A. PEMBERONT AKAN DI CILEGON
VI. BULAN TABUT
Bulan Muhar~am, awal tahun perhitungan hijrah Nabi s.a w. Tetapi dia mempunyai peringatan yang istimewa dalam kalangan Kaum Muslimin, penganut Mazhab Syi' ah.
Tanggal 10 Muharram diperingati oleh kalangan Syi 'ah, dijadikan hari besar dalam Kerajaan Iran, dan diakui juga men-jadi hari besar dalam Kerajaan lrak, sebab penduduk negara itu di sebelah Selatan (Kaufah, Najaf, Karbala dan lain-lain) pen-duduknya yang terbanyak ialah penganut Syi' ah.
Kalau dalam negeri lain, hari besar adalah hari gembira, hari "Naik ke puncak" untuk istirahat, bagi kalangan Syi' ah, 10 Muharram adalah hari ratap sendu, hari berarak di jalan ra-ya, sambil menangis.
Setelah terjadi perang saudara, yang banyak menumpah-kan darah antara dua sahabat Nabi s.a.w. yang besar, seorang menantunya (Ali bin Abi Thalib) dan seorang iparnya, adik istri-nya (Mu' awiyah bin Abi Sufyan), maka berfikirlah beberapa pemuda yang radikal, yang dinamai kaum Khawarij, bahwasa-nya pangkal segala kekacauan Ummat Islam, sehingga saudara membunuh saudara, sehingga ajaran yang ditinggalkan Nabi menjadi tenggelam dalam nafsu dendam dan kebengisan, bah-wasanya yang menjadi "biangkeladi" dari segala kekacauan ini, hanyalah tiga orang saja, yaitu Ali bin Abi T:halib, Mu' awiyah bin Abi Sufyan dan 'Amru bin Al Ash.
Ketiganya mesti disingkirkan dari dunia ini, supaya ummat terlepas dari bahaya yang tidak putus-putus itu.
Maka mereka, jalankanlah rencana mereka. Tiga orang me-nuju tiga negeri, seorang ke Kaufah, hendak membunuh Saidi-na Ali, seorang ke Mesir, hendak membunuh Amr bin Al Ash dan seorang lagi ke Damaskus, hendak membunuh Mu' awiyah!
Tetapi program Tuhan berbeda dengan apa yang mereka ran-cangkan. Yang dapat mereka bunuh hanyalah Saidina Ali, seke-tika beliau akan pergi ke mesjid Kaufah hendak sembahyang Shub uh menjadi Imam! Seketika beliau berseru kepada pend~
duk "Ash Shalaah ", "Ash Shalaah" (sembahyang, sembahyang) 138
tiba-tiba muncullah lbnu Muljam, dengan khanjar beracun, langsung menikamnya, sambil berkata .
.r "Yangjadi hakim adalah Tuhan, haiAli! Bukan engkau!"
Maka tewaslah Saidina Ali!
Adapun yang berangkat ke Syam, tidaklah berhasil mak-sudnya, karena tangannya gemetar seketika mencoba menikam Saidina Mu' awiyah, yang hendak pergi sembahyang Shubuh dan jadi Imam pula, sehingga tikamannya meleset dan dia ter-tangkap. Adapun yang datang hendak menikam Amr bin Al Ash ke Mesir, gagal pula. Sebab sepagi itu, Saidina Amr bin Al Ash ditimpa sedikit demam, sehingga dia mewakilkan menjadi Imam kepada Kharijah. Maka Kharijahlah yang kena tikam dan tewas!
Ketika Saidina Ali akan menghembuskan nafasnya yang penghabisan, diangkatlah oleh pengikutnya (Syi' ah-nya), pute-ranya yang tertua Hasan bin Ali bin Ahi Thalib!
