Oleh:
Umi Kulsum Mustamin Abstrak
Penulisan artikel ini bertujuan untuk memenuhi tugas pada matakuliah praktik penelusuran sumber budaya. Karena tugas inilah sehingga penulis bisa lebih mengetahui gambaran tentang parrawana bagi masyarakat Mandar, bagaiamana bentuk proses pertunjukan parrawana, mengetahui pesan dalam budaya parrawana pada masyarakat Mandar sehingga masyarakat pada umumnya mengetahui bahwa parrawana bukan hanya sekedar pertunjukan kesenian. Rawana merupakan suatu produk budaya suatu bangsa tepatnya suatu jenis pertunjukan musik tradisional yang ada di Mandar sejak masuknya agama Islam di Mandar. Parrawana atau orang yang memainkan rawana biasa ditampilkan pada berbagai acara seperti mengiringi khataman baca Alquran, mengiringi tarian-tarian mandar dan mengiringi pengantin.Rawana dimainkan oleh kelompok laki-laki yang disebut parrawana tommuane tetapi terkadang juga dimainkan oleh kelompok perempuan yang disebut parrawana towaine dengan menggunakan pakaian adat Mandar.
A. Pendahuluan
Indonesia merupakan negara yang memiliki kesenian tradisioanal yang beranekaragam. Keanekaragaman bentuk kesenian tradisional yang dimiliki bangsa Indonesia tumbuh di daerah-daerah dan mempunyai ciri-ciri tertentu. Hampir setiap daerah di Indonesia mempunyai bentuk kesenian yang menggambarkan daerah setempat, dan setiap kesenian daerah mempunyai latar belakang dan konteks sosial yang berbeda. Kesenian merupakan salah satu unsur dari kebudayaan Universal. Budaya muncul dan berkembang sebagai produk dan aktivitas kehidupan manusia termasuk cipta, rasa, dan karsa. Kesenian juga merupakan salah satu bentuk aktivitas manusia yang dalam kehidupannya selalu tidak berdiri sendiri. Kesenian dekat dengan kandungan nilai-nilai budaya bahkan menjadi wujud yang menonjol dari nilai-nilai budaya.
Jika kita berbicara pada ruang lingkup yang lebih spesifik seperti Mandar yang merupakan suatu kesatuan etnis yang menempati wilayah Sulawesi Barat. Asal muasal pemberian nama Mandar sendiri, menurut dari beberapa sumber penulis hal itu berkaitan erat dengan ikatan persatuan antara Pitu Ba’bana Binanga (Tujuh kerajaan di pesisir) dan Pitu Ulunna Salu (Tujuh kerajaan di gunung). Keempat belas kerajaan tersebut saling melengkapi sipamandar (menguatkan) sebagai suatu bangsa melalui perjanjian yang disumpahkan oleh leluhur mereka. Seperti pada daerah-daerah lainnya, masyarakat Mandar juga diakui memiliki banyak tradisi yang unik. Salah satunya ialah kegemaran mereka memainkan alat musik rawana (rebana). Kebiasaan inilah yang kemudian dinamakan marrawana/parrawana yang artinya orang yang memainkan rebana. Pemain rawana biasanya terdiri dari minimal 8 orang sampai dengan 15 orang. Para pemain juga masing-masing memiliki alat yang berbeda-berbeda, tapi didominasi oleh rebana.
Berdasarkan sejarah perkembangan manusia, musik merupakan bagian yang hidup dan berkembang sejalan dengan perkembangan manusia. Musik oleh manusia dijadikan sebagai media untuk mengungkapkan sesuatu dari dalam jiwanya yang tidak mampu dibahasakan melalui bahasa konversional. Seni musik merupakan
bagian dari proses kreatif manusia dalam mengolah bunyi-bunyian yang tercipta oleh alam.
