DAFTAR PUSTAKA
TRANSKIP WAWANCARA
8. Donny Sandjaya
T : Siang mas Donny, langsung aja ya, aku mau tanya… menurut mas Donny perempuan itu seperti apa?
J : Apa ya, perempuan itu makhluk ciptaan Tuhan yang paling indah. Bukan gitu tapi ya maksudnya? Tapi…kompleks, udah gitu kalau dikaitin sama pemberitaan yang gue liat sehari-hari nih, perempuan itu banyak banget masalahnya. Mulai dari urusannya sendiri, baik dari masalah style, itu bisa mulai dari ujung rambut sampe ujung kaki itu bisa jadi ribet. Belum dari urusan psikologisnya, katanya kalau kata psikolog tuh, apalagi kalau setiap PMS, setiap ada masalah dikit, perempuan kan moodnya sering banget berubah, itu juga repot, jadi masalah. Itu urusan sama dia sendiri ya, terus kelihatan gendut sedikit, panik, itu untuk perempuan tuh. Terus kalau urusan sama orang lain juga nggak
kompleks banget, segala sesuatunya itu kompleks berurusan sama dirinya sendiri, berurusan sama orang lain pun, kebanyakan orang yang harus… si laki-laki ini baik anak-anak maupun dewasa ini harus lebih
ngikutin perempuan.
T : Terus kalau menurut mas Donny, posisi perempuan di masyarakatnya itu sendiri harus seperti gimana, kedudukan dia dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat?
J : Nggak bisa dibohongin sih kalau sekarang, di Indonesia itu masih jadi nomor dua ya kalau dibandingin laki-laki, mau ngeliat ke adat ke-timur-an, masih menganggap dibawah laki-laki, di kerjaan sama di posisi di kerjaan sama di rumah itu ngga bisa mengambil keputusan. Lebih ke nomor dua walaupun sekarang banyak juga sih, walaupun banyak produser-produser cewek, tetep aja ngga bisa dibohongin deh pandangan masyarakat, pandangan gue sih sebenernya, karena yang gue tangkep
sekarang perempuan itu masih tetep di bawah laki-laki. Dan entah setuju atau nggak, perempuan itu dan biasanya pun masih, karena perempuannya sendiri masih menganggap mereka warga kelas nomor dua. Ya misalkan bawa atau angkat berat, “ah..ngga bisa dong, gue kan
perempuan, masa bawa yang berat-berat.” Itu sama aja si perempuan sendiri yang membuat mereka jadi warga kelas nomor dua juga gitu. Ya pada saat ini sih kedudukan masih tetep di bawah laki-laki, kalau ngeliat
secara kedudukan ya. Tapi kalau dilihat dari personal orangnya pun, personal orangnya, sudah ada tuh yang misalnya yang menjadi pimpinan perusahaan lah, jadi kepala divisi lah, sudah ada. Cuma kalau secara keseluruhan sebagian besar sih masih di bawah laki-laki, masih warga kelas nomor dua lah, seringkali dibilang kayak gitu.
T : Nah, aku bertanya tentang perempuan kan karena penelitian aku berkaitan dengan Redaksi Siang. Maaf nih sebelumnya, aku mau bertanya mas Donny sudah berapa lama bekerja di TRANS7?
J : Kalau di TRANS7 sudah dari Maret 2009. T : Di Redaksi Siang itu sendiri?
J : Di Redaksi Siangnya sendiri dari Februari 2010. Dua tahun lebih. T ; Tapi mas Donny tahu nggak mengenai seluk-beluknya Redaksi Siang,
J : Kalau dari awal banget nggak terlalu tahu ya, cuman dari awal masuk udah dari awal Maret 2009 tuh. Konsep Redaksi Siang tuh awalnya masih hard news, kalau ngga salah itu sampai akhir 2009 atau awal 2010 itu sudah mulai bergerak ke perempuan, karena kan mengikuti AC Nielsen, share kita, rating kita bisa ketahuan tuh profit penontonnya siapa, makin lama makin ketahuan makin kuat kalau Redaksi Siang itu ditonton oleh perempuan. Nah profit penontonnya di situ, jadi mau
nggak mau, agar kita makin banyak ditonton karena ini bisnis, format berita itu mulai berubah. Jadi sejak gue masuk sejak Februari 2010 itu yang gue tau udah mulai berubah jadi sangat perempuan lah, mulai dari ngeliput bencana, mulai dari ngeliput kejadian sehari-hari, mulai dari ngeliput liburan, itu angle nya lebih angle perempuan. Kayak misalkan bencana, dulu bencana waktu itu Februari 2010, bencana longsor di Ciwidey buat Redaksi Siang kebetulan gue dikirim ke Ciwidey, Bandung, itu ngga mengambil angle korban yang meninggal sekian, penanganan sudah sampai sini, TNI sudah bisa masuk ke lokasi bencana, nggak kayak gitu. Tapi, lebih ke ngambil suasana rumah duka korban, ketika keluarga nangis, ketika keluarganya ditemuin, empat orang anaknya, lebih ke sisi humanis. Sisi-sisi yang sangat menyentuh perasaan, itu yang sangat perempuan banget. Dari mulai Februari itu sudah mulai, pas yang gue masuk ini sudah mulai sangat perempuan. T : Tema dan packagingnya juga?
