• Tidak ada hasil yang ditemukan

Cilegon terletak di bawah wilay~h Bojonegara, wilayah Ci-legon, bagian Anyer, Regentsachap (kabupaten) Serang.

"Kota" Cilegon dinamai menurut nama pasar yang ada di situ. Dan kota kecil itu baru saja ramai, yaitu sejak negeri Anyer musnah karena meletusnya Klf'akatau (1883), penduduk yang masih dapat memelihara nyawanya lari dan berpindah ke Cile-gon. Dari Timur ke Barat, terbentanglah jalan raya yang terke-nal, yang'dibangun atas kehendak Gubernur Jendral Daendels, yang dibuat dari Serang sampai ke Anyer clan Caringin. Di kota Cilegon, jalan itu disilangi pula oleh jalan raya, yang di -buat dari ibu negeri melalui ibu negeri wilayah Balagendong, sampai ke ibu negeri daerah Bojonegara. Di jalan itulah terletak sebuah desa kecil, bernama Beji. Di sanalah berdiam seorang Alim Besar bernama Haji Wasith !

(Pada zaman sekarang negeri itu termasuk kecamatan Pulau Merak).

Sebagai juga Ulamulama yang lain di Bantam, Haji W a-sith lama bermukim di Mekkah dan berlajar kepada Ulama-ulama yang besar di sana. Apatah lagi seorang di antara Ulama yang masyhur di Mekkah itu, adalah putera Bantam sendiri, Syekh Nawawi Bantam. Banyak murid beliau, baik dari t'1nah Melayu atau tanah Sunda, apatah lagi putera Bantam sendiri.

Dan banyak pula kitab yang beliau karang dalam bahasa Arab.

Di antara kawan-kawannya yang telah sama pulang, ialah H.Abdurrahman, Haji Haris, H. Arsyad Thawil, H.Arsyad Qa-shir, Haji 'Akib clan Tubagus Haji Ismail. Di antara kawannya yang sebanyak itu, adalah Tubagus Haji Ismail yang paling ra-pat clan kerapkali bertemu. Beliau' berasal dari desa Gulacir, Kecamatan Balagendong, Kewedanan Kramatwatu, Wilayah Anyer Kabupaten Serang.

Di Cilegon itulah terjadi pemberontakan pada tahun 1888, clan Ulama-ulama itulah yang menjadi pemimpinnya.

Apa sebabnya?

100

Sebagaimana diketahui, timbulnya suatu pemberontakan, bukanlah hal yang semata-mata timbul pada waktu itu. Pem-berontakan biasanya ialah karena "bergantang terla/,u penuh ", sehingga tidak tertahankan lagi. Demi apabilamuncul pimpinan yang berani, lalu dicetuskannya, niscaya berontak. ak.an menja-di, walaupun misalnya kekuasaan dapat mematahkannya.

Sejak jatuhnya pamor Kerajaan Bantam, sejak sisanya yang terakhir telah dihapuskan oleh Pemerintah Belanda ter-utama pada zaman G.J .Daendels, rasa kecewa penduduk telah bagi api dalam sekam, hangus tidak kelihatan.

Ulama-ulamapun insaf, bahwa jika Sultan Bantam masih ada belum terjamin 100% bahwa peraturan agama akan dapat berjalan. Ulama yang bebas berfikir ak.an melihat dan merasa juga, bahwa sisa-sisa adat Hindu Pajajaran masih ada dalam is-tana. Te tapi Kerajaan Bantam, dengan kemegahan zaman ba-hari, sebagai suatu kerajaan yang pernah ternama ke atas angin, dikenal oleh Sultan Turki, oleh Syarif Mekkah, oleh Raja Hindustan sebagai sebuah Kerajaan Islam yang berdaulat, sekarang (1888) telah bertukar belaka. Raja tak ada lagi, anak cucunya telah dibuang. Yang naik adalah Regen -regen yang menjadi alat perkakas Belanda. Maka rakyat yang masih ter-ingat kepada kebesaran rajanya yang hilang itu, mencarilah perlindungan rohani kepada Ulama.

Ulama mengajarkan, bahwa kemuliaan Islam akan kembali dengan jayanya, asal saja Kaum Muslimin benar-benar me-megang teguh ajaran Agama Islam. Mengokohkan Tauhid dan menghilangkan pengaruh Syirik, memperserikatkan Allah de-ngan yang lain.

Dalam pada itu hendaklah diperkuat ibadat, diperbanyak Shalatil]ama 'ah, diramaikan langgar dan mesjid, dihidupkan semangat bertolong-tolongan di antara sekampung. Karena na,mpaknya perbaikan nasib tidaklah akan diharapkan dari pe-merintah kafir, yang ban yak janji, diwakili pula oleh ambtenar bangsa sendiri, yang bergelar Adipati, Patih, Wedana dan Asis-ten Wedana, yang lebih bergantung ke atas, daripada berurat ke bawah. Mereka dinamai Kepala Rakyat, tetapi bukan alang kepalang sukar akan dapat menghadap beliau. Jika datang

menghadap Regen , hendaklah duduk bersimpuh dan menyem-bah, hal yang pada hakikatnya tidak sesuai dengan kehendak agama Islam. Sebab tempat menyembah hanyalah Allah Ta' ala semata-mata.