,-Hanya 6 bulan Hasan dapat menggantikan tugas ayahnya, menjadi Khalifah. Telah diselidikinya dan diatumya, diperiksai-nya kekuatan penyokong-penyokongdiperiksai-nya, adakah cukup buat melanjutkan perang dengan Mu' awiyah, maka mengertilah be-liau, bahwa hal ini tidak dapat diteruskan. Kekuasaan Mu-, awiyah telah de facto di SyamMu-, dan wakil Mu' awiyahMu-, yait1Mu-,1 Amt bin Al Ash telah de facto pula dan kuat di Mesir. Ditinjau, nya kekuatan yang ada pada penyokongnya, temyata hanya m,u-lut yang keras, di dalam sendiri pecah!
Mu' awiyah pun menaksir pula kekuatan lawannya yang masih muda itu. Dan Mu' awiyah pun berusaha bagaimana su-paya pertumpahan darah sesama sendiri ini dapat dihentikan, dengan mencari jalan ke luar, dengan menempuh kurban yang sedikit. Maka dapatlah dia memutuskan mengirim sepucuk Su-rat kepada Hasan bin Ali bin Ahi Thalib, bersama suSu-rat ini di-lampirlc.anny_a sehelai daftar kosong yang boleh diisi sesuka ha-tinya oleh Hasan, dan tandatangan Mu' wiyah telah ada di bawahnya, dengan kunci maksud supaya Hasan menyerahkan kekuasaan seluruhnya kepada Mu' awiyah.
Rupanya seluruh keadaan Hasan telah ditakar oleh Mu-, awiyah. Dia tahu Hasan bukan sebagai ayahnyaMu-, Hasan ingin hendak mencarijalan selamat dan Hasan kekurangan uang!
Tidak lama Hasan berfikir setelah menerima surat dan ker-tas kosong memakai cap Mu' awiyah itu. Maka ditulisnyalah bahwa dia bersedia menyerahkan kekuasaan kepada Mu' awi-yah dengan beberapa syarat. Di antaranya ialah bahwa belanja-nya dan belanja keluargabelanja-nya ditanggung selama hidup! Tidak dikurang-kurangi. Dan bila Mu' awiyah wafat, kekuasaan di-kembalikan kepada dirinya!
Syarat itu diterima oleh Mu' awiyah!
Setelah menerima syarat itu, terjadilah pemindahan kuasa ! Hasan menerima dari Mu' awiyah apa yang dikehendakinya.
Dan dengan kepala terasa ringan daripada beratnya tanggung jawab, Hasan pun kembalilah ke Madinah dan hidup di sana de-ngan serba kemewahan, karena "uang ganti kerugian" yang se-lalu diterimanya dari Mu' awiyah.
Tetapi sampai di Madinah, dia lekas sekali meninggal, se-hingga ada orang menyangka bahwa dia mati diracun. Dan kata setengah orang, hal itu acialah hal yang wajar bagi seorang yang hidup terlalu manja, sebentar-sebentar kawin!
Bila Hasan telah mati, Mu' awiyah merasa dirinya terlepas daripada ikatan janji.
Beliau menimbang dengan masak, bahwasanya menjalan-kan pilihan Kepala Negara secara yang dilakumenjalan-kan terhadap Abubakar, Umar dan Utsman dan Ali dahulu, belumlah rupa-nya dapat dilangsungkan. Apatah lagi Kaum Muslimin telah tersiar di mana-mana. Jika dilangsungkan juga pilihan secara demikian, akan tertumpah lagi darah, akan terjadi lagi perebut-an kekuasaperebut-an. Maka beliau pun menggariskperebut-an "trace baru" da-lam membina negara. Jabatan Khalifah hendak diturunkannya kepada puteranya Yazid.
Dari "Republik" menjadi "Dynastis ".
Untuk dia membuat kampanye besar-besaran, membuat propaganda dengan segala macam dalih dan usaha. Dengan bu-juk dan rayu. Dan dengan ancaman kalau perlu! Dikumpulkan ahli-ahli syair, tukang-tukang puji, buat menyatakan kelebihan Yazid daripada pemuda-pemuda lain. Dan anak-anak sahabat yang utama, sebagai anakAbuBakar, anak Umar, anak Zubait dan lain-lain diselidiki dengan halus, mana yang rasanya akan 140
menentang dan mana yang dapat diberi belanja supaya tertutup mulutnya.
