• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian Peraturan Gubernur Kalimantan Tengah No. 52 Tahun 2008 Junto PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH NO. 15 TAHUN 2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH NOMOR 52 TAHUN

2008 tentang PEDOMAN PEMBUKAAN LAHAN DAN PEKARANGAN BAGI MASYARAKAT DI KALIMANTAN TENGAH

dengan metoda analisis ROCCIPI

(Rule, Opportunity, Capacity, Communication, Interest, Process, Ideology)

Pasal dan ayat Adressat Perilaku yang diharapkan Perilaku yang terjadi dan analisis

1: Ketentuan Umum Bupati

Camat Kepala Desa Ketua RT

Memberi rekomendasi dan izin kepada masyarakat untuk pembukaan lahan dan pekarangan

1) Perilaku Pemberi izin bervariasi antar Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah. Ada yang taat substansi dan prosedur, ada juga yang menjadikannya sebagai peluang ekonomi atau untuk mendapatkan kuntungan dari aktivitas pembukaan lahan melalui pembakaran

2) Perilaku yang menyimpang, disebabkan lemahnya aturan (Rule) yang belum mengatur masalah pengawasan dan sanksi sehingga membuka peluang (Opportunity), lemahnya sosialiasi program (communication), lemahnya kapasitas addressat atau obyek pelaksana peratutan (capacity), proses pemberlakuan yang tidak melibatkan semua pihak khususnya masyarakat (process) dan kurang mengakomodir budaya lokal masyarakat (Ideology). 2 (1) : Setiap orang dapat membuka lahan dan

pekarangan pada lokasi baru baik didalam maupun diluar wilayah hak adat sesuai dengan hukum yang berlaku dengan memperhatikan Rencana Tata Ruang.

Masyarakat Membuka lahan sesuai hukum yang berlaku dan rencana tata ruang

Masyarakat tidak banyak yang mengetahui tentang aturan tata ruang serta batas wilayah adat dan lahan negara. Perilaku ini memunculkan kesempatan (Opportunity) bagi masyarakat secara perorangan atau berkelompok untuk melakukan klaim untuk kepentingan ekonomi (interest).

Pasal dan ayat Adressat Perilaku yang diharapkan Perilaku yang terjadi dan analisis 2 (2) : Setiap orang dapat membuka lahan dan

pekarangan pada lahan yang pernah digarap sebelumnya yang dibuktikan surat penguasaan tanah atau hak-hak lainnya seperti hak-hak adat atas tanah yang diakui oleh masyarakat setempat.

Masyarakat Melakukan aktivitas pembukaan lahan pada lahan milik yang memiliki bukti yang diakui

Pada lahan adat penyimpangan bisa terjadi karena belum jelasnya batas lahan adat dan lahan hak milik atau lahan negara sehingga membuka peluang (opportunity) pembukaan lahan dengan pembakaran tidak terbatas dan terkendali

2 (3) : Pembukaan lahan dan pekarangan diutamakan dengan cara Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB).

Masyarakat Melakukan aktivitas tanpa bakar seperti memakai herbisida atau mekanis.

Ketentuan ini tidak mewajibkan masyarakat menerapkan PLTB tetapi hanya merekomendasikan sehingga peluang (opportunity) masih terbuka bagi masyarakat untuk membuka lahan dengan membakar. Selain itu kemampuan (capacity) masyarakat dalam hal membuka lahan dengan PLTB tidak bisa memberikan hasil yang murah, mudah dan cepat seperti dengan cara menebas dan membakar.

2 (4) : Setiap orang yang melakukan kegiatan pembukaan lahan dan pekarangan dengan cara pembakaran, harus dilaksanakan secara terbatas dan terkendali, setelah mendapat izin dari pejabat berwenang.

Masyarakat Melakukan aktifitas pembukaan lahan dengan pembakaran terbatas, terkendali dan mendapat izin pejabat berwenang

Hampir semua masyarakat yang membuka lahan dengan cara pembakaran tidak melakukan proses perizinan sesuai ketentuan. Sebagian hanya melakukan pelaporan lisan. Rule tidak jelas, dan pemahaman dan pengetahuan ketentuan ini kurang (Capacity).

Pasal dan ayat Adressat Perilaku yang diharapkan Perilaku yang terjadi dan analisis 2 (5) : Pembukaan lahan dan pekarangan dengan tujuan

akhir :

a. Untuk kebun dilakukan dengan cara pembakaran terbatas dan terkendali dilakukan pada tahun I (pertama), selanjutnya pada tahun ke II (kedua) dan ke III (ketiga) pada lokasi yang sama dikelola menggunakan teknologi Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB).

b. Untuk sawah dan atau ladang dapat dilakukan

pembakaran terbatas dan terkendali, dan jika areal sawah dan atau ladang telah bersih dari sisa pohon maka selanjutnya diterapkan terknologi Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB).

