• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAS RANSANG, yang setelah menjaai Sultan Mataram bergelar "Panembahan Ag ung Senopati Ing Alogo Abdur-rahman ", yang disebut juga Prabu Pandito Cokrokusumo, atau Hanyokrokusumo, yang lebih terkenal dengan sebutan Sult an Agung, (1613 - 1645), memanglah seorang di antara Raja-raja di tanah air kita yang terhitung Raja Besar. Di samping dia kita mengingat nama-nama lain yang sezaman dengan dia, sebagai lskandar Muda Mahkota Alam Aceh, Hasanuddin Makassar, Ranamanggala Mangkubumi di Bantam. Di luar negeri terkenal nama-nama Sultan Akbar Abdul Fatah Jalaluddin Muhammad di India (Delhi) dan Sultan Salim Osman di Turki.

Sultan Agung naik takhta, kebetulan di waktu Kompeni Belanda baru saja ditumbuhkan, dan baru saja merangkakkan jalannya hendak menguasai tanah air kita, karena hendak me-rebut rempah-rempah.

Keistimewaannya dalam peperangan, percobaannya hen-dak merebut Jakarta kembali dan mengusir Belanda, meskipun tidak berhasil karena Belanda telah kuat di waktu itu, bukanlah akan menjadi pokok pembicaraan kita di sini. Yang menjadi te-kanan perhatian kita sekarang ialah, kebesarannya dalam segi filsafat dan agama, dan citanya hendak menyesuaikan ajaran Islam sebagai agama yang telah diterima dan menjadi kenyata-an, denganjiwa asli bangsaJawa.

Islam telah masuk ke Jawa dan telah pernah berpusat di Demak. Padahal sisa perasaan keh induan belumlah hilang.

Di Jawa Timur pada masa itu masih ada juga Kerajaan Hindu yang kuat (Blambangan). Beliau merasa bahwa kedudukannya sebagai seorang Raja besar tidaklah akan teguh, kalau sekira-nya dia tidak mendapat sokongan yang kuat, bukan saja dari-pada pemeluk Agama Islam, tetapi juga daridari-pada kaum bangsa-wan yang rasa kehinduan belum hilang samasekali dari dalam hati mereka.

Untuk mensahkan kedudukannya sebagai kepala Agama Islam, dia minta dilantik gelaran Sultan daripada Sunan Giri.

Sebab Giri masih menj,:1di pusat dari penyiaran Islam. Tetapi di samping menjadi Sult an, beliau pun adalah kepala adat pus aka turun-temurun, beliau adalah Cokrokusumo dan Prabu Pandito.

Agama berjalanlah sebagaimana mestinya, tetapi jangan lebih daripada batas-batas kekuasaan yang telah ditentukan. Pengu-rus uPengu-rus-uPengu-rusan agama dinamai "Jogosworo", terambil dari kata-kata "Yogi", salah satu amalan tafakkur daripada penga-nut Agama Budha.

Keturunan beliau disusun demikian rupa, sehingga terpa-dulah di antara Islam dan Hindu dan ceritera wayang. Di sam-ping silsilah keturunan beliau daripada Nabi Adam dan Nabi Syis, beliau adalah keturunan Batara Guru, bernama Arjuna, Abimanyu, Parikesit. Kadang-kadang disebut hubungan beliau dengan Nabi Muhammad, sebagai keturunan daripada Saidina Ali dan Fathimah, tetapi juga disambungkan dengan Kuda La-lean Raja Pajajaran Hindu, Brawijaya dan Hayam Wuruk, sebagai raja-raja besar Majapahit.

Untuk menunjukkan bahwasanya negeri beragama Islam, setiap bulan Maulid diadakan Sekaten, kabarnya konon diambil daripada kalimat syahadat (Syahadatain) dan orang berkumpul ke dalam mesjid, mendengarkan guru agama membacakan ki-sah Maulid Nabi Muhammad, tetapi sebelum itu dengarkan da-hulu gamelan Ki Sekati dan Nyi Sekati.

