A. PEMBERONT AKAN DI CILEGON
IV. USAHA KEDUAKALI MEREBUT MALAK\
Awai Abad KedelapanBelas
Kekuasaan Kompeni Belanda telah bertambah besar. Satu persatu Kerajaan-kerajaan Islam yang ada di Indonesia ini telah dilemahkan. Kerajaan Mataram pusaka Sultan Agung, Kera-jaan Banten pusaka Sultan Hasanuddin demikianpun yang lain-lain. Tidaklah dapat lagi naik takhta kerajaan. Tinggallah sebuah Kerajaan Melayu yang masih besar dan berkuasa pe-nuh, yaitu di Kepulauan Riau. Kerajaan Riau di abad kedelapan belas adalah seakan-akan Kaisar Melayu. Dia meliputi Johor, Lingga, Pahang, Terenggano, Indragiri dan Kampar. Bahkan Sultan -suit an Melayu, terutama Ka!imantan Baral pun mengakui pertalian adat istiadat ke Riau. Seumpama Mempa-wah, Sambas, Sukadana, Matan, Sanggau. Dan seketika Syarif Abdurrahman keturunan bangsa Said Al Qadri Jamalul Lail mendirikan Kerajaan Pontianak, adalah memohonkan kebesar-an ke Riau juga.
Nyaris Kerajaan Riau itu padam kebesarannya karena pe-perangan sesama sendiri, tatkala Raja Kecil r!ari Siak menye-rang Rian, Lingga clan Johor.
Maka datanglah lima orang anak-anak Raja Bugis dari Lu-wuk, mengembara di perairan Selat Malaka. Mereka adalah pahlawan-pahlawan perang yang gagah berani. Mereka tolong Raja Riau mengalahkan Raja Kecil. Lalu mereka menjadi
"Jamtuan Muda" di Riau. Jabatan Jamtuan Muda adalah Jeba-gai Perdana Menteri yang berkuasa penuh, clan Sultan di Riau tetap menjadi lambang Kerajaan.
Jamtuan Muda Riau pertama Daeng Marewah (wafat 1728) yang kedua Daeng Celak (wafat 1745), yang ketiga Daeng Kam-boja (wafat 1777), qan yang keempat adalah Raja Aji putera dari Jamtuan Kedua Daeng Celak.
Pada zaman Raja Aji inilah Kerajaan Melayu mencapai ke-majuan clan kebesarannya. Dan bercampurlah darah Bugis clan darah Melayu, yang akan menjadi dasar teguh kelaknya dari
apa yang sekarang kita namai Kebangsaan Indonesia! Dan ber-usahalah alim ulama mengisi Kebudayaan Melayu dengan Agama Islam.
Dengan Kompeni Belanda mereka membuat perjanjian persahabatan. Berulang-alihlah utusan kerajaan ke Jakarta dan ke Malaka, perniagaan menjadi subur dan Belanda berjanji ti-dak akan mengganggu bangsa Melayu dengan adat istiadat dan agamanya. Bangsa Melayu pun memegang teguh suatu janji, bahwasanya musuh Kompeni Belanda adalah musuh Melayu, dan musuh Melayu adalah musuh Kompeni. Rugi tanggung kedua dan keuntunganpun dibagi berdua.
Pada suatu hari masuklah kapal dari "musuh bersama" ke daerah Riau, yaitu kapal Inggris. Kekayaan pada kapal itu amat banyak. Datang Angkatan Kompeni dari Malaka, diambil-nya rampasan itu semuadiambil-nya dan tidak dibagidiambil-nya.
Raja Aji keberatan, karena itu adalah pelanggaran janji.
Diutusnya satu delegasi ke Malaka, menuntut dibicarakan ten-tang janji yang telah diperbuat itu, dan minta diserahkan separo dari rampasan kapal itu. Tetapi Belanda tidak mau menerima-nya.
Amat murkalah Raja Aji atas janji yang tidak dihargai itu.
Kabarnya konon, surat-surat perjanjian itu dirobek-robeknya karena sangat murkanya.
Karena persahabatan telah berganti dengan permusuhan, Kompeni pun mendapat kesempatan yang baik menyerang Riau (1783). Dan Raja Aji dengan balatentara dan pahlawannya mempertahankan Riau dengan gagah perkasa. Sembilan bulan lamanya berperang. Pusat pertahanan tempat mengatur ko-mando perang ialah pulau kecil yang terletak di hadapan Tanjung Pinang sekarang itu, pulau Penyengat.
