuk basa-basi sekaligus menghormati perasaan orang tua sang lelaki, perasaan tersebut sama sekali tak boleh ditunjukan pada saat acara midang. Maka dari itu, demi menghindari penculikan oleh lelaki yang bukan merupakan calon menantu yang dikehendaki, begitu mendengar selentingan kabar akan adanya penculikan, maka biasanya sang gadis dilarikan ke tempat keluarga calon suami yang jauh dari desa atau dusun si gadis atau dasan si calon suaminya.

Setelah Makassar dan daerah-daerah tetangga, yakni Ajatappareng, TellumpoccoE dan Luwu diserang pasukan Belanda, Massenrempulu mendapat giliran berikutnya. Namun kondisi alam yang berbukit dan pegunungan serta banyak hutan, tentu akan menyulitkan siapapun yang mencoba menyerang Massenrempulu. Kondisi tersebut menyebabkan Massenrempulu adalah pertahanan ideal dan terakhir bagi kerajaan tetangga yang bersahabat dengan Massenrempulu.

Massenrempulu adalah konfederasi kerajaan-kerajaan di daerah Enrekang sekarang. Terdiri dari Enrekang, Kassa, Batulappa, Duri dan Maiwa.Kabar buruk

yang menimpa kerajaan dan konfederasi sahabat Massenrempulu menyadarkan bahwa Massenrempulu untuk segera memperkuat pertahanannya. Londe-londe, Kaluppini, Rangnga, Bambangpuang dan Kotu adalah benteng pertahanan Massenrempulu untuk menyambut Pasifikasi Belanda.

Enrekang, adalah ibukota Massenrempulu, menjadi target pertama serangan pasukan Belanda.Namun untuk dapat merebut Enrekang, pasukan Belanda harus menaklukkan benteng Londe-Londe, Rangnga dan Kaluppini. Setelah melalui pertempuran sengit selama berhari-hari dan memakan banyak korban, akhirnya ketiga benteng itu jatuh.Mayor de Wijs datang sendiri ke Enrekang, pada tanggal 1 Maret 1906. Melalui La Patiroi Arung Soreang, suami We Pancaitana Arung Enrekang, Mayor de Wijs membujuk agar ratu Enrekang menandatangani Korte Veklaring, sebagai bentuk pengakuan kekuasaan Belanda. Demi menghindari korban lebih banyak, dengan berat hati ratu We Pancaitana Arung Enrekang menandatangani Korte Veklaring.

Namun perang belum usai.Rakyat Enrekang bersama rakyat Massenrempulu masih mengangkat senjata. La Rangnga, seorang Maddika menggalang kekuatan bersama Duri dan Maiwa, anggota konfederasi Massenrempulu lainnya.Melalui sebuah serangan dadakan saat malam 24 Maret 1906, La Rangnga dan laskarnya berhasil menewaskan banyak pasukan Belanda di tangsinya di Enrekang. La Rangnga pun berhasil merebut banyak senjata untuk memperkuat perlawanannya. Kemenangan yang disambut suka cita oleh rakyat Massenrempulu dan berhasil memperkuat semangat perlawanan. Perjuangan rakyat Massenrempulu menjalar ke Maiwa, Kotu, Mandatte, Duri, dan Buntu Batu.

Menanggapi perlawanan rakyat Massenrempulu yang semakin menghebat, Komandan tertinggi pasukan Belanda Kolonel Michielse di Makassar tiba ke Enrekang membawa pasukan besar di tanggal 24 Maret 1906. Empat hari kemudian, Mayor de Wijs langsung memimpin sebuah pasukan menyerang benteng Kotu. Menggunakan meriam, de Wijs menembaki benteng Kotu dan dilanjutkan

pertempuran sengit dalam benteng. Banyak korban berjatuhan, hingga benteng Kotu jatuh setelah dipertahankan mati-matian.

Benteng Mandatte, dipertahankan oleh pejuang perempuan Massenrempulu yaitu Indo Cabba dan Indo Rangnga. Benteng ini baru dapat direbut pasukan Belanda setelah jatuh korban yang banyak dikedua belah pihak, akibat perlawanan mati-matian rakyat Massenrempulu. Benteng Ranga dan Benteng Kaluppini pun jatuh ditangan pasukan Belanda. Hingga akhirnya, pemimpin laskar rakyat Massenrempulu, yaitu Maddika La Rangnga memindahkan pusat pertahanannya ke Benteng Bamba puang. Mempertimbangkan banyaknya korban, Belanda mencoba mengajak La Rangnga berdamai. Namun ditolak dengan tegas pasukan Belanda mau tidak mau, harus merebut Benteng Bambapuang jika ingin menguasai Massenrempulu secara menyeluruh.

