METODOLOGI PENELITIAN
4.2 Analisis Data
Sumber: Website (situs) resmi TRANS763
4.2 Analisis Data
Analisis merupakan tindakan pengolahan data sehingga menjadi informasi yang bermanfaat untuk menjawab suatu masalah riset. Pada tahap ini, penulis akan mengolah data yang sudah diinput pada tahap sebelumnya menjadi hasil keluaran atau output.64 Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan wawancara, observasi, dan telaah dokumen. Data yang dihimpun merupakan data primer dan data sekunder. Data primer dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dokumen, dalam hal ini dokumen yang dimaksud ialah tayangan pemberitaan Redaksi Siang periode Oktober 2011 hingga Januari 2012. Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh melalui wawancara atau observasi.65
Analisis data dalam penelitian kualitatif, dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Pada tahap ini penulis akan menganalisis tayangan pemberitaan Redaksi Siang terlebih dahulu, dengan menggunakan teknik framing Robert N. Entman. Selain itu, penulis juga melakukan analisis jawaban dari wawancara dengan informan-informan serta melakukan analisis berdasarkan hasil observasi penulis. Miles dan Huberman mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan
63
http://www.trans7.co.id/frontend/home/view yang diakses pada 9 November 2011 64
Istijanto, Aplikasi Praktis Riset Pemasaran, Jakarta: Gramedia, 2005, hal. 143. 65
Rachmat Kriyantono. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta : Kencana Prenada. 2008. Hal. 42
secara interaktif dan berlangsung seara terus-menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data yaitu yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan atau verifikasi.66
66
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta, 2008, hal. 246
Periode Pengumpulan
Reduksi data
Antisipasi Selama Setelah
Penyajian data
Selama Setelah
Kesimpulan/verifikasi
Selama Setelah
Gambar 4.3.1. Komponen dalam Analisis Data (flow model)67
4.2.1. Berita 1
Judul : Tergiur Materi, 5 ABG Nyaris Jadi PSK
Episode : 20 Oktober 2011
Segmen : A3
Tabel 4.2.1.1. Potongan Tayangan Berita 1
Visual Audio
“…yang membuat sebagian orang tidak memiliki kemampuan untuk membeli barang-barang mutakhir
dengan brand ternama menghalalkan
segala cara untuk mendapatkannya, tidak peduli walau harus terjerumus menjadi perempuan pemuas nafsu hidung belang.”
“W adalah salah satunya. Ia rela menjajakan tubuhnya pada lelaki hidung belang demi mendapatkan apa yang ia inginkan.”
“Mau beli Blackberry, mau pasang
67 Ibid.
behel, udah itu mau dibeliin baju, sama buat bayar kosan juga.”
“Pas tahunya kan hari selasa, selasa kan di sms sama teman aku, nah sms
gini ke aku; kamu mau ikut gak, mau
ngerubah hidup. Yaudah kita ke kosannya W. Pas di kosannya W, kita berunding, kalo misalnya gak betah kita kabur.”
“Kasus penjualan gadis remaja untuk dipekerjakan sebagai pemuas nafsu pria hidung belang ibarat fenomena gunung es. Harusnya pemerintah punya mekanisme dan sistem yang lebih ketat, melindungi anak-anak dibawah umur menjadi korban para mucikari pencari untung.”
Tabel 4.2.1.2. Framing Redaksi Siang terhadap Berita 1
Pendefinisian Masalah Permasalahan degradasi moral.
Interpretasi Sebab-Akibat Kemiskinan, gaya hidup.
Evaluasi Moral 5 perempuan hampir menjadi PSK untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup.
Rekomendasi Solusi Pemerintah harus ketat mengawasi dan melindungi anak-anak di bawah umur.
