• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

TRANSKIP WAWANCARA

5. Cut Ika Melani

T : Menurut Mba Icut, perempuan itu seperti apa sih? J : Perempuan dalam konteks apa?

T : Maksud saya, posisi perempuan saat ini dalam sistem sosial masyarakat Indonesia yang Mba lihat?

J : Oh, jika perempuan seperti itu yang dimaksud, menurut saya perempuan saat ini merupakan makhluk yang dapat menjadi suatu pemangku kebijakan dalam sebuah perusahaan, perempuan yang juga berhasil dalam berkarir, dan perempuan yang dapat melakukan pekerjaan lainnya yang juga dapat dilakukan oleh kaum lelaki.

T : Jika ditarik ke pemberitaan, menurut mba, apa sih yang membuat sosok perempuan menarik untuk diberitakan?

J : Menurut saya, kehidupan itu tidak seputar laki-laki dan tidak juga penikmat berita harus laki-laki. Ditambah pula, program saya saat ini tayang pada jam makan siang dimana pemirsa televisi adalah remaja, anak-anak sekolahan, dan paling banyak ialah WHH (Wife House Hold = Ibu rumah tangga). Sehingga, saya dan tim program ini merusaha melakukan penetrasi kepada penonton yang mayoritas perempuan itu dengan mengemas tayangan yang enak dikonsumsi mereka, ditampilkan secara soft, namun tetap ‘news’. Tentunya semua itu bersifat informatif, karena format kita berita, bukan gossip dan sebagainya.

T : Mba Icut sudah berapa lama berkerja di TRANS7? J : Almost five years (hampir lima tahun).

T : Seperti apa sih sejarah Redaksi Siang, apa yang kemudian membedakan Redaksi Siang dengan program pemberitaan TRANS7 yang lainnya?

J : Nah, Redaksi Siang itu kebetulan dibentuk pada saat aku gabung

dengan TRANS7. Jadi kebetulan saya dan teman-teman produser yang lain secara bersama-sama meracik bagaimana bentuk tayangan program Redaksi Siang. Ya, pada saat itu Redaksi Siang masih mencari-cari bentuk. Karena dulu tidak ada Redaksi Siang, ada pemberitaan namun pemberitaan itu sifatnya masih general, kemasan beritanya juga tidak mengarah kepada perempuan seperti sekarang. Dulu pemberitaan yang ditayangkan siang hari itu namanya TKP, kemudian kita memikirkan cara bagaimana bersaing dengan program-program dari TV lain yang menyuguhkan acara gossip, sinetron, di jam-jam itu. TKP pada waktu itu bermain hard news. Nah kemudian kita mengakalinya dengan

membuat pemberitaan yang garis besarnya apa, lalu kita buat cabang-cabang beritanya menjadi indept-indepth report. Jadi paling ya itu sih, yang membedakan Redaksi Siang dengan program berita lain ialah segmentasi, isu pemberitaan dan juga kemasan berita itu sendiri. Dan agar tayangan itu banyak penonton, biasanya kita akan melibatkan pula artis dalam pemberitaan Redaksi Siang. Karena artis itu kan orang-orang yang well known (dikenal baik) terutama bagi kalangan ibu-ibu, sehingga akan lebih diingat dan membuat pemberitaan tidak biasa-biasa saja seperti Redaksi lain. Misalnya kalau dia bukan siapa-siapa, kalau kita masuknya lewat dia nih kasusnya sudah hilang. Tapi kan kita akan butuh indepth reportnya apa, indepth reportnya biasanya nanti kita akan pakai ada tidak sih di catatan-catatan kebelakang kasus-kasus KDRT seperti ini itu orang-orang ternama yang mengalaminya, yang benar-benar bisa kita jadikan human example. Yang benar-benar orang itu nge-cring gitu, “Oh, dia ini artis ini, artis itu, atau ibu pejabat ini, ibu pejabat itu…”, atau pokoknya orang-orang yang well known, yang memang dulu pernah mengalaminya. Jadi kalau kita mengecreknya dari situ dan semua orang tahu, akhirnya indepth kita untuk benar-benar menanamkan ideologi redaksi siang ini biasanya adalah apa yang bermain di indepth reportnya seputar kalau misalnya elu menjadi korban KDRT, elu harus bagaimana. Kalau misalnya elu menghadapi situasi di… apa namanya, mengalami KDRT di keluarga lu, siapa orang pertama yang harus diberi tahu, tindakan apa yang pertama kali harus dilakukan, nah kia berusaha mempenetrasi pengetahuan-pengetahuan tentang KDRT itu lewat si

