• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.4 Analisis Output

5.1.1 Analisis Sumber Daya Manusia (Ketenagaan)

Dalam upaya menjamin pelaksanaan pelayanan gizi yang optimal di rumah sakit diperlukan adanya standar kebutuhan tenaga gizi secara lebih rinci yang memuat jenis dan jumlah tenaga gizi. Selain tenaga gizi, dibutuhkan juga tenaga pendukung meliputi tenaga jasa boga, logistik, pranata komputer, tenaga administrasi dan tenaga lainnya. Kebutuhan tenaga gizi untuk masing-masing kelas rumah sakit berbeda-beda. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 26 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Pekerjaan dan Praktik Tenaga Gizi, yang dimaksud dengan tenaga gizi adalah setiap orang yang telah lulus pendidikan di bidang gizi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Agar dapat melaksanakan pelayanan gizi yang optimal, jumlah tenaga gizi yang dibutuhkan untuk rumah sakit Kelas C seperti RSUD Kabanjahe yakni 30 tenaga gizi yang terdiri dari 18 tenaga Registered Dietisien (RD) dan 12 tenaga Technical Registered Dietisien (TRD) (Kemenkes, 2013).

Instalasi Gizi RSUD Kabanjahe mempunyai sumber daya manusia sebanyak 16 orang dengan kualifikasi dan latar pendidikan terakhir yang berbeda- beda. Tenaga gizi yang bekerja di Instalasi Gizi RSUD Kabanjahe berjumlah 13 orang, 12 diantaranya sudah berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan 1 tenaga gizi masih berstatus sebagai honorer. Terdapat 10 tenaga gizi dengan

pendidikan terakhir Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) dan 3 tenaga gizi dengan pendidikan terakhir Ahli Madya Gizi (D3 Gizi). Sementara tenaga yang bukan termasuk tenaga gizi dan masih berstatus sebagai honorer berjumlah 3 orang, dimana 1 orang dengan pendidikan terakhir SMA, 1 orang dengan pendidikan terakhir SMP dan 1 orang dengan pendidikan terakhir SD.

Semua tenaga gizi yang bekerja di instalasi gizi sudah memiliki Surat Tanda Registrasi Tenaga Gizi (STRTGz) untuk dapat melakukan pekerjaan dan prakteknya, hal ini sudah sejalan dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 26 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Pekerjaan dan Praktik Tenaga Gizi. Akan tetapi, belum ada tenaga gizi yang teregistrasi sebagai Registered Dietisien (RD) maupun sebagai Technical Registered Dietisien (TRD) dan hal ini sangat tidak sejalan jika dibandingkan dengan pedoman PGRS Tahun 2013.

Seorang tenaga gizi dapat dikatakan sebagai Technical Registered Dietisien (TRD) jika memiliki pendidikan terakhir Ahli Madya Gizi (D3 Gizi), mengikuti dan telah lulus ujian kompetensi serta teregistrasi sesuai peraturan perundangan. Sementara itu, seorang tenaga gizi dapat dikatakan sebagai

Registered Dietisien (RD) jika memiliki pendidikan terakhir Sarjana Terapan Gizi atau Sarjana Gizi yang telah mengikuti pendidikan profesi dan telah lulus uji kompetensi serta teregristrasi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan (Kemenkes, 2013). Berdasarkan hasil wawancara, tenaga gizi di Instalasi Gizi RSUD Kabanjahe sudah mengikuti ujian kompetensi untuk TRD yang biasanya dilaksanakan setiap tahunnya, tetapi belum ada tenaga gizi yang lulus ujian

kompetensi dan teregistrasi. Oleh karena itu, pihak RSUD Kabanjahe perlu melakukan upaya/tindakan terkait kondisi ini.

