Kalau yang begitu-begitu
saja sudah biasa.”
“Well, I must think out-of-the-box.
If just doing the same thing, there
will be no innovation.
bulan sebelumnya. Tak disangka dapat sambutan luar biasa,” tutur perempuan bernama lengkap Fransiska Romanna Dwi Enny Kusumawati ini.
Dibantu sembilan pekerja, semuanya ibu rumah tangga warga sekitar tempat tinggalnya, dalam sebulan Siska mampu menghasil- kan 100 potong baju sulam sederhana. Bila desainnya rumit dan eksklusif, pengerjaannya lebih lama lagi. Baju-baju itu dihargai Rp 300 ribu sampai Rp 6 juta, sedangkan untuk craft rata-rata dilepas dengan harga Rp 50 ribu.
Siska tak menampik anggapan baju bikinannya relatif mahal. Bisa dipahami karena dia membuatnya limited edition. Untuk baju seharga Rp 3 juta ke atas, paling banter dia hanya memproduksi 10 potong. “Itu pun tetap ada perbedaannya, misal desainnya sama tapi warnanya lain. Ya maklumlah, orang-orang menengah ke atas kan tidak suka kalau bajunya dikembari,” paparnya.
Siska menggunakan benang DMC atau Rose 25 untuk mem- buat hiasan sulam di atas baju atau celana. Manakala butuh gambar yang tebal dan timbul dengan teknik bullion, dia gunakan benang cap Payung. “Pasar saya hampir di seluruh kota di Indone- sia, tapi lebih banyak di Jakarta, Jogjakarta dan Bandung. Untuk luar negeri sudah sampai ke China, Singapura serta Belanda,” sebut istri Stefanus Sumartono ini.
Pasar China terbuka setelah Siska menggelar pameran di Guangzhou, September 2013, atas sponsor Semen Indonesia. Masyarakat China yang sudah familiar dengan produk sulam tradisional mereka, ternyata kagum dengan kebaya sulam karya pengurus Persadir (Perkumpulan Pengusaha Bordir) Jatim ini.
Hebatnya, Siska tak mau sekadar mengekor mode yang se- dang tren. Pelan namun pasti, Sari Ronche didesain untuk menjadi pionir. Seperti langkah yang dilakukan dengan mengeksplorasi dua warisan budaya yakni batik dan tenun. Tak jarang dia harus berburu bahan hingga ke pelosok, mulai batik Pekalongan, tenun tradisional di beberapa desa di Jatim, sampai tenun Batak (ulos).
Tak berhenti di situ, ide kreatif Siska juga menjamah bahan yang tak biasa. Sebut saja serat goni yang disulap jadi jas yang
embroidery clothing that I made six months earlier. Unexpectedly, I got extraordinary response,” said the woman who has birth name Fransiska Romanna Dwi Enny Kusumawati.
Assisted by nine workers, all of them are housewives residents nearby, Siska within a month is capable to produce 100 pieces of simple embroidery clothing. If the design is meticulous and exclu- sive, the process will take much longer. The clothes are tagged Rp 300 thousand to Rp 6 million, while the craft are Rp 50 thousand in average.
Siska admits that her clothes are relatively expensive. It is understandable because she makes them as limited edition. For clothes worth RP 3 million and above, she only produces 10 pieces. “Among them, there is still some difference. For example, they have the same design but different colors. Well, you know, the upper-middle class like exclusive clothes,” she explained.
Siska uses DMC threads or Rose 25 threads to make em- broidery ornaments on shirt or pants. When it needs thick and embossed picture with bullion techniques, she uses Payung-brand threads. “My market is almost in all major cities in Indonesia, especially Jakarta, Yogyakarta and Bandung. For overseas market, my product goes to China, Singapore and the Netherlands,” said the wife of Stephen Sumartono.
China’s market was open after Siska participated in exhibition sponsored by Semen Indonesia in Guangzhou on September 2013. Chinese, who are familiar with their traditional embroidery, was amazed by embroidered kebaya made by Siska.
Remarkably, Siska doesn’t want merely trailing the current fashion trends. Slowly but surely, Sari Ronche is designed to be a pioneer. Such as, by exploring the cultural heritage of batik and weaving. Often, she must hunt for materials to remote areas, from Pekalongan batik, to traditional weaving from several villages in East Java, to ulos (Batak weaving) in North Sumatera.
Siska’s creative idea also touches unusual materials. She can turn jute ibers into a very cool jacket, or patchwork into expensive
sangat keren, atau baju-baju mahal berhana kain perca. “Ide itu kan harus menabrak batas. Kalau yang begitu-begitu saja sudah biasa. Harus ciptakan yang aneh tapi berkualitas,” kata pengusaha rumahan dengan omzet Rp 40 juta per bulan ini.
Memulai usaha tahun 2007 dengan modal Rp 5 juta dan tiga pekerja, Siska berharap rumah sulam Sari Ronche tetap jadi rujukan kaum hawa yang menginginkan busana beda. Di samping itu, ibu Fransiskus Galih Sumartono, Imanuel Gading Sumartono dan Nikolas Ganesya Sumartono ini ingin usahanya langgeng dan bisa diwariskan.
“Kuncinya pada motif dan penempatan gambarnya. Banyak orang bisa menyulam, tapi kalau penempatannya ngawur atau desain bajunya jadul, ya sulit diterima pasar sekarang,” ujar Siska yang belajar menyulam dari sang ibu, Maria Irmiana Suparni.
Siska berkisah, begitu menamatkan pendidikan di STM Pem- bangunan Surabaya jurusan Teknik Kimia tahun 1990, menyulam masih dia jadikan kegaitan sambilan untuk mengisi waktu luang. Pandangannya mulai bergeser saat menjadi karyawati sebuah perusahaan kosmetik di Surabaya.
clothes. “Well, I must think out-of-the-box. If just doing the same thing, there will be no innovation. I must create something strange but with good quality,” said Siska, whose home-based business makes Rp 40 million turnover per month.
Siska learned embroidery from her mother, Maria Irmiana Suparni. Starting business in 2007 with a capital of RP 5 million and three workers, Siska hopes her embroidery home Sari Ronche remains a referral for women who want different fashion. She also wants her business last long and can be inherited.
“The key is on the motif and the placement of picture. Many people can embroider. But, if the placement is inconsequential or the design is obsolete, it will be hard to penetrate market now,” said Siska, the mother of Fransiskus Galih Sumartono, Imanuel Gading Sumartono and Nikolas Ganesya Sumartono.
After graduated from STM Pembangunan Surabaya of Chemi- cal Engineering in 1990, she only embroidered to spend leisure time. Then, her view began to shift when she became an employ- ee of a cosmetics company in Surabaya.
Pergaulan dengan kalangan model dan praktisi fashion, salah satunya desainer papan atas Ali Charisma, membuat Siska kian mantap mendalami keahlian menyulam. Awalnya diterapkan di busana yang dikenakan sendiri, lambat laun menyebar ke teman- teman sekantor. Order pun mulai berdatangan meski promosinya hanya dari mulut ke mulut. “Sampai akhirnya saya putuskan keluar dari pekerjaan dan fokus di usaha ini,” kata pemenang Desain Fesyen Terbaik I pada Gelar Sepatu, Kulit dan Fesyen (SKF) 2015 yang diadakan Kementerian Perindustrian RI ini.