• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sikap Bahasa

INTERFERENSI DALAM BAHASA BATAK TOBA

5.2 Interferensi dalam Aspek Fonologis

5.2.1 Interferensi Alternasi Fonem BT

5.2.1.2 Alternasi Fonem Konsonan BT

Alternasi fonem konsonan yang ditemukan dalam data penelitian terbatas pada beberapa konsonan yang memiliki alternasi saja. Antara lain adanya penyimpangan /r/ yang diucapkan penutur BT sebagai bunyi [l] dan [r]; /h/ yang diucapkan sebagai bunyi [k] dan [h]; /d/ yang diucapkan sebagai bunyi [j] dan [d]. Selain itu ada juga alternasi gugus konsonan yaitu gugus konsonan /ns/ diucapkan sebagai [ss] atau [cc]; gugus konsonan /sh/ diucapkan sebagai [ss] atau [cc].

a. Penyimpangan /r/ sebagai bunyi [l] dan [r]

Penyimpangan dalam alternasi bunyi konsonan BT /r/ yang diucapkan sebagai bunyi [l] dan [r], misalnya pada kata ruar yang diucapkan oleh penutur sebagai [luar] dan [ruar] seperti

dalam tuturan berikut.

(15) [dak dopє ruar si jesaya siat toŋatoŋa ni huta i....] (Data II.5)

belum T keluar si jesaya dari tengah dari kampung itu ’Belum lagi si Jesaya keluar dari tengah perkampungan itu....’

Tuturan (15) yang mengandung kata BT ruar ’keluar’ adalah tuturan yang sesuai sistem

BT. Tetapi pada tuturan (16) berikut terjadi penyimpangan pada kata ruar yang diucapkan

penutur persis sama dengan BI.

(16 ) *[alai molo di luar do hita...] (Data II.7)

Tuturan yang benar sesuai sistem BT tampak pada (16a) berikut. (16a) [alai molo di ruar do hita...]

tapi kalau di luar T kita ‘tetapi bila kita di luar ...’

Terdapatnya variasi bunyi seperti tuturan di atas, menyebabkan fenomena seperti ini juga ditemukan dalam tuturan lain berikut.

(17) *[...molo daoŋbahaluardo ibana sian i] Tuturan di atas seharusnya

(17a)[...molo daoŋ ba haruar do ibana sian i] (Data IV.14) kalau tidak ya keluar T dia dari itu

‘...kalau tidak ya dia keluar dari situ’

Persoalan yang sama seperti di atas muncul juga dalam kata BT yang memiliki fonem /r/ lainnya, misalnya /haraparan/ yang diucapkan sebagai [halaparan] dan [haraparan] dalam tuturan

berikut.

Tuturan di atas seharusnya adalah

(18a) [...sappoŋgol be sahalak daŋ tuk atturaparad dopε hita] sepotong T seorang tidak jadi kelaparan T kita ‘...sepotong setiap orang kita tidak menjadi kelaparan’

Penyimpangan dalam alternasi fonem /r/ menjadi bunyi [l] atau [r] disebabkan penutur BT telah mengenal kosakata tersebut dalam BI, yaitu lapar, kelaparan. Saat penutur BT

seharusnya menuturkan [atturaparan], dia menggantikan fonem /r/ sebagai bunyi [l] yang mengakibatkan terjadinya penyimpangan dalam sistem BT baik dalam aspek fonologis dan sekaligus pada aspek leksikal walaupun perubahan tersebut tidak menimbulkan perbedaan makna. Pada sisi lain alasan terjadinya alternasi itu juga karena sikap penutur yang kurang

memiliki kesadaran terhadap sistem pengucapan BT yang benar sehingga terkesan bahwa penutur kurang menghargai bahasanya.

Pada sisi lain bunyi [r] dalam BT yang berasal dari fonem /r/ dan bunyi [l] yang berasal dari fonem /l/ adalah dua fonem yang berbeda. Kedistingtifan ini dapat dibuktikan pada pasangan minimal BT berikut.

- [apala] ‘cuma’ dan [appara] ‘sebutan seorang pria kepada kawan semarga’

- [jolo ] ’tolong’ dan [ joro] ‘rumah’

- [lamot] ‘lumat’ dan [ramot] ‘jaga’

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa bunyi [r] dan bunyi [l] yang bersifat distingtif tidak mempunyai alternasi di dalam pengucapannya. Artinya, fonem /r/ hanya mempunyai bunyi [r] dan fonem /l/ hanya mempunyai bunyi [l]. Apabila fonem /r/ memiliki alternasi bunyi [l] dan [r] keduanya adalah tidak distingtif.