Dalam tahun 1885 berjangkitlah penyakit ternak. Se-kampung-sekampung kerbau mati. Di dalam peringatan orang Makassar pun tersebut tahun 1885 itu dengan "Taunge matin,a tedonge ". Maka datanglah perintah dari atas, supaya &egala kerbau ditembaki jika terdapat ada seekor di antara kerbau itu yang sakit! Kerbau yang sehat pun hendak ditembak! Padahal bagi rakyat Bantam, kerbau adalah mata pencaharian, pemba-jak dan penaruka di sawah!

Dalam hal yang seperti ini Ulama-ulama masih berusaha menyuruh rakyat sabar. Dan supaya Iman kepada Tuhan ber-tambah teguh, hendaklah hilangkan segala perbuatan syirik.

Pemerintah Agung di Betawi tidaklah akan mencampuri urusan agama pribumi, apakah mereka akan menyembah ber-hala atau menyembah pohon kayu, masa bodoh! Kaum Kiyahi boleh mengajarkan agama dalam pesantrennya, dan boleh mem faMakan bahwa perbuatan penyembah pohon kayu itu adalah musyrik a tau kafir, asal saja kaum Santri itu jangan menggang-gu ketenteraman umum!

Mendengar penjawaban yang sangat jauh daripada me-muaskan itu, musyawaratlah H.Wasit dengan kawan-kawan-nya. Maka didapatlah kebulatan, bahwasanya soal 'Aqidah atau dasar kepercayaan agama, tidaklah boleh dicuaikan, (diabaikan). Maka kalau sekiranya urusan-urusan seperti ini hanya diserahkan kepada kebijaksanaan pemerintah, terutama bupati dan penghulu, mereka tidaklah akan memandangnya dari segi agama, melainkan dari segi ketenteraman umum, yang ditentukan garisnya oleh Penierintah di Betawi.

Umat Islam disuruh berlapang dada. Ummat Islam di Ban-tam tidak keberatm kalau orang Cina memelihara babi dalam pekarangan mereka. Ummat Islam tidak keberatan kalau orang Cina mendirikan Taopekong, lalu.mengadakan persembahan dalam agamanya di pekarangannya sendiri. Tetapi Ummat Islam, apatah lagi Ulama-ulamanya, akan berdosalah kalau

me-lihat yang mungkar lalu berdiam diri saja. Mereka wajib mengubah; mula-mula dengan tangan. Tidak kuasa dengan tangan, hendaklah dengan lidah. Tidak kuasa dengan lidah, hendaklah dengan hati. Tetapi hendaklah.diingat, bahwa me-negur dengan hati, adalah selemah-lemah Iman!

Mereka musyawarat, bahwa selama ini mereka telah me-nyatakan teguran dengan lisan! Tetapi belum juga berhasil! Se-karang teguran itu tidaklah boleh diturunkan. Ulama tidaklah boleh memilih yang selemah-lemah Iman! Melainkan naik se-tingkat lagi ke atas! Ubah dengan tangan!

Semangat mereka rupanya berpadu satu dan sama sepakat bahwa perubahan tangan akan dilakukan.

Berpuluh orang Santri di bawah pimpinan Haji Wasit sen-diri pergi ke tanah perkebunan tempat tumbuh kayu yang di-keramatkan itu.Mereka bawa kampak dan lading! Mereka te-bang pohon keramat itu hingga tumte-bang, mereka bersihkan, mereka potong-potong dahan dan rantingnya dan mereka cam-pakkan. Sehingga seketika orang datang berziarah, kayu pujaan mereka sudah tak ada lagi!

Niscaya yang empunya tanah, yang mendapat banyak ke-untungan dari pemujaan kayu itu, dapat dihasut oleh orang la-in, bahwasanya penebangan kayu oleh orang di dalam pe-karangannya adalah melanggar haknya. Maka dia pun mengadu kepada pemerintah setempat, sebab dia dirugikan. Orang ma-suk ke dalam pekarangannya dan merusakkan kayu harta milik-nya dengan tidak seizinmilik-nya. Dia menuntut!

Kiyahi Haji W asit dipanggil ke kabupaten dan akhimya diperkarakan !

Niscaya susunan berfikir undang-undang Barat, tegasnya undang-undang Kolonia! tidak mendapat jalan buat membebas-kan Kiyahi Wasit . Niscaya alasan-alasan agama yang dikemu-kakannya di muka pengadilan hanya akan diterima oleh hakim dengan senyum bergumam. Niscaya dia hanya akan dituduh fa-natik saja.

Dan akhirnya Kiyahi Haji Wasit didenda tiga ringgit.

(F 7,50,-)

Dencla tiga ringgit itu sangatlah menyinggung perasaan keagamaan orang Bantam! Kiyahi yang sangat mereka hormati, yang menurut keyakinan mereka telah bertinclak menurut Hukum Islam sejati telah clihinakan, telah clipanclang salah dan didencla.

Manatah lagi kemerdekaan Agama dalam negeri ini?