MUHAMMAD SAWSTUDI KASUS PADA MASYARAKAT MANDAR”
Oleh: Sultina Abstrak
Penelitian mengenai sayyang pattu’du’ merupakan penelitian yang bertujuan agar masyarakat luar dapat mengetahui bahwa Mandarsebagai salah satu etnis yang ada di Sulawesi Barat memiliki budaya yang tergolong sangat unik karena hanya orang yang telah mengkhatamkan Alquranlah yang bisa menunggangi kuda menari tersebut pada peringatan Nabi Muhammad Saw. Inti tulisan ini adalah perspektif yang digunakan dalam melihat bahkan mengkaji suatu kebudayaan sangat menentukan perkembangan budaya yang dikaji karena hasil penelitian yang dilakukan dapat mempengaruhi pikiran seseorang. Membahas tentang budaya maka secara otomatis akan membahas tentang akulturasi, yang dapat menyatukan dua kebudayaan tanpa adanya sifat egois dari kedua penganut budaya tersebut serta akulturasi dapat mempengaruhi kualitas budaya yang berkembang.
A. Pendahuluan
Budaya merupakan suatu cara hidup yang berkembang, yang dimiliki oleh masyarakat, dan diwariskan dari generasi kegenerasi. Budaya dapat terbentuk karena adanya beberapa faktor seperti agama, politik, adat istiadat, bahasa, pakaian, begitu pula dengan karya seni. Jika kita mengamati bahwa daerah-daerah yang memiliki banyak kebudayaan harus menghadapi tantangan yang berat karena banyaknya budaya akan menimbulkan banyaknya perbedaan dan menyatukan perbedaan merupakan tindakan yang sangat sulit. Orang yang memiliki hubungan darah yang sama, pasti memiliki perbedaan dalam menganut budaya karena setiap orang akan menganut suatu budaya yang dipengaruhi oleh lingkungannya dan kebanyakan orang hanya menjalankan budaya tanpa mengetahui asal-usul yang jelas dari budaya tersebut.
Dalam konteks yang luas, kita dapat merumuskan budaya sebagai paduan pola-pola yang merefleksikan respons-respons komunikatif terhadap rangsangan dari lingkungan. Pola-pola budaya ini pada gilirannya merefleksikan elemen-elemen yang sama dalam perilaku komunikasi individual yang dilakukan mereka yang lahir dan diasuh dalam budaya tersebut. Le Vine (1973) mengatakan pikiran ini ketika ia mendefenisikan budaya sebagai seperangkat aturan terorganisasikan mengenai cara-cara yang dilakukan individu-individu dalam masyarakat mengenai cara berpikir tentang diri mereka dan lingkungan mereka.
Jika kita berbicara pada ruang lingkup yang lebih luas, seperti Indonesia yang memiliki berbagai macam suku, ras, budaya, dan agama. Budaya Indonesia merupakan seluruh kebudayaan nasional, kebudayaan lokal, maupun kebudayaan asal asing yang telah ada di Indonesia sebelum Indonesia merdeka. Seperti halnyadalam penyambutan maulid Nabi Muhammad Saw pasti setiap daerah memiliki cara tersendiri. Misalnya di Sulawesi Selatan tepatnya di Takalar, budaya dalam penyambutan maulid Nabi Muhammad Saw yang dikenal dengan sebutan maudu’ lompo berbeda dengan di Sulawesi Barat tepatnya di Mandar yang memiliki budaya dalam penyambutan maulid Nabi Muhammad, setiap
anak-anak yang sudah mengkhatamkan Alquran dapat menunggangi kuda menari yang diiringi oleh musik parrawana atau rebana.
Berbicara tentang kebudayaan Indonesia yang ada dipikiran kita adalah budaya yang sangat beraneka ragam. Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, hal inilah yang menyebabkan sehingga Indonesia memiliki berbagai budaya. Kebudayaan yang dianut disetiap daerah akan menjadi ciri khas pada daerah tesebut sehingga apabila masyarakat mengingat nama budayanya secara otomatis akan mengingat pula nama daerahnya. Kebudayaan dapat dikatakan sebagai hasil yang paling konkrit dari keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosialyang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya sehingga menjadi acuan bagi tingkah lakunya.
Dalam perkembangan zaman lahir istilah akulturasi yang merupakan satu dari sekian banyak faktor yang disebabkan oleh berkembangnya kebudayaan. Akulturasi memiliki dampak negatif dan positif, jika kita melihat secara umum bahwa akulturasi memiliki persentase positif yang lebih tinggi ketimbang persentase negatifnya. Karena dua kebudayaan yang dapat disatukan tanpa adanya sifat egoisme dari penganutnya merupakan suatu hal yang sangat jarang kita dapati. Namun jika kita kaji lebih dalamdengan menggunakan pendekatan antropologi maka dapat disimpulkan bahwa akulturasi sangatlah membahayakan karena antara budaya satu dengan budaya yang lain pasti nilai-nilai yang terkandung didalamnya mulai terkikis sekalipun itu sifatnya perlahan.
