Dengan demikian cara pelafalan seperti di atas telah melanggar kaidah sistem pelafalan bunyi BT Hal tersebut disebabkan antara lain (1) penutur BT yang bilingual kurang
5.3 Interferensi Aspek Gramatikal
5.3.1 Interferensi Aspek Morfologis
5.3.1.1 Interferensi Pembentukan Nomina BT
Dalam proses pembentukan nomina, pada umumnya sistem BT memiliki pola Morfem Terikat + Morfem Bebas atau Morfem Bebas + Morfem Terikat, misalnya {hepengmi} ‘uangmu’. Kata ini dibentuk dari nomina BT {hepeng} + Afiks BT {-mi}.
Berdasarkan data penelitian terhadap tuturan BT di Medan, terdapat penyimpangan- penyimpangan dalam pembentukan kata BT, yaitu Morfem Terikat BI + Nomina BT atau Morfem Terikat BT + Nomina BI. Misalnya kata ikan pada ikatta dan ikanmuna, pembentukan
kata tersebut melalui proses Nomina BI {ikan} + Morfem terikat BT {-ta,-muna}. Pembentukan
kata dengan pola demikian dikatakan sebagai penyimpangan sebab padanan kata ikan , terdapat
dalam BT yaitu dengke [dekke].
Penyimpangan dalam pembentukan nomina seperti ini dapat dilihat dalam tuturan berikut.
(118 ) *[dak kuraŋan hita molo tuŋ bєha hita ikatta gulamo...] (Data II.7)
Pembentukan nomina yang seharusnya dalam BT adalah {dengketa} [dekketta]
seperti tampak pada ( 118a) berikut:
( 118a) [dak kuraŋak kita molo tuŋ bєha hita dekketa gulamo...] tidak kekurangan kita kalau pun bagaimana ikan kita ikan asin ‘Kita tidak kekurangan walau pun ikan kita ikan asin...’
Demikian juga halnya dengan pembentukan nomina {ikanmuna}[ikammuna] berikut. (119) * [boha do nauk kona εs do leleng ikkanmuna on] (Data II.5)
Seharusnya pembentukan yang sesuai dengan kaidah BT adalah {deŋkemuna} [dekkemuna] seperti pada kalimat (119a).
(119a) [boha do nauk kona εs do leleng dekke muna on]
bagaimana T sudah kena es T lama ikan mu ini ’Bagaimana, apakah ikan kamu sudah lama dikasih es’
Interferensi morfologis dalam pembentukan nomina BT seperti ini disebabkan penutur BT telah mengenal kosakata ikan dalam BI dan bahkan sering menggunakannya saat bertutur
dalam BT. Hal ini mengindikasikan bahwa penutur adalah dwibahasawan yang tidak sejajar (bilingual majemuk) sehingga cenderung mencampuradukkan kedua bahasa yang dikuasainya.
Untuk lebih jelas lagi, berikut ini diberikan beberapa tuturan yang menyimpang dari proses pembentukan nomina BT.
(120) *[mulai sian presiden sahat tu bawahanna tuhan asa ho ma ....] (Data I.2)
Pembentukan nomina bawahanna pada tuturan di atas dibentuk melalui proses nomina
BI {bawahan} + afiks BT {-na}. Seharusnya penutur menggunakan na ditoru yang berasal dari
BT sebagai padanan kata bawahan.
Tuturan yang seharusnya adalah
( 120a) [mulai sian presiden sahat tu na ditoruna tuhan asa ho ma ....]
Proses pembentukan nomina yang menyimpang dari kaidah BT dapat juga ditemukan pada tuturan berikut.
(121)*[asa boi hami marlas ni roha sude rayaqna tuhan] (Data I.2)
Pada tuturan (121), pembentukan nomina rayaqna melalui proses nomina BI rakyat
{rakyat} yang diucapkan [rayaq] + afiks BT {-na}. Seharusnya penutur menggunakan nomina yang berasal dari BT karena padanan nomina ini terdapat dalam BT yaitu bangso sebagaimana
dalam tuturan berikut.
(122a) [asa boi hami marlas ni roha sude baŋso na tuhan] agar bisa kami bergembira dari hati semua rakyat nya tuhan ’Agar kami semua rakyatnya dapat bergembira tuhan’
Untuk lebih memperjelas terjadinya interferensi dalam proses pembentukan nomina yang menyimpang dari sistem BT tersebut, perhatikan beberapa tuturan berikut. (123) *[holan au pє niandiboan unakpala dohot barakkon] (Data II.7)
Pada tuturan (123), pembentukan nomina barakkon melalui proses nomina BI {barang}
+ afiks BT {-h0n}. Seharusnya penutur menggunakan nomina yang padanannya ada dalam BT, yaitu ugasan sebagaimana tampak dalam tuturan berikut.
(123a) [holan au pє nian diboan unak pala dohot ugasak kon] hanya aku T sebenarnya dibawa jangan perlu ikut barangku ini ‘sebenarnya hanya aku saja di bawa tidak perlu barangku ikut’
Perhatikan pula tuturan (124) berikut.
(124) *[...soŋon na jolo maŋaŋgap gərejana naukkebat sian....]
Pembentukan nomina BT gerejana dalam tuturan (124) berasal dari proses nomina BI
{gereja} + Afiks BT {-na}. Penutur seharusnya menggunakan padanan nomina ini yang memang ada dalam BT yaitu huria, sehingga tuturan yang sebenarnya adalah sebagai berikut.
(124a) [...soŋon na jolo maŋaŋgap huriana nauk kebat sian....] (Data II.7) seperti yang dulu menganggap gerejanya lebih hebat dari
‘...seperti dulu menganggap gerejanya lebih hebat dari....’
