• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

TRANSKIP WAWANCARA

1. Fanny Ratna Fury

T : Langsung aja ya Mba Fanny ya… Mba, aku mau tanya dong, menurut mba definisi perempuan itu seperti apa?

J : Apa ya… definisi perempuan itu, perempuan itu sih maknanya banyak ya. Kalau generalnya perempuan itu ya bisa jadi ibu, terus apa ya… ibu yang melahirkan anak-anaknya… Hahaha… kok gue jadi ngaco.

T : Kalau perempuan di kondisi masyarakat bagaimana Mba, misalnya persetaraan gender atau dari segi emansipasi menurut Mba seperti apa? J : Oh, kalau persetaraan gender sih, perempuan sama laki-laki sekarang

sudah nggak hmmm… perbedaannya sih sudah tipis ya, Cuma mungkin fungsi di apa….Di masyarakatnya aja, di kehidupan sosialnya aja, sama tanggungjawab-tanggungjawabnya aja beda. Cuma kalau masalahnya

kayak pekerjaan, kayaknya sekarang semua pekerjaan cowok sudah bisa dilakukan sama perempuan sih jaman sekarang.

T : Terus Mba selama di TRANS7 sudah bekerja berapa lama? J : Sudah lima tahun.

T : Di Redaksi Siang itu sendiri, sudah berapa tahun? J : Di Redaksi Siangnya yaa… dari awal masuk.

T : Kira-kira Mba Fanny tahu nggak, sejarah Redaksi Siang?

J : Sejarah Redaksi Siang? Kalau sejarahnya sih nggak tahu ya, cuma kalau selama saya kerja di sini sudah ya… berkali-kali ganti format, ganti durasi juga, eh… durasi sih nggak, jam tayang mungkin ya.

T : Memang tadinya jam tayangnya jam berapa tuh? Sebelum jam 11.30 WIB?

J : Eh, nggak deh. Eh, bener deh. Oh Cuma dulu itu sebelum Redaksi ada TKP.

J : Iya. Tapi sekarang tinggal Redaksi saja, TKPnya sudah nggak ada, isinya kriminal-kriminal begitu soalnya.

T : Tapi itu dijadikan satu program begitu maksudnya?

J : Beda, beda program. Cuma, ya berdampingan lah begitu. Kita juga

mengeditnya itu bareng. TKP sama Redaksi itu bareng waktu

mengeditnya.

T : Terus aku mau nanya kebijakan tentang editingnih, Mba. Apa saja sih

hal-hal yang dijadikan pakem atau aturan, seperti misalnya dalam proses editing seperti apa saja itu, Mba?

J : Banyak sih. Tapi buat dasarnya sih ya paling dari KPI ya. Selain itu, kebijakan perusahaan pastinya.

T :Seperti apa tuh, Mba?

J : Seperti… tapi pada dasarnya sih kebijakan perusahaan itu kan cuma mungkin secara teknisnya saja, cuma kalau misalkan pakem-pakemnya itu, ya… yang pantes atau nggaknya buat tayang ya dari KPI (Komisi Penyiaran Indonesia). Ya, misalkan mayat. Yang nggak boleh tayang itu kan mayat, korban asusila, terus darah, kayak gitu-gitu.

T : Aku mau nanya, hmm… sejauh ini editor punya kebijakan atau kewenangan seberapa jauh sih dalam memotong gambar yang misalnya seperti Mba sebutkan tadi kan, ada gambar-gambar yang nggak aman begitu misalnya, editor itu berhak nggak untuk langsung meng-cut

(memotong) nih, gambar ini nggak pantes tayang begitu, kemudian diberitahu kepada produser , atau semua pemotongan gambar itu full

instruksi dari produser dulu? J : Semuanya dari produser.

T : Oh begitu? Misalnya di kondisi-kondisi tertentu editor tidak pernah (memutuskan suatu kebijakan) ?

J : Nggak. Misalkan gambar ini nggak aman, tapi produsernya minta dimasukkan, ya sudah.

T : Oh, begitu. Pernah nggak ada kondisi di mana editor harus bergerak cepat, di mana dia harus punya keputusan, misalnya ini harus tayang atau harus dipotong misalnya begitu?

J : Jarang sih biasanya. Ya, paling itu saja, gambar-gambar yang kira-kira mungkin produsernya nggak ada, tapi kira-kira kayaknya nggak aman begitu, ya sudah kita blur saja.

2. Kamaluddin Azhar

T : Menurut Mas, perempuan itu seperti apa?

J : Menurut gue, perempuan itu orang yang harus dihormati, karena menurut gue ya perempuan itu sama kayak ibu kita lah.

T : Kalau misalnya perempuan dalam masyarakat, bagaimana?

J : Perempuan dalam masyarakat , ya… bagaimana ya… kalau menurut

gue sih masalah kedudukan ya nggak ada bedanya. Cuma ya, harusnya

dia (wanita) itu juga harus nyadar kalau dia itu wanita. Cuma secara keseluruhan sih nggak ada bedanya.

T : Mas Azhar kan pernah menjadi editor Redaksi Siang. Di Redaksi Siang sendiri sudah berapa lama?

