• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.4 Analisis Output

5.2.9 Analisis Pendistribusian Bahan Makanan

Tahap akhir dari proses penyelenggaraan makanan adalah pendistribusian makanan. Pendistribusian makanan adalah serangkaian proses kegiatan penyampaian makanan sesuai dengan jenis makanan dan jumlah porsi konsumen/pasien yang dilayani dengan tujuan agar konsumen/pasien mendapat makanan sesuai diet dan ketentuan yang berlaku. Sistem distribsusi dapat dibedakan menjadi tiga yakni sistem distribusi sentralisasi, sistem distribusi desentralisasi dan sistem distribusi kombinasi (Kemenkes, 2013). Sistem distribusi yang digunakan oleh Insatalasi Gizi RSUD Kabanjahe adalah sistem distribusi sentralisasi, dimana makanan dibagi dan disajikan dalam alat makan di ruang produksi makanan (instalasi gizi).

Sebelum melakukan kegiatan pendistribusian makanan, pihak instalasi gizi sudah memenuhi semua prasyarat yang ditentukan dalam standar PGRS (Tabel 4.20) kecuali satu prasyarat yakni adanya peraturan pengambilan makanan. Prasyarat ini dinilai tidak perlu dipenuhi oleh pihak instalasi gizi karena yang mendistribusikan semua makanan baik makanan pasien dengan diet khusus maupun makanan pasien yang tidak memerlukan diet khusus adalah pihak instalasi gizi sendiri. Pihak instalasi gizi yang akan langsung ke ruang-ruang perawatan pasien dan tidak ada pihak di luar instalasi gizi yang berwenang

mengambil/mendistribusikan makanan sehingga peraturan dalam pengambilan makanan tidak dibutuhkan.

Bahan makanan yang sudah selesai diolah akan disajikan ke tempat makan pasien sesuai dengan standar porsi yang telah tetapkan dan kelas perawatan pasien rawat inap. Proses pemorsian makanan, khususnya pemorsian nasi, sayur, dan buah ketika akan disajikan hanya dilakukan dengan estimasi saja dengan menggunakan ukuran rumah tangga. Kemudian, makanan untuk pasien rawat inap dengan kelas perawatan VIP akan disajikan di dalam tiga mangkok stainless yang dilengkapi dengan sendok dan garpu. Sedangkan makanan untuk pasien rawat inap kelas perawatan Kelas dan Ruangan (Ruang Paviliun, Ruang I, Ruang IV, Ruang V, Ruang VI) dan HCU disajikan di plato stainless yang dilengkapi dengan sendok dan garpu. Lalu, makanan akan ditutup dengan tutup stainless dan disusun di trolley terbuka untuk didistribusikan. Pendistribusian biasanya dilakukan dengan menggunakan trolley terbuka jika jumlah pasien rawat inap yang dilayani masih dalam jumlah standar, akan tetapi jika pasien rawat inap yang akan dilayani dalam jumlah yang sangat banyak maka pendistribusian akan dilakukan menggunakan trolley dengan pengatur suhu otomatis sehingga makanan yang disajikan akan tetap hangat walaupun pendistribusian akan memakan waktu lama.

Sebelum pendistribusian, dilakukan pemisahan antara makanan pasien dengan diet khusus dan makanan untuk pasien yang tidak memerlukan diet khusus. Pada tempat makan pasien dengan diet khusus akan diberi label yang berisi nama, jenis diet dan ruang perawatan dengan berpedoman pada Formulir

Orderan Diet Pasien Ruangan untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam pendistribusian. Kemudian makanan didistribusikan sesuai dengan jadwal pendistribusian yang sudah ditetapkan oleh pihak instalasi gizi dan distribusikan berdasarkan kelas perawatan. Pendistribusian makanan per ruangan akan disesuaikan dengan kondisi ruangan yang paling dekat jarak tempuhnya dengan instalasi gizi. Makanan untuk ruangan yang searah akan didistribusikan sekaligus agar menghemat waktu dan tenaga apabila jumlah pasien yang dilayani sedikit dan memungkinkan untuk dibawa sekaligus. Dalam pendistribusian, petugas pendistribusi sama sekali tidak menggunakan APD.

Secara keseluruhan, kegiatan pendistribusian di Instalasi Gizi RSUD Kabanjahe sudah memenuhi prasyarat dalam pedoman PGRS (Tabel 4.20), akan tetapi kendala pada tenaga yang kurang dan pendistribusian tenaga berdasarkan shift yang tidak seimbang mengakibatkan pendistribusian makan rentan mengalami keterlambatan, terutama pendistribusian makan pagi.

5.3 Analisis Output

5.3.1 Standar Pelayanan Gizi Rumah Sakit

Fungsi manajemen yang terdapat dalam kegiatan penyelenggaraan makanan perlu dilakukan sesuai dengan pedoman PGRS guna menghasilkan keluaran (output) yang optimal dengan memaksimalkan masukan (input) yang ada. Keluaran (output) yang dikehendaki yakni tercapainya tujuan dari penyelenggaraan makanan rumah sakit itu sendiri, berupa penyediaan makananan yang berkualitas, sesuai dengan kebutuhan gizi, biaya, aman dan dapat diterima oleh pasien. Mengingat ruang lingkup pelayanan gizi di rumah sakit yang

kompleks meliputi pelayanan rawat jalan, pelayanan rawat inap, penyelenggaraan makanan, serta penelitian dan pengembangan maka setiap rumah sakit perlu menetapkan dan mengembangkan indikator mutu pelayanan gizi agar tercapai pelayanan gizi yang optimal (Kemenkes, 2013).