Masyarakat Melakukan pembakaran terbatas dan terkendali pada Tahun I saja (untuk kebun). Untuk sawah dan ladang pembakaran boleh melakukan pembakaran terbatas dan terkendali sampai areal bersih dari sisa pohon.

Tidak semua masyarakat memiliki kemampuan melakukan pembakaran terbatas dan terkendali. Pembakaran terbatas dan terkendali hanya dilakukan oleh masyarakat lokal yang masih memegang budaya dan kearifan lokal dalam membuka lahan. Sebagian masyarakat lain termasuk pendatang, tidak memiliki pengetahuan dan ketrampilan (capacity) alam membuka lahan secara terbatas dan terkendali yang akhirnya membuka peluang (opportunity) terjadinya kebakaran liar (tidak terkendali). Disamping itu ditemukan kasus pembakaran yang tidak

terkendali pada lahan-lahan yang tidak jelas kepemilikannya dan tidak terawat (unmanaged land) yang justru tidak mendapat perhatian dari masyarakat dan instansi berwenang.

Sosialisasi (Communication) tentang aturan ini tidak menjangkau semua lapisan masyarakat.

2 (6) : Pelaksanaan sebagaimana dimaksud ayat (5) dilakukan pembinaannya oleh Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota dan dunia usaha dengan mengacu kepada Surat Keputusan Direktur Jenderal Perkebunan Nomor 38/KB.110/SK/DJ.BUN/05/95 tanggal 30 Mei 1995 yang disempurnakan dengan Pedoman Teknis Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) Direktorat Jenderal Perkebunan Departemen Pertanian tahun 2006.

Pemprov Pemkab/Kota

Melakukan pembinaan tentang pedoman teknis PLTB

Pembinaan yang dilakukan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten masih terbatas pada skala demonstration plot dan sosialiasinya masih minim (Process). Program Penyuluhan dari instansi teknis tentang teknis PLTB juga tidak banyak

menyentuh masyarakat luas (Communication). Kapasitas (Capacity) instansi teknis dan penyuluh lapangan tidak memuaskan petani khususnya dalam penyediaan sarana penunjang PLTB.

Pasal dan ayat Adressat Perilaku yang diharapkan Perilaku yang terjadi dan analisis 2 (7) : Setiap orang yang melakukan pembukaan lahan

dan pekarangan untuk sawah, ladang, kebun pada lahan gambut, ditetapkan sebagai berikut :

a. Pada jenis gambut pantai (yang dipengaruhi dan tergenang oleh pasang air laut) dengan lapisan gambut tipis, pembukaan awal dapat dilakukan dengan pembakaran terbatas dan terkendali, tetapi tidak dilakukan pada musim kemarau.

b. Pada jenis gambut pedalaman yang masih tergolong mentah (tidak dipengaruhi dan tidak oleh genangan pasang air laut), terutama lapisan gambut dengan ketebalan lebih dari 50 cm, tidak diperkenankan dilakukan pembakaran.

Mayarakat Melakukan pembukaan lahan gambut sesuai karakteristiknya

Kurangnya pengetahuan (capacity) masyarakat akan karakteristik lahan gambut membuat pembukaan lahan gambut dilakukan serampangan. Pembakaran dan kebakaran lahan gambut terjadi merata baik pada lahan bergambut tipis maupun bergabut tebal. Masyarakat jusru melakukan aktifitas pembukaan lahan lahan gambut pada musim kemarau, karena sangat cepat, mudah dan murah (point a). Pada point b. Lahan gambut dengan ketebalan diatas 50 cm terbakar setiap tahun akibat kebakaran tak terkendali dari lahan tak terawat. Disisi lain, ini menjadi suatu kesempatan dan “keuntungan” (opportunity) dan interest) bagi pengarap lahan atau pemilik lahan yang terbakar karena lahannya menjadi bersih setelah terbakar

2 (8) : Setiap orang yang melakukan pembersihan lahan dan pekarangan tetapi bukan untuk sawah, ladang, atau kebun, harus tetap menerapkan cara pembakaran terbatas dan terkendali, serta tidak dilakukan pada musim kemarau.

Masyarakat Melakukan pembakaran terbatas dan terkendali meskipun bukan untuk sawah, lading dan kebun

Ayat ini justru terkesan membolehkan masyarakat atau masyarakat yang disuruh oleh perusahaan untuk melakukan pembakaran di areal-areal yang tidak jelas status kepemilikan atau lahan yang tidak terawat. Rule tidak jelas dan membuka peluang (Opportunity) terjadinya pembakaran liar pada lahan yang terkelola seperti sawah, kebun dan pekarangan. Peristiwa kebakaran liar sebagian besar terjadi dari kebakaran tak terkendali dari lahan yang tidak terawat, tidakjelas pemiliknya sehingga tidak jelas siapa yang bertanggungjawab.