J : Sama. Temanya beda. Kayak misalnya merapi itu kejadian Oktober 2010 ya? Oktober 2010 kalau nggak salah. Merapi itu gue nggak ngambil tuh yang namanya ada lahar dingin lagi, ada ini lagi, tapi lebih ke pengungsian. Nasib ibu-ibu di pengungsian, kurangnya makanan di pengungsian, sarana anak di pengungsian, terus kisah-kisah yang agak mistis, itu perempuan suka. Nah terus kisah apa namanya, cerita mitos-mitos jawa itu mungkin di Redaksi Siang menilainya masih sangat perempuan gitu. Kita nggak main korban yang meninggal berapa, yang kena wedus gembel berapa, kita nggak main Cuma lebih ke angle-angle
perempuannya, ke sisi humanisnya, ketika mayat ditemuin, keluarganya
nangis-nangis nih, lalu gimana sih si korban di mata orangtuanya, itu yang kita mainin, bangkitin perasaan. Kalau dari naskah, ada istilahnya Mba Lolo Siregar itu mengayun. Jadi, nggak bisa tuh ada lima orang ditemukan tewas terpanggang misal, itu kan straight banget nih. Kalau
Redaksi Siang nggak, maksud hati mengunjungi orangtuanya di lereng Merapi, si A, misalkan, justru bernasib sial karena tidak bisa melarikan diri dari wedus gembel, misalkan. Lebih ke drama, mengayun, lebih ke
mainin kata-katanya, mirip kayak lagu lama disini, mirip Silet lah. Dari naskahnya itu panjang, nggak straight, dan mengayun itu, kita mainin
tensinya beda.
T : Kemudian ada nggak sih aturan-aturan tertentu nggak, seperti program Redaksi lain, kan bisa saja tema beritanya sama, tapi penulisannya kan
beda. Lalu aturan-aturan atau pakem yang dimiliki berbeda juga nggak sih untuk penulisan naskahnya?
J : Biasanya produser ngajarin, makin ke sini kita sendiri sih, apa namanya kayak misalkan apa ya yang paling signifikan ya… gini deh, ini yang kemarin kecelakaan Sukhoi misalnya. Kalau hard news
mungkin main siapa namanya yang meninggal? Yang anak Trans itu? Nah, Ismi. Hard news kan main peristiwa Ismi naik pesawat kemudian jatuh, meninggal, gitu ya. Kalau Redaksi Siang dari awal pasti tidak akan main kayak gitu. Pasti dari bikin naskahnya, mulainya dari cerita keluarganya. Putri tunggal, semata wayang, pasangan A dan B ini mulai bekerja ke Jakarta sejak enam bulan lalu, gitu kan. Setelah lulus kuliah, Ismi langsung mengejar cita-citanya menjadi seorang reporter, itu hard news nggak perlu ngomongin itu cita-cita si Ismi, nggak perlu
ngomongin itu. Tapi ketika Redaksi Siang, perlu. Ketika hard news ngomongin dia telah bergabung dengan Trans Tv sejak enam bulan lalu, langsung bergabung ke Reportase, anaknya begini…begini… itu mungkin apa namanya, Redaksi Sore yang lebih hard news ya. Kalau kita Redaksi Siang lebih main yang kayak gitu, bisa pakai kata ganti seringkali misalkan gadis manis 20 tahun ini apa namanya, sangat mencintai pekerjaannya dengan tidak cepat puas atau apa itu padahal sebenarnya nggak diperluin datanya itu data sekunder gitu istilahnya. Tapi ketika itu di Redaksi Siang jadi perlu.
T : Berkaitan nggak sih, jadinya kan karena mengambil anglenya berbeda, maka penentuan narasumbernya juga akan berbeda dong?
J : Beda.
T : Jadi penentuan ini merupakan inisiatif reporter atau sudah ada ketentuan-ketentuan?
J : Dari awal kita diajarin dulu sih. Ketika masuk Redaksi Siang, mainnya sidebar istilahnya, sisi samping. Kita nggak main hard news. Jadi ketika kemarin Merapi, kecelakaan Sukhoi, hard news pasti mainnya DVI, Basarnas, kepala Tagana, gitu kan. Kita nggak, kita nggak main di situ.