Tidaklah mudah memahami perilaku-perilaku kehidupan yang sering tidak diharapkan dan tidak diketahui bagi banyak orang pribumi, apa lagi bagi para imigran. Sebagai anggota baru dalam budaya pribumi, imigran harus menghadapi banyak aspek kehidupan yang asing. Asumsi-asumsi budaya tersembunyi dan respons-respons yang telah terkondisikan menyebabkan banyak kesulitan kognitif, afektif, dan perilaku dalam penyesuaian diri dengan budaya yang baru. Seperti yang Schurtz (1960:108) kemukakan, “Bagi orang asing, pola
budaya kelompok yang dimasukinya bukanlah merupakan tempat berteduh tapi merupakan suatu arena petualangan, bukan merupakan hal yang lazim tapi suatu topik penyelidikan yang meragukan, bukan suatu alat untuk lepas dari situasi-siatuasi problemtik tersendiri yang sulit dikuasai”.
Seperti sayyang pattu’du yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Mandar, pada acara maulid Nabi Muhammad Saw. kelihatan lebih meriah dibandingkan dengan perayaan 1 Syawal bagi masyarakat Mandar. Hal ini yang nampak dan menjadi fenomena yang sangat langka atas dasar kecintaan mereka terhadap Nabi Muhammad Saw.
Menunggangi kuda menari juga dapat dijadikan sebagai nazar bahwa ketika orang tua telah berhasil untuk menggigihkan anaknya dalam konteks khatam Alquran maka nazarnya harus ia penuhi seperti yang telah ia ucapkan. Sayyang pattu’du yang identik dengan pakaian adat, seni musik rawana (rebana), kalindaqdaq (pantun mandar). Sehingga dapat dikatakan bahwa budaya tidak akan mengalami perkembangan tanpa ada pengaruh dari lingkungan sekitar bahkan penganutnya.
Atas dasar keunikan sayyang pattu’du’ yang membuat penulis sangat tertarik untuk mengkaji lebih dalam. Penulis tidak hanya berpedoman dari apa yang ia saksikan selama ini mengenai sayyang pattu’du’, namun penulis juga mewawancarai beberapa narasumber, membaca skrips dan artikel yang identik dengansayyang pattu’du’. Metode inilah yang paling efesien jika ingin mengkaji lebih dalam mengenaisayyang pattu’du’.
B. Pembahasan
Tata cara pelaksanaansayyang pattu’du’ 1. Maqbarazanji
Yang terlebih dahulu dilakukan ketika hari pammunuang (maulid nabi Muhammad Saw). Acara Maqbarazanji diadakan di Masjid dan setiap masyarakat membawa barakka’ yang terdiri dari ketupat, sokkol (makanan
yang berbahan dasar beras ketan) ,cucur (kue yang berbahan dasar terigu dan gula merah), buwu’us (kue yang berbahan dasar beras ketan yang dihaluskan dan isinya kelapa yang dicampurkan gula merah), golla kambu (berbahan dasar kelapa yang dicampurkan dengan gula merah tapi biasanya gula merah diganti dengan manisan). Terdapat pula pisang raja, pisang ambon, tiriq atau pohon pisang yang pada batangnya sudah ditusuk dengan telur yang biasanya diberi uang.
Pada saat proses barazanji berlangsung, maka semua anak-anak yang ingin menunggangi kuda menari harus berada di Masjid lengkap dengan pakaian adatnya karena pada acara ini terdapat satu resesi yang sangat sacral yaitu mattamma’i Qoroang (khatam Alquran yang didampingi oleh imam-imam masjid) dan biasanya yang dibaca hanya juz 30.
2. Parrawana
Parrawana merupakan sekelompok orang yang memainkan rawana (rebana) dengan nada-nada tertentu karena nada rawana disesuaikan dengan acara yang diiringi. Kuda menari tersebut akan berhenti menari ketika parrawana menghentikan iringannya.
Rawana (rebana) yang pertama kali di diperkenalkan oleh orang-orang Turki ketika berlayar ke laut Mandar. Sehingga orang Mandar terdahulu lebih sering menyebutnya dengan sokko’ toroki karena orang-orang Turki yang memainkan rebana tersebut menggunakan songkok Turki yang ukurannya lebih tinggi dibanding songkok biasa.