Ketika memainkan rawana harus disertai dengan syair-syair yang telah disesuaikan dengan acara yang diiringinya. Adapun syair yang terkandung dalam setiap penampilan parrawana tersebut ternyata mengandung arti yang sangat menarik, tetapi para penikmat musik rawana seringkali tidak memahami makna syair yang dilantumkan oleh parrawana. Hal itu disebabkan karena penyair dalam menyuarakan syairnya sering tidak jelas artikulasinya, dan suara dari alat musik rawana lebih besar tabuhannya daripada syairnya.
Di era milenial seperti sekarang ini penulis yakin anak muda jarang sekali mengetahui apa makna yang terkandung di dalam syair-syair ketika sedang memainkan rawana tersebut. Padahal jika parrawana tersebut sedang memainkan rawananya, itu memuat beberapa pesan-pesan yang berkaitan dengan amalan-amalan dalam agama Islam, sehingga mampu menyisakan nilai-nilai ibadah di sisi Allah Swt.
B. Pembahasan
Tradisi parrawana di Mandar
Rawana adalah alat musik tradisional Mandar yang merupakan penggabungan antara budaya Mandar dan budaya Arab. Rawana sendiri kali pertama masuk ke wilayah Mandar sekitar abad ke-17 M yang pada sat itu sedang berlangsung penyebaran agam Islam, di bawah pemerintahan raja Mandar yang ke IV Daetta, Anak pertama dari dari raja ke II Tomeppayung dan merupakan cucu pertama dari Raja Mandar I Imanyambungi(Todilaling).
Dahulu Parrawana dikenal dengan istilah Mandar yaitu Sokko Toroki yang berarti songkok orang-orang Turki. Disebut Sokko Toroki karena penampilan dari orang-orang Turki dianggap unik dan menarik perhatian masyarakat Mandar pada saat itu ketika sedang memainkan alat musik rebana, mereka menggunakan songkok atau kopiah yang tinggi dan yang kali pertama memperkenalkan alat musik rawana yang dalam Bahasa Arab disebut Lafudtersebut adalah orang-orang Turki yang
menyebarkan Islam di Mandar pada saat itu. Dalam perkembangannya, Pertujukan parrwana kerap kali mengiringi atau dipertunjukkan ketika masyarakat Mandar mempunyai hajatan seperti tarian Mandar, Khataman quran dan mengiringi iringan pengantin.
Rawana merupakan alat musik membranofon, yaitu alat musik yang sumber bunyinya berasal dari selaput atau membran yang dipukul. Adapun unsur-unsur atau bagian dari alat musik rawana terdiri dari: Mulut rawana atau lubang resonansi, bodi atau badan rawana, palappaq yaitu kulit yang telah merekat ke badan rawana, palliar atau tali setelan (kadang dari rotan atau kabel besar), paku atau pasak (potongan bambu kecil dan paku tindis/paku becak), dan terakhir tali selempang yang dikaitkan di leher bila digunakan berdiri.
Rawana merupakan satu kesatuan dengan musik gambus. Apalagi, boleh dikata lagu-lagu dan irama gambus memiliki kesamaan dengan lagu rawana. Selain sebagai sarana hiburan, Ditegaskan bahwa rawana bukan hanya sekedar menabuh dan bergoyang, ada ritual di dalamnya, ada nilai filosofis dan yang terpenting ada dzikir di dalamnya. Tidak ada rawana tanpa dzikir, Bacaan parrawana adalah kitab Barasanji. Adapun syair atau dzikir yang dilantunkan itu juga berbeda sesuai dengan acara yang sedang diiringi, Pada acara perkawinan ritual yang biasa dilakukan adalah memainkan rawana dengan sangat pelan yaitu ritme yang lambat, serta ada syair yang dilantunkan oleh seorang pemain rawana yang biasa dinyanyikan oleh pemain yang lebih tua. Kemudian pada saat proses pengantaran pengantin, musik rawana ritmenya dipercepat yang hanya diiringi sorakan halus dari para parrawana (pemain rebana). Begitupun pada saat khatam Alquran musiknya pun memiliki perbedaan dengan musik yang dimainkan dengan musik yang dimainkan pada saat pernikahan, serta syairnya pun berbeda.