Pasal dan ayat Adressat Perilaku yang diharapkan Perilaku yang terjadi dan analisis 3 PERIZINAN

3 (1) : Setiap orang yang melakukan pembukaan lahan dan pekarangan dengan cara pembakaran terbatas dan terkendali harus mendapatkan izin dari pejabat yang berwenang

Masyarakat Melakukan pelaporan dan perizinan

Pada impelementasinya masyarakat tidak semuanya melakukan pelaporan apalagi perizinan sebelum melakukan pembukaan lahan. Beberapa lahan desa dimiliki oleh orang yang bukan penduduk desa dan mereka umumnya tidak dikenal dan diketahui aktifitasnya oleh masyarakat dan aparatur desa. Lahan-lahan yang belum jelas kepemilikannya juga sulit dipantau perkembangannya dan justru seringkali terbakar dan menyebarkan api ke lahan yang jelas pemiliknya. 3 (2) : Pejabat yang berwenang memberikan izin

sebagaimana dimaksud ayat (1) adalah Kepala Desa dan atau Lurah dengan luas lahan maksimal 2 (dua) hectare per kepala keluarga untuk ditanami tanaman jenis varietas lokal

Kepala Desa/Lurah Memberikan izin bagi kepala keluarga yang akan membuka lahan maksimal 2 ha

Kepala Desa/Lurah tidak memiliki mekanisme dan bukti administrasi perizinan tentang izin pembukaan lahan dengan pembakaran terbatas dan terkendali. Kesiapan aparat desa (capacity) dan proses komunikasi (komunikasi) yang belum menyebar luas menjadikan kepala desa tidak bisa menyiapkan administrasi sesuai yang diminta dalam ayat berikutnya. 3 (3) : Permohonan perizinan dilengkapi dengan

persyaratan sebagai berikut : a. Foto Copy Kartu Tanda Penduduk

b. Mengisi Formulir permohonan izin sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Peraturan Gubernur ini.

Masyarakat Melenkapi persyaratan pembukaan lahan secara terbatas dan terkendali.

Ayat ini terkait dengan ayat sebelumnya yang menjelaskan persyaratan administasi dalam pelaksanaan pembukaan lahan. Pada implementasinya tidak ditemukan daftar masyarakat yang diberi izin dan form isian perizinan di semua desa yang diamati selama penelitian. Izin yang dimaksud lebih pada laporan bahwa ada kegiatan pembukaan lahan dengan pembakaran secara lisan dari pemilik lahan atau laporan dari tetangga pemilik lahan. Formulir tidak bisa ditunjukkan oleh aparat desa sehingga data luas lahan yang dibuka dengan dibakar tidak tersedia di desa. Pihak kepala desa tidak merespon atau tidak siap (capacity) atau tidak tahu (process dan communicacion) dengan maksud ayat ini.

Pasal dan ayat Adressat Perilaku yang diharapkan Perilaku yang terjadi dan analisis 3 (4) : Dalam pemberian izin, pejabat yang berwenang

harus memperhatikan data Indeks resiko kebakaran dan atau hotspot (titik panas), Indeks Peringkat Numerik Cuaca Kebakaran atau Fire Weather Index (FWI) dan atau Peringkat Numerik Potensi Kekeringan dan Asap atau Drought Code (DC); dan atau jarak pandang yang berada diwilayahnya berdasarkan data dari instansi Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota.

Instansi Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota Kepala Desa Melakukan penyebaran informasi Mengetahui informasi resiko kebakaran

Tidak melakukan penyebaran informasi hingga ke tingkat desa yang dibuktikan bahwa kepala desa tidak mendapat informasi peringatan dini kebakaran. Disamping itu diberbagai tempat strategis tidak terpampang info atau tool peringatan bahaya kebakaran

Hanya menerima surat himbauan dari Bupati tentang kondisi kemarau dan rawan kebakaran. Inforasi tidak detil terkait resiko kebakaran dan dampaknya

3 (5) : Semua perizinan pembakaran terbatas dan terkendali dinyatakan tidak berlaku apabila Gubernur mengumumkan status “BERBAHAYA” berdasarkan Indeks Kebakaran dan atau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) sampai tingkat kebakaran dan atau keadaan darurat pencemaran udara dinyatakan berhenti.

