• Tidak ada hasil yang ditemukan

Alasan Mendasar

Dalam dokumen 3. Makalah Teori Akuntansi Nenda and Ren (Halaman 73-78)

5. Pemegang saham biasa

2.13. Laba Komprehensif

2.13.3. Alasan Mendasar

Paton dan Littleton (1970) mengajukan argumen mendasar dalam mendukung pendekatan laba semua-termasuk yaitu konsep pemanfaatan aset (asset utilization). Konsep ini memandang bahwa manajemen mengelola aset sebagai satu kesatuan. Dari segi pemanfaatan, sebenarnya tidak dapat dipisahkan antara aset keuangan dan aset tetap sehingga keduanya mempunyai pengaruh yang sama terhadap laba. Lawan dari konsep pemanfaatan aset adalah konsep aset kapital (capital asset). Konsep ini membedakan aset kapital (yang terdiri atas aset tetap fisis) dan aset lainnya sehingga pengaruh transaksi aset kapital (terutama yang luar biasa) terhadap laba harus berbeda dengan transaksi aset lainnya. Berikut ini dibahas argumen Patton dan Littleton mengenai pemanfaatan aset (Suwardjono, 2010:559).

2.13.3.1. Konsep Pemanfaatan Asset

Statemen laba-rugi harus menyajikan secara efektif semua akibat dari pemanfaatan aset yang diserahkan sepenuhnya kepada manajemen. Pemisahan laba menjadi normal dan tidak normal dalam dua statment akan cenderung mengalihkan pusat perhatian pemakai secara tidak semestinya ke laba normal dan dengan demikian secara tidak sadar mengurangi perhatian pembaca akan keefektifan manajemen secara keseluruhan. Misalnya saja, kalau laba normal yang dilaporkan melalui statment laba-rugi sudah memuaskan, kemungkinan pembaca akan melalaikan sama sekali arti pentingnya suatu penghapusan fasilitas fisis yang sudah ketinggalan zaman sebelum waktunya dihentikan yang langsung dibebankan ke laba ditahan. Pembaca mungkin kelewatan untuk menanyakan apakah laba yang dilaporkan pada tahun-tahun sebelumnya memang sudah benar kalau manajemen cukup jeli dalam mengantisipasi perubahan teknologi. Paton dan Littleton menegaskan bahwa pemecahan yang paling logis adalah membaca serangkaian statment laba rugi komprehensif periode periode sebelumnya (Suwardjono, 2010:559).

Manajemen mengelola aset yang dipercayakan kepadanya. Memang ada berbagai cara untuk memanfaatkan aset. Penggunaan aset yang utama adalah untuk menghasilkan barang atau jasa untuk mendatangkan laba. Dalam hal ini, aset atau sumber ekonomik akan berkurang dengan terjadinya kos produksi, biaya, dan rugi, serta akan bertambah dengan terjadinya pendapatan, laba, dan untung luar biasa. Penggunaan aset yang kedua adalah untuk dijadikan jaminan kontrak utang atau pendanaan dan untuk alat pelunasan kontrak tersebut. Dalam hal ini, aset akan berkurang dengan dibayarnya utang dan dikembalikannya modal dan akan bertambah dengan adanya pinjaman atau modal baru. Karena perbedaan mendasar ini, perubahan akibat pemanfaatan aset untuk tujuan yang berbeda ini harus dipisahkan dengan tegas dan jelas tetapi harus tetap dalam kategori perubahan akibat transaksi operasi (nonpemilik). Dengan kata lain, perubahan tersebut harus dilaporkan melalui statment laba-rugi (Suwardjono, 2010:560).

Membatasi statment laba-rugi hanya menyajikan laba normal sama saja dengan mengeluarkan sebagian perubahan akibat pemanfaatan aset untuk tujuan

produktif. Pemisahaan tersebut mempunyai akibat pembebanan langsung ke laba ditahan perubahan aset yang sebenarnya merupakan transaksi operasi yaitu transaksi pemanfaatan aset untuk tujuan produktif. Pemisahaan tersebut mengurangi manfaat pelaporan yang menunjukkan keefektifan manajemen dalam memanfaatkan aset dan berkuranglah fungsi statment laba-rugi yang sebenarnya (Suwardjono, 2010:560).