Dahsyatlah peperangan itu. Terpadulah gagah perkasa Melayu dengan Bugis mempertahankan daulat kebesarannya.
Gegap gempitalah bunyi meriam "lelarentaka" dari kedua belah pihak, banyaklah pahlawan yang gugur. Tetapi setelah ber-perang sepuluh bulan lamanya, Belanda terpaksa mundur ke Malaka, karena beberapa buah kapal perangnya telah teng-gelam. Dan terpeliharalah kemerdekaan Riau dan kebesaran-nya.
Dapatlah suku-suku bangsa kita menarik nafas dan ber-syukur kepada Tuhan, karena kemenangan itu. Tetapi ada juga Kerajaan-kerajaan Melayu itu yang dengki, karena mereka me-rasa akan turunlah kedaulatannya jika Riau beroleh kemenang-annya dan akan "terjaminlah" kekuasakemenang-annya di atas tanahnya yang setumpak kecil, oleh Kompeni Belanda, jika mereka me-misahkan diri dari Riau!
Selangor adalah bertetangga dengan Malaka. Raja di sana-pun (Raja Ibrahim) anak saudara dari Jamtuan Muda Riau, me-rekapun keturunan Bugis. Kemenangan Riau mempertahankan diri dari serangan Belanda di Malaka, membuat semangat me-reka naik buat meneruskan tantangan kepada Belanda. Meme-reka- Mereka-pun bersedia melanjutkan serangan merebut Malaka dan me-ngusir Belanda. Lalu mereka minta Raja Aji datang sendiri ke pantai Selat Malaka, supaya mengepung Belanda dari setiap jurusan.
Ada juga orang besar-besar Riau menasihatkan supaya Jamtuan Muda mengurungkan maksudnya. Tetapikarena keras permintaan Raja Selangor, Raja Aji mengabulkannya juga.
Maka mendaratlah tentara Melayu dari Riau itu di Teluk Ketapang, sebelah Selatan dari kota Malaka. Di sanalah beliau membuat pertahanan yang kuat, Sultan Riau, Sultan Mah-mud Syah ikut dalam peperangan itu.
Terjadilah kembali peperangan yang hebat, tiga bulan lamanya. Tetapi sayang sekali, karena beberapa Raja Melayu yang lain, sebagai Terenggano dan Siak telah berpihak kepada Kompeni. Dan orang Melayu yang dalam negeri Malaka sendi-ri, demikian juga orang Bugis dan orang Jawa dibujuk oleh Be-landa supaya berdiri di pihak mereka, dengan rayuan janji-janji yangmuluk.
Sungguhpun segala kekuatan telah dikerahkan Belanda bu-at menentang serangan itu dan mempertahankan diri, sangbu-at lah dahsyat serangan pahlawan Melayu Bugis itu, dengan di-bantu oleh saudaranya Raja Ibrahim Selangor. Satu persatu negeri-negeri keliling Malaka itu telah jatuh ke tangan beliau.
Bahkan telah masuk ke dalam negeri Malaka sendiri, sehingga Belanda hanya dapat bertahan dalam bentengnya. Sehingga 190
sudah ada usaha hendak memindahkan segala bangsa Belanda orang preman, perempuan clan anak-anak ke tempat lain yang lebih aman. Sebab bantuandari Jakartabelumjuga datang. Se-rangan Raja Aji kian lama kian dahs:rat.
Cucu Raja Aji, Pujangga clan Ulama yang terkenal, yaitu Raja Ali Al Haji , bin Angku Raja Ahmad Al Haj, bin Raja Aji, mengarang buku "Tu,ifut an Nafis", tentang silsilah raja-raja Melayu clan Bugis, mengisahkan hikayat perang Raja Aji itu de-ngan hidupnya. Bilamana hari siang beliau sendiri yang me-mimpin peperangan, menyerang clan mengepung kota Malaka.
Bilamana hari telah malam, beliau asyik mendengarkan fatwa Ulama yang turut dalam angkatan perang itu. Setiap malam Ju m 'at, beliau mengadakan wirid membaca kitab "Dalail al
Khairat ", ucapan puji-pujian kepada Rasulullah s aw.