Dalam keadaan demikian, Mu' awiyah pun meninggal, dan beliau sudah siap tatkala hidupnya m~ngangkat Y azid jadi
"W ali 'ul 'Ahdi" (Pengganti Mahkota). Sehingga setelah beliau wafat, langsunglah Y azid naik.
Husein bin Ali Abi Thalib, adik dari Hasan bin Ali!
Dia tetap merasa bahwa yang empunya hak adalah dia. Se-bagai juga ayahnya Ali bin Abi Thalib di kala hidupnya berke-yakinan, bahwa jika Rasul s a w wafat, dialah yang terutama berhak menggantikannya menjadi kepala negara! ·
Sedang dia berdiam diri di negeri Mekkah, tetapi hati ber-kata-kata, bagaimana supaya haknya dengan tuntunannya yang adil mendapat sokongan, tiba-tiba datanglah utusan membawa surat dari Syi' ahnya di lrak, meminta dia segera datang me-mimpin perjuangan merebut hak itu lrembali dari tangan Yazid!
Banyak orang memberi nasihat supaya permintaan dari lrak itu jangan dikabulkan dahulu, sebelum diketahui berapa ribu orangkah, berapa kabilahkah, dan siapa pemimpin-pemimpin yang telah menyediakan diri itu. Tetapi hatinya telah bulat untuk pergi ke lrak memimpin perjuangan, merebut hak-nya dari tangan Y azid.
Segala gerak gerik Husein telah diketahui oleh Y azid dari laporan spion-spionnya yang berkeliaran, sehingga Yazid pun telah menyiapkan tentara buat menentang lawan itu. Kaufah, tempat yang dituju oleh Husein telah bergolak. Berduyun-duyun orang mendaftarkan diri menyatakan sedia bertempur di samping beliau, dan menyatakan taat kepada Husein. Wali Yazid di Kaufah tidak dapat berbuat apa-apa. Dengan cepat W ali itu diganti oleh Y azid dengan Ubaidillah bin Zayyad dan disuruh bersikap tegas.
Muslim bin 'Uaqil, wakil Husein dan propagandisnya da-pat dikalahkan dan mati dalam pertempuran, sehingga yang se-tia tergoncang semangat, sehingga apa yang diharapkan oleh Husein pada hakikatnya telah gagal.
Namun H'llsein meneruskan cita, meskipun pengikutnya yang diharapkan itu tak ada lagi. Orang-orang yang tadinya berjanji tidak kelihatan mata hidungnya, telah takut!
Sekarang bukan lagi perjuangan di antara kekuatan dengan kekuatan, tetapi di antara keyakinan hidup clan keyakinan akan
·keadilan tuntutannya. Husein meneruskan perjalanan ber-sama, hanya kaum keluarganya, anak-anaknya clan beberapa pengiring! Dia berkeyakinan, bahwasanya menentang kekuasa-an Y azid, kepala n egara ykekuasa-ang lalim, adalah suatu kewajibkekuasa-an suci. Untuk itu tidaklah diperhitungkan lagi mati atau hidup!
Sampai di Padang K.arbala bertemulah "rombongan kecil"
itu, yang hanya tigapuluh tentara berkuda clan empatpuluh ja-lan kaki, dengan tentara yang dikirim Y azid di bawah pimpinan Ubaidillah bin Zayyad clan beberapa pahla'Van lain, dengan ten-tara empat ribu orang!
Terjadilah pertempuran yang sangat tidak seimbang. Na-mun Husein memperlihatkan keberaniannya yang sangat me-ngagumkan! Sedang sebelum perang berkecamuk, beberapa hari lamanya pihak musuh yang menguasai sumber air minum, tidak membiarkan atau tidak memberikan air minum untuk be-liau. Dan setelah terjadi perang bersosoh, lumat hancurlah ang-katan yang sedikit itu di bawah kaki kuda angang-katan perang . yang besar!
