• Tidak ada hasil yang ditemukan

Setelah bangsa Portugis dapat memusatkan kekuasaannya di Goa (India), clan merebut Malaka, kemudian dapatlah dia meluaskan kekuasaannya sampai ke Maluku. Padahal sebelum bangsa Portugis masuk ke sana, Islam telah lebih dahulu da-tang. Dua bangsa yang berjasa menyiar clan menanamkan pe-ngaruh Islam di Maluku, yaitu orang Melayu dari Malaka clan Muballigh-muballigh dari Jawa Timur. Maka di pertengah abad keenambelas itu, sedang Portugis meluaskan kuasanya, yang menjadi Sultan di Ternate adalah Sulthan Khairun. Dan yang menjadi gubernur Portugis di sana ialah De Mesquita. Kedua-duanya adalah orang yang sama keras clan teguh mempertahan-kan agamanya. lngat sajalah bahwa pertengahan keenambelas itu, masih keras clan nyata pertentangan Islam dengan Kristen.

Dan orang Portugis sangatlah bencinya mendengar Agama Islam. Mereka berniat hendak menghapuskan Agama Islam di tanah-tanah yang telah dikuasainya, tetapi langkahnya senanti-asa terhambat oleh raja-raja Islam.

Portugis di awal abad keenambelas, telah dapat meruntuh-kan Kerajaan Islam Malaka. Sebab itu mereka mencoba pula hendak menghancurkan kekuasaan Islam dari Maluku. Maka penentangnya yang paling kuat, ialah Sultan Khairun.

Payahlah De Mesquita membujuk supaya Sultan Khairun mengakui perlindungan dari Raja Sebastian yang menjadi raja Portugal pada masa itu. Dengan maksud untuk memperteguh kekuasaan di bawah bangsa yang telah IJlUlai menanamkan pe-ngaruh di negerinya, Sultan Khairun pada mulanya menerima ajakan itu. Dia mengakui kekuasaan raja Portugal. Tetapi Gu-bernur De Mesquita senantiasa membuat pekerjaan-pekerjaan yang akan menyakitkan hatinya. Dia menyangka, bilamana dia telah mengakui kekuasaan raja Portugal akan bebaslah dia di negerinya, clan akan terhentilah kegiatan bangsa Portugis me-maksakan Agama Kristen (Katholik) supaya dipeluk oleh anak negeri yang belum beragama. Tetapi harapannya itu selalu di-hampakan oleh De Mesquita.

Melihat pengakuannya tunduk itu dipergunakan oleh Por-tugis buat lebih mempergiat penjajahan dan paksaan agama.

Sultan Khairun tidak dapat menahan hatinya lagi, sehingga .missionaris Portugis yang bergiat menyiarkan Agama Kristen itu dibinasakannya samasekali (1565), yakni setahun setelah baginda meneken perjanjian mengakui perlindungan Kerajaan Portugal itu.

Karena itu Portugis meminta bantuan ke Goa, dan bantuan armada Portugis pun datanglah dari Goa, lalu berlabuh di Ambon.

De Mesquita menyangka, kalau kiranya Sulthan telah tahu bahwa bantuan Portugis yang besar telah datang, niscaya Sul-tan akan tunduk dan tidak berani melawan lagi. Oleh sebab itu

g\uhernur itu bertambah leluasa melakukan kehendak dan lobanya. Hak-hak suhan mulai dirampasnya. Cukai perniaga-an cengkeh untuk sultperniaga-an mulai ditahperniaga-annya. Nyaris sultan menghadapi sikap yang demikian dengan kekerasan pula. Ba-ginda telah bersiap hendak menyerang segala pertahanan orang Portugis. Tetapi satu perutusan dari pihak Portugis telah dapat membujuk Sultan supaya berdamai saja, dan akan hidup berdampingan secara aman sentosa di antara orang Islam Ter-nate dengan orang Portugis. Sultan sudi menerima perdamai-an itu. Lalu diikatlah jperdamai-anji tidsak akperdamai-an berperperdamai-ang lagi, akperdamai-an te-tap bantu membantu antara kedua belah pihak. Sumpah itu di-kuatkan dengan serba kesucian. Gubernur De Mesquita ber-sumpah dengan mengangkat Kitab lnjil dan Sultan Khairun bersumpah dengan mengangkat Ki tab Al·Qur' an (I 7 Februari 1570).

Sehari kemudian(l8 F ebruari 1570), diundanglah sultan oleh Gubernur De Mesquita mengadakan jamuan tanda persahaba-tan di dalam benteng Portugis. Oleh karena percaya akan janji yang telah disaksikan dengan Al-Quran dan lnjil, sultan pun pergilah ke benteng itu. Tetapi ham saja beliau masuk ke dalam nya, baginda pun ditikam oleh seorang pengawal atas pesuruh Gubernur De Mesquita, dan mati pada saat itu juga. Karena memang ada fatwanya daripada "Paus Eugin IV'"pada tahun 1444, bahwa tidaklah berdosa menurut agama Katholikjika

per-janjian yang telah diikat, walaupun dengan bersaksikan Injil clan Al-Qur'an, terhadap kaum Muslimin, jika dimungkiri! Lan-taran fatwa inilah maka Pangeran H~ynade dari Hongaria me-mungkiri janji yang telah dikuatkan dengan lnjil clan Al-Qur'an itu pula terhadap.Sultan Murad Turki. Bukan main murka pute-ra baginda, babu'llah, yang menggantikanlKhairun menjadisul-tan. Babu'llah bersumpah bahwa dia akan tetap berjuang me-nuntutkan darah ayahnya. Baginda tidak akan berhenti ber-juang, sebelum bangsa Portugis dikikis habis dari Ternate, clan baginda tidak akan berhenti berjuang sebelum orang-orang yang membunuh ayahnya dihukumnya sendiri dengan tangan-nya.