Pengepungan yang dahsyat atas kota Malaka itu amat menggegerkan kekuasaan Belanda, baik di Jakarta ataupun di negeri Belanda sendiri. Perang yang tadinya sangat diabaikan.
Tetapi seorang Raja Melayu saja, mula telah nyata pertahanan di Malaka sudah tidak berupaya lagi, dikirimlah bantuan yang amat besar, terdiri daripada duapuluh kapal dan beribu-ribu serdadu dari Jawa. Sayang sekali sebagian besar serdadu itu adalah bangsa lndonesiajuga!
Mereka masuk dari jurusan laut, pendaratan yang paling hebat adalah di Teluk Ketapang sendiri. Beribu-ribu serdadu Belanda masuk mengepung Teluk Ketapang, tempat pertahan-an Raja Aji. Kipertahan-an lama kipertahan-an mendesak. Ppertahan-anglima-ppertahan-anglima pe-rang Melayu clan Bugis bertahan dengan gagah beraninya, dalam peperangan yang tidak seimbang.
"Maka A rung Lenga pun memacu kudanya, padahal ia te-ngah sakit, keluarlah dia menempuh baris Belanda, lalu ia me-ngamuk. Maka matilah dia dengan kudanya, dan Belanda pun banyak juga yang akan membawa itu, meletus dan pecah se-belum berangkat. Muda itu oleh segala orang besar-besar Ho-Landa itu, serta dengan serdadu-serdadunya. Maka mengamuk-lah pula Daeng Salekong dan Panglima Talebang serta Haji Ahmad. Maka ketiganya mengamuk menyerbukan dirinya ke-pada baris Holanda yang berlapis-lapis itu. Maka seketika dia
mengamuk itu,matilah ia syahid
fl
Sabilillah ketiganya dengan nama laki-laki. Dan berapa lagi orang baik-baikpun syahid. "- Demikian Raja Ali Haji meng isahkan hebatnya perang berkecamuk di hadapan benteng itu.
Raja Aji ada dalam benteng. Hati baginda tidak tahan lagi melihat pahlawan-pahlawan pilihannya gugur satu persatu di dalam penyerbuan yang dahsyat clan tidak seimbang.
Allahu Akbar! Tetapi anak cucu clan budak-budaknya, mencoba menahan clan memeluk bagindajangan pergi. Dengan keras beliau kuakkan segala halangan clan beliau tampil ke muka. Tetapi berlakulah kadar Allah, baru saja sampai di muka benteng itu, sedirus datangnya beratus-ratus peluru menembus dirinya clan gugurlah pahlawan Malaya Bugis itu dengan gagah perkasanya. Badik masih di tangan kanannya clan Dalailul Khairat masih di tangan kirinya.
Dengan itu berhentilah perang! Menanglah Belanda. Selu-ruh orang-orang besar Belanda yang hadir waktu itu, semuanya membuka topi memberi hormat kepada Raja Besar clan Pah-lawan Perkasa itu!
Besoknya Gubernur Belanda di Malaka meminta kepada orang-orang Malaya clan Bugis supaya jenazah Almarhum itu diurus dengan serba kebesaran. Setelah selesai lalu dimasuk-kan ke dalam peti mati. Niat Belanda hendak membawanya ke Jakarta, untuk menjadi ingatan sejarah yang besar. Tetapi tak jadi. Maka dikebumikanlah jenazah beliau di belakang kubu pertahanan Belanda. Setelah Malaka kemudiannya jatuh ke tangan lnggris, maka Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi ada menceriterakan bekas kuburan Raja Aji di belakang kubu itu.
Duapuluh lima tahun di belakang itu, anak cucu Raja Aji datang ke Malakameminta izin untuk membawa tulang-tulang jenazah itu ke Riau, lalu mereka makamkan kembali di Pulau Penyengat sebelah Selatan.
ltulah Almarhum Raja Aji, Marhum Teluk Ketapang,
"Asy Syahid
fl
Sabilillah ", salah seorang pahlawan besar bang-sa Indonesia di abad1rndelapan belas.Kejadian ini pada tahun 1784. Dan bangsa Indonesia di Kepulauan Riausekarang ini, bolehlah berbangga,karena di Riau pun ada pula pahlawan besar.
192