· ~ Husein cair dalam pertempuran, 120 Iuka memenuhi badannya, tangannya terlepas dari badannya kena tetakan . pedang, habis musnah seluruh keluarga clan pengikutnya.
Dan tidak seorang juga yang menyerah, kecuali seorang anak kecil yang belum tahu apa-apa clan beberapa gadis kecil.
Melihat jenazah gagah perkasa itu telah tergelimpang di tanah, clan badannya te\ah seumpama cair, datang mulanya Khauli bin Y azid Al Ashbahi hendak mengerat kepala itu dari . badannya. T.etapi timbul takutnya melihat wajah yang penuh keberanian itu. Lalu dia mundur. Dan tampil pula ke muka se-orang lagi, Syamar bin Zi Jausyan. Dialah yang mengerat ke-pala itu clan dibungkusnya, akan dibawa kepada Y azid sebagai ianda kebanggaan: Dan badannya disuruh kirik dengan kaki kuda, sehingga hancur lebur, cair lumat, atas perintah 'Ubai-dillah bin Ziiyyad, orang yang tak tentu asal keturunannya ittr!
Kejadian ini ialah pada 10 Muharram tahun 61 Hijriyah, lima-puluh tahun setelah Nabi saw wafat!
.,
Menyangkalah Y azid bahwa telah tammat ceritera itu clan dia telah menang! Tetapi dia lupa, bahwa soal tidak habis se-hingga itu saja!
Husein menjadikurban karena kekuatan yang tidak sei-imbang. Y azid boleh menggosok-gosokkan telapak tangannya yang satu kepada yang lain, karena bangga. Tetapi kematian Husein\ menjadi satu penanaman dendam yang sangat men-dalam, berbekas dalam se,jarah Islam sampai sekarang, sesu-dah berlalu 1328 tahun!
Kematian Hus~in yang dijadikan dasar oleh Yazid anak Mu' awiyah buat mendirikan Kerajaan Bani Umaiyah, yang di-sangkanya akan "kekal abadi", rupanya hanya sanggup hidup 90 tahun. Berganti-ganti Khalifah Bani Umaiyah yang naik, da-lam sebuah kerajaan yang usianya hanya seumur manusia, 90tahun!
Dendam kematian Husain menjelmakan datangnya Mukhtar bin Abi 'Ubaid, yang datang menuntut hak keturun-an Husain, clketurun-an dalam satu pertempurketurun-an memusnahkketurun-an tentara Bani Umayah, terutama bekas-bekas pembunuh Husain dahulu, menerima balasan lebih kejam daripada yang mereka lakukan kepada Husain. Dalam kalangan Kerajaan Bani Umayah sendiri, timbul perebutan kekuasaan, sehingga se-sudah Yazid wafat, digantikan oleh puteranya Mu' awiyah II, yang tijdak tahan, lalu turun dari takhta. Dan setelah dia mati, tidak lagi keturunan langsung dari Mu' awiyah clan Y azid yang naik, melainkan direbut oleh Marwan bin Hakam, saudara sepupunya, clan sampai jatuhnya 'kerajaan itu tak pernah kembali kepada keturunan langsung Mu' awiyah dan Yazid !
Akhirnya naiklah propaganda Bani Abbas, di bawah pim-pinan Abu Muslim Al Khurasani, dan dengan memakai propa-ganda "dendam kematian Husein" juga mereka dapat merebut kekuasaan hingga kerajaan Bani Umayahjatuh!
Seketika As Saffah, Khalifah pertama Bani Abbas naik takhta, dibongkarnya kuburan seluruh raja-raja Bani Umayah.
