BATIK LASEM ART LAHIR DARI SEBUAH KEGELISAHAN. GELISAH KARENA TIDAK ADANYA IDEN- TITAS LOKAL BATIK LASEM DI TENGAH SERBUAN BERMACAM MOTIF LUAR.
BATIK LASEM ART WAS BORN OF AN ANXIETY. WELL, YES. ANXI- ETY, DUE TO THE LACK OF LOCAL IDENTITY OF BATIK LASEM IN THE MIDDLE OF VARIOUS MOTIF INVA- SION FROM THE OUTSIDE.
Fish Waste Goes without Trace
USAHA BATIK LASEM ART dirintis oleh Usman (61), pada kisaran 2004. Awalnya, usaha ini dibangun sebagai jawaban belum adanya motif batik lokal yang menjadi ciri khas Lasem, sebuah ke- camatan di Kabupaten Rembang, yang dijuluki sebagai ‘Tiongkok Kecil’. Padahal, daerah ini secara turun temurun dikenal sebagai salah satu sentra batik nasional. Para perajin kala itu lebih tertarik memproduksi motif-motif yang disukai pasar.
Keinginan mengangkat muatan lokal itu klop dengan basic yang dimiliki Usman. Sehari-hari dia menjadi pengajar seni rupa di SMPN Lasem. Jiwa seni itulah yang mendorongnya terus ber- eksplorasi untuk menemukan motif yang paling identik dengan wajah Lasem. Sampai akhirnya ditemukan motif Rumput Laut dan Latohan.
Dua motif ini dinilai paling pas menggambarkan Lasem se- bagai daerah pesisir. “Motif ini mendapat respons yang bagus sehingga bisa berkembang sampai sekarang,” terang Nurdian- syah Utama, sulung dari tiga saudara penerus usaha Batik Lasem Art saat ini. Pada perkembangannya usaha ini maju pesat. Kepak usaha rumahan ini terus membesar.
Dari sekitar Lasem dan sekitarnya, pasarnya meluas hingga Jawa Tengah, Jogjakarta sampai Jakarta. Kualitas dan kekuatan motif menjadi salah satu andalan untuk mencuri hati konsumen, kendati hanya dipasarkan secara door to door. Booming internet
BATIK LASEM ART was founded by Usman in 2004. Initially, the business was built as an answer to the lack of typical batik motif in Lasem --a district in Rembang dubbed as ‘Little China’ in Central Java province. In fact, Lasem for generations is known as one of the centers of Indonesian batik. So, why Lasem doesn’t have typi- cal motif? The batik artists at that time were more interested in producing popular motifs that preferred by market.
So, Usman has the desire to uplift local Lasem content for ba- tik motif. Why? He is art teacher at junior high school in Lasem. His artistry drove him to explore how to ind the most authentic motif with Lasem. Finally, he found Seaweed motif and Latohan motif for batik Lasem.
The two motifs were considered most appropriate to depict Lasem as coastal area. “Fortunately, these motifs get a good re- sponse, so they can grow up until now,” said Nurdiansyah Utama, the eldest of three brothers who inherit Batik Lasem Art. Batik Lasem Art thrives quickly. The home-based business continues to grow.
From Lasem and surrounding areas, the market expands to Central Java, Yogyakarta and Jakarta. Initially, batik Lasem was only marketed door-to-door. Quality and motif are one of the mainstays to steal the hearts of consumers. Internet boom helps
punya andil besar memperluas jaringan pasar Batik Lasem Art. Mulai Blackberry Messenger (BBM), WhatsApp, Line, Facebook, dan layanan mikroblogging Twitter. “Kami juga memiliki blog sendiri,” terang Nurdiansyah. “Tapi penyum-
bang penjualan terbesar tetap pasar ofline,”
lanjutnya.
Setahun terakhir produk-produk Batik Lasem Art mulai go international dengan masuk ke pasar Hong Kong dan Singapura. Hanya saja, upaya melempar produk ke negeri jiran tersebut tak dilakukan langsung oleh Nurdiansyah. “Kalau ke Hong Kong lewat salah satu trader di Magetan. Sedang di Singapura lewat teman pengusaha di Cilacap,” bebernya.
