• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI

2.1. Tinjauan Teoritis

2.1.6. Analisis Framing dan Konsep Realitas Sosial

Menurut Gaye Tuchman, “Berita adalah jendela dunia”. Melalui berita, khalayak, khususnya khalayak pemirsa, dapat mengetahui apa saja yang terjadi di kawasan Jakarta, Tangerang, Aceh, dan sebagainya. Akan tetapi yang dilihat, diketahui, dan khalayak rasakan mengenai dunia itu tergantung dengan ‘jendela’ yang dipakai. ‘Jendela’ yang besar akan memperluas pandangan khalayak. Sebaliknya, ‘Jendela’ yang kecil akan membatasi pandangan. Apakah ‘jendela’ tersebut berjeruji atau tidak, dapat dibuka secara lebar ataupun tidak. Dalam berita, ‘jendela’ itu yang disebut dengan frame (bingkai).36

Eriyanto memberikan ilustrasi yang menggambarkan bahwa berita bukanlah sesuatu yang sama dan sebangun dengan peristiwa yang terjadi (atau disebut pula sebagai realitas sosial). Bentuk, ukuran dan posisi ‘jendela’ tersebut melalui proses pembingkaian (framing).37

36

Alo Liliweri, Prasangka dan Konflik: Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultur, Yogyakarta: LKiS, 2005, hal. 193-194

37 Ibid.

Framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita.38 Menurut Robert N. Entman, framing adalah proses seleksi dari berbagai aspek realitas sehingga bagian tertentu dari peristiwa lebih menonjol dibandingkan aspek lain.39

Hal tersebut senada dengan yang diungkapkan oleh William A. Gamson yang menyatakan bahwa framing adalah cara bercerita atau gugusan ide-ide yang terorganisir sedemikian rupa dan menghadirkan konstruksi makna peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan objek suatu wacana. Cara bercerita itu terbentuk dalam sebuah kemasan (package). Kemasan itu semacam skema atau struktur pemahaman yang digunakan individu untuk mengkonstruksi makna pesan-pesan yang ia sampaikan, serta untuk menafsirkan makna pesan-pesan yang ia terima.40

Dalam analisis framing, berita selalu bersifat subjektif. Opini tidak dapat dihilangkan karena ketika meliput, wartawan melihat dengan perspektif dan pertimbangan subjektif. Hal ini berbeda dengan pandangan positivis yang menyebutkan bahwa berita bersifat objektif, menyingkirkan opini dan pandangan subjektif pembuat berita. Analisis framing, yang menurut Eriyanto merupakan bagian dari paradigma kostruksionis melihat berita bukan sesuatu yang terberi (taken for granted), melainkan hasil konstruksi yang dilakukan wartawan. Peter D. Moss menyatakan, wacana media massa, termasuk berita surat kabar, merupakan konstruk kultural uang dihasilkan ideologi, karena sebagai produk media massa, berita

38

Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media, Jogjakarta:LKiS, 2007, hal. 21

39

Ibid., hal. 67 40

surat kabar menggunakan kerangka tertentu untuk memahami realitas sosial.41

Realitas berasal dari kata Latin “res” yang berarti benda, dan berubah menjadi “realis” yang berarti sesuatu membenda dan atau yang memiliki wujud, aktual. Salah satu pemikiran konstruksionisme yang mengaji tentang pembentukan realitas sosial di masyarakat, yaitu teori konstruksi sosial dari Peter L. Berger dan Thomas Luckmann.42 Menurut Berger dan Luckmann, realitas adalah suatu kualitas yang terdapat dalam gejala fenomena-fenomena yang diakui oleh manusia sebagai memiliki being (keberadaan) dan tidak tergantung pada manusia itu sendiri.43

Bagi Berger, realitas itu tidak dibentuk secara ilmiah, tidak juga sesuatu yang diturunkan oleh Tuhan. Tetapi sebaliknya, ia dibentuk dan dikonstruksi. Dengan pemahaman semacam ini, realitas berwajah ganda/plural. Setiap orang mempunyai konstruksi yang berbeda-beda atas suatu realitas. Setiap orang yang mempunyai pengalaman, preferensi, pendidikan tertentu, dan lingkungan pergaulan atau sosial tertentu akan menafsirkan realitas sosial itu dengan konstruksinya masing-masing. Sebuah teks berupa berita tidak dapat dikatakan sebagai jiplakan (copy of) realitas, melainkan harus dipandang sebagai konstruksi atas realitas. Realitas itu hadir, karena dihadirkan oleh konsep subjektif wartawan.44