J : Hampir dua tahun setengah –an lah. Ya, sudah hampir tiga tahun. T : Tapi di TRANS7 nya sendiri Mas Azhar sudah bekerja berapa lama? J : Tiga tahun. Ya, Juni ini tiga tahun.

T : Mas tahu nggak tentang sejarah Redaksi Siang?

J : Kalau sejarah Redaksi siang sih nggak tahu ya. Kan gue baru masuk tahun 2009, tahun 2009 itu sudah ada Redaksi Siang.

T : Trus, aku mau Tanya tentang editing nih. Kurang lebih kebijakan editor Redaksi Siang itu sama nggak sih seperti program lain?

J : Kebijakannya? Ya, beda lah pastinya. Karena kan setiap program itu ada aturan-aturannya sendiri, kan.

T : Bedanya di mana tuh?

J : Kalau masalah Redaksi Siang, dari kontennya sih biasanya. Kontennya dia (Redaksi Siang) kebanyakan ibu-ibu, wanita-wanita, kebanyakan di Redaksi Siang. Lagipula, kontennya dia itu konten masak-masak, konten-konten rekreasi, jalan-jalan. Beda dengan Redaksi Sore kan

kontennya hard news gitu. Redaksi Sore itu kayak kecelakaan, politik, begitu.

T : Kalau proses pemotongan gambarnya nih, aku mau tanya, editor ini punya wewenang nggak sih, misalnya dia yang dari awal kaset VO sudah diberikan, naskah, dan kaset master yang diberikan reporter itu, editor memiliki kewenangan seberapa besar sih untuk di luar instruksi dari produser? Ada nggak sih kebijakan-kebijakan si editor itu sendiri? J : Kalau menurut gue, masalah motong-memotong gambar, selain ada

instruksi dari produser, atau assprod, terkadang editor juga punya hak untuk memotong, karena yang tahu gambar itu editor. Misalnya produser memberi timecode A sampai B, dan dari timecode segitu ada yang goyang gambarnya, ya otomatis editor bisa memotong, dan memang tugas editor.

T : Itu editor melakukan pemotongan gambar dulu trus misalnya menyarankan ke produser atau sebelum diapa-apakan minta konfirmasi dulu ke produser?

J : Biasanya minta konfirmasi dulu. Tapi kalau memang sudah tapi tetap gambarnya goyang banget, ya mau nggak mau, kalau gambarnya dibutuhkan dari timecode A sampai B, ya kalu goyang banget dipotong sendiri. Kalau misalnya nggak yakin, biasanya minta konfirmasi kepada produser atau assprod.

T : Ada nggak sih kondisi-kondisi tertentu misalnya di mana editor itu punya keputusan atau hak untuk membuat keputusan?

J : Ya, ada sih sebenarnya. Cuma kalau di sini itu nggak… ya… otomatis kembali ke produser atau assprod lagi. Walaupun kita… itu teknis sih ya, jadi kita ngakal-ngakalin aja. Kalau misalnya di editing itu kita masukkan gambar ini, ngeblur nih, ngeblur gambarnya, otomatis kalau editor yang di cut to cut nggak akan masukkan gitu. Walaupun dimasukkan, paling cuma sepintas doang. Karena memudahkan cut to cut atau memudahkan yang mixinggitu loh. Jadi yang misalnya disuruh produser minta tolong gambar ini, itupun nggak semua gambar yang masuk itu di roll, jadi kita masih punya hak untuk memotong dengan berbagai alasan. Alasan yang wajar atau rasional kan.

T : Nah, kemudian di istilah jurnalistik juga ada kan tayangan yang aman dan tayangan tidak aman. Aku mau nanya nih, misalnya ada berita tertentu yang harus dibluring begitu misalnya, atau harus dihitam-putihkan. Nah, kita juga kan kenal kode etik jurnalistik, editor itu cukup berpegang pada kode etik jurnalistik atau kegiatan bluring/hitam-putih ini atas instruksi dari produser?

J : Ya sebenarnya sih kita sudah, editor sudah paham itu semua. Kalau misalnya darah, dihitam-putihkan, kalau mayat harus diblur gitu. Tapi

kan tergantung juga kalau misalnya kayak kriminal nih, kriminal kan

susah. Terkadang kita tahu nih aturannya tersangka kelihatan mukanya, harus diblur. Oke, diblur. Tapi terkadang produser atau assprod bilang, “Udah, nggak usah diblur, biarkan saja…”, nah, dari situ. Kalau masalah

kayak mayat atau darah sudah paham, tinggal masalah orang tawuran, anak-anak tawuran , seperti itu.

3. Yudha Kurniawan

T : Mas Yudha, menurut Mas Yudha, perempuan itu seperti apa sih? J : Kalau menurut gue secara pribadi, perempuan itu kan makhluk ciptaan

Tuhan yang memilki karakteristik, lebih mengacu pada sisi kejiwaannya. Maksudnya, dalam artian mereka lebih mengandalkan dalam bertindak itu perasaannya dibandingkan logikanya. Kalau cowok kan lebih ke logika, sedangkan perempuan kan sebaliknya. Terus itu perasaannya sensitif, bisa dibilang juga mereka itu lebih… apa ya,hmm… mungkin sifat-sifat penyayang, terus ngemong atau keibuannya lebih dominan dibandingkan pihak cowok. Menurut gue sih kayak begitu.

