• Tidak ada hasil yang ditemukan

FITRI IRAWAN

Dalam dokumen Mitra Binaan | Semen Indonesia (Halaman 149-152)

KEPULAUAN KANGEAN merupakan gugusan pulau yang terletak di bagian paling timur Pulau Madura. Terdiri dari 60 pulau, wilayah ini mempunyai luas 487 km persegi. Kangean berjarak sekitar 100 km dari Sumenep. Untuk ke sana, transportasi yang tersedia adalah kapal laut yang dikelola PT Dharma Lautan Indo- nesia dan Sumekar Line milik Pemkab Sumenep.

Dengan transportasi ini, perjalanan bisa ditempuh dalam waktu 11 sampai 12 jam dari pelabuhan Kalianget ke pelabuhan Batu Gulok, Kangean. Pili-

han lain dengan kapal

Express yang hanya

memerlukan waktu 3,5 hingga 4 jam.

Kendati jauh, mini- mal sebulan sekali Ery dan Fitri bertandang ke Kangean. Pasalnya For- tune Enterprise, unit usaha yang mereka dirikan, membutuhkan mineral air laut untuk diolah menjadi produk perawatan tubuh.

Asal tahu saja, merujuk hasil peneli- tian LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indone- sia), kandungan mi-

neral air laut di Kangean merupakan yang tertinggi di Indonesia. Nah, kandungan mineral ini yang kemudian diolah sedemikian rupa menjadi produk-produk kecantikan bermerek BioSea.

Cerita keduanya terjun di bisnis ini tak tak lepas dari pengala- man Fitri Irawan menjadi karyawan sebuah perusahaan kosmetik di Surabaya. Tiga belas tahun menjadi karyawan, alumni Pendidikan Apoteker Universitas Widya Mandala (UWM) Surabaya ini akhir- nya paham ada mutiara yang tersembunyi di perairan Kangean.

“Awalnya peneliti dari Jepang yang menemukan. Kemudian

KANGEAN is a group of islands located at the easternmost part of Madura. Consisting of 60 islands, this region has an area of 487 square kilometers. Kangean is about 120 kilometers from Sume- nep city in Madura. To get there you can use ship of PT Dharma Lautan Indonesia or ship of PT Sumekar Line owned by Sumenep Regency Government.

Using bigger ship, the journey can be 11 to 12 hours from Kalianget port in Madura to Batu Gulok port in Kangean. Another

option, you can go there with the express smaller ship which only takes 3.5 to 4 hours.

The long distance of the remote is- lands doesn’t deter Ery and Fitri at least once in a month to go to Kangean. Why? Fortune Enterprise, the business unit that they founded, needs marine water minerals to be processed into body care products.

Just for your information, referring to LIPI (Indonesian Institute of Sciences)’s research, the mineral content of marine water in Kangean is the highest in Indonesia. Well, this mineral content is processed into BioSea-branded beauty care products.

The couple makes this business due to Fitri’s experience as an employee of a cosmetics company in Surabaya. Thirteen years as an employee, the alumni of Pharmacist Education at University of Widya Mandala Surabaya was understood the pearls content hid- den in the Kangean waters.

Jepang dan diolah menjadi berbagai produk. Mulai ke- cantikan, makanan sampai

consumer goods lain- nya,” jelas Fitri. “Dari situ lantas muncul pertanyaan, kenapa kita tidak melaku- kan sendiri? Ini kekayaan alam milik kita, dibawa ke Jepang dan dikembalikan lagi ke Indonesia menjadi produk jadi yang harganya selangit,” tambahnya.

Akhirnya, tahun 2013 Fitri memutuskan resign

dari perusahaan dan total merintis usaha yang

digelutinya sampai sekarang. Sebelumnya dia harus menemukan formula yang pas untuk mengolah mineral laut menjadi produk kecantikan yang aman dan bermanfaat bagi kesehatan. “Ini tidak mudah. Sebab salah satu sifat mineral adalah mengurai struktur zat yang dicampuri. Sabun padat misalnya, akan langsung mencair bila ditetesi mineral,” jelasnya.

