• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. PEMBERONT AKAN DI CILEGON

V. TUANKU LARAS

Setelah patah perlawanan Kaum Paderi di Minangkabau di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol dan "Harimau Nan De-lapan, "maka Kompeni membuat satu susunan baru untuk me-ngatur negeri Minangkabau, dengan mengadakan pangkat Laras.

Kata-kata "Laras" di dalam pokok adat istiadat Minangka-bau memang ada, yaitu "Luhak" nan tiga, Laras nan dua."

Luhak artinya ialah tanah yang rendah atau berlobang karena bekas runtuhan. Tetapi)diambiUsusunan adat kepada tiga wila-yah di sekeliling Gunung Merapi, yang kerendahan clan indah kelihatan. Yaitu Luhak Agam, Luhak Tanah Diatar clan Luhak Limapuluh Koto. Tiga buah koto di hulu Minang, yaitu Bukit-tinggi terletak di Luhak Agam, Batusangkar terletak di Luhak Tanah Diatar clan Payakumbuh terletak di Luhak Limapuluh Koto.

Laras ami1asalnya'ialah cabang. Susunan adat terbagi kepa-da dua Laras. Pertama Laras Koto Piliang, kedua Laras Budi Caniago. Negeri-negeri memilih sendiri susunan adatnya, apa-kah menurut Budi Caniago atau menurut Koto Piliang. Budi Ca-niago dekat dengan demokrasi, kepala-kepala adatnya "mem-besut dari bumi ". Sedang Koto Piliang mengarah susunan aris-tokrasi, setiap nagarinya mempunyai kelebihan clan tugas sendiri:

Tanjung Balit Sulit Air, cemeti Koto Piliang.

Lima Kaum Dua, belas Koto, cermin terus Koto Piliang.

Batipuh, Harimau Campa Koto Piliang," clan lain-lain sebagainya.

Dari kata "Laras ".itulah Kompeni mengambil nama dari susunan baru, menyusun negeri-negeri yang sama rumpun adatnya, clan mengangkat seorang kepala dari negeri yang ber-sekutu itu, diberi gelar "Tuanku Laras ".

Maksud Belanda ialah hendak lebih mengutamakan

ke-kuasaan adat dan menyingkirkan pengaruh dan kuasa agama, ..,.yang telah berurat berakar sebagai suatu kekuasaan sejak

za-man Paderi.

Ketika itu Kaum Ulama pindah kepada cara yang lain. Ge-rakan Tasawuf Tharikat Naqsyabandiyah Khalidiyah bertambah mendalam di kalangan agama. Guru-guru Tl-.arikat itu me-ngumpulkan murid-muridnya menegakkan kekuasaan Rohani, untukjika perlu, menentang pula akan kekuasaan Laras tadi, ji-ka dipandang melanggar syari 'at. Maji-ka di samping kekuasaan Laras yang bernaung di bawah payung panji "si putih mata"

artinya orang Belanda, maka guru Suluk menanam pengaruh pula dengan ajaran 'Jana dan baqa ". K.,kuasaan mereka ke dalam jiwa rakyat lebih besar daripada kekuasaan Laras. Ada-pun Laras yang cerdik, didekatinya Ulama-ulama itu, dihor-matinya dan diterimanya menjadi menantu, dan Laras .y,,ang ter-lalu enak mendapat asuhan Belanda, menentang mefoka, se-hingga ada di antara Ulama-ulama itu yang difitnahkan dan dibuang.

Beberapa di antara Laras itu memelihara kekuasaan yang diberikan kepadanya dengan sebaik-baiknya, tahu\akan haknya dan taat beragama, supaya jangan putus dengan rakyat dan di-kuatkannya adat. Maka adalah di antara mereka yang demikian besar pribadinya, sehingga Kontroleur Belanda atau Tuan Lu-hak (Asisten Residen ) tidak boleh berlaku gegabah. Laras Ala-han Panjang (Bonjol) keturunan Tuanku Imam Bonjol, pernah menempeleng Westenink yang ketika itu menjadi "Tuan Ko-mendur" (Kontroleur) di Bonjol. Beliau berkata.

"Kau masih anak-anak, saya lebih tahu keadaan da-erah saya."

Dan ada pula di antara mereka yang orang Belanda mesti minta izin lebih dahulu, baru boleh masuk ke dalam pekarang-annya, dan kalau dia tidak senang, disuruhnya saja "orang ja-ga" mengusir "si putih mata" itu.