T : Kemudian, kalau di tatanan masyarakat, perempuan seperti apa?

J : Menurut gue kedudukan perempuan di lingkungan sosial kita saat ini, dengan adanya emansipasi, setara sih. Karena kita nggak bedakan perempuan, “Ah, karena dia perempuan, dia nggak boleh melakukan hal yang dilakukan pria begitu,”.

T : Lalu, menurut Mas Yudha, kenapa sih perempuan menarik dijadikan salah satu pemberitaan?

J : Nah itu dia, seperti yang dibilang tadi, perempuan memiliki nilai lebih dibandingkan pria. Dan, wanita itu mungkin bila di explore lebih jauh mungkin banyak nilai-nilainya yang di pria itu nggak ada.

T : Berarti itu kan alasan kenapa perempuan punya nilai lebih, makanya

ada Redaksi Siang. Lalu Mas Yudha tahu tidak bagaimana sejarah Redaksi Siang?

J : Kalau secara pribadi, nggak tahu persis. Sedikit bocoran saja, kenapa Redaksi itu menitikberatkan berita yang lebih mengarah atau mementingkan wanita, karena kalau dilihat dari jam-jam tayangnya itu

kan jam 11.30 WIB. Nah di jam-jam itu biasanya di stasiun TV lain itu mungkin lebih banyak acara gossip juga. Kalau nggak, lebih ke sinetron yang sifatnya lebih soft, yang lebih female seperti FTV, terus mungkin feature-feature di TV lain juga kayak begitu walaupun nggak ngarahin

ke wanita sih.

T : Lalu Mas tahu sedikit banyaknya nggak tentang pemberitaan perempuan itu, cara pemilihan narasumber berdasarkan apa?

J : Yang jelas sih pemilihan narasumber secara validnya kita nggak terlalu mengerti, karena pemilihan narasumber itu lebih didukung dari hasil riset, dan riset itu biasanya bisa dilakukan produser atau assprod, terus bisa juga reporter. Untuk mengetahui secara keseluruhan dari hasil liputan itu, kita harus ibaratnya kita ingin menghasilkan liputan yang bagus, kompeten, nggak mungkin sembarangan orang kita wawancarai

dong. Intinya mungkin lebih ke situ sih.

T : Ada hubungannya nggak antara kedekatan emosional si narasumber, misalnya sering kerjasama dengan TRANS7, makanya dia dijadikan narasumber tetap atau bagaimana?

J : Mungkin bisa, bisa iya. Karena kalau kita lihat sih, contoh kalau di Redaksi Siang psikolognya itu kalau nggak salah orangnya itu biasanya dari sekian psikolog itu pasti dipilih sekitar satu, dua atau tiga. Seperti Zona Amiri, kalau nggak salah ya, gue lupa sih nama-nama psikolognya. Lita Gading, pasti sering si psikolog itu kita wawancarai. Dan kenapa sering kita wawancarai, mungkin karena dalam hal contact personnya

tertarik dengan materi yang akan kita liput dan kebetulan dia menguasai materi itu.

T : Lalu pada proses editingnya sendiri, production assistant ini punya pengetahuan atau kewenangan sebesar apa sih?

J : Intinya sih proses editing itu kan jatuhnya ke proses produksi, di situ tugas-tugas kita sih Cuma… apa ya, kalau secara garis besar sih memperlancar proses editing. Jadi kita di situ punya tugas bila editor mengalami kesulitan pemilihan gambar, jadi kita membantu editor. Gambar yang dipilih seperti ini, sesuai aturan dari KPI. Ya pokoknya berdasarkan ketentuan produsernya juga sih. Misalkan gambar ini boleh diambil ya, contohnya misalkan anak kecil yang terjepit di eskalator, itu gambar anak kecilnya boleh diambil karena kan ada sisi humanisnya, asal mencari gambar aman, atau gambar si anaknya itu diblur.

T : Nah, gambar aman di sini apa sih maksudnya?

J : Gambar aman itu begini, kita tahu kan setiap kali materi berita itu kan

ada gambar-gambar yang harus kita nggak ambil, yang harus kita ambil atau harus kita ambil tapi dengan syarat-syarat tertentu kan. Terus, ada juga gambar yang harus kita ambil dan memang gambar itu gambar yang menarik dari sisi editing juga, dari sisi angle juga, dari sisi emosional juga bisa.

T : Berarti production assistant punya kewenangan juga ya walaupun sedikit dalam proses editing?

J : Ya, tapi kita tetap kembali lagi ke situ sih. Poin kita tuh kalau kita… jadi kita itu penyambung lidah antara produser, assprod dan editor. Intinya begitu. Kita juga nggak punya kewenangan 100%, tapi kita diberi wewenang oleh produser untuk membantu proses editing.