Tidaklah lama-lama Babu 'llah bermenung setelah ayahnya wafat. Segera disusunnya tentaranya clan dikerahkannya me-ngepung benteng pertahanan Portugis di Ambon, clan terjadi-lah peperangan yang besar, hebat dan dahsyat, antara tentara Islam Ternate dengan Portugis. Raia Tidore yang tadinya

ber-musuhan dengan Ternate, segera memberikan pertolongan kepada Babullah. Tetapi Raja Bacan yang telah memeluk Agama Kristen, rupanya memberikan bantuannya kepada Portugis. Bukan main murka Babullah melihat sikap raja Bacan, sehingga diancamnya bahwa jika Raja Bacan tidak segera mundur dari medan perang, untuk sekurang-kurangnya ber-sikap netral, raja itu jangan menyesal, jika negerinya kelak dijadikan padang tekukur.

Keras juga serangan Ternate atas benteng Ambon, sehing-ga seb~gian musnah terbakar clan pertahanan diangsur me-mindahkan ke Malaka. Orang-orang Kristen Ambon banyak turut mengungsi ke Malaka, karena takut akankegagahperkasa-an tentara Ternate di bawah pimpinakankegagahperkasa-an Sultakankegagahperkasa-an yakankegagahperkasa-ang gagah per-kasa itu.

Lima tahun lamanya benteng pertahanan Portugis di Ter-nate sendiri dikepung oleh Babu' llah. Kian lama kian habislah kekµatan pertahanan 'Portugis, karena makanan telah kurang clan bantuan dari Goa tidak kunjung datang, clan kelaparan ti-dak terderitakan lagi.

Demi setelah Sultan Babu 'llah s•tria Islam itu mende-ngar khabar, bahwa oran(s Portugis, tennasuk perempuan dan

anak-anak sudah sangat lemah karena kekurangan makanan, maka baginda sendirilah yang mengirim utusannya ke benteng mengemukakan usul, bahwa jika mereka tidak sanggup mela-wan lagi, clan bersedia menyerah dalam masa 24 jam mereka akan dipersilakan berangkat dengan senjatanya sekali. Boleh pulang ke Malaka atau ke Ambon. Mereka boleh menyerah de-ngan cara terhormat! Bahkan kelak, Sultan Babu'llah bersedia memberikan benteng itu kembali kepada raja Portugal, asal sa-ja orang-orang yang membunuh ayahnya clan yang berta1~g-gung jawab atas pembunuhan itu, diserahkan clan diganti keru-giannya ....

Tida~ ada jalan lain lagi, maka pada tahun 1575 terpaksalah bendera Portugis diturunkan dari atas puncak benteng Ternate itu clan diserahkan kepada Sultan Babu'llah. Dan pada tahun 1580, Sultan mengirim utusan ke Lissabon, menghadap Raja Philip, menuntut kembali keadilan atas kematian ayahnya, sehingga raja Portugis memerintahkan gubernurnya di Ambon menangkap De Mesquita clan menyerahkannya kepada Sultan Babu'llah. Tetapi perahu yang membawa De Mesquita Ke Ternate itu diserang lanun di jalan, sehingga dia mati dibunuh bajak laut itu. Maka berkibarlah bendera Islam di Maluku ke-mudian meluas sampai ke pulau-pulauyang lain atas pimpinan Babu'llah. 72 pulau besar kecil, sampai ke lrian clan ke Minda-nao Filipina, sampai ke Bima dan;Sulawesi, pernahlah di bawah kekuasaan Ternate. Baginda pulalah yang mengajak Karaeng Tonigallo di Goa supaya memeluk agama Islam, tetapi Karaeng itu belum mau masuk Islam karena ajakan Babu'llah, karena itu berarti mengakui pengaruh Ternate.Barulah Tonigallomemeluk Islam, setelah datang guru dari daerah lain, yaitu dari Minang-kabau, yang sudah nyata tidak ada maksud politik. Maka nama Khairun clan Babu 'ilah tetaplah menjadi hiasa.n sejarah Islam di seluruh kepulauan Indonesia ini, di dalam abad lceenam belas, setaraf dengan Raden Patah di tanah Jawa clan Ali Mogayat Syah di Aceh, clan Hasanuddin di Bantam. ltulah raja-raja Islam yang telah dapat menahan gelombang pertama dari bangsa Portugis Kristen-Katholik yang fanatik itu, sehingga nasib Indonesia tidak jadi seperti Filipina ....

BAGIAN KEDUA