Gubernur

Masyarakat

Menetapkan kondisi “BERBAHAYA”

Mengetahui ketentuan ini

Gubernur melakukan penetapan kondisi BERBAHAYA. Pada tingkat lokal penyebarluasan kondisi BERBAHAYA dilakukan oleh Bupati, diteruskan secara berjenjang ke camat lalu kepala desa, RT hingga ke masyarakat

Ada beberapa kasus masyarakat menangkap ketentuan ini bahwa bila membakar pada kondisi BERBAHAYA akan ditangkap dan dipenjarakan sehingga timbul rasa takut. Rule tidak jelas, masyarakat tidak paham karena komunikasi kurang 4. TATA CARA

4 (1) : Setiap orang yang melakukan pembukaan lahan dan pekarangan dengan cara pembakaran, wajib melaksanakan tata cara dan teknik pembakaran terbatas dan terkendali.

Masyarakat Melaksanakan aturan ini (melakukan pembakaran terbatas dan terkendali)

Sebagian kelompok masyarakat tidak memiliki kemampuan (Capacity) membuka lahan dengan pembakaran terbatas dan terkendali, seperti masyarakat pendatang. Sosialisasi (Communication) tentang teknik pembakaran terbatas dan terkendali belum dilakukan secara luas dan dipahami masyarakat.

Pasal dan ayat Adressat Perilaku yang diharapkan Perilaku yang terjadi dan analisis 4 (2) : Tata cara dan teknik pembakaran terbatas dan

terkendali sebagaimana dimaksud ayat (1), antara lain : a. Mengharuskan biomas (daun/ranting) tidak menumpuk di bagian tepi lahan,yaitu dengan cara menebang pohon di bagian tepi rebah ke bagian dalam lokasi lahan.

b. Membuat sekat bakar keliling dengan lebar yang cukup dan aman dari bahaya kebakaran;

c. Menyediakan bahan dan peralatan pemadam api yang memadai;

d. Memberitahukan pemilik lahan yang berbatasan sebelum melakukan pembakaran;

e. Pembakaran terbatas dan terkendali dilakukan secara bergiliran untuk lokasi yang berkelompok dan berdekatan; f. Pembakaran terbatas dan terkendali dilakukan secara bergotong royong pada waktu yang tepat yaitu mulai pukul 15.00 WIB sampai dengan pukul 18.00 WIB;

g. Pembakaran terbatas dan terkendali dimulai dari tepi lahan yang berlawanan arah angin, dan setelah api bergerak jauh ke arah dalam, pembakaran dilakukan dari bagian tepi lahan searah angin.

h. Selama kegiatan pembakaran terbatas dan terkendali harus dijaga secara bersama dan teliti, agar tidak ada api yang merambat keluar lahan;

i. Setiap orang tidak diperkenankan meninggalkan lahan dan pekarangan yang sedang dibakar sebelum api benar- benar padam;

j. Menggunakan dan mengutamakan tata cara tradisional / budaya/ kearifan leluhur masyarakat adat setempat.

Masyarakat Melaksanakan aturan ini (melakukan pembakaran terbatas dan terkendali)

Masyarakat lokal (asli) dan sebagian masyarakat pendatang (transmigran) ada yang telah mempraktekkan pembakaran terbatas dan terkendali. Namun pada sebagain masyarakat lain, pembukaan lahan belum dilakukan secara terkendali seperti tidak membuat sekat bakar, waktu pembakaran di malam hari dan menjaga lahan sampai untuk memastikan api benar-benar padam dan tidak menjalar ke lahan lain. Hal ini menunjukkan proses sosialisasi belum berjalan dan masyarakt (adressat) tidak semuanya memiliki kapasitas dalam melakukan pembakaran terkendali. Umumnya masyarakat

pendatang tidak memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam praktek pembakara terkendali khususnya di lahan gambut. Berbeda halnya dengan masyarakat local yang secara turun menurun mempraktekkan pembakaran terbatas dan terkendali.

Pasal dan ayat Adressat Perilaku yang diharapkan Perilaku yang terjadi dan analisis 5. HAK DAN KEWAJIBAN

5 (1) : Setiap orang berhak untuk :

a. Memperoleh bantuan dan pembinaan dari Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota dan dunia usaha terkait dengan penerapan teknis pembakaran terbatas dan terkendali sampai dengan saatnya penerapkan Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) dan mekanisasi pertanian.

b. Memperoleh Informasi yang berhubungan dengan indeks resiko kebakaran, titik api, teknik dan tata cara pembakaran secara terbatas dan terkendali, Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB), mekanisasi pertanian dan informasi lainnya.

c. Meminta bantuan pemadam kebakaran kepada Instansi terkait dan satuan pengendali kebakaran terdekat, apabila terjadi kebakaran lahan dan pekarangan yang tidak terkendali.

Masyarakat Memperoleh pembinaan terkait dengan penerapan teknis pembakaran terbatas dan terkendali sampai dengan saatnya penerapkan Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) dan mekanisasi pertanian.

Memperoleh informasi indeks resiko kebