• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

TRANSKIP WAWANCARA

4. Ardina Kartika

T : Siang Mba, aku mau nanya definisi perempuan menurut Mba itu apa sih?

J : Susah banget sih pertanyaannya, Hahaha… T : Ya perempuan “menurut Mba” itu bagaimana?

J : Perempuan itu menurut saya… apa ya,hmm… T : Kedudukannya gitu misalnya, Mba?

J : Ya, kalau masalah kedudukan sih setara. Tapi memang dia dianugerahi kelebihan yaitu bisa melahirkan dan punya anak, dan memang punya tanggungjawab lebih, di masyarakat harus sama. Harus sama. Ya tergantung dia ya menilai dirinya sendiri bagaimana. Tapi bagi saya perempuan harus bisa menilai dirinya bahwa dia sama, sejajar dengan laki-laki di masyarakat. Tapi tentu kalau di rumah, sebagai istri dia harus tahu posisinya juga. Sama, tapi tetap dia punya kewajiban, punya tangngjawab atas keluarganya.

T : Aku mau tanya tentang Redaksi Siang, berkaitan dengan perempuan

kan, kenapa sih Redaksi Siang menganggap perempuan menarik untuk diberitakan? Apa sih yang menarik dari perempuan?

J : Sebenarnya sih jujur, kalau masalah menarik atau nggak itu tergantung selera pasar kita karena jam segitu kenapa Redaksi Siang fokusnya ke perempuan, lagi-lagi masalah bisnis. Ya memang ini realitanya begitu. Karena memang share, penonton kita di jam segitu itu mayoritas perempuan. Itu faktor pertama. Tapi di luar itu isu perempuan memang menarik. Nah, karena banyak penonton perempuan di sinilah waktu atau kesempatan untuk mengedukasi perempuan. Bagaimana pun juga, perempuan itu sebenarnya apa ya… kalau dibilang pilar negara, iya. Karena memang dari dialah pendidikan anak itu, terutama di rumah itu lewat perempuan. Nah, kalau yang mendidik saja nggak cerdas, nggak gimana… ya bagaimana anaknya bisa bagus. Ya pertama tadi masalah dari semata-mata memang masalah bisnis, kenapa kita akhirnya fokus ke perempuan, jam 11.30 WIB itu memang jamnya perempuan menonton. Tapi justru di situlah kita punya kekuatan untuk mengedukasi perempuan.

T : Lalu, kalau akau boleh tahu Mba Dina di TRANS7 ini sudah berapa lama?

J : Kalau di TRANS7 aku sudah dari tahun 2006 sampai dengan sekarang, sebelumnya di Trans Tv dari tahun 2004.

T : Oh, begitu. Lalu di program Redaksi Siang sendiri sudah berapa lama, Mba?

J : Redaksi Siang kan aku mulai di tahun kemarin, baru setahun sih. Tapi sebelumnya dulu waktu pertama tahun 2006 aku baru gabung di TRANS7 itu di Redaksi Siang setahun.

T : Kira-kira Mba tahu nggak sejarah Redaksi Siang seperti apa? J : Maksudnya?

T : Sejarahnya program Redaksi Siang.

J : Pertama awal aku bergabung itu kebetulan ikut yang… apa ya, yang memang mendapat tugas untuk on air pertama Redaksi Siang. Nah itu kita masih mencari bentuk, bentuknya bagaimana, waktu itu pun kita belum terlalu fokus ke isu-isu perempuan.

T : Terus, aku sempat mendengar sebelum Redaksi Siang itu ada nama lain…

J : Ya Berita Siang itu. Itu pertama kali.

T : Tetapi segmentasinya bukan tentang perempuan?

J : Belum, belum ke sisi perempuan. Ya masih banyak berita-beritanya kalau sekarang kan sudah ada yang namanya laporan khas, kemudian mulai main artis, yang memang itu kesenangan perempuan ya, yang menarik perempuan. Kalau dulu sih nggak, kita main umum saja.