human-human example itu, begitu. Makanyakenapa kita bermain luwes, kita tidak tabu untuk memainkan artis, kita tidak tabu sama sekali untuk selalu mengutip perkembangan-perkembangan seperti misalnya ada artis yang di… yang mengalami… yang melaporkan kepada polisi bahwasannya dia ditendang oleh suaminya, itu kan menjadi newspacknya kita juga. Kita grab itu, dan kita akan kemas itu dalam sebuah kemasan berita yang bagi kita ini ibu-ibu perlu tau loh, kalau misalnya mereka mengalami seperti ini tuh mereka harus bagaimana, begitu. Setelah itu, orang-orang yang tinggal di samping kiri dan kanannya juga kalau misalnya tahu ada tindakan kekerasan dalam sebuah keluarga, mereka juga seharusnya memberitahukan kepada pihak yang berwajib, jika misalnya sampai parah sekali, begitu, ya memang tanggungjawab sosial dari orang yang terdekatnya, yang seperti

begitu-begitu yang kita beri tahu. Tetapi memang kita masuknya lebih luwes begitu, kita masuknya lewat artis, kita bisa masuk lewat siapa saja. T : Itu kan setelah penayangan, nah kalau untuk isunya itu sendiri, si

media dalam artian Redaksi Siang ini, mendapatkan info dari mana saja, Mba? Atau ada nggak sih orang-orang yang dianggap pemegang isu, begitu? Bagaimana Redaksi Siang dalam menentukan tema beritanya? J : Kita nggak pernah… nggak pernah apa ya… kan kita harian ya, harian

kalau buat aku sih yang namanya peristiwa itu tuh news voices itu pasti Tuhan. Kalau misalnya Tuhan ingin menjadikan peristiwa itu terjadi, terjadilah itu yang jadi newspacknya kita. Kalau misalnya hari ini Tuhan ingin artis siapa tapi tiba-tiba meninggal kecelakaan, ya news from god.

Jadi kita tidak pernah menerapkan yang namanya siapa, siapa, siapa. Adalah skala prioritas kita misalnya, itu berlaku sih kalau gue rasa di TV-TV lain misalnya infotainment, segala macam cerita khas hari ini akan ngehits begitu, tapi kalau kita di Redaksi siang kita nggak… nggak

secara frame berpikir kita nggak seperti itu. Bahwasannya nantipun kalaupun kita misalnya main itemnya Syahrini, tetapi kita tetap akan lebih, karena ini bannernya masih Redaksi Siang, kita perlu packable, newspacknya apa, metersnya apa, news valuenya apa untuk para penonton kita. Jadi ya nggak memang serta merta semua main, kita main tapi tidak dengan sebuah… apa namanya,hmm.. branding news yang asal-asalan begitu, nggak.

T : Mba, untuk mendapatkan isu, mencari infonya dari mana saja? J : Dari mana saja.

T : Oh, jadi tidak menutup kemungkinan apabila ada warga sipil yang memberi tahu atau melaporkan juga, itu dapat dijadikan bahan pertimbangan?

J : Nah, kan saya punya tim liputan. Kalau misalkan isunya sudah ada, biasanya kalau di Redaksi Siang itu dari sebuah peristiwa besar, biasanya kita akan buat indepth-indepth reportnya yang memang menjadi Redaksi Siang, seperti sidebar-sidebarnya. Jadi kita kalau misalnya peristiwa, kita jualannya pasti akan mengikuti apa yang terjadi, apa yang Tuhan berikan, because news are from god. Kalau misalnya memang kita mau buat isu sendiri, kita menulis itu sendiri yaa…

biasanya sih kalau kita main kayak gitu nge-lite atau kita main isunya pada saat liburan.

T : Lalu ada tidak kriteria tertentu untuk mencari narasumber? J : Misalnya?

T : Seperti apa karakteristik narasumber yang digunakan untuk program Redaksi Siang, harus seperti apa misalnya?

J : Karakteristik narasumbernya Redaksi Siang?

T : Iya, dia beda nggak sih, narasumber yang dipakai untuk program Redaksi Siang dengan yang dipakai untuk program Redaksi Sore atau Redaksi Malam?

J : Sama.

T : Jadi, dia hanya berdasarkan?

J : Capability (kapabilitas). Ya, narasumber memang harus sesuai dengan kapasitas untuk news. Kalau memang harus seorang psikolog yang bicara, ya harus ke psikolog. Kalau memang untuk seorang petugas psiko forensik yang bicara, ya petugas forensik, polisi yang bicara ya harus polisi.

T : Tapi ada nggak sih narasumber-narasumber tertentu yang misalnya dia sudah terbiasa nih kerjasama dengan TRANS7, maka dia yang lebih sering dipakai/diwawancarai?

J : Tergantung kasusnya sih. Kalau misalnya sedang banyak kasus yang membutuhkan. Karena kan di setiap indepth report kan pasti kita melihat bila di segi agama itu penyelesaiannya bagaimana, kalau dilihat dari segi psikologis permasalahan ini dilihat dari psikologis itu seperti apa, lalu dari segi hokum, yaa… tergantung/depends sekali. Tetapi kita memang teramat sangat paling sering banyak bermain si ranahnya psikolog.

T : Kemudian akau mau nanya proses editing gambar. Nah produser itu seberapa jauh berperan sih, Mba? Dalam proses penyuntingan gambar, pemotongan-pemotongannya apakah produser kemudian berinstruksi kepada editor? Atau editor yang justru melihat dulu bagian-bagian yang perlu dipotong baru kemudian dia mengomunikasikan kepada produser?

J : Biasanya sih produser akan preview gambar dulu ya. Kalau misalnya memang positif, misalnya anggaplah peredaran video porno dan segala macamnya itu, nah tanpa harus… ya harus di preview dulu sih, ditandai, mana yang boleh tayang, mana yang tidak, mana yang kalaupun itu ditayangkan tetapi harus diblur. Dan biasanya kalau untuk kasus yang memang porno-porno itu, bahasan produser sampai ke level assprod, sampai ke level editorpun itu sama yaitu gambar porno tidak layak tayang (telanjang), tetapi harus diblur. Ya, kalau misalnya ada gambar-gambar yang terlalu menjijikkan, yang dari segi… apa namanya, hmm… meresahkan masyarakat itu juga biasanya akan kita beri catatan di naskahnya bahwa gambar ini harus diblur. Atau misalnya ada banyak darah, gambar ini harus dihitam-putihkan. Ya yang seperti itu-itu biasanya memang di preview oleh produsernya. Tapi biasanya, untuk lebih menjaga lagi biasanya kita ada hakim garis yaitu assprod dan

production assistant yang akan selalu berada di ruang mixing untuk mengecek, mana tayangan yang lolos atau tidak. Biasanya kita juga saling mengingatkan.

T : Itu berarti termasuk ya, efek bluring atau mozaik serta hitam-putih itu merupakan instruksi dari produser?

J : Ya, tapi biasanya tugasnya produser hanya mengingatkan. Tapi biasanya sih SOP nya untuk mencegah gambar-gambar seperti itu (porno atau sadis) seharusnya editor itu juga sudah satu frame dengan kita. Karena mereka kan di training (dilatih), lagipula kita juga punya standar yang diberikan oleh KPI, sehingga pegangannya sudah jelas.

6. Ida Ayu Okta

T : Mba, langsung saja ya… aku mau tanya, menurut Mba, perempuan itu seperti apa?

J : Perempuan itu makhluk yang harus bisa berperan ganda, terutama untuk para perempuan yang sudah berkeluarga. Ketika dia menjadi seorang professional, dalam artian dia berkarir di kantor, tentunya dia harus menyeimbangkan dengan kepentingan dia di rumah. Kalau berbicara soal kodrat, tentu secara biologis dan psikologis perempuan lebih ketimbang laki-laki, dimana perempuan bisa mengandung, melahirkan dan juga menyusui anaknya, sementara laki-laki tidak.

Selain itu, dalam lingkungan pekerjaan, perempuan juga kerap diposisikan berbeda dengan laki-laki, dalam artian begini, ketika seorang perempuan bekerja, untuk mendapatkan posisi tertentu, dia harus bekerja dua kali lebih keras dibandingkan laki-laki. Karena sering ada anggapan negatif mengenai perempuan dan pekerjaannya, misalkan profesi pilot yang ditempati oleh perempuan cenderung mendapat tanggapan yang negatif karena perempuan dianggap kurang menguasai dibandingkan laki-laki sehingga akan timbul kekhawatiran bila seorang pilotnya perempuan akan seperti ini… seperti itu… sehingga perempuan harus berusaha lebih keras untuk menyingkirkan anggapan-anggapan itu, sekaligus sebagai perempuan bahwa perempuan juga bisa. Memang, seara fisik kondisi tubuh perempuan memang lebih lemah dibandingkan laki-laki, namun secara posisi di masyarakat menurut saya sama. Sudah, itu saja. Ada lagi?

T : Kan permasalahan ini akan ditarik ke Redaksi Siang, karena penelitian aku mengenai Redaksi Siang. Pertayaan aku selanjutnya ialah mengapa Redaksi Siang mengambil tema tentang perempuan. Memangnya apa yang menarik dari perempuan sehingga dijadikan pemberitaan?

J : Redaksi Siang itu tayang jam 11.30 WIB. Pada waktu itu, sudah melalui riset baik melalui lembaga riset kami maupun lembaga riset di luar sana, yang kemudian dicocokkan hasilnya, bahwa penonton yang tersedia paling banyak di jam segitu adalah perempuan, terutama ibu rumah tangga. Nah, kenapa kita membidik sasaran perempuan dan ibu rumahtangga, ya supaya banyak yang menonton. Nah, bagaimana caranya supaya program ini banyak yang menonton, tentu kita harus mendekatkan isu-isu yang sangat dekat dengan ibu rumah tangga. Isu itu seputar anak, seputar rumah tangga sudah pasti, hubungan dengan suami, seputar dramatic story, seputar gambar yang indah-indah, gambar yang indah-indah, pemandangan, seputar masak-memasak, juga seputar manfaat makanan, seperti itu. Jadi kenapa kita konsisten, tetap mengangkat isu perempuan ya karena itu. Penontonnya banyak, dan supaya ditonton oleh perempuan, ya harus menyajikan yang perempuan

aware, belum pernah ditayangkan di program manapun, itu kuncinya. Isu, baik isu maupun kita membicarakan soal daerah wisata. Sesuatu yang baru tentunya. Perempuan iu sangat catch up, ya dia sangat

diputar dimana-mana ya dia nggak akan menonton. Tapi ketika itu sesuatu yang baru, pasti dia akan tonton.

T : Kemudian maaf ya Mba sebelumnya, aku mau tanya Mba Okta sudah masuk TRANS7 dari tahun berapa?

J : Aku masuk TRANS7 tahun 2008. Sebelumnya aku di Trans Tv, sama seperti Mba Icut dan Mba Dina. Tahun 2006 aku masuk di Trans Tv, lalu aku menikah dan kemudian aku dipindahkan ke TRANS7 tahun 2008.

T : Kemudian di program Redaksi Siang sendiri sudah berapa lama? J : Di Redaksi Siang setahun lebih, tepatnya itu tahun 2010.

T : Kira-kira Mba tahu tidak mengenai sejarah Redaksi Siang?

J : Aku tuh nggak seberapa… Redaksi Siang sih dari dulu tetap konsisten di isu perempuan. Dulu sempat bermain hard news, sama seperti Redaksi Sore.

T : Apanya tuh? Package (kemasan) atau isunya?

J : Isu dan juga packaging. Isunya yang paling baru, tidak seberapa mementingkan perempuan. Kalau dari segi kacamata perempuan, pentingnya apa sih untuk perempuan, ketika lu membahas korupsi, orang-orang dewan, partai politik, masih bermain di situ. Belakangan, mulai bergeser, lebih light (ringan), dan juga lebih dalam dengan adanya laporan khas, karena laporan khas itu jualannya kita, begitu. Baru sampai sekarang bermainnya di situ, lebih ringan.

T : Lalu, aku mau tahu nih, kalau sekarang kemasan Redaksi Siang yang sekarang sudah berbeda dengan Redaksi lain seperti Redaksi Sore atau Redaksi Malam, nah itu ideologinya itu sendiri seperti apa sih? Pakem-pakem yang dipakai, cara penulisannya itu seperti apa, yang kemudian dibuat berbeda?

J : Ya, kembali lagi. Pokoknya ketika membuat suatu berita, kita harus berpikir, apa pentingnya untuk ibu-ibu, apa pentingnya untuk perempuan. Seperti apa gambar yang disukai oleh ibu-ibu, kita pendekatannya bisa lewat partisipatif, reporter. Karena ketika kita berbicara soal alkohol untuk anak-anak sekolah. Begitu mudahnya sih

anak-anak SMA itu mendapatkan minuman beralkohol. Padahal jelas peraturannya bahwa anak dibawah 17 tahun itu tidak boleh minum itu. Apa pentingnya membahas alkohol untuk ibu rumah tangga? penting, karena ibu rumahtangga memiliki anak. Kemudian bagaimana gaya beritanya agar mengena di ibu-ibu, partisipatif, yaitu reporter ada di situ. Misalnya gue datang ke mini market, gue pakai seragam, gue membeli (minuman beralkohol), di mini market ini gue ditegur oleh satpamnya, “Mas, SMA ya? Umur berapa? Nggak boleh Mas, begini…begini…”, kemudian gue balik (pulang). Nah ibu-ibu bisa tahu seperti itu, ketimbang kita hanya memasukkan narasi-soundbyte-narasi-soundbyte, seperti itu. Ketika ada reporter yang ikut terjun langsung, pasti jadi menimbulkan kesan lebih dekat kan. Pasti akan lebih dekat.

T : Lalu aku juga mau tahu, setelah kemasan beritanya seperti itu. Secara seleksi isunya itu seperti apa prosesnya, langkah-langkahnya?

J : Tentu kita punya tim liputan, kita punya produser dua orang, assprod

dua orang, di mana isu itu bisa timbul, bisa kepikiran dari banyak kepala itu. Nah, kembali lagi, kita punya yang namanya rapat proyeksi, selain kita juga harus update. Itu nomor satu ya, harus selalu update, cek

[dot]com (internet) itu sudah pasti. Kemudian cek TV lain, mereka sedang membicarakan apa sih, lagi ramai soal Ade Namnung, misalnya. Ade Namnung meninggal, semua orang membahas penyakitnya, membahas karirnya dia, membahas soal hartanya yang diperebutkan, segala macam. Nah kita rapat, apa lagi nih, sesuatu yang baru, sesuatu yang di TV lain tidak ada, tentu ada laporan khas. Laporan khasnya apa, misalnya surat wasiat, surat warisan. Jadi kita rapatkan bareng-bareng, tapi nggak jarang juga ketika teman-teman yang mungkin masih baru, apa lagi dia laki-laki. Isi otak laki-laki dan perempuan itu kan beda, ada hal yang dia tidak sampai kepikiran kesana, itulah pentingnya kita ada rapat proyeksi, kita menyeleksi ide. Disanalah kita beradu argumen, dan sering juga isunya nggak dipakai, seleksinya di situ.

T : Di rapatnya itu sendiri, ada nggak sih beberapa orang yang dianggap sebagai pemegang isu? Jadi dia yang lebih dianggap sebagai informan kunci?