Di antara Laras yang masyhur, adalah Laras Koto Gadang, nagari yang telah menghasilkan pribadi-pribadi semacam Haji Agus Salim dan Su tan Syahrir, dan beberapa pembuka pintu kemajuan zaman baru sekarang ini di tanah air kita umumnya dan Minangkabau khususnya. Dia sudi membantu Belanda di

dalam saat yang penting, tetapi dia tidak mau "dihatur hidung"

demikian saja. Sikapnya keras, anak kemenakan dimajukan, na-gari Empat Koto digiatkan berusaha. Maka tersebutlah bahwa pada suatu hari beliau pergi berburu bersama-sama Tuan Ko-mendur. Ketika sampai di lereng Gunung Singgalang, makan minumlah mereka bersama-sama. Sehabis makan, dimakanlah pisang raja. Dimakan berbagi dua, sepotong untuk Tuanku La-ras, sepotong untuk Tuan Komendur sendiri dengan pisaunya.

Menurut adat, bila telah makan pisang sekudung seorang, ada-lah alamat persahabatan yang karib. Padahal tidak lama se-sudah makan pisang itu, Tuanku Laras jatuh sakit clan mati!

Orang menyangka bahwa mata pisau yang sebelah dibubuhi ra-cun, itulah yang dimakan Tuanku Laras. Demi seketika mayat akan dikuburkan "meratap "· lah anak cucu.

11Niniek den Tuanku Lareh, parang ka Bonjo indak dia, parang ka Singkie indak mati, Gunung Singgalang maruntuah-kan Banda Situjuah ma-hanyuik-kan. ".

(Wahai nenek kami Tuanku Laras, mengapa tuan jadi begini. Seketika turut berperang ke Bonjol, Tuanku tidak apa-apa. Seketika turut berperang ke Singkel, Tuanku tidak mati.

Tetapi setelah pergi ke lereng Singgalang, di sanalah Tuanku runtuh. Dan seketika menm un ke Bandar Situjuh, di sanalah baru Tuanku_hanyut.)

Hanya dengan sindiran demikianlah mereka dapat menya-takan rasa hati yang terpendam.

Yang masyhur lagi ialah Tuanku Laras Sungaipuar. Anak cucunya sampai sekarang pun menjadi orang-orang ternama di tanah air kita. Demikian terkenal beliau, sehingga sampa1 ter-gambar di kotak api-api, (korek-api).

"Tuanku Laras Sungaipuar, sampai tergambar di api-api kalau berteras dari luar

alamat melarat badan diri. "

Yang masyhur pula ialah Tuanku Laras Simawang. Nagari yang terkenal, karena dari sanalah dahulu Raffles melalui jalan ., hendak menuju Batusangkar.

Beliau mulanya menjadi pegawai kereta api di Singkarak, dan telah lama kawin dengan Siti Jamilah, yang ayahnya orang Minangkabau, dan ibunya orang dari Jawa. Tiba-tiba dia ter-panggil pulang ke Simawang buat menjadi Laras, dan istrinya Siti Jamilah dibawanya pulang, karena telah beroleh tiga orang putera.

Tetapi setelah sampai di negerinya menjadi Laras, kaum kerabat belum merasa puas, kalau beliau belum kawin seorang lagi dengan puteri bangsawan di Batusangkar. Maka terjadilah selisih rumahtangga yang hebat antara suami istri sehingga ter-lanjur mulutnya menghina istrinya Siti Jamilah!

"Asal engkau 'kan orang Jawa! Orang rantai turutkan di-kau, serdadu turutkan di kau."

Dan dengan merentak saja Tuanku Laras turun jenjang, te-rus sekali pergi kawin. Bukan main tertusuknya perasaan Siti Jamilah karena perkataan yang kasar menghina itu, sehingga sepeninggal Tuanku Laras, diasahnya pisau dan disembelihnya ketiga anaknya, dan disembelihnya pula dirinya.

Tuanku Laras sangat menyesal, sehingga nyarislah dia gi-la. Untuk mengobat ha tin ya dia naik haji

T

eta pi kembali dari Mekkah tidaklah bertambah sembuh, meiainkan bertambah merana ingat akan istri dan anak-anaknya.

Di tahun 1912, pemerintah Belanda memandang tidak per-lu lagi ada pangkat Laras. Pangkat itu pun dihapuskan dan di-ganti dengan pangkat Demang. Laras yang telah tua-tua tidak diganti lagi, dan yang masih muda terus diganti nama pangkat-nya, dari Laras kepada Demang.