Dalam Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit, ditetapkan bahwa indikator standar pelayanan gizi meliputi (a) ketepatan waktu pemberian makanan kepada pasien (100%), (b) sisa makanan yang tidak dihabiskan oleh pasien (<20%), (c) tidak ada kesalahan pemberian diet (100%) (Depkes RI, 2008). Sementara itu, Standar Pelayanan Gizi Rumah Sakit menurut Pedoman PGRS meliputi (a) perencanaan asuhan gizi sesuai dengan standar pelayanan (100%), (b) keberhasilan konseling gizi (100%), (c) ketepatan diet yang disajikan (100%), (d) ketepatan penyajian makanan (100%), (e) ketepatan cita rasa makanan (100%) dan (f) sisa makanan pasien (80%). Pelayanan gizi dapat dikatakan berkualitas bila hasil pelayanan mendekati hasil yang diharapkan dan dilakukan sesuai dengan standar dan prosedur yang berlaku.

Perencanaan asuhan gizi sudah dilakukan pihak Instalasi Gizi RSUD Kabanjahe untuk mengidentifikasi kebutuhan gizi pada pasien rawat inap dan menyediakan asuhan untuk memenuhi kebutuhan gizi tersebut. Asuhan gizi yang dilakukan dinilai sudah sesuai standar dimana rencana pengkajian dan asuhan gizi diberikan tepat waktu, rencana asuhan tercatat dalam rekam medik, rencana asuhan direvisi sesuai dengan respon pasien dan dilakukan monitoring pelaksanaan asuhan gizi. Berdasarkan hasil wawancara, persentase kesesuaian intervensi dengan kondisi pasien pada saat audit terakhir sudah 100 % dan akan

terus dilakukan evaluasi setiap tahunnya. Selain perencanaan asuhan gizi, pengendalian dan pengawasan untuk indikator keberhasilan konseling gizi juga penting dilakukan untuk mengetahui persentase perubahan sign dan symptoms

(meliputi riwayat diet, antropometri, hasil laboratorium, hasil pemeriksaan fizik dan klinis) dari problem gizi pada kunjungan awal terhadap target pada kunjungan-kunjungan konseling berikutnya. Akan tetapi, kegiatan konseling gizi di RSUD Kabanjahe belum terlaksana sehingga evaluasi dan pengendalian mutu terhadap persentase keberhasilan konseling gizi belum dapat dilakukan. Padahal, keberhasilan pelaksanaan perencanaan asuhan gizi dan konseling gizi di RSUD Kabanjahe secara tidak langsung akan mendukung kegiatan penyelenggaraan makanan di Instalasi Gizi RSUD Kabanjahe.

Hal ini sejalan dengan pendapat Chou (2009), pelayanan gizi merupakan suatu proses yang kompleks mulai dari rencana asuhan gizi dan proses asuhan gizi terstandar (PGAT) dimana proses intervensi dalam PGAT berintegrasi dengan proses penyelenggaraan makanan yang pada akhirnya akan bermuara pada pengukuran kepuasan konsumen dalam pelayanan gizi.

Sementara itu, pihak Instalasi Gizi RSUD Kabanjahe masih belum melakukan evaluasi terhadap seluruh indikator standar pelayanan gizi yang berkaitan langsung dengan penyelenggaraan makanan di Instalasi Gizi RSUD Kabanjahe. Pengawasan dan pengendalian indikator mutu ketepatan penyajiaan makanan dan ketepatan cita rasa makanan sama sekali belum dilakukan oleh pihak Instalasi Gizi RSUD Kabanjahe. Pihak instalasi gizi hanya melakukan evaluasi terhadap ketepatan diet yang disajikan setiap tahunnya dan sisa makanan pasien

yang dilakukan sekali dalam dua bulan. Hasil evaluasi sisa makanan pasien juga menjadi masukan bagi instalasi gizi dalam perbaikan menu yang difungsikan di RSUD Kabanjahe.

Berdasarkan hasil observasi langsung dan wawancara dengan pasien rawat inap pada survei awal, diketahui bahwa pendistribusian makanan untuk makan siang dan sore sudah tepat waktu, walaupun makanan yang disajikan kepada pasien sering tidak dalam kondisi hangat lagi. Pendistribusian makanan untuk pagi hari dinilai sering mengalami keterlambatan, sehingga beberapa pasien sudah sarapan terlebih dahulu sebelum makanan pagi disajikan oleh pihak instalasi gizi dan hal ini tidak sejalan dengan Standar Pelayanan Minimal dimana ketepatan waktu pemberian makanan harus 100%. Pengolahan pada lauk hewani terutama ikan juga dinilai kurang dalam tingkat kematangan dan rasanya. Hasil observasi langsung terhadap sisa makanan pasien menunjukkan bahwa sisa lauk hewani dan sayur pasien masih cukup banyak serta pemberian penjelasan terhadap diet yang akan diberikan kepada pasien tidak dilakukan oleh tenaga gizi.

Pengawasan dan pengendalian terhadap indikator mutu pelayanan gizi yang belum seluruhnya dilakukan, belum tercapainya persentase beberapa indikator sesuai dengan standar, keluhan yang diperoleh dari pasien rawat inap, dan pelaksanaan kegiatan penyelenggaraan makanan yang belum seluruhnya mengikuti pedoman PGRS menunjukkan bahwa kegiatan penyelenggaraan makanan di Instalasi Gizi RSUD Kabanjahe dan pencapaian output masih belum optimal.

BAB VI

Dokumen terkait