Nyari Tagana yang cewek misalkan, mainnya itu satu. Terus kayak
misalkan cari narsumnya ibu-ibu yang nggak dapet makanan di pengungsian, terus nyari narsum satuan korban Sukhoi yang cewek, yang nangis gitu. Itu Redaksi Siang kayak gitu, itu juga pas kemarin live, kebetulan gue terakhir-terakhir pemberian jenazah itu gue ada di situ sebelumnya ada di Medan pas ke situ, itu untungnya di titik live pun
udah dibagi. Don, masuk ngambil angle Redaksi Siang, yang lain, yang tim Redaksi cari tentang Tagana, Basarnas, DVI, Kepala KNKT gitu, kalau gue ngambilnya keluarga korban. Dulu itu awalnya sih diajarin, tapi mulai ke sini udah tau tuh kita harus ngambil sidebar. Ya kebakaran kita nggak ngomongin tuh kebakaran di Tambora misalnya di perumahan padat, kebakaran sekian rumah terbakar gini…gini.. kita
nggak main seperti itu. Itu cukup dari Redaksi Sore aja, Redaksi harian
aja. Kalau kita lebih ke gara-gara rumahnya kebakar, Ibu Ani, misal, harus mengasuh anaknya di kolong jembatan, suaminya udah dua tahun
nggak pulang, dia dagang sayur gerobaknya kebakar juga, dia nggak tau
harus kemana, pulang kampung nggak bisa, nggak punya uang, kayak gitu, lebih ke sisi-sisi humanis lah.
T ; Dari pengambilan sidebarnya itu sendiri, misalnya dari satu kejadian dan kemudian dibuat indepth reportnya, akan ada banyak cabang nih
misalnya kayak kecelakaan tadi, itu untuk pemberitaannya, reporter yang menentukan angle atau sudah merupakan assignment?
J : Dari produser. Tapi beberapa kali sih, beberapa kejadian kayak di Merapi, kemudian demo DPR menentang kenaikan harga BBM kemarin, itu produser nggak ngasih clue. Lu bikin sidebar, terserah. Itu
sempet beberapa kali. Terus beberapa kejadian kayak Sea Games kemarin, Don lu cari sidebar ya, ketika hard news ngomongin Indonesia
dapet emas sekian hari ini, kita nggak. Gue ngambilnya maskotnya, Modo-Modi. Kita ngambil sidebar, kadang-kadang dikasih tau, kadang-kadang kita perlu campur-campur sih.
T : Itu kan dari pengambilan anglenya, untuk penulisan naskahnya nih. Nah itu penulisan naskahnya ditentuin nggak harus wawancara si ini..ini…?
J : Nggak sih, nggak ditentuin. Kalau buat naskah ya, naskah nggak perlu diatur, awal-awal tapi diajarin. Pernah sih gue diomelin juga. Don, elu masukin soundbyte semuanya, mau jualan soundbyte? Karena diajarin, dulu. Terus ketika sebelumnya soundbyte nya gue misalkan ptc, terus ada soundbyte satu narsum tuh, balik lagi ke gue, narsum A terus narsum B, terus gue, itu beberapa produser menilai itu agak rumit,
nggak enak. Ada produser yang suka udah abisin dulu nih satu narsum,
abis itu ptc gue, masuk ke narsum lain, dua soundbyte, nah bisa ada yang kayak gitu, macem-macem tapi biasanya nggak ditentuin sih soundbyte apa yang mau kita masukkin nggak ditentuin juga, terserah kita mana soundbyte yang bagus apa nggak itu tergantung kita aja. T : Tapi nanti diberi tahu nggak sih, setelah kan kalian liputan, kemudian
hasil liputan itu akan di preview, lalu kalian sering nggak sih merasa kok ini beda, misalnya dieditnya sampai bener-bener dirombak total?
J : Ya, pernah, sampai beberapa kali, sering juga sih dirombak juga. Ketika…tapi itu mau nggak mau kita juga nanya, mba kenapa itu
dirubah, ya harus nanya sih. Tergantung si reporternya juga ya mau nanya apa nggak. Itu juga kalau gue seringkali nanya, wah kok ini copot
soundbyte nya? Yang ini nggak ada, terus paragraf ini nggak ada, ya kadang-kadang kan kalau di TV beda produser beda juga pemikirannya. Satu produser belum tentu sama dengan produser lain, jadi ada kalanya ketika naskah kita abis, dirombak total ada pernah, ya sakit hati juga. T : Lalu seringkali perombakan itu dikarenakan apa sih yang nggak
sesuai?
J : Kadang-kadang pilihan soundbyte, terus kadang-kadang alur cerita, terus kadang-kadang alur ada yang nggak dihapus tapi dipindahin, misalnya kita naro di belakang jadi di depan. Suka-suka produser aja
sih. Pernah nggak dirombak juga pernah gitu. T : Bagaimana dengan pemilihan kata?
J : Oh, ada beberapa kali gue salah mulu nih. Dulu sebelum ngerti, penggunaan kata ‘meski’. Meski itu kan bukan EYD, terus produser
ngoreksi. Jadi kedepannya jangan pakai kata meski lagi, pakainya walau
aja karena meski itu nggak EYD. Semakin kesini ya gue pakai walau terus. Terus kurangin kata pasif, di- , dimakan misalkan, kalau bisa ya memakai kata aktif. Ya makin hari ngerti juga.
Tayangan Redaksi Siang Episode 5 Oktober 2011
Segmen A4