Di bisnis ini, sambung Fitri, modal penemuan jitu saja tak cukup untuk bisa bertarung di pasar yang sudah penuh dengan berbagai produk. Para pesaing rata-rata pemodal besar dengan anggaran iklan nyaris tak terbatas. Karenanya, jika tidak memiliki perhitungan matang, bisa-bisa produk BioSea tersungkur di pasar. “Ini memang menjadi concern saya dengan suami. Kebetulan beliau miliki latar belakang pengetahuan cukup banyak, mulai

marketing sampai supplier,” ujarnya.

Fitri yakin, dua hal yang membuat sebuah produk bisa survive

adalah diferensiasi dan kejelian memilih pasar. Dan, kedua hal itu dimiliki BioSea. Produk kosmetik berbasis mineral, jelas jadi pembeda tersendiri dengan produk-produk sejenis yang ada di pasaran. Begitu juga dengan ceruk pasar yang diincar. Yakni mereka yang memiliki daya beli menengah ke atas dan well informed terkait produk yang dipakai. “Pangsanya memang kecil. Tetapi peluangnya sangat besar,” tukas Fitri.

processed into various products. They made beauty care product, food product and other consumer goods,” said Fitri. “Then, I have a big question; why don’t we do it by ourselves? This natural wealth belongs to us, but brought to Japan and returned to Indone- sia as a inished product with exorbitant price.”

So, in 2013 Fitri decided to resign from the company in Sura- baya and totally open her BioSea business until now. At irst, she had to ind the right formula to process the marine minerals into beauty care products that are safe and beneicial for human health. “It is not easy. One of mineral properties is to break down the structure of substances that they mixed with. Solid soap, for instance, will instantly melt down after being dripped by the mineral,” she explained.

In this business, according to Fitri, great discoveries alone are not enough to be able to compete in market that has already been illed with various products. Competitors in average are large investors with almost unlimited advertising budget. “There- fore, if I do not have great business calculations, BioSea products might fall apart in market. It becomes my great concern with my husband. Fortunately, my husband has quite a lot of knowledge from marketing to network of suppliers,” she said.

Fitri feels sure, the two things that make a product can survive in market are differentiation and segmentation. BioSea has both of them. The mineral-based cosmetic product is obviously so dis- tinct differentiator with similar products on market. Likewise, the targeted niche market is different. BioSea’s market is those who have purchasing power of the upper-middle class and those who well-informed about the product. “The market share is small, but the opportunity is wide open,” said Fitri.

Planning sudah dibuat, tinggal bagaimana mengatur strategi me- lempar produk ke pasar yang dituju. Bergerak tanpa dana promosi, Fitri dan Ery pun door to door mengenalkan produk BioSea dari satu komunitas ke komunitas lain. Selain itu, produk juga dipasarkan se- cara online dengan membidik pasar ekspor. Untuk produksi, mereka berdua bahu-membahu menanganinya langsung. Tahun pertama, BioSea melepas produk sabun cair dan skin moisturizer.

Respons pasar ternyata cukup bagus, terutama dari luar negeri. Alhasil dua produk itu pun diekspor ke Swedia karena dianggap cocok untuk mengatasi kulit kering akibat suhu dingin. “Kami juga

surprise. Apalagi di sana produk kami diuji lagi. Dan tahu apa hasilnya? Label kami masuk kategori intensive cream. Ini adalah grade tertinggi dalam uji kosmetik di sana,” bebernya.

Kabar bagus dari Eropa ini membuat keduanya makin berse- mangat dan percaya diri. “Kami sudah berada di jalur yang tepat. Tinggal usaha lebih keras lagi untuk membesarkan usaha ini,” tegas Fitri. Seiring perjalanan waktu, usaha rumahan ini terus berkembang. Produk yang dihasilkan pun lebih beragam.

Begitu pula dengan jumlah karyawan. Bila semula ditangani sendiri, kini Ery dan Fitri memiliki puluhan karyawan. Area pe- masarannya pun meluas ke berbagai kota besar di Jawa, Sumatra (Medan), Kalimantan (Balikpapan) dan Sulawesi (Makassar). Di luar negeri, selain Swedia, BioSea juga masuk ke Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Kami sudah berada di jalur

Dalam dokumen Mitra Binaan | Semen Indonesia (Halaman 149-152)