GGambaran keberadaan
KONSEP BILINGUALISME, INTERFERENSI, DAN SIKAP BAHASA
2. Komponen Afeks
3.6 Kerangka Teor
Beberapa teori yang diterapkan dalam penelitian ini yaitu teori kontak bahasa (languages
in contact) dan teori sikap bahasa (languages attitudes) yang merupakan cakupan kajian
sosiolinguistik dan teori struktural.
Teori kontak bahasa (languages in contact) digunakan untuk mengkaji peristiwa
interferensi dalam sistem BT yang terdapat pada masyarakat BT di Medan yang bilingual BT-BI. Peristiwa kontak bahasa tidak dapat dihindari oleh penutur bilingual. Kontak bahasa merupakan peristiwa pemakaian dua bahasa oleh penutur yang sama secara bergantian. Dari peristiwa kontak bahasa itu terjadi transfer atau pemindahan unsur suatu bahasa ke dalam bahasa yang lain
mencakupi semua tataran kebahasaan yang disebutkan Weinreich (1968) sebagai peristiwa interferensi. Dalam proses penguasaan bahasa kedua masuknya unsur bahasa kedua yang dapat dikatakan sama sehingga dapat lebih mudah menggunakannya. Demikian pula sebaliknya, apabila unsur yang masuk itu berlainan, maka akan terjadi gejala interferensi (Huda dalam Denes,1994:7). Sebagai konsekuensinya, dengan adanya kontak bahasa, proses pinjam meminjam atau pengaruh mempengaruhi terhadap unsur bahasa lain tidak dapat dihindari.
Kajian sikap bahasa yang diterapkan dalam penelitian ini adalah teori sikap bahasa (language attitude) oleh Anderson (1974). Sikap bahasa (languages attitude) merupakan tata
keyakinan yang berhubungan dengan bahasa yang berlangsung relatif lama, tentang suatu objek bahasa yang memberikan kecenderungan kepada seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu yang disukainya. Sikap bahasa (languages attitude) adalah peristiwa kejiwaan dan merupakan
bagian dari sikap (attitude) pada umumnya.
Peristiwa. sikap bahasa ditandai oleh tiga prinsip sebagai acuan untuk menilai sikap penutur bahasa yakni (1) kesetiaan bahasa (loyalty language) (2) kebanggaan bahasa (language
pride), dan (3) kesadaran norma bahasa (awarness of the norm) *Garvin dan Mathiot,1968).
Ketiga ciri sikap bahasa tersebut berkaitan dengan dasar pemilihan seseorang terhadap suatu bahasa di antara sekian bahasa yang akan digunakan sebagai alat komunikasi, apakah bersikap positif atau bersikap negatif (lihat Suwito, 1985:90). Apabila ketiga ciri ketiga bahasa ini dimiliki seseorang maka orang tersebut dikatakan memiliki sikap yang positif terhadap bahasanya. Sebaliknya jika seseorang atau sekelompok anggota masyarakat tutur tidak ada lagi gairah atau dorongan untuk mempertahankan kemandirian bahasanya, maka orang tersebut memiliki sikap negatif terhadap bahasanya. (lihat Garvin dan Mathiot,1968). Jika ketiga prinsip ini kurang dimiliki oleh dwi bahasawan maka kecendrungan timbulnya interferensi besar sekali
(Denes,dkk 1994 : 54). Terkait dengan sikap bahasa, Suwito (1985:87) berpendapat bahwa sikap bahasa (language attitude) adalah peristiwa kejiwaan dan merupakan bagian dari sikap (attitude)
pada umumnya
Penerapan teori struktural dalam penelitian ini untuk membahas perbandingan sistem BT- BI. Dalam teori struktural ada dikotomi yang dapat dijadikan landasan pemecahan masalah, misalnya dikotomi signifié (bentuk) dan signifiant (makna) dan dikotomi yang mengacu pada
hubungan paradigmatik dan sintagmatik. Pengamatan terhadap gejala interferensi sangat erat kaitannya dengan keberadaan bentuk dan makna bahasa yang bersangkutan termasuk hubungan keduanya (Denes,dkk,1994:7). Hubungan paradigmatik ialah hubungan unsur-unsur yang secara vertikal memperlihatkan persamaan fungsi dengan yang lain, sedangkan hubungan sintagmatik ialah hubungan yang bersifat horizontal dan dapat bersubstitusi satu sama lain. Penelitian masalah interferensi dengan menggunakan teori struktural pernah dilakukan oleh Rindjin, Ketut (1979) dengan aspek kajiannya pada interferensi gramatikal bahasa Indonesia dalam bahasa Bali yang menggunakan pendekatan metode deskriptif.
Analisis interferensi berdasarkan teori struktural bertujuan untuk mendeskripsikan tuturan BT yang mengalami gejala interferensi BI pada masyarakat penutur bilingual BT di Medan. Karena penelitian ini harus membandingkan antara faktor-faktor yang memungkinkan terjadinya interferensi antara kedua bahasa itu, maka metode yang digunakan bersifat deskriptif komparatif.