Dengan demikian, variasi konsonan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut.

/r/ [r]

b. Penyimpangan /h/ sebagai bunyi [k] dan [h]

Penyimpangan dalam alternasi bunyi konsonan BT /h/ yang diucapkan sebagai bunyi [k] dan [h], misalnya pada kata /kuasa/ yang diucapkan [kuaso] dan [huaso]. Gejala penyimpangan dengan adanya variasi fonem ini ditemukan dalam tuturan berikut.

(19) *[molo marguraja debata dipuji-pujiatta pittor adoŋ do kuaso] (Data II.7)

Tuturan (19) memperlihatkan terjadinya penyimpangan dalam pengucapan konsonan BT. Kata kuaso /kuaso/ seharusnya diucapkan penutur sebagai [huaso] seperti tampak dalam (19a)

berikut.

(19a) [molo marguraja debata di pujipujiat ta pittor adoŋ do huaso]

kalau ber tuhan di pujian kita langsung ada T kuasa ‘Kalau Tuhan berada di atas puji-pujian kita langsung ada kuasa’

Penyimpangan dalam alternasi bunyi konsonan BT /h/ yang diucapkan sebagai bunyi [k] dan [h], misalnya dalam kata /kuasa/ yang diucapkan sebagai [huaso] dan [kuaso]. Alternasi ini tidak bersifat distingtif karena tidak membedakan makna. Penutur BT mengucapkan kedua variasi ini secara bergantian dan tanpa ada keteraturan.

Berdasarkan data, penutur BT melakukan alternasi dalam mengucapkan bunyi fonem /h/ seperti dalam kata huaso yang diucapkan penutur BT menjadi [kuaso] padahal kata tersebut

harus diucapkan sebagai [huaso] seperti dalam tuturan berikut.

(20) [soŋon hala/ na porsєa na gabe meŋandalkan huaso]. (Data II.5)

seperti orang yang percaya yang jadi mengandalkan kuasa

‘seperti orang percaya yang jadi mengandalkan kuasa’

Sebagai bandingan variasi ini, misalnya terdapatnya alternasi fonem /h/ pada kata /hopi/ yang diucapkan [kopi] dan [hopi]. Di sini alternasi [k] dan [h] yang berasal dari fonem /h/ sifatnya tidak distingtif. Para penutur BT mengucapkan variasi bunyi tersebut tanpa ada

keteraturan. Variasi ini dapat disejajarkan dengan variasi bebas (free variation). Seperti telah

diungkapkan pada bab IV dalam penelitian ini bahwa dalam sistem BT, fonem /k/ tidak terdapat pada posisi awal dan tengah. Nababan (1981) menyebutkan kemunculan fonem /k/ pada posisi awal dan tengah dalam BT termasuk sebagai perkembangan baru dalam sistem BT melalui kosakata pinjaman BI (lihat juga Warneck, 2001). Fenomena penyimpangan seperti ini

ditemukan juga dalam data tuturan BT lainnya seperti berikut.

(21) *[alai tarsoŋon i ma kuaso na adoŋ di hita molo tapuji debata] (Data II.7)

Tuturan ini seharusnya adalah

(21a) [alai tarsoŋon i ma huaso na adoŋ di hita molo ta puji debata] tetapi seperti itu T kuasa yang ada di kita kalau kita puji tuhan ‘Tetapi seperti itulah kuasa yang ada pada kita jika kita memuji Tuhan’.

Alternasi fonem /h/ juga terdapat dalam kata ulang (reduplikasi) yang dituturkan oleh penutur BT dalam sebuah pidato saat menyampaikan kata sambutan. Tuturan yang disampaikannya mengindikasikan bahwa penutur tersebut adalah seorang penutur bilingual BT- BI yang tidak sejajar seperti dalam tuturannya berikut.

(22) * [akka kekuraŋankekuraŋan i dak pola ...] (Data IV.12)

Tuturan seperti di atas seharusnya adalah

(22a) [akka hahuraŋanhahuraŋan i dak pola ...] semua kekurangankekurangan itu tidak perlu ’Semua kekurangan itu tidak perlu....’