Dalam konteks inilah, wartawan tidak sekadar menyampaikan kepada khalayak tentang sesuatu yang terjadi, melainkan juga memberi makna tertentu tentang kejadian itu. Karena

41

Alo Liliweri, Op.Cit.hal 194 42

Tuti Widiastuti,Konstruksi Realitas Perempuan dalam Program Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi dalam Komunika Vol. 8 No. 1, 2005, hal. 54

43 Ibid. 44

itu analisis framing tidak melihat berita sebagai sesuatu yang objektif dan netral, melainkan subjektif dan memihak. Ketidakobjektifan dan ketidaknetralan itu, misalnya, terlihat dari pemilihan isu dan narasumber. Wartawan memilih isu tertentu untuk ditonjolkan dan isu lain untuk diabaikan. Wartawan juga memilih tokoh tertentu untuk diwawancarai, dan tokoh lain tidak diawancarai. Proses itu sudah menunjukkan bahwa berita tidak objektif dan tidak netral. Hal itu pula yang menyebabkan peristiwa tertentu diberitakan, peristiwa lain tidak diberitakan. Bahkan, satu berita dapat diberitakan secara berbeda-beda oleh berbagai media, sesuai dengan cara pandang tiap media. Inilah yang sering membingungkan pembaca koran, pendengar radio, atau pemirsa televisi. Sesuai dengan pola pikir dan lingkup pengalamannya, wartawan juga tidak objektif dalam pemberian predikat terhadap seseorang atau kelompok.45

Menurut Eriyanto, terdapat empat model framing; Pertama, model framing Murray Edelman. Murray Edelman menyejajarkan framing sebagai “kategorisasi” yaitu pemakaian perspektif tertentu dengan pemakaian kata-kata yang tertentu pula yang menandakan bagaimana fakta atau realitas dipahami. Kedua, model framing William A. Gamson. Dalam pandangan Gamson, yang termasuk penganut konstruktivisme, ada dua level framing. Pertama, dalam level personal; menandakan bagaimana setiap orang mempunyai konstruksi yang bisa jadi berbeda-beda atas suatu realitas atau peristiwa. Konstruksi tersebut menentukan bagaimana dunia dihayati, dialami, dan dimengerti. Kedua dalam level kultural; menandakan bagaimana budaya masyarakat dan alam pikiran

45

Alo Liliweri, Prasangka dan Konflik: Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultur, Yogyakarta: LKiS, 2005, hal. 194-195

khalayak menentukan bagaimana peristiwa atau isu dikonstruksi dan dibentuk. Individu mempunyai pengalaman sejarah, latar biografis, interaksi, dan predisposisi psikologis tersendiri yang digunakan olehnya dalam mengkostruksi makna. Ketiga, yaitu model Pan dan Kosicki. Menurut mereka, ada dua konsepsi dari framing yang saling berkaitan. Pertama, dalam konsepsi psikologi. Framing dalam konsepsi ini lebih menekankan bagaimana seorang memproses informasi dalam dirinya. Kedua,dalam konsepsi sosiologis proses bagaimana seseorang mengklasifikasikan, mengorganisasikan, dan menafsirkan pengalaman sosialnya untuk mengerti dirinya dan realitas di luar dirinya. Keempat, model framing Robert N. Entman.46

Penulis menilai teknik framing Entman yang lebih tepat untuk menanalisis pemberitaan perempuan dalam program Redaksi siang TRANS7. Karena, penulis beranggapan bahwa konsep Entman melihat berita yang ditampilkan tidak hanya sebuah konstruksi realitas yang dilakukan oleh media saja, namun lebih kepada bagaimana media melakukan proses seleksi isu dan penekanan/penonjolan aspek tertentu dari isu pemberitaan tersebut. Penulis beranggapan bahwa realitas yang disajikan secara menonjol atau mencolok mempunyai kemungkinan lebih besar untuk diperhatikan dan mempengaruhi khalayak dalam memahami suatu realitas. Proses seleksi isu serta penonjolan aspek yang dilakukan dengan menggunakan strategi wacana (penempatan headline, penampilan gambar, pengulangan, pemakaian grafis, asosiasi terhadap simbol budaya, generalisasi) inilah yang kemudian penulis

46

Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media, Jogjakarta:LKiS, 2007, hal. 155-254

anggap erat kaitannya dengan ideologi media, yang juga merupakan objek penelitian yang ingin dilakukan oleh penulis.

Teknik Framing Entman dilakukan sebanyak empat tahap. Tahap-tahap itu ialah pendefinisian masalah, melakukan diagnosa penyebab masalah, membuat keputusan moral, dan rekomendasi penyelesaian apa yang ditawarkan atau yang harus ditempuh atas suatu permasalahan. 47