Bagi parrawana tommuane atau kelompok pemain rebana laki-laki paling populer saat acara mappatamaq/misSawe (Khatam Alquran). Di mana rawana tersebut dimainkan dengan antraksi kuda menariyang dalam istilah Mandar yaitu sayyang pattu’du’. Dalam acara sayyang pattu’du’ ini, seekor kuda ditunggangi oleh
seorang gadis memakai baju bodo (baju tradisional suku Mandar) yang telah selesai membaca Alquran. Kuda tersebut dihias degan berbagai aksesoris layaknya tunggangan raja pada masa kerajaan yang kemudian diarak beramai-ramai mengelilingi kampung.
Kuda yang digunakan pada saat acara mesSawe (Khatam quran) merupakan kuda yang sudah dilatih untuk lihai dalam menari mengikuti irama rawana sebagai pengiring acara tersebut. Pada acara ini parrawana tidak hanya melantunkan syair yang diiringi dengan tabuhan rawana tetapi juga disertai dengan kalindaqdaq atau pantun Mandar yang bertujuan untuk memeriahkan acara tersebut. Contoh kalidaqdaq seperti berikut :
“Beru-beru penggilingmu Bunga lawar passoemu Bunga tipussuq
Peitammu leqmai” Artinya :
“Bunga melati pandanganmu
Kembang mawar ayunan tangananmu Bunga mekar harum
Lirikanmu terhadapku” “Uru uitammu
Tappa mongea mating Tappa andiang
Tambar paulinna” Artinya :
“Saat pertama kumelihatmu Aku langsung jatuh hati padamu Seketika tak ada
Obat penyembuh” “Pitu buttu mallindungi
Pitu ta’ena ayu Purai accur Naola saliliq-u”
Artinya :
“Tujuh gunung menghalangi Tujuh dahan kayu
Semua rata semua hancur Dilanda rinduku”
Rawana yang digunakan berukuran besar dan kecil, terbuat dari batang kayu yang di bentuk sedemikian rupa dengan bagian sisi depannya dibungkus kulit kambing atau pakolong yang sudah dikeringkan,sedangkan personilnya terdiri dari 8 sampai 15 orang yang semuanya diharuskan menyanyi mengikuti irama rawana.
Jenis pertunjukan rawana dimainkan tidak hanya oleh kelompok laki-laki atau parrawana tommuane tapi juga kelompok perempuan yang disebut parrawana towaine yang dalam pertunjukan biasanya perempuan yang menabuh rebana ini menggunakan kostum pakaian adat Mandar, selain itu parrawana towaine biasa dibawakan secara solo (tunggal) akan tetapi sering disajikan secara berkelompok dua sampai lima orang perempuan yang bernyanyi secara bersama-sama. Tabuhan rebana dan syair lagu untuk parrawana towaine berbeda dengan parrawana tommuane tetapi semuanya mengandung pesan agama dan seruan-seruan moral. Seperti pada potongan syair berikut yang biasa dinyanyikan oleh parrawana towaine :
“Manu-manu di suruga, saicco pole boi, Pole mappettuleang, tosukku sambayanna Passambayammoqo naung, pallima wattumoqo, Allahiyamo tuqupewongan di ahera...”,
Artinya :
“Burung-burung dari surga (Malaikat bersayap) setiap saat datang ke bumi
Diberi tugas oleh Allah untuk menanyakan siapa yang paling khusyuk dalam sholatnya
Sholatlah, kerjakanlah lima waktu
Maha suci Allah, itulah bekal di Akhirat…”
Jika membahas tentang parrawana towaine,maka pasti akan selalu berkaitan dengan Cammana atau lebih akrab disapa Amma’ Cammana. Beliau merupakan salah seorang yang telah memperoleh pengakuan sebagai maestro seni trdisional Indonesia. Amma’ Camana disebut selalu berdakwah pada setiap penampilannya ketika memainkan rawana, karena pada saat tampil selalu di awali dengan shalawat dan pujian kepada Nabi Muhammad Saw. Kemudian diiringi dengan tabuhan rebana dan syair yang berisi tentang kisah-kisah kehidupan yang sarat dengan pesan moral ajaran agama Islam.