April 1906, pasukan Belanda menyerang Benteng Bambapuang. Namun pasukan Belanda butuh waktu 3 bulan untuk mengepung benteng tersebut untuk bisa direbut. Itupun setelah kembali mendatangkan pasukan tambahan serta tembakan meriam dalam jangka waktu lama.Di pihak laskar, banyak korban berjatuhan termasuk salah seorang komandan pasukan yaitu Puang Sappu setelah menewaskan seorang Letnan Belanda. Akhirnya Benteng Bambapuang jatuh, La Rangnga semakin melemah dan memaksanya untuk meneruskan perang secara gerilya. La Rangnga akhirnya ditangkap tahun 1915, setelah sembilan tahun bergerilya dan tak tersentuh pasukan Belanda. Beliau wafat tahun 1928 di usia 98 tahun. Berakhirnya perlawanan La Rangnga, bukannya mengakhiri perjuangan rakyat Massenrempulu melawan pasukan penjajah Belanda.Namun menyemai perjuangan berikutnya ditahun 1946-1949 melawan pasukan NICA - Westerling.Adapun salah satu proses dalam melakukan pernikahan yaitu ritual MAPPANONGO:

Hampir seluruh daerah di Indonesia memiliki tradisi dan kebudayaan yang berasal dari masa lampau.Beberapa bersifat penghormatan kepada leluhur, ada juga ritual pengucapan syukur. Di Enrekang, warganya masih mempertahankan beberapa ritual adat, walaupun perkembangan dunia dan modernisasi juga sudah masuk ke

daerah tersebut. Salah satu upacara adat yang masih bertahan adalah Mappanongo, atau jika dibahasakan berarti “menurunkan sesajian”.

mulai saat fajar menyingsing, pagi hari. Ketika matahari baru muncul di balik Gunung Lewaja, masyarakat Bisang Kelurahan Lewaja mulai berbondong-bondong menuju kawasan Air Terjun Lewaja yang jaraknya hanya sekitar 400 meter dari pemukiman tersebut. Barang yang mereka bawa hanyalah aneka makanan dan buah-buahan; yang konon menjadi prasyarat untuk melakukan ritual atau upacara adat tersebut. Mappanongo yang juga menurunkan sesajian ke sungai ini akan dipimpin oleh pimpinan adat. Tetua Adat Muhiddin biasanya akan langsung menerima semua bawaan warga yang mengikuti upacara adat tersebut, ketika warga sudah tiba di lokasi.

Upacara adat ini adalah salah satu cara warga Enrekang untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, tentunya atas limpahan rejeki dan hasil bumi di tanah Enrekang. Tata cara yang dilakukan pertama kali adala menata aneka makanan yang berupa ketan dan ayam dalam wadah bambu yang khas. Kesemuanya digantungkan di atas sungai dengan rapih. Sementara buah diturunkan ke sungai. Pimpinan Adat akan mendoakan dan menyelesaikan ritual sesuai dengan kepercayaan mereka.

Setelah prosesi tersebut selesai, semua makanan dan buah-buahan akan menjadi rebutan oleh warga yang datang dan yang membawa sesajian tadi. Ini adalah simbol dari berkat yang terus melimpah dalam kehidupan mereka dan keluarga, serta juga memohon perlindungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Warga akan menyantap semua makanan bersama-sama di pinggir sungai hingga habis, sebagai wujud kebersamaan antar warga. Setelah selesai, semua yang hadir harus mencelupkan kepalanya ke sungai dengan bantuan tetua adat. Ini adalah simbol untuk mencuci energi negatif dan menjadi orang yang lebih baik kedepannya.

Terakhir, warga akan membawa air yang berasal dari air terjun dengan botol atau wadah masing-masing ke rumah. Air ini menjadi sarana obat kesembuhan yang dipercaya akan menjaga kesehatan para warga Enrekang.

Dalam dokumen Makassar, 09 Juni 2019 Penulis (Halaman 135-140)