Bukan berarti bahwa informasi tentang laba normal tidak penting. Yang menjadi masalah adalah usaha untuk mengungkapkan hal tersebut tidak harus menggunakan cara yang malahan dapat menimbulkan salah interpretasi akibat tersembunyinya pos-pos yang mempunyai pengaruh operasi perusahaan dalam jangka panjang. Di samping itu, perlakuan akuntansi terhadap rugi dan untung luar biasa hendaknya tidak didasarkan atas kehendak atau selera manajemen tetapi lebih didasarkan atas pertanyaan tentang apakah perubahan aset berkaitan dengan transaksi operasi dalam menyelenggarakan perusahaan ataukah berkaitan dengan transaksi modal (Suwardjono, 2010:560).

Memang ada perbedaan antara biaya dan rugi (expenses and losses), dan antara laba dan untung luar biasa (income and special gains) tetapi juga ada kesamaannya (similarities) yang mendasar yaitu semuanya merupakan perubahan akibat pemanfaatan aset untuk tujuan produktif. Bagi para pemakai statment keuangan, justru kesamaan mendasarlah yang lebih penting daripada perbedaannya. Kemungkinan kesalahan interpretasi akan lebih besar dalam pelaporan terpisah daripada dalam pelaporan komprehensif (Suwardjono, 2010:560).

Kekhawatiran bahwa pemakai akan salah interpretasi kalau laba normal tidak ditonjolkan tidak beralasan lagi. Bukan zamannya lagi bahwa statment keuangan harus disusun untuk orang awam yang hanya membaca sambil lalu angka pada baris terakhir statment laba-rugi dan tidak lebih dari itu. Yang diperlukan sekarang adalah statment keuangan yang memungkinkan untuk ditelaah dan dianalis oleh ahli yang mempunyai pengetahuan tentang kegiatan bisnis dan ekonomik serta bersedia untuk belajar dengan cukup tekun (willing to study the information with reasonable diligence). Dalam kenyataannya, para

investor lebih bergantung pada hasil analisis para ahli atau analis profesional daripada pada hasil keputusannya sendiri yang didasarkan atas interpretasi yang naif terhadap statment keuangan perseroan (Suwardjono, 2010:560).

2.13.3.1. Konsep Aset Kapital

Sebagai lawan konsep pemanfaatan aset, konsep ini membedakan fungsi aset lancar dan aset tetap. Dengan demikian, perubahan aset tetap karena penjualan atau penghentian berbeda dengan perubahan karena pemanfaatan aset untuk menciptakan laba (melalui depresiasi) sehingga laba atau rugi pemberhentian aset harus dilaporkan terpisah sebagai penyesuai laba ditahan. Laba atau rugi ini dipandang sebagai transaksi modal karena dianggap modal pemegang saham tertanam dalam aset tetap. Ini berarti jenis aset fisis tertentu sebagai potensi jasa dianggap berbeda dengan aset lainnya sehingga rugi atau laba yang melekat pada jenis aset tertentu dapat dilaporkan terpisah dari perubahan aset yang berkaitan langsung dengan biaya dan pendapatan (Suwardjono, 2010:561).

Namun Paton dan Littleton (1970) menyangkal konsep di atas. Secara konseptual, laba atau rugi yang berkaitan dengan pemanfaatan aset tetap tidak berbeda dengan laba atau rugi yang berkaitan dengan pengelolaan aset lancar. Lagipula, tidak ada alasan kuat untuk mengaitkan aset tetap fisis dengan kontribusi modal oleh investor karena jenis aset tertentu secara umum tidak dapat ditelusuri dengan pasti asal sumber dananya. Dengan kata lain, jumlah rupiah dana melekat dan campur jadi satu (commingled) dalam aset secara keseluruhan. Dengan dasar pikiran ini, tidaklah dapat dibenarkan untuk menggolongkan laba atau rugi tertentu sebagai ”rugi kapital” (capital loss) yang sebenarnya tidak lebih daripada laba atau rugi biasa lantaran pemanfaatan aset (Suwardjono, 2010:561).