Dalam tayangan berita pertama ini penulis menganalisis menggunakan teknik framing Robert N. Entman, yang penulis buat secara indikator seperti yang ditulis dalam tabel 4.2.1.2. Entman menekankan bahwa pendefinisian masalah merupakan bingkai yang paling utama, yaitu bagaimana peristiwa dipahami oleh wartawan. Dalam kasus ini, pembingkaian tayangan pemberitaan Redaksi Siang
TRANS7 dilakukan oleh produser. Peristiwa yang terdapat pada berita tersebut dianggap sebagai suatu degradasi moral, dengan upaya ABG memperoleh uang dengan cara instan.
Kemudian tahap yang berikutnya ialah tahap memperkirakan penyebab masalah. Penulis menganalisis bahwa Redaksi Siang TRANS7 membuat peristiwa kebutuhan gaya hidup, yang jetset tentunya, sebagai suatu penyebab masalah. Lalu pada tahap membuat pilihan moral, penulis melihat ada argumentasi penguat yang membenarkan pendefinisian masalah pada tayangan 4.2.1. Argumentasi itu ialah benar bahwa untuk memenuhi kebutuhan hidup, para ABG mau dijadikan PSK, yang dibuktikan dari hasil audio salah satu narasumber berita yang menyatakan ia menjadi PSK karena ingin membeli ponsel terkini, baju, memasang kawat gigi, serta membayar biaya kosan. Tahap yang terakhir ialah penekanan penyelesaian atau solusi. Solusi yang dimunculkan dalam pemberitaan di atas ialah peran pemerintah dalam mengawasi dan melindungi perempuan terutama anak-anak di bawah umur.
4.2.2. Berita 2
Judul : Konsumerisme, Menyesatkan Kaum Remaja?
Episode : 20 Oktober 2011
Segmen : A4
Tabel 4.2.2.1. Potongan Tayangan Berita 2
Visual Audio
“Tak bisa dipungkiri, budaya
konsumerisme membuat para remaja menjadi gelap mata. Kemiskinan membuat gadis-gadis belia bahkan nekat menjadi pekerja seks komersial demi mendapatkan uang instan dan dapat bergaya hidup mewah.”
“Seorang remaja berusia tujuh belas tahun justru menjadi sang mucikari. Ia menjual dua temannya sendiri untuk menjadi pekerja seks komersil dengan keuntungan satu juta rupiah.”
“Jadi orangtua harus tegas, kalau ini nilai keluarga, kamu harus ikuti nilai ini…”
“Pergaulan memang juga menjadi salah satu pemicu seseorang nekat terjerumus dalam perdagangan manusia sebagai pekerja seks komersil.”
“Pendidikan agama memang harus ditanamkan sejak dini. Kedekatan orangtua dan keharmonisan keluarga juga akan menjaga pergaulan sang anak agar tetap pada batas dan norma yang berlaku.”
Tabel 4.2.2.2. Framing Redaksi Siang terhadap Berita 2
Pendefinisian Masalah Perempuan cenderung mengambil jalan pintas untuk pemenuhan kebutuhan gaya
hidup.
Interpretasi Sebab-Akibat Perempuan sebagai pelaku yang konsumtif.
Evaluasi Moral Remaja menjadi PSK, bahkan mucikari.
Rekomendasi Solusi Orangtua harus berperan aktif mengawasi pergaulan dan memberikan pendidikan agama.
Dalam tayangan berita pertama ini penulis menganalisis menggunakan teknik framing Robert N. Entman, yang penulis buat secara indikator seperti yang ditulis dalam tabel 4.2.2.2. Entman menekankan bahwa pendefinisian masalah merupakan bingkai yang paling utama, yaitu bagaimana peristiwa dipahami oleh wartawan. Dalam kasus ini, pembingkaian tayangan pemberitaan Redaksi Siang TRANS7 dilakukan oleh produser. Peristiwa di atas masih serupa dengan tayangan berita yang sebelumnya, yaitu peristiwa dipahami sebagai suatu fenomena dimana perempuan cenderung konsumtif dan tidak dapat berpikir panjang atau berkeinginan untuk bekerja keras mendapatkan uang. Maka dari itu penulis memperkirakan penyebab masalah dari peristiwa di atas ialah sifat konsumtif yang dimiliki oleh remaja perempuan.
Kemudian pada tahap evaluasi moral, di mana terdapat argumentasi yang menguatkan pendefinisian masalah yaitu remaja akhirnya menjadi PSK, bahkan ada yang menjadi mucikari. Kemudian nilai moral yang ditampilakan dalam tayangan 4.2.2. ialah, norma susila yang dibentuk keluarga, norma sosial melalui pergaulan, serta norma agama juga dihadirkan dalam tayangan tersebut. Pada tahap akhir, yaitu rekomendasi solusi, di mana Redaksi Siang menawarkan jalan yang harus ditempuh untuk mengatasi masalah adalah peran aktif dari orangtua dalam
mengawasi pergaulan serta memberikan pendidikan agama kepada remaja perempuan pada khususnya.
4.2.3. Berita 3
Judul : Hanya Hamil 3 Jam, Ibu Lahirkan Bayi Laki-laki
Episode : 20 Oktober 2011
Segmen : B3
Tabel 4.2.3.1. Potongan Tayangan Berita 3
Visual Audio
“…sang ibu melahirkan bayi mungil ini, tanpa merasakan tanda-tanda dan proses kehamilan, layaknya ibu hamil pada umumnya.”
“ Melihat perut istrinya yang terus membuncit, Suwar sang suami langsung bergegas memanggil bidan setempat…”
“Saya periksa ya memang hamil. Saya periksa dalam, jam enam itu sudah pembukaan tiga. Saya perkirakan jam sepuluh itu melahirkan.”
“Walau masih terkejut dengan peristiwa aneh yang dialami sang istri, namun Suwar tetap bersyukur atas karunia anak kedua yang lahir dengan selamat ini.”
Tabel 4.2.3.2. Framing Redaksi Siang terhadap Berita 3
Pendefinisian Masalah Kejadian mistis.
Interpretasi Sebab-Akibat Lahir tanpa hamil, minimnya kesadaran/wawasan lingkungan tentang kehamilan.
Evaluasi Moral Kejadian seperti ini jarang terjadi, fenomenal.
Rekomendasi Solusi Menerima kejadian, mengakui rumor/mitos yang beredar.
Dalam tayangan berita pertama ini penulis menganalisis menggunakan teknik framing Robert N. Entman, yang penulis buat secara indikator seperti yang ditulis dalam tabel 4.2.3.2. Entman menekankan bahwa pendefinisian masalah merupakan bingkai yang paling utama, yaitu bagaimana peristiwa dipahami oleh wartawan. Dalam kasus ini, pembingkaian tayangan pemberitaan Redaksi Siang TRANS7 dilakukan oleh produser. Peristiwa dalam tayangan 4.2.3. dapat dianggap sebagai suatu kejadian yang bersifat mistis. Produser Redaksi Siang mengemas pemberitaan seperti ini karena menganggap pemberitaan tersebut tidak mungkin sesuai dengan nalar atau logika.
Lalu pada tahap analisis penyebab masalah, penulis menemukan bahwa Tatimah, perempuan yang melahirkan tanpa merasakan hamil terlebih dahulu, yang menjadi penyebab masalahnya. Setelah tahap memperkirakan penyebab masalah, tahap
selanjutnya yaitu membuat keputusan moral. Redaksi Siang berpegang teguh dengan nilai-nilai yang bersifat ilmiah, maka dengan ini Produser Redaksi Siang menegaskan bahwa peristiwa yang penulis paparkan pada tabel 4.2.3.1. merupakan kejadian yang jarang terjadi atau suatu peristiwa yang fenomenal.
Tahap yang terakhir ialah penekanan solusi atau penyelesaian. Penyelesaian masalah yang ditampilkan dalam wacana atau tayangan pemberitaan 4.2.3. ialah dengan menerima kejadian yang di luar logika. Hal itu dinyatakan dalam naskah, yaitu, “Walau masih terkejut dengan peristiwa aneh yang dialami sang istri, namun Suwar tetap bersyukur atas karunia anak kedua yang lahir dengan selamat ini.”
4.2.4. Berita 4
Judul : Mustahil Melahirkan Tanpa Hamil
Episode : 20 Oktober 2011
Segmen : C1
Tabel 4.2.4.1. Potongan Tayangan Berita 4
Visual Audio
“Tak sedikit warga yang menduga, lahirnya bayi dari rahim Suryati, berasal dari ‘meteng alihan’ atau hamil yang dialihkan secara mistis.”
“Dari segi medis, melahirkan tanpa proses kehamilan, tidak mungkin terjadi. Yang paling mungkin adalah hamil tanpa
hamil….dikarenakan bentuk kehamilannya yang mengarah ke belakang atau ke dalam.”
“…jadi pendarahan pada saat kehamilan. Dia hamil tapi kok dia merasa perutnya kok nggak membesar, mungkin karena bentuk kandungannya yang mengarah ke belakang.”
Tabel 4.2.4.2. Framing Redaksi Siang terhadap Berita 4
Pendefinisian Masalah Penyangkalan mitos.
Interpretasi Sebab-Akibat Pengetahuan medis tentang kehamilan.
Evaluasi Moral Insiden yang biasa terjadi di dunia kedokteran.
Rekomendasi Solusi Tidak perlu ketakutan dengan mitos.
Dalam tayangan berita pertama ini penulis menganalisis menggunakan teknik framing Robert N. Entman, yang penulis buat secara indikator seperti yang ditulis dalam tabel 4.2.4.2. Entman menekankan bahwa pendefinisian masalah merupakan bingkai yang paling utama, yaitu bagaimana peristiwa dipahami oleh wartawan. Dalam kasus ini, pembingkaian tayangan pemberitaan Redaksi Siang TRANS7 dilakukan oleh produser. Peristiwa tersebut dapat dianggap sebagai suatu penyangkalan terhadap mitos yang dikemukakan pada tayangan pemberitaan 4.2.4. Sedangkan untuk penyebab masalah dari peristiwa tersebut ialah istilah medis mengenai kehamilan, yang
ditampilkan oleh Redaksi Siang, yang merupakan follow up atau tindak lanjut dari tayangan sebelumnya.
Kemudian penekanan keputusan moral yang ditampilkan ialah Redaksi Siang menekankan bahwa peristiwa tersebut merupakan kejadian yang sudah biasa atau lumrah di dunia kedokteran. Adanya penyangkalan yang ditampilkan melalui potongan gambar dokter kandungan yang mengatakan bahwa bentuk kandunga yang mengarah ke belakang, yang membuat perempuan yang tengah hamil tidak merasakan seperti hamil, seperti perut tidak membesar. Hal ini pula yang kemudian penulis anggap sebagai argumentasi yang mendukung pendefinisian masalah. Lalu, pada tahap terakhir, yaitu penekanan penyelesaian solusi, Redaksi Siang menekankan penyelesaian untuk tidak percaya kepada mitos kelahiran gaib dan ketakutan dengan mitos-mitos seputer kehamilan lainnya kepada penonton.
4.2.5. Berita 5
Judul : Awas, Pemerkosa Mengintai Wanita di Tempat Umum
Episode : 25 Januari 2012
Segmen : B1
Tabel 4.2.5.1. Potongan Tayangan Berita 5
Visual Audio
“Sepertinya memang benar-benar sulit mendapatkan rasa aman bagi perempuan di negeri ini. Bukan hanya di dalam angkutan umum, bahkan di tempat terbuka pun, perempuan bisa menjadi korban kejahatan.”
“Kejadian pilu ini menunjukkan, betapa keamanan di tempat umum menjadi barang langka bagi wanita.”
“Pelaku kejahatan terus menebar teror. Tak peduli walaupun di tempat umum.”
“Jumat malam lalu, JM, seorang mahasiswi akademi kebidanan, menjadi korban pemerkosaan di kawasan kebayoran lama. Kejadian bermula saat JM dalam perjalanan menuju rumah sang kakak di Pamulang.”