T : Itu tahun berapa?

J : Tahun 2006. Berita Siang itu tahun 2006, September kayaknya.

T : Kemudian, aku mau tahu dong, apa sih seperti ideologi yang dipegang oleh Redaksi Siang, misalnya pakem-pakem apa sih yang dipakai dalam pemberitaan Redaksi Siang, bagaimana kemasannya?

J : Pada prinsipnya, semua ideologi atau pakem itu sama ya, untuk news

jurnalistik sama. Kita usahakan untuk selalu berimbang, akurat itu sudah pasti. Masalah kemasannya, gaya bahasa, itu lah yang berbeda. Pemilihan narasumber, kenapa kita sekarang lebih banyak artis, tapi artis itu termasuk salah satu elemen penting dalam jurnalistik ya. Karena kan prominent, menarik perhatian orang. Prominent, itu salah satu. Maka dari itu mengapa kita ambil sampelnya/narasumbernya adalah artis, supaya orang itu ngeh, padahal kita nggak lagi ngomongin gossip loh.

Kita lebih ngomongin memang isunya, cuma kita ambil sampel dia begitu. Nah itu salah satu kemasan ya, sama bahasanya lebih luwes, nggak kaku lah. Maksudnya nggak benar-benar bahasa hard news. Kita bisa main dramatic story, inspirasi, nggak yang hard news memang. Tapi ini tetap merupakan informasi yang dibutuhkan perempuan. Tapi memang, dengan gaya bahasa yang lebih gampang diterima oleh perempuan.

T : Jadi tidak full hard news, begitu?

J : Memang nggak. Kita baru hard news itu waktu kemarin yang Sukhoi itu.

T : Kemudian proses seleksi isunya itu sendiri, bagaimana tuh Mba step-stepnya (langkah-langkah)?

J : Kalau seleksi isu itu biasanya kita selalu ada rapat mingguan

budgeting, semua crew sih Redaksi Siang harian dengan produser,

assprod. Nah biasanya kita gali dari teman-teman reporter, campers, dia punya ide apa, tapi kadang-kadang kalau misalkan mereka nggak

sempat, ya sudah kita yang riset sendiri, seperti apa, kita mau

ngomongin apa nih, ya sudah pas selesai rapat kita langsung assignment

(menugaskan) mereka.

T : Di Redaksi Siang itu ada nggak sih yang disebut sebagai pemegang isu? Seperti ada beberapa orang yang dijadikan key informan?

J : Nggak. Kita semua sama.

T : Lalu, untuk pemilihan narasumbernya itu berdasarkan apa?Misalkan kriteria-kriteria yang harus dimiliki oleh narasumber?

J : Narasumber yang pasti dia harus hmm… yang pasti dia harus narasumber utama, A1. Sebisa mungkin narasumber itu A1, entah itu pelakunya, korbannya, atau dia yang berhubungan langsung dengan isu itu. Kedua, karena Redaksi Siang, selain itu kita ada narasumber ahli seperti misalnya psikolog, orang-orang yang ahli, mungkin ahli penerbangan misalnya, yang memang berhubungan dengan isu penerbangan. Yang lainnya dia yang memang ahli. Nah tadi kan sudah narasumber utama, kemudian narasumber ahli, nah yang ketiga diantara semua narasumber itu, penampilannya harus good looking, itu sudah

pasti. Nah, itulah, sekali lagi, sebisa mungkin adalah artis, prominent, karena artis sudah pasti cantik lah ya. Namun walaupun artis, kita tetap pilih loh, tidak sembarang artis.

T : Jadi di setiap episodenya itu bisa jadi narasumbernya berbeda atau ada nggak narasumber tetap begitu, karena sering melakukan kerjasama misalnya dengan TRANS7?