Rawana yang biasanya terbuat dari kulit binatang seperti kambing. Dalam pemilihan kambing juga harus diperhatikan untuk menghasilkan bunyi yang lebih lantang, dan kambing betina yang berumur masih mudalah yang menghasilkan bunyi yang lebih lantang. Bentuk dan ukuran jug dapat menjadi faktor untuk menghasilkan bunyi yang berbeda sehingga kedengarannya beragam namun tetap indah karena memang bunyi yang dihasilkan oleh rawana (rebana) yang satu dengan yang lain sangat kontraks.
Dan cara memainkannya sangat unik karena setiap nada harus disesuaikan dengan acara yang diiringi seperti acara nikahan berbeda dengan iringan pada acara maulid nabi Muhammad Saw. Parrawana terdiri dari 10-15 orang juga memiliki baju seragam untuk menandakan sanggar rawana (rebana) mereka.
Seperti dengan alat musik lainnya, ketika dimainkan ada yang bernyanyi namun beryanyi dalam konteks ini tidak seperti pada kebiasaan orang-orang awam karena senandungnya berisikan tentang barazanji atau zikir-zikir tertentu sehingga budaya rawana ini lebih identik dengan budaya Islam. Selain menjadi pengiring sayyang pattu’du’ pemain rebana (parrawana) juga dapat dimainkan ketika mengiringi mempelai laki-laki ke rumah mempelai wanita dalam upacara pernikahan adat Mandar dan syukuran di rumah.
Hal mistis yang terkandung adalah terdapat beberapa rawana (rebana) yang tidak dapat dimainkan oleh sembarangan orang karena pada rawana (rebana) tersebut sudah terdapat baca-baca yang hanya pemiliknya yang dapat memainkannya dan hanya ketua kelompok parrawana yang dapat memulai setiap periringan pada acara apapun.
3. Kalindaqdaq
Kalindaqdaq merupakan suatu karya linguistik yang berbahasa Mandar, seperti halnya pantun yang tidak semua orang dapat memahami isi dan kandungan yang terkait di dalamnya. Secara etimologi kalindaqdaq terbagi atas dua kata yaitu kali yang berarti gali dan daqda berarti dada. Jadi kalidaqdaq isi yang ada di dalam dada (hati) itulah yang digali dan dikemukakan kepada pihak lain.
Kalindaqdaq dapat dikatakan sebagai cetusan perasaan dan pikiran yang dinyatakan dalam kalimat-kalimat indah, serta intonasi yang indah pula. Puisi Daerah Mandar ini memiliki nilai keunikan yang berbeda dengan pantun-pantun yang ada di setiap daerah. Hal inilah yang membuat para pecinta linguistik daerah sehingga sangat menggeluti pantun Mandar atau Kalindaqda.
Contoh Kalindaqdaq : “tennaq rapandaq uwai “lamba lolong lomeang “mettonang bandaq “dinaunna endeqmu
Terjemahan :
Seandainya aku bagaikan air Yang mengalir kian kemari Aku sudah tergenang
Di bawah naungan tanggamu “usanga bittoeng raqdaq
“dipondoqna I bolong “I kandiq palakang “mambure picawanna
Terjemahan :
Kusangka bintang yang jatuh Diats punggung kuda si hitam Dinda kiranya
Yang menaburkan senyumanya
Pakkalidaqdaq dilakukan dengan cara berdiri di depan kuda menari atau sayyang pattu’du kemudian melontarkan kalindaqdaq dengan suara yang cukup keras agar orang-orang yang ada di sekitarnya dapat mendengar isi kalindaqdaq tersebut apakah berisi pujian mengenai wanita yang menunggangi kuda menari. Sehingga orang yang mendengarnya merespon dengan teriakan ejekan sebagai tanda keikut sertaan mereka dalam acara tersebut.
4. Pesarung
Pesarung adalah pengawal dari totammaq yang terdiri dari 4 orang selain dari pawing kuda. Pesarung di maksudkan untuk menjaga pesSawe agar tidak
jatuh ketika kuda mulai menari karena terdapat kuda yang ketika menari sangat indah apalagi jika ukuran tersebut terbilang besar.
5. PesSawe
PesSawe berarti menunggang kuda yang merupakan acara inti dari pelaksanaan sayyang pattu’du’. PesSawe menggunakan baju adat Mandar yaitu baju pokko, lipaq sa’be (sarung tenun), dali (sebagai anting), gallang balle’ (gelang), ratte (kalung yang terdiri dari beberapa uang kuno berwarna keemasan), rambutnya disanggul kemudian diberi sunting berwarna keemasan dan beruq-beruq.
Setelah semuanya siap yang diatur dengan nomor urutan tertentu maka mereka memulai arak-arakan, dan setiap sayyang pattu’du’ memiliki perwakilan untuk membawa payung (la’lang) dengan guna untuk melindungi pesSawe dari teriknya matahari. Begitu pula dengan pesarung yang harus sedia setiap saat untuk memegang pesSawe sehingga dapat duduk dengan indah dan aman di atassayyang pattu’du’.