Lebih lanjut dikemukakan bahwa atas dasar konsep kontinuitas usaha, fluktuasi periodik dalam pendapatan, biaya, dan laba bersih tidak dapat dihilangkan atau diratakan atas dasar kehendak manajemen walaupun sampai tingkat tertentu fluktuasi tersebut dapat diantisipasi oleh manajemen yang tajam dalam melihat masa depan. Apapun jadinya, manajemen hanya dapat

mengharapkan untuk berbuat lebih baik di masa mendatang. Namun, kenyataan yang merefleksi kebijakan pada masa yang lalu harus tetap ditunjukkan dengan jelas seperti apa adanya kepada pemakai yang menggantungkan diri pada statment keuangan. Oleh karena itu, pemakai harus diyakinkan bahwa serangkaian statment laba-rugi beberapa perioda yang lalu dapat mengungkapkan seluruh kemampuan manajemen dalam memanfaatkan (the administration or utilization of assets) yang dipercayakan kepadanya. Jadi, kebijakan masa yang lalu yang ternyata keliru setelah adanya fakta yang baru dan relevan akan diakui secara jujur dan pengaruhnya akan dilaporkan dengan jelas di statment laba-rugi dan bukannya disembunyikan sebagai penyesuai laba ditahan (Suwardjono, 2010:561).

Uraian di atas melandasi pendekatan laba semua-termasuk yaitu bahwa semua faktor penentu dalam pengukuran laba periodik dalam arti luas termasuk faktor luar biasa dan tidak rutin harus dilaporkan dalam statment laba-rugi sebelum hasil bersihnya dipindahkan ke kelompok modal pemegang saham di neraca. Berikut ini adalah argumen yang diajukan oleh Hendriksen dan Van Breda (1992, halaman. 327) dan sumber lainnya yang mendukung pendekatan laba semua – termasuk dalam menyajikan statement laba rugi (Suwardjono, 2010:561). 1. Secara teknis, penggunggungan laba tahunan selama umur perusahaan harus sama dengan laba total perusahaan. Bukti empiris menunjukan bahwa rugi-rugi luar biasa yang terjadi sepanjang umur perusahaan pada umunya melebihi untung-untung luar biasa. Oleh karena itu, bila pos-pos luar biasa dikeluarkan dari perhitungan laba tahunan, akan terjadi penyajian lebih (overstatement) laba tahunan sepanjang beberapa tahun.

2. Pengeluaran pos-pos non pemilik dari perhitungan laba memberi kesempatan kepada manajamen untuk melakukan manipulasi atau manajamen laba. Bukti empiris menunjukan karena berbagai alasan manajamen memang melakukan manajamen laba (earnings manajamen)

3. Tidak selalu mudah untuk menentukan apakah suatu pos bersifat operasi atau non operasi, reguler / tak reguler, normal atau tak normal dan biasa atau luar biasa. Dalam banyak hal pemisahan hal tersebut lebih didasarkan pada pertimbangan subjek dan arbitrer. Dengan pendekatan semua – termasuk,

penentuan laba periodik akan menjadi lebih obyektif karena tidak diperlukan pertimbangan personal (personal judgments) untuk menentukan pos-pos mana masuk statement laba rugi dan pos-pos mana masuk statement laba ditahan. 4. Dengan memasukan semua pos-pos yang berasal dari transaksi non pemilik

dan dengan pengungkapan yang layak, pemakai laporan yang mempunyai keleluasaan untuk mereklasifikasi dan menentukan sendiri laba antara yang dianggap berpaut dan bermanfaat pemanggilan keputusan.

5. Berkaitan dengan argumen tiga, pengertian operasi perusahaan harus diinterpretasi dalam perspektif yang luas tidak terbatas pada kegiatan produksi dan penjualan produk utama. Apa yang dianggap sebagai non operasi atau luar biasa untuk perusahaan yang satu dapat menjadi hal yang sangat rutin atau biasa bagi perusahaan yang lain. Bila jumlah rupiah dipakai sebagai dasar untuk memisahkan antara operasi/biasa dan non operasi/luar biasa, dapat terjadi suatu pos yang dilaporkan sebagai operasi untuk periode tertentu (masuk statement laba rugi) akan menjadi non operasi untuk periode lainnya (masuk statement laba ditahan). Jadi, pemisahan semacam itu akan menimbulkan inkonsistensi pelaporan laba (Suwardjono, 2010:562).

Atas dasar argumen-argumen di atas, FASB menganut pendekatan laba semua termasuk secara penuh dalam penentuan dan penyajian laba hal ini terrefleksi dalam pendefinisian laba komprehensif sebagai salah satu elemen statement keuangan. Laba komprehensif didefinisi sebagai perubahan ekuitas selama periode yang berasal dari sumber-sumber non pemilik (Suwardjono, 2010:562).

Dalam dokumen 3. Makalah Teori Akuntansi Nenda and Ren (Halaman 73-78)

Dokumen terkait