“Dari penuturan korban, dirinya sempat mencoba melarian diri dari kejaran lima lelaki di belakangnya. Namun, kemungkinan besar, dirinya melewati tempat sepi dan gelap antara pasar dan stasiun, yang membuat pelaku mudah melumpuhkannya.”
“Puas melampiaskan nafsu bejatnya, pelaku lantas membuang korban ke tempat pembuangan sampah di kawasan perlintasan kereta api.”
Pendefinisian Masalah Tragedi, pelanggaran HAM.
Interpretasi Sebab-Akibat Perempuan sebagai korban kejahatan.
Evaluasi Moral Pelaku kejahatan bejat, korban lemah.
Rekomendasi Solusi Pemerintah harus bisa menjamin keamanan.
Dalam tayangan berita pertama ini penulis menganalisis menggunakan teknik framing Robert N. Entman, yang penulis buat secara indikator seperti yang ditulis dalam tabel 4.2.5.2. Entman menekankan bahwa pendefinisian masalah merupakan bingkai yang paling utama, yaitu bagaimana peristiwa dipahami oleh wartawan. Dalam kasus ini, pembingkaian tayangan pemberitaan Redaksi Siang TRANS7 dilakukan oleh produser. Peristiwa pada tabel 4.2.5.1. kemudian dilihat sebagai suatu tragedi, yang mana terjadi pelanggaran hak asasi manusia di dalamnya. Dengan melakukan penonjolan kata ‘teror’ dan ‘bejat’, maka aktor yang dianggap sebagai penyebab masalah ini ialah pelaku perkosaan, sedangkan perempuan berinisial JM ditempatkan sebagai korban perkosaan.
Penekanan lain yang kemudian ditampilkan dalam penayangan berita Redaksi Siang yaitu, pelaku perkosaan yang bejat dan penekanan perempuan berinisial JM yang diposisikan sebagai perempuan yang lemah di dalam naskah berita. Kemudian solusi yang dibangun dalam teks naskah yaitu adanya jaminan keamanan oleh pemerintah.
4.2.6. Berita 6
Judul : Silat Beksi, Lindungi Kaum Hawa dari Kejahatan
Segmen : B2
Tabel 4.2.6.1. Potongan Tayangan Berita 6
Visual Audio
“Kejahatan terhadap perempuan semakin marak terjadi. Perempuan masa kini dituntut untuk bisa melindungi dirinya sendiri di manapun ia berada. Menguasai ilmu bela diri bisa jadi salah satu cara perlindungan diri.”
“Silat Beksi adalah gabungan unik seni budaya serta olahraga bela diri. Walau menjadi silat yang paling terkenal setahan Betawi, kata Beksi bukan berasal dari bahasa Betawi, melainkan Cina. Bek artinya pertahanan dan Si artinya empat. Jadi Beksi berarti empat pertahanan.
“Maraknya kasus kejahatan dalam angkutan umum, membuat Beksi sangat sesuai dipelajari untuk kaum hawa. Sebab Beksi memang diperuntukkan untuk kejahatan dalam jarak dekat.
“Nah itu bisa, kan kalau misalnya di angkot atau busway kan rapat jaraknya, semakin rapat semakin bagus permainan Beksinya. Karena dia main di sikut…”
“Nggak pengen kalah aja sama laki-laki…”
“Buat jaga-jaga diri aja, kalau misalkan di jalan ada yang jahat.”
“Susah ternyata. Tapi untuk cewek, sekarang banyak perkosaan, penjambretan, penting banget buat jaga diri.”
Tabel 4.2.6.2. Framing Redaksi Siang terhadap Berita 6
Pendefinisian Masalah Upaya menghindari kejahatan.
Interpretasi Sebab-Akibat Maraknya kejahatan yang mengancam perempuan.
Evaluasi Moral Kejahatan dapat dilawan dengan ilmu bela diri.
Rekomendasi Solusi Silat Beksi dianjurkan untuk dipelajari.
Dalam tayangan berita pertama ini penulis menganalisis menggunakan teknik framing Robert N. Entman, yang penulis buat secara indikator seperti yang ditulis dalam tabel 4.2.6.2. Entman menekankan bahwa pendefinisian masalah merupakan bingkai yang paling utama, yaitu bagaimana peristiwa dipahami oleh wartawan. Dalam kasus ini, pembingkaian tayangan pemberitaan Redaksi Siang TRANS7 dilakukan oleh produser. Peristiwa tersebut dapat dianggap sebagai suatu upaya dalam menghindari kejahatan. Hal tersebut sudah ditonjolkan pada saat pembaca berita atau anchor mengatakan, “Kejahatan terhadap perempuan semakin marak terjadi. Perempuan masa kini dituntut untuk bisa melindungi dirinya sendiri di manapun ia berada. Menguasai ilmu bela diri bisa jadi salah satu cara perlindungan diri.”
Hal inilah yang kemudian membuat framing dalam pikiran penonton bahwa kejahatan lah yang menjadi penyebab utama perempuan harus pandai atau mempelajari ilmu bela diri. Penyebab lain yang penulis perkirakan ialah kejahatan mengintai perempuan, karena perempuan lemah. Stigma seperti itulah yang ingin dimunculkan oleh Redaksi Siang.
Setelah itu tahap pembingkaian selanjutnya ialah mempuat keputusan moral. Nilai yang digunakan oleh Redaksi Siang ialah penonjolan aspek emansipasi wanita atau feminisme yang
ditunjukkan dengan gimmick atau simulasi kejadian yang dilakukan oleh reporter dengan salah satu narasumber, seolah ingin menggambarkan bahwa perempuan dapat melawan kejahatan dengan ilmu bela diri Beksi. Pembingkaian terakhir ialah rekomendasi penyelesaian. Pembingkaian kali ini disampaikan melalui pernyataan reporter bahwa silat Beksi dianjurkan untuk dipelajari dan ditekuni guna menjaga diri.
4.2.7. Berita 7
Judul : Perlunya Pengendalian Diri Saat Mengemudi
Episode : 25 Januari 2012
Segmen : Z
Tabel 4.2.7.1. Potongan Tayangan Berita 7
Visual Audio
“Tabrakan maut di halte Tugu Tani yang melibatkan Afriyani Susanti menimbulkan pertanyaan. Apakah ada perbedaan karakter mengemudi antara pria dan wanita.”
“Harus diakui, mengemudi kendaraan sudah menjadi keharusan bagi siapa saja, tak terkecuali kaum wanita. Kini mereka dituntut untuk bisa mengemudi agar dapat lebih mudah dalam melakukan beragam aktivitas.”
“Wanita memang memiliki karakter berbeda dengan pria, termasuk ketika mengemudi. Ada beberapa faktor utama yang menjadi penyebabnya.”
“Wanita itu biasanya memang lebih banyak mian feeling ya. Itu memang, ya itu kodratnya, begitu.”
“Selain faktor karakter dalam mengemudi, Afriyani Susanti juga mengonsumsi bahan-bahan adiktif… membuat Afriyani tampak cuek dan tidak mengalami shock saat dimintai keterangan.”
“Seseorang yang sedang terpengaruh oleh zat adiktif, akan sangat energik dan bersikap aktif. Setelah habis pengaruh obatnya, orang tersebut akan menjadi depresi, mengantuk, dan mengalami penurunan aktivitas tubuh lainnya.”
Tabel 4.2.7.2. Framing Redaksi Siang terhadap Berita 7
Pendefinisian Masalah Permasalahan moral dan gender.
Interpretasi Sebab-Akibat Perbedaan karakter antar gender dan pengaruh dari narkoba mempengaruhi cara berkemudi.
Evaluasi Moral Perempuan lebih payah dalam berkendara.
Dalam tayangan berita pertama ini penulis menganalisis menggunakan teknik framing Robert N. Entman, yang penulis buat secara indikator seperti yang ditulis dalam tabel 4.2.7.2. Entman menekankan bahwa pendefinisian masalah merupakan bingkai yang paling utama, yaitu bagaimana peristiwa dipahami oleh wartawan. Dalam kasus ini, pembingkaian tayangan pemberitaan Redaksi Siang TRANS7 dilakukan oleh produser. Peristiwa tersebut dapat dianggap sebagai suatu permasalahan moral dan gender. Kemudian perbedaan karakter gender itulah yang kemudian menjadi suatu penyebab permasalahan yang ditampilkan dalam pemberitaan di atas, di mana menempatkan perempuan yang memiliki karakter yang lebih buruk dibandingkan dengan pria dalam berkendara. Penyebab permasalahan lainnya ialah narkoba.
Kemudian pernyataan seorang psikolog yang dijadikan sebagai salah satu narasumber dalam penayangan pemberitaan Redaksi Siang, bahwa wanita itu biasanya memang lebih banyak main feeling, menjadi suatu penekanan nilai yang penulis anggap sebagai suatu pembingkaian yang dilakukan perangkat program tersebut. Potongan narasi seperti, “Selain faktor karakter dalam mengemudi, Afriyani Susanti juga mengonsumsi bahan-bahan adiktif…” merupakan suatu argumentasi yang menguatkan bahwa narkoba terbukti mempengaruhi cara berkendara seseorang. Rekomendasi penyelesaian yang penulis dapat dari tayangan pemberitaan ini ialah kasus yang terjadi agar diselesaikan oleh pihak ang berwajib dan peristiwa yang ditampilkan dijadikan suatu acuan bagi penonton.
4.2.8. Berita 8
Episode : 26 Januari 2012
Segmen : B4
Tabel 4.2.8.1. Potongan Tayangan Berita 8
Visual Audio
“Indonesia menjadi pasar narkotika jenis sabu-sabu terbesar di dunia setelah Thailand. Dan pecandunya tak hanya kaum laki-laki, sebagian besar justru perempuan.”
“Efek narkoba membuat mereka yang mengonsumsinya mengalami ketagihan. Dan perempuan lebih mudah tenggelam dalam kecanduan ketimbang laki-laki, terutama para pengguna kokain.”
“Salah satunya Fanya. Fanya telah menggunakan kokain sejak duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. Tak hanya mengonsumsi, Fanya bahkan sempat menjadi kurir kecil-kecilan. Untungnya ia berhasil keluar dari jerat candu narkoba.”
“Udah ngga beraturan banget. Ngga ada juntrungan gitu hidup. Yang ada di otak itu cuma make, make,dan make. Bangun mikirnya make, sebelum tidur harus make dulu, jadi tuh capek sendiri, sampai kayak istilahnya gue udah make berkali-kali, tapi kok gue ngga mati-mati.”
“Membebaskan candu narkoba bukan hal yang mudah. Keluarga harus menyediakan dana cukup besar untuk menyembuhkan rasa ketagihan para pengguna narkoba.
Tidak sedikit yang akhirnya terpaksa keluar masuk pusat rehabilitasi karena kembali terbuai candu narkoba.”
Tabel 4.2.8.2. Framing Redaksi Siang terhadap Berita 8
Pendefinisian Masalah Permasalahan moral.
Interpretasi Sebab-Akibat Perempuan lebih mudah kecanduan narkoba, terutama kokain.
Evaluasi Moral Sekali terjebak narkoba, perempuan lebih sulit untuk berhenti menggunakannya (kecanduan).
Rekomendasi Solusi Pihak keluarga harus mengeluarkan dana besar untuk memulihkan perempuan yang sudah kecanduan narkoba.
Dalam tayangan berita pertama ini penulis menganalisis menggunakan teknik framing Robert N. Entman, yang penulis buat secara indikator seperti yang ditulis dalam tabel 4.2.8.2. Entman menekankan bahwa pendefinisian masalah merupakan bingkai yang paling utama, yaitu bagaimana peristiwa dipahami oleh wartawan.