3.7 Simpulan
Terdapat masyarakat yang mengenal dan menggunakan lebih dari satu bahasa. Masyarakat ini disebut masyarakat bilingual (dwibahasawan). Dalam keadaan kontak antara B1
dengan B2 yang umum terjadi adalah penyerapan atau pemungutan (borrowing) - baik pada
tingkat leksikal maupun tingkat struktur – dan penggabungan (konvergence). Pada tingkat
leksikal, seorang penutur akan menggunakan leksikal B1 begitu ia tidak berhasil menemukan konsep yang ingin dibicarakannya dalam basis data leksikal B2-nya, atau sebaliknya. Suatu masyarakat bahasa yang mengenal dan menguasai lebih dari satu bahasa cenderung mengalami interferensi ketika berbahasa
Interferensi dianggap sebagai penyimpangan sistem suatu bahasa ─ baik sistem bunyi, kosakata, sintaksis, maupun intonasi ─ sebagai akibat kontak dua bahasa atau lebih yang dikuasai oleh seorang penutur dan akibat penguasaan beberapa bahasa dan pemakaiannya secara bergantian. Peristiwa interferensi dalam suatu bahasa terjadi disebabkan penutur bilingual mentransfer bahasa-bahasa yang dikuasainya secara bergantian. Masuknya unsur-unsur bahasa yang satu kepada bahasa yang lain memungkinkan terjadinya penyimpangan-penyimpangan terhadap kaidah bahasa.
Bentuk-bentuk interferensi ada tiga, yaitu interferensi dalam bidang bunyi (interferensi fonologis), interferensi dalam bidang gramatikal (tatabahasa), dan interferensi dalam bidang leksikal
Interferensi bunyi itu dapat berupa substitusi bunyi (sound substitution), kenal-sama
terhadap dua bunyi (under-differentiation), kenal-beda terhadap dua bunyi (over-differentiation),
penafsiran ulang perbedaan bunyi (reinterpretation of distinctions), dan interferensi fonotaktik.
Interferensi bidang gramatikal (tata bahasa) terjadi bilamana dwibahasawan mengidentifikasikan morfem, kelas morfem, atau hubungan ketatabahasaan pada sistem bahasa kedua (B2) dengan morfem, kelas morfem, atau hubungan ketatabahasaan pada sistem bahasa pertama (B1), dan menggunakannya dalam tuturannya pada bahasa kedua, serta demikian pula
sebaliknya. Weinreich (1968) mengklasifikasikan interferensi gramatikal atas (1) pemindahan morfem, (2) penerapan hubungan gramatikal (3) perubahan fungsi morfem, (4) pengabaian kategori wajib.
Interferensi dalam bidang morfologi, antara lain terdapat dalam pembentukan kata dengan afiks. Interferensi morfologis terjadi apabila dalam pembentukan katanya sesuatu bahasa menyerap afiks-afiks bahasa lain.
Interferensi leksikal diklasifikasikan atas: (1) kata sederhana (simple word), (2) kata
majemuk dan frase, (3) pinjaman dan kesejajaran antara beberapa bahasa.
Gejala interferensi yang hadir dalam suatu bahasa secara garis besar dapat dibedakan atas dua bagian, yang pertama dilatarbelakangi oleh adanya faktor internal dan yang kedua oleh faktor eksternal. Faktor internal dalam kaitan ini mengacu pada struktur bahasa. Kemungkinan terjadi interferensi dimungkinkan oleh (a) penggunaan struktur bahasa pertama dalam bahasa kedua, atau sebaliknya, dan (b) penggunaan struktur bahasa kedua dalam tuturan bahasa pertama. Dengan adanya kesesuaian struktur dan keserupaan kosakata maka mudah terjadi bentuk campuran (baster) antara bahasa yang satu dengan bahasa lainnya.
Selain faktor internal, faktor eksternal atau faktor nonlinguistik sering menyebabkan terjadinya interferensi. Faktor nonlinguistik sebagai penyebab terjadinya interferensi ialah faktor individu dan faktor sosial budaya. Dua faktor lain yang cukup dominan sebagai pendorong terjadinya interferensi ialah faktor komunikasi dan faktor situasi. Hakikat individu yang dimaksud di sini ialah hal yang berkaitan dengan penutur sebagai dwibahasawan, antara lain meliputi penguasaan bahasa dan sikap bahasa.
Sikap bahasa (languages attitude) sebagai faktor eksternal adalah peristiwa kejiwaan dan
dikatakan positif apabila orang tersebut memiliki ketiga ciri sikap bahasa yaitu setia, bangga, dan sadar akan norma bahasa sebagai penanda jati dirinya. Akan tetapi, jika seseorang atau sekelompok anggota masyarakat tutur tidak ada lagi gairah atau dorongan untuk mempertahankan kemandirian bahasanya, maka orang tersebut memiliki sikap negatif terhadap bahasanya. Sikap negatif terhadap bahasa juga dapat terjadi apabila ketiga prinsip ini kurang dimiliki oleh dwi bahasawan maka kecende- rungan timbulnya interferensi besar sekali.
Berdasarkan penjelasan konsep-konsep di atas dapat diperhatikan hubungan sikap bahasa dengan fenomena interferensi yang terjadi pada penutur bilingual pada bagan berikut.
Gambar 2 Bagan Bilingualisme-Sikap Bahasa-Interferensi
BAB IV Masyarakat Bahasa: Bilingual/Multi- lingual Sikap Bahasa Kontak bahasa (languages in contact) Positif Negatif Setia Bangga Sadar Bahasa Sejajar (Coord.Lan guage) B1= B2 → Bahasa Sejajar (Coordinate Language) B1>B2 atau B1<B2→ Bahasa Majemuk (Compound Language)
Interferensi
Bahasa Majemuk (Comp.Lan guage) BT-BI:Darimana, inang?
Intralinguistik Ekstralinguistik
B1(BT) : Sian dia, inang ? B2 (BI) : Darimana, bu?
Fono- logis Gramati- kal Leksi- kal Faktor sosial budaya Faktor Struktur Bahasa
Faktor individu
BAB IV