J : Sama-sama sih, lebih sama-sama. Di rapat itu siapa saja boleh bicara, egaliter. Reporter ya boleh membantah ketika produser mengajukan

liputan A, misalnya. Saat itu reporter boleh menanyakan A itu menariknya apa, bagusnya apa, narasumbernya si ini, tapi dia punya narasumber yang lebih bagus misalnya, dia lebih kompeten bicaranya, termasuk pemilihan narasumber ya. Jadi di rapat itu selain memilih isu, kita memilih narasumber. Karena narasumber itu sangat ditonton oleh penonton kita.

T : Pemilihan narasumber di Redaksi Siang harus yang seperti apa sih agar dia berbeda (dengan program pemberitaan lain) ?

J : Nah, pemilihan narasumber itu… yang kompeten ya di bidangnya, itu yang pertama. Contohnya siapa sih psikolog yang paling pas membicarakan tentang rumah tangga, soal anak? Rosmini. Tetapi Rosmini juga dipakai oleg program lite-in kita, Rosmini sering dipakai di mana-mana, walaupun gaya bicaranya paling enak, tetapi kalau dia terlalu sering ada di media manapun, orang juga akan bisa menebak ya dia membicarakan apa. Maka dari itu, penting namanaya bagi tim Redaksi Siang untuk selalu men-upgrade narasumber, cari yang lain. Dengan melakukan riset, narasumber yang kompeten, yang bicaranya enak, yang bagus, tapi tentunya itu trial in error ya. Kita coba misalnya ada narasumber yang oke nih, dia CV nya good, itu sering banget. Yang kedua itu muka, cantik, cakep, enak dilihat, kemudian unik. Pernah loh, ada satu psikolog namanya Putri Langka. Bicaranya sih standar, standar psikolog. Tapi nggak tahu kenapa, setiap kemunculannya itu pasti tinggi

ratingnya. Hahaha… ya mungkin karena namanya juga ya, Putri Langka.

T : Jadi selain berkompeten, selain di upgrade juga, ada nggak sih

kemungkinan lain karena memang si psikolog itu juga memang sudah ada kerjasama dengan Redaksi Siang, makanya lebih enak untuk memakai dia?

J : Langganan gitu ya? Itu juga berkaitan dengan ketersediaan waktu si psikolog. Karena sering kita kan kejar-kejaran, ketika hari ini ada isu misalnya Hotman Paris sudah baikan nih dengan Meriam Belina, apa nih laporan khasnya? Ya sudah, kita bahas soal rujuk lagi saja, yuk kita kejar psikolog. Kita misalnya ingin psikolognya Rosmini, tapi ternyata dia di luar kota, bla..bla…bla… akhirnya kita pakailah yang waktunya lebih banyak dan sama kita sudah klop, jadi sering berlangganan. Lebih

ke langganan sih kalau kerjasama, kita nggak pernah memakai dia secara ekslusif gitu…nggak.

T : Oh gitu. Selain pemilihan narasumber, aku mau nanya tentang naskah. Naskah itu memang reporter dibiarkan atau diberi kebebasan untuk membuat angle (sudut penceritaan) berita, atau pada rapat produser itu sudah dibentuk?

J : Pada rapat itu. Idealnya, pada rapat itu sudah harus jelas anglenya mau dibawa kemana, gambar yang mau dipakai apa, untuk opening paket dan gambarnya mau apa.

T : Itu yang menentukan siapa, Mba? J : Rame-rame.

T : Jadi reporter sudah ada gambaran pasti begitu? Jadi saat nanti dia memberi kaset master liputan serta naskah, produser hanya perlu melakukan review

J : Dan mengedit. Mengedit diksi, yang seperti itu. Pemilihan kata-katanya, segala macam. Pemilihan kata juga penting ya, karena ibu-ibu tadi. Ibu-ibu itu senang yang lebay, bombastis, yang dramatis, bukan yang straight news.

T : Kemudian pas editing gambarnya nih, tadi kan dari segi naskah. Lalu pada editing, kebijakan apa sih yang dipakai dalam editing, hal-hal apa saja?

J : Standar. Untuk seorang campers, gambar itu harus lengkap, dalam artian wide, medium, close up. Ketika lu wawancara begini, harus ada