(23) [... adoŋ akka hahuraŋanhahuraŋan....] (Data IV.12)

ada semua kekurangankekurangan ’...ada semua kekurangan....’

Tuturan seperti di atas juga menggambarkan penutur yang bersikap kurang memiliki kesadaran untuk mematuhi sistem BT dalam tuturannya walaupun kelihatannya sikap untuk mempertahankan eksistensi bahasa BT sebagai jati diri penutur masih terlihat dengan

mencampuradukkan kedua bahasa yang dikuasainya. Artinya, kedua tuturan tersebut mengindikasikan bahwa di satu sisi penutur BT ini ingin menunjukkan identitas dirinya dengan menggunakan kata hahuranganhahurangan, di sisi lain penutur tidak mampu menghindarkan

diri dari pengaruh BI dengan masuknya kosakata BI kekurangan-kekurangan.

Dengan demikian, variasi konsonan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut.

[k] /h/

[h]

c. Penyimpangan /d/ sebagai bunyi [j] dan [d]

Penyimpangan bunyi konsonan BT /d/ terjadi saat penutur mengucapkan konsonan /d/ sebagai bunyi [j] dan [d]. Variasi ini menyebabkan adanya alternasi pada bunyi konsonan tersebut, misalnya pada kata /dalan/ yang diucapkan [jalan] dan [dalan].

Gejala penyimpangan ini ditemukan dalam tuturan berikut. (24) * [ro do komisaris parjalan sutomo paboahon tu au] (Data IV.15)

Tuturan (24) adalah tuturan yang menyimpang dari sistem BT karena adanya variasi pengucapan fonem /d/ menjadi /j/. Tuturan yang sesuai dengan sistem BT adalah seperti yang terdapat pada (24a).

(24a) [ro do komisaris pardalan sutomo paboahon tu au]

datang T komisaris dari jalan sutomo beritahukan kepada saya ’Komisaris dari jalan Sutomo datang memberitahukan kepada saya’

Gejala penyimpangan seperti ini dapat juga diamati pada contoh berikut.

(25 )*[...keluargaÞoÞa je situmorang boru hutagaol jalan pelita sada] (Data III.11)

(25a) [... keluargaÞoÞa je situmorang boru hutagaol dalan pelita sada] keluarga nyonya je situmorang boru hutagaol jalan pelita satu ’Keluarga nyonya Je Situmorang boru Hutagaol’

Penyimpangan yang terdapat pada variasi bunyi konsonan di atas adalah karena selain penutur bilingual yang tidak sejajar, juga disebabkan sikap penutur yang kurang memperdulikan adanya kosakata yang sama dalam BT dan juga adanya anggapan bahwa kosakatanya tidak memberi makna yang berbeda dan penutur yakin bahwa mitra wicaranya pasti mengerti apa yang dimaksudkannya.

Sebagai bandingan, dapat diamati pada tuturan yang benar berikut ini. (26) [asa boi dєŋgan mardalan puŋuat ta on tu jolo ] (Data IV.12) agar dapat dengan berjalan kumpulan kita ini ke depan

’Supaya kumpulan kita ini dapat berjalan dengan baik ke depan’ (27)[... ŋolu nami na naєŋ si dalanan nami] (Data II.2)

hidup kami yang akan harus dijalankan kami ‘...kehidupan yang harus akan kami jalani’

Dengan demikian, variasi konsonan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut.

[j] /d/

[d]

d. Penyimpangan Gugus Konsonan BT /ns/ sebagai bunyi [cc] dan [ss]

Dalam BT terdapat gugus fonem /ns/ yang harus diucapkan menjadi [ss].Penyimpangan

terjadi karena bunyi konsonan BT /ns/ diucapkan sebagai bunyi [cc]. Munculnya dua variasi pengucapan ini menimbulkan adanya alternasi bunyi gugus konsonan dalam BT. Misalnya pada

kata mansai /mansai/ ’sangat’ yang diucapkan penutur BT sebagai [maccai] dan [massai], seperti

dalam tuturan berikut.

(28)* [jadi si hiskia di son maccai luŋud do] (Data II.8)

Berdasarkan sistem BT, kata maccai dalam kalimat tersebut seharusnya dituturkan seperti

dalam (28a) berikut.

(28a) [jadi si hiskia dison massai luŋud do] jadi si hiskia di sini sangat rindu T ‘Jadi di sini si Hiskia sangat rindu’

Sebagai bandingan, dapat diamati pada tuturan berikut

(29) [...alani ikkon massai saŋap do baєnon hulahula] (Data IV.5)

karena itu harus sangat hormat T dibuat hulahula ’...karena itu hulahula harus sangat dihormati’

Alternasi bunyi [cc] yang berasal dari /ns/ dianggap sebagai penyimpangan bunyi karena sistem konsonan BT baku tidak mengenal adanya bunyi [c]. Alternasi bunyi [cc] dan [ss] ini tidak bersifat distingtif karena tidak membedakan makna.

Penutur BT mengucapkan kedua variasi ini secara bergantian dan tanpa adanya keteraturan. Seperti dalam tuturan berikut.

(30) *[...dohot biccar ni mata ni ari na masinoddaŋ di portibi on] (Data V. 7)

‘...dengan terbitnya matahari yang bersinar di dunia ini’ Kalimat di atas seharusnya dituturkan sebagai berikut.

(30a) [...dohot bissar ni mata ni ari na masinoddaŋ di portibi on]

Sebagai bandingan amati juga contoh berikut ini.

(31 ) *[jadi digoari di son baro na maccaiborat pakkilalaanna] (Data II.8)

(32) * [jala maccai boi do on pakkεom muna] (Data Pengamatan)

Tuturan (31) dan (32) di atas tidak sesuai dengan sistem BT. Tuturan tersebut seharusnya

(31a) [jadi digoari dison baro na massai borat pakkilalaanna]

jadi dinamai disini luka yang sangat berat perasaannya ’jadi di sini disebutkan luka yang sangat sakit dirasakannya’

(32a) [...jala massai boi do on pakkεom muna]

juga sangat dapat T ini pakaikan kamu ’...juga ini sangat bisa kamu pakai’

Untuk lebih memperjelas fenomena interferensi fonologis yang dilakukan penutur BT di Medan dalam pengucapan bunyi gugus konsonan ini, perhatikan tuturan (33) dan (34) berikut. (33) *[hubєrєŋ go hicca ni rohatta martaŋiaŋ tu debata] (Data II.7)

(34)* [marboccir ala sian hasipelebeguad do...] (Data II.5)

Tuturan di atas tidak sesuai dengan sistem BT, karena tuturan kalimat yang benar dan sesuai dengan sistem BT adalah sebagai berikut.

(33a) [hubєrєŋ go hissa ni rohat ta martaŋiaŋ tu debata] kulihat T rajin dari hati kita berdoa ke tuhan ‘Kulihat rajinnya hati kita berdoa kepada Tuhan’

(34a) [...marbossir ala sian hasipelebeguad do...]

berasal karena dari penyembah setan T ’...bermula karena dari penyembah-penyembah roh setan....’

Namun demikian, ada juga penutur BT yang bertutur secara benar seperti berikut. (35) [... na maddokkon mula ni mata ni ari bissar do hulahula] yang mengatakan permulaan dari mata dari hari terbit T hulahula ’...yang mengatakan bahwa hulahula adalah lebih tinggi’ (Data III.6)

(36) [...ala ni ikkon massai saŋap do baєnon hulahula] (Data IV.5) ...karena dari harus sangat hormat T dibuat hulahula

’...karena itu hulahula harus sangat dihormati’

Pada contoh di atas, alternasi gugus konsonan /ns/ yang diucapkan menjadi bunyi [c] (lihat Nababan,1981) atau bunyi [cc] (lihat Percival, 1981) menyebabkan terjadinya penyimpangan dalam sistem BT baku. Gejala terjadinya perubahan bunyi gugus konsonan ini disebutkan Percival (1981) hanya terdapat dalam tuturan masyarakat BT yang berada di daerah

urban, dalam hal ini Medan. Terjadinya interferensi ini menggambarkan penutur bilingual BT yang kurang memahami bahwa sistem BT baku tidak mengenal bunyi fonem afrikat /c/ sebagaimana yang digambarkan oleh Lopez dalam Nababan. Rupa-rupanya fonem ini baru muncul pada abad 19, dan fonem ini termasuk sebagai fonem yang bermakna dan semakin intensif penggunaannya dalam BT modern (lihat Nababan, 1981).

Sementara dalam BI, fonem /c/ dan /s/ merupakan fonem yang bersifat distingtif seperti dalam pasangan minimal berikut.