Beberapa penyimpangan dalam proses pembentukan nomina BT tampak pula dalam tuturan berikut.
(125) *[jai hata i do nuaεŋ on pərasaanna soŋon i] (Data IV.14)
Pada tuturan (125) di atas, pembentukan nomina perasaanna ‘perasaannya’ berasal dari
proses nomina BI {perasaan} + Afiks BT {-na}. Penutur seharusnya menggunakan nomina yang ada padanannya dalam BT yaitu pakkilalaan, jadi tuturan yang sebenarnya adalah
(125a) [jai hata i do nuaεŋ on pakkilalaan na soŋon i]
jadi kata itu T sekarang ini perasaan nya seperti itu ‘Jadi
Perhatikan pula penyimpangan proses pembentukan nomina pada (125), (126), (127), (128) berikut.
(125)
*
[ lima ribu jiwa ruas ni PSD kota medan sekitarna](126) *[...misalna huboto hami godaŋdo pendidikan....]
(127)*[jala tu baŋsona contohna soŋon si musa ]
(128) *[adoŋ baro kaŋkєr misalna nauŋ tartokkin nai na ma on]
Pada tuturan (125), (126), (127), (128) proses pembentukan nomina sekitarna, misalna,
contohna berasal dari nomina BI {sekitar} + Afiks BT {-na}, nomina BI {misal} + Afiks BT {-
na}, nomina BI {contoh} + Afiks BT {-na}. Tuturan tersebut seharusnya
(125a) [...lima ribu jiwa ruas ni PSD kota medan humaliaŋ ŋa] lima ribu jiwa sektor dari PSD kota medan sekitar nya ‘...lima ribu jiwa sektor PSD kota Medan sekitarnya’
(126a) [...isara na huboto hami godaŋdo pendidikan ....]
misal nya kutahu kami banyak T pendidikan ‘...misalnya kami mengetahui banyak pendidikan ....’ (127a) [...jala tu baŋso na isara na soŋon si musa ]
dan kepada bangsa nya misal nya seperti musa ’...dan kepada bangsanya misalnya seperti Musa’
(128a) [adoŋ baro kaŋkєr isara na nauŋ tartokkin nai na ma on] ada luka kangker misal nya sudah sebentar lagi yang T ini ’Ada luka kangker misalnya sudah sebentar lagi ini’
Penyimpangan proses pembentukan nomina BT lainnya adalah Nomina BI + Afiks BT {-hu}, seperti dalam tuturan berikut.
(129) *[sai hormat do tu nasida ala seniorhu nasida] (Data III.10)
Tuturan di atas seharusnya adalah
(129a) [...sai hormat do tu nasida ala di gijjak ku nasida] selalu hormat T ke dia karena di atas ku dia
‘...selalu hormat kepadanya karena dia di atasku’
Dalam proses reduplikasi juga terjadi penyimpangan dalam pembentukannya, misalnya
marmaccam-maccam dalam tuturan berikut.
(130)*[... asa unaŋmarmaccammaccam jala habis tikki]
Pada tuturan di atas, proses pembentukan kata marmaccammaccam berasal dari
afiks BT {mar-} + reduplikasi BI {macam-macam}. Tuturan tersebut mengalami penyimpangan dalam sistem BT sebab reduplikasi ini terdapat padanannya dalam BT yaitu ragamragam. Jadi
proses pembentukan ini dapat dikembalikan kepada bentuk yang benar yaitu (130a) [... asa unaŋ marragamragam jala habis tikki]
supaya tidak bermacammacam dan habis waktu ‘...supaya tidak bermacam-macam dan habis waktu’
Proses pembentukan reduplikasi BT lainnya dapat diperhatikan dalam tuturan berikut. (131)* [ai ias do on manaŋ na kurapkurapon do on] (Data II.5)
Pada tuturan (131), pembentukan reduplikasi kurapkurapon berasal dari nomina BI {kurap-kurap} + Afiks BT {-on}. Penyimpangan yang terdapat dalam pembentukan reduplikasi seperti ini disebabkan oleh sikap penutur yang kurang memiliki kesadaran terhadap pemertahanan bahasanya sehingga digunakannya kosakata BI padahal BT memiliki padanan untuk kata tersebut yaitu baro ‘bisul, luka’.
Dengan demikian, tuturan tersebut seharusnya adalah (131a) [ai ias do on manaŋ na baroon do on]
apa bersih T ini atau yang kudiskudisan T ini ‘Apakah ini bersih atau kudis-kudisan’
Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahwa dalam proses pembentukan nomina BT yang terinterferensi BI umumnya berpola morfem bebas BI + afiks –na, -muna, -ta, -hon, -hu
Terjadinya penyimpangan dalam pola pembentukan nomina BT seperti pada contoh di atas menggambarkan bahwa di satu sisi penutur BT masih ingin mempertahankan identitas bahasanya, ironisnya penutur BT memasukkan unsur morfem BI ke dalam tuturannya disebabkan keterbatasannya dalam kosakata BT di samping penutur kurang memiliki kesetiaan, kesadaran, dan kepekaan terhadap sistem bahasanya.
Persoalan penyimpangan pembentukan kata BT lainnya dapat diperhatikan dalam tuturan berikut.
(132) *[hita pєsabotulna unak sai soŋon na holan si hiskia on ](Data II.8)
Pada tuturan (132) proses pembentukan kata sabotulna adalah dari kata BI {se + betul}
+ Afiks BT {-na}. Tuturan tersebut seharusnya
(132a) [hita pє sasittoŋ ŋa unak sai soŋon na holan si hiskia on]
kita T sebetul nya jangan selalu seperti yang hanya si hiskia ini ’Kita sebetulnya jangan selalu hanya seperti si Hiskia ini’