Selain motif lokal yang dapat respons ba- gus, pasar kedua negara tersebut juga cukup familiar dengan beberapa corak andalan. Di antaranya sekar jagad, lerek, kawung, bedak, gunung ringgit, bledak tumpal, naga lokcan, tiga negeri dan es teh. Walau tak bisa direct selling, Nurdiansyah tetap bangga. Setidaknya, respons positif di pasar kedua negara tersebut makin mempertebal keyakinan bahwa usaha ini sudah berada di track yang tepat.
Apalagi, dukungan penuh diberikan Semen Indonesia yang menjadikan Batik Lasem Art se- bagai salah satu mitra binaan. Ya, diakui Nurdi- ansyah, Semen Indonesia turut berperan besar menjadikan usaha keluarga ini tumbuh berkem- bang seperti sekarang. Bergabung pada 2009 lalu, Nurdiansyah awalnya tak terlalu bergairah menyambut uluran tangan Semen Indonesia.
Maklum, saat itu, usaha ini masih dikelola secara tradisional. “Terus terang, waktu itu agak kurang pede juga. Kira-kira apa usaha ini layak menjadi mitra binaan perusahaan sebesar Se- men Indonesia?” kisahnya.
Batik Lasem Art greatly to expand market and network. BlackBerry Message, WhatsApp, Line, Facebook, and microblogging service Twitter are used to market Batik Lasem. “Even, we also have our own blog,” said Nurdiansyah. “How- ever, the biggest contributor for batik sales is still ofline market.”
Last year, the products of Batik Lasem Art be- gan to go international by entering Hong Kong and Singapore market. However, the effort to penetrate neighboring country market was not done directly by Nurdiansyah. “Hong Kong mar- ket was penetrated by our trader in Magetan. Singapore market was handled by our business- men friends in Cilacap,” said Nurdiansyah.
In addition to local motifs, the markets of both countries are also quite familiar with several other mainstay motifs. Among of these motifs are sekar jagad, lerek, kawung, bedak, gunung ringgit, bledak tumpal, naga lokcan, tiga negeri and es teh. Although unable to sell directly, Nurdiansyah is still proud of the business. At least, positive responses in Hong Kong and Singapore market may further strengthen his conidence that the business is in the right track.
Moreover, Semen Indonesia gives full sup- port to make Batik Lasem Art as one of the part- ners. Yes, Nurdiansyah admits, Semen Indonesia contributed to making this family business grow as it is now. Being a partner in 2009, Nurdian- syah initially was not too excited to welcome the helping hand of Semen Indonesia.
Understandably, the business at that time was still managed traditionally. “Frankly, we were less conident. I wonder how this small family busi- ness deserves to be partners of the big company such as Semen Indonesia,” he said.
Pemilik : Usman
Showroom : Jl Raya KM 01 Lasem
(Depan SMP Negeri 1 Lasem Kabupaten Rembang) Workshop : Desa Dorokandang RT 20 RW 01
Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang Jawa Tengah 59271 Telp : (0295) 531612
HP : 085291535135
Blog : batiktulisusman.blogspot.com
Then, these concerns were broken. After oficially join as busi- ness partner, Batik Lasem Art gets a lot of beneits and conveni- ence. Not only inancial support, Semen Indonesia also provides various training, including marketing management, inance, product quality improvements, and exhibitions in several cities in Indonesia.
Along with that, the sales turnover was boosted. Initially, the sale was ranged in millions of rupiah. Now, Batik Lasem Art is able to gain between Rp 25 million to Rp 30 million per month. Perhaps, Usman never imagined the igures when he started this venture. (*)
Kekhawatiran ini terpatahkan. Setelah resmi gabung, usaha ini mendapatkan banyak keuntungan dan kemudahan. Tidak saja
dukungan inansial, Semen Indonesia juga memberikan berbagai
pelatihan, antara lain manajemen pemasaran, keuangan, pen- ingkatan kualitas produk, sampai disertakan dalam pameran di beberapa kota di Indonesia.
Seiring dengan itu, omzet penjualan pun terdongkrak. Dari awalnya berkisar pada jutaan rupiah, kini sebulan Batik Lasem Art mampu mendulang pendapatan antara Rp 25 juta sampai Rp 30 juta. Angka yang tak pernah dibayangkan Usman saat merintis usaha ini. (*)
Owner : Usman
Showroom : Jl Raya KM 01, Lasem (in front of SMP Negeri 1 Lasem, Rembang) Workshop : Desa Dorokandang RT 20 RW 01, Lasem, Rembang regency, Central Java 59271 Telephone : (0295) 531612
Mobile phone : 085291535135 Blog : batiktulisusman.blogspot.com