- pacar dan pasar

- cari dan sari

- kaca dan kasa

Terjadinya penyimpangan dalam alternasi fonem sebagaimana dipaparkan di atas disebabkan penutur BT di Medan sering menemukan kosa kata BI yang mengandung fonem /c/ dengan frekuensi penggunaan yang cukup tinggi sehingga saat bertutur dalam BT penutur cenderung memasukkan leksikal yang mengandung fonem ini ke dalam BT yang berakibat kepada terjadinya penyimpangan dalam sistem BT baik dalam aspek fonologis dan sekaligus pada aspek leksikal. Bunyi fonem /c/ dalam BI yang dapat kita perhatikan seperti: calon, cemas,

hancur, lancar, cacat, gencatan senjata dan sebagainya.

Hal tersebut menggambarkan bahwa si penutur tidak tahu dan kurang memperhatikan kaidah sistem BT sehingga menimbulkan penyimpangan dalam fonem BT. Timbulnya gejala interferensi fonologis seperti ini juga disebabkan kurangnya pemertahanan bahasa penutur BT untuk tetap menggunakan bahasanya sesuai kaidah BT sehingga penutur terpengaruh oleh BI sebagai bahasa kedua yang dikuasainya.

Dengan demikian, alternasi dalam gugus konsonan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut.

[c]

/ns/

[s]

e. Penyimpangan Gugus Konsonan BT /sh/ sebagai Bunyi [cc] dan [ss]

Dalam BT terdapat gugus konsonan /sh/ yang harus diucapkan menjadi bunyi [ss] (lihat

Nababan, 1981). Penyimpangan terjadi karena bunyi konsonan BT /sh/ diucapkan sebagai bunyi [cc]. Munculnya dua variasi pengucapan ini menimbulkan adanya alternasi bunyi gugus konsonan dalam BT. Misalnya pada kata ditariashon /ditariashon/ ’disampaikan’ diucapkan

penutur BT sebagai [ditariaccon], seperti dalam tuturan berikut. (37) *[...siak katam nauk ditariaccon naposom] (Data I.1)

Tuturan (37) tampak telah menyimpang dari sistem kaidah BT, sebab gugus konsonan BT /sh/ harus diucapkan sebagai fonem /s/ seperti dalam kalimat (37a) berikut.

(37a) [...siak kata m nauk ditariasson naposo m]

dari kata mu telah disampaikan hamba mu ‘...dari firman yang telah disampaikan hambaMU’

Untuk lebih memperjelas terjadinya penyimpangan tuturan dalam pengucapan gugus konsonan di atas dapat juga dilihat pada contoh (38) berikut.

(38) *[pittor naεŋ do hubaloccon hami] (Data I.1)

Tuturan di atas tidak sesuai dengan sistem BT. Tuturan tersebut seharusnya adalah sebagai berikut.

(38a) [...pittor naεŋ do hubalosson hami]

segera akan T kubalaskan kami ’... kami ingin segera membalaskan’

Namun demikian, ada juga penutur BT yang mengucapkan kata baloshon ’membalaskan’

sesuai dengan sistem BT seperti dalam (39) berikut.

(39) [daŋ dibalosson tu hita hobbar tu akka dosa ta] (Data I.4)

tidak dibalaskan ke kita sesuai ke semua dosa kita ’Tidak dibalaskan kepada kita sesuai dengan dosa-dosa kita’

Sebagai bandingan, perhatikan tuturan berikut.

(40) [...huhut makkauasson asi ni roha ni debata] (Data II.6) serta menghauskan belaskasih dari hati dari tuhan

’...serta merindukan belas kasih dari Tuhan’

Variasi ini dikatakan sebagai fenomena penyimpangan karena dalam sistem BT baku tidak terdapat konsonan /c/. Sama halnya seperti pada variasi gugus konsonan /ns/, /sh/ sebagai gugus konsonan dalam BT juga memiliki variasi bunyi menjadi [cc] dan [ss].

Terjadinya penyimpangan ini disebabkan penutur bilinual BT-BI kurang memperhatikan sistem kaidah BT. Selain itu, penutur terpengaruh dengan sistem BI sehingga kurang berhati- hati dalam menuturkan BT dan kurang memiliki kesadaran untuk menggunakan bahasanya dengan baik sebagai penanda jati dirinya.

Dengan demikian, alternasi gugus konsonan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut. [cc]

/sh/ [sc]