Tulang Mu' awiyah dibakarnya, pada kuburan Y azid tak ada yang akan dibongkar, sebab, entah apa sebabnya, tulangnya-pun telah jadi abu! Bekas jenazah Hisyam bin Abdil Malik
ke-lihatan belum hancur betul. Maka. digantungkan sisa jenazah itu dan dipukul dengan cemeti. Adapun sisa-sisa · bangsawan Bani Umaiyah yang masih tinggal, di dalam satu jaml)a~ di•
sapu bersih dengaii pedang, dan di atas mayat-mayat mereka itu dibentangkan tikar permadani, dan di atasnya itu mereka mak~n enak-enak! Hanya seorang saja yan~ dapat melepaskan criri, iari ke Andalusia, yaitu Abdurrahman, bangsawan terakhir dari Bani Umaiyah. Dialah yang n:aendirikan Kerajaan Bani Umaiyah yang baru di Andalus (Spaqyol) !
ltulah akibat kebanggaan kemenangan Y azid, yang setelah lama dia mati, anak cucunya masih saja menerima akibatnya ....
Meskipun perjuangan politik. di antara dua keturunant yaitu Bani Hasyim dengan Bani Umaiyah telah lama habis, Mmun sisanya dalam lapangan lain, yaitu lapangan aqidah dan keyakinan hidup, masih belum habis sampai sekarang. Di Iran ada 18 juta kaum Syi' ah, di Pakistan sekian juta, di lrak sekian pula, demikian pula di India! Agha Khan yang terkenal adalah seorang pemimpin dari cabang golongan Syi 'ah, demikian juga Daud Bohrah!
Di tempat-tempat yang mereka anggap suci, sampai seka-rang masih kita lihat oseka-rang meratap, dan ratap itu dipandang sebagai sebagian dari ibadat! Hanya karena satu kesalahan, yaitu kebanggaan Yazid atas kemenangannya!·
Telah berusaha ahli-ahli fikir moderen menghilangkan per-pecahan Ahli Sunnah dengan Syi' ah, baru sedikit hasilnya, ka-rena demikian dalam pengaruh kematian Husein di Padang Karbala!
Ada rupanya seorang mati syahid, untuk menimbulkan kenangan dan dendam 14 abad lamanya.
Ke negeri kita pun terbawalah juga pengaruh kejadian itu!
Di Padang dan Pllriaman ada perayaan "Tabut ", lambang dari kepala Saidina Husein yang diangkat oleh burung Buraq ke surga, untuk dipertemukan dengan ayah dan bunda dan nenek-nya, setelah beliau salesai memperjuangkan hak dan keadilan!
Di tanah Jawa dan di Makassar terkenallah bubur "Asyu-ra ", atau bubur "Suro", lambang dari hari berkahung yang, hadiah menghadiahi di hari "Suro". Dan Sultan Agung Hanyokrokusumo Mataram, menukar tahun Saka Jawi dan
me-nyesuaikannya dengan tahun Hijrah, dan menama~ bulan per-tama bulan "Suro" .
., Dan 50 tahun yang lalu, adalah seorang "Pujangga Mi-nang", Bagindo Malim namanya, men~rang sebuah buku syair, bemama "Hikayat Hasan Husein, berperang dengan raja (Ba) Yazid". Dibaca dengan nyanyian merdu oleh perempuan-perempuan muda, terutama pada 10 Muharram.
Maka kejadian Husein dan pengurbanannya, dan kehang-gaan kepala-kepala perang yang mabuk kemenangan, lalu me-ngerat kepalanya dan membawanya kepada Y azid, tetaplah menjadi buah ratap kaum Syi' ah, menjadi pemberi inspirasi bagi penyair mereka, menjadi dasar bagi Kerajaan Shafawi, Kajari dan Pahlevi di Iran (Persia), dan menjadi perbandingan-laq kiranya bagi orang-orang yang mabuk kemenangan di saat yang hanya sehari, tidak ingat bahwa itu akan membawa ekor bagi ummat yang di belakang, turunan demi turunan . . . .