Salah satu usaha beliau dari segi Filsafat buat mendamai-kan di antara pelajaran Syirk Hindu dengan Tauhid Islam, ialah karangannya yang terkenal "Sastragending". Dipertemukanlah pelajaran "Fana" dalam Tasawuf Islam dengan pelajaran

"Nirwana" dalam pelajaran Budha dan "Atma" dalam pelajaran Hindu. Dalam satu susunan yang sangat halus, sehingga se-akan-akan menjadi satu agama terdiri sendiri. Dan usaha ini di-teruskan oleh keturunan-keturunannya yang datang di bela-kang. Sampai kepada Ranggawarsita Pujangga Jawa yang ter-kenal, mengemukakan pelajaran "Kawan Gusti" campuran ajaran Al-Hallaj dlin Al-Ghazali, dibumbui dengan ajaran Hindu.

Dengan memakai pelajaran seperti ini, apa saja agama yang dipeluk, baik Islam ataupun Hindu, akan dapatlah diper-34

temukan. Dan orang tak usah memberat-berati dirinya, karena semua pelajaran agama adalah sama, dan telah diambil dari patinya.

lnilah jasa terbesar dari Sultan Agung, yang akan dijadi-kan tempat tegak dan dasar daripada keturunan-keturunannya yang datang di belakang. Tetapi setelah beliau wafat, tidaklah akan dapat teguh filsafat yang beliau tanamkan itu, kalau se-kiranya kemudian tidak datang perlindungan daripada yang la-in, yaitu kekuasaan asing.

Baru saja beliau meninggal, yakni pada zaman pemerintah-an Ampemerintah-angkurat I, bpemerintah-angkitlah Trunojoyo dari Madura, dibpemerintah-antu oleh Karaeng Galesong dari Makassar mengadakan pemberon-takan. Pahlawan-pahlawan ini memperjuangkan tegaknya ajar-an Islam yajar-ang lebih baik. Pada zamajar-an Amajar-angkurat II, berlaku-lah kekejaman yakni pembunuhan terhadap ribuan Ulama-ulama Islam, yang mencoba menanamkan ajaran Islam yang se-benarnya.

Pada zaman Amangkurat IV, dengan kehendak Belanda di-usirlah beberapa Muballigh Wahabi yang datang ke Jawa hen-dak mengajarkan Islam yang bersih kepada penduduk. Bahkan Amangkurat sendiri pun tertarik oleh ajaran itu. Dan keturunan-nya pula, Pangeran Abdul Hamid Diponegoro, terang-terang hendak mendirikan Kerajaan Islam, dan beliau Amiril Muk-minin di tanah Jawa. Beliau ganti pakaian Jawa Lama dengan jubah dan serban. Maksud beliau niscaya akan berhasil, kalau sekiranya Kompeni tidak campur tangan.

Pada zaman sekarang, untuk menyatukan Kebangsaan Indonesia, pemimpin-pemimpin Indonesia merumuskan Pancasila! Bung Karno pencipta Pancasila, mengakui bahwa-sanya Filsafat Pancasila bukanlah buatannya sendiri, tetapi rasa asli yang terpendam dalamjiwa-raga bangsa Indonesia.

Pemimpin-pemimpin Islam atau pun Kristen atau pun Hindu menerimanya dengan baik.

Tetapi pada saat-saat terakhir, mulai pula terdengar usaha beberapa golongan, hendak menonjolkan Pancasila, bukan saja sebagai alat mempersatukan, tetapi sebagai semacam agama pula. Ada yang mengatakan bahwa Bung Karno adalah Nabi Pancasila.

Sebagaimana telah terjadi dalam riwayat, ini pun tidak akan berhasil. Beberapa tahun saja sebelum Sultan Agung, maka Sultan Akbar di India telah mencoba pula mem"buat" sebuah agama Kesatuan. Mati Akbar, matilah agama itu.

Umur agama buatan itu hanyalah sepanjang umur orang yang mencoba-coba membuatnya. Dan umur sejarah lebih pan-jang dari umur manusia.

Catatan.

VI. SYEKH YUSUF TAJU'LKHALWATI