J : Kalau narasumber, biasanya yang paling sering tetap ialah psikolog yang si Rosmini iu. Ya karena… sebenarnya sih kita ingin cari yang lain, cuma sejauh ini untuk psikolog anak yang paling bagus memang dia… yang memang kredibel, sesi wawancara dengan dia itu statement

(pernyataan-pernyataan) dia memang bagus. Memang dia senior ya, belum ada psikolog anak yang kita rasa lebih bagus dari dia. Satu lagi, dia cantik, good looking, lebih dikenal. Ya mungkin dia lebih dikenal karena sering nongol di TV ya, tetapi lebih karena penampilannya juga bagus, cara bertuturnya baik, jelas, isi yang dibicarakan juga kena semuanya, memang lengkap dia itu. Maka dari itu kita masih sering pakai dia, tapi kita masih mengincar yang lain.

T : Lalu proses editing, aku mau tanya misalnya angle-angle pemotongan gambarnya itu sejauh mana sih kebijakan produser dalam proses

editing?

J : Sebenarnya sih kalau gambar kita lebih mengacu kepada aturan yang dari KPI itu ya, kita acuannya dari situ sih. Kita acuannya dari situ, sudah ada semua. Jadi misalnya gambar-gambar yang bisa mengundang atau yang tidak mengenakkan penonton, sadis, itu sudah pasti kita cut

(potong).

T : Jadi pada saat proses editing itu produser memberi instruksi kepada editor 100% atau ada nggak saat-saat tertentu editor yang menyarankan? J : Biasanya editor itu sudah tahu. Mereka harus tahu panduan-panduan

baku harus tahu. Tapi biasanya kita di… sebelum kita cut to cut, saat kita sedang edit naskah kan kita preview gambarnya dahulu, ada yang

serem atau nggak nih, ada yang berdarah-darah atau bagaimana, nah biasanya di naskah dituliskan gambarnya yang aman. Kalau ada ini harus diblur, memang ada panduannya juga. Tapi, biasanya editor yang cerdas pun biasanya dia akan tahu gitu. Karena memang aturan SP3KPI

memang editor juga harus tahu, karena panduan gambarnya di situ. Tapi kita di ruang mixing, pada tahap akhir itu, untuk mix gambar dengan audio, ada assprod kan. Nah dia yang akan mengawal atau memantau itu. Misalnya, “Ada gambar yang seperti ini nih, dipotong ya…”.

T : Nah itu kan dari segi pemotongan gambar. Lalu, pada saat rapat

budgeting itu produser juga menentukan nggak angle pemberitaan untuk reporter?

J : Iya. Tapi kadang-kadang reporter juga suka bertanya misalnya, “Mba, kalau misalnya begini, bisa nggak?”. Kalau dia punya ide, boleh. Tapi kalau nggak sesuai ya kita bilang, “Nggak, kita mau anglenya begini saja…”.

T : Oh, begitu. Ada pula nggak si reporter ini dibebaskan menulis berita kemudian baru diedit oleh produser atau dari awal memang sudah… J : Kalau kerangka beritanya sudah dari awal ditentukan. Karena kalau

dari awal tidak ditentukan pasti ngaco deh. Karena kita mau ngomongin

tentang angle A, tiba-tiba dia menulis angle B. Nanti nggak seirama dengan semua rundown, dong. Misalnya ngomongin kekerasan dalam rumah tangga nih, banyak factor kan yang dia bahas. Kekerasan dalam rumah tangga apanya nih, misalnya kita lebih ke angle masalah ekonominya nih. Jadi kita mengangkat masalah ekonomi sebagai salah satu pemicu kekerasan dalam rumah tangga. Bukan masalah orang ketiga loh, beda lagi kan. Kalau tiba-tiba reporternya menulis tentang orang ketiga kan nggak lucu, nanti semua narasumbernya salah, ininya salah. Ya, memang dari awal sudah ditentukan.

T : Jadi pengeditan naskah dan kaset setelah diberikan oleh reporter itu? J : Itu lebih ke editorial ya. Lebih kepada kelengkapan data, lalu

kelengkapan gaya bahasa, kalimat, tapi kalau angle harus dari awal. Karena itu sudah ruining ya.