Berdasarkan data sekunder yang diperoleh, Instalasi Gizi RSUD Kabanjahe memiliki struktur organisasi yang menggambarkan jabatan, tugas pokok dan fungsi dari setiap tenaga di instalasi gizi. Akan tetapi, berdasarkan hasil wawancara dan observasi langsung, tenaga gizi tidak bekerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsi sesuai struktur organisasi yang sudah ada. Alasan kekurangan tenaga membuat tenaga gizi harus dapat mengerjakan tugas pokok dan fungsi dari tenaga lainnya sehingga bisa saling menggantikan satu sama lain. Sudah menjadi hal biasa jika satu tenaga gizi melakukan tiga sampai empat tugas dalam penyelenggaraan makanan setiap harinya, misalnya hanya ada dua orang tenaga yang bertanggung jawab untuk melakukan penerimaan bahan makanan, penyimpanan, peracikan dan pemasakan sampai pendistribusian makanan.

Selain tenaga yang kurang dari segi kuantitas, hal diatas juga sering terjadi karena pembagian tenaga untuk setiap shift dinilai tidak merata. Shift kerja untuk tenaga di instalasi gizi dibagi menjadi tiga shift yakni shift pagi, shift sore dan

shift malam. Shift pagi pukul 07.30-14.30 WIB, shift sore pukul 14.30-18.30 WIB dan shift malam pukul 04.00-08.00 WIB. Jumlah tenaga yang shift pagi sebanyak 10 orang, dimana ada 7 tenaga gizi dan 3 tenaga non gizi yang bertanggung jawab untuk penyediaan makan siang pasien rawat inap. Sementara jumlah tenaga shift

sore hanya sebanyak 3 orang dan bertanggung jawab untuk penyediaan makan malam dan jumlah tenaga shift malam juga sebanyak 3 orang dan bertanggung jawab untuk penyediaan makan pagi pasien rawat inap. Kondisi tenaga akan

sangat tidak memadai ketika ada tenaga yang tidak bisa hadir sehingga harus digantikan dengan tenaga lainnya bahkan tidak dapat digantikan sehingga mengakibatkan beban tugas yang tidak seimbang dengan jumlah tenaga yang ada dan memunculkan resiko terjadinya kesalahan.

Tugas yang merangkap dan pendistribusian tenaga berdasarkan shift yang tidak seimbang mengakibatkan ada ketimpangan dalam penyediaan makanan pasien baik dari segi efektifitas maupun efisiensi. Hal ini diduga menjadi alasan keterlambatan pendistribusian seperti pada hasil wawancara pasien rawat inap pada survei awal, dimana pendistribusian makanan pagi sering mengalami keterlambatan sehingga pasien sudah terlebih dahulu makan makanan yang tidak berasal dari rumah sakit. Untuk itu pihak instalasi gizi perlu memperhatikan pendistribusian tenaga di setiap shift sehingga tenaga dapat dimaksimalkan walaupun kurang dari segi kuantitas untuk mencegah terhambat atau terjadinya kesalahan dalam kegiatan peracikan, pemasakan, pemorsian dan pendistribusian makanan.

Pembinaan dan pelatihan juga penting dilakukan untuk peningkatan pengetahuan dan keahlian/keterampilan setiap tenaga. Dalam meningkatkan mutu pelayanan dan meningkatkan kinerja,tenaga gizi sudah mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Persagi mengenai Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT). Pelatihan dilaksanakan setiap tahun di bulan Desember dan pihak instalasi gizi diberi jatah untuk mengirim dua orang tenaga gizi yang sudah berstatus PNS untuk mengikuti pelatihan tersebut secara bergilir. Akan tetapi, untuk tenaga gizi dan petugas lainnya yang masih berstatus honorer belum pernah mendapatkan

pelatihan. Hal ini seharusnya segera ditindaklanjuti mengingat petugas honorer yang tidak mendapat pelatihan bertugas sebagai juru masak yang sewajarnya harus mempunyai pengetahuan dan keahlian/keterampilan dalam gizi untuk menghindari kesalahan dalam pengolahan terlebih saat pengolahan tidak diawasi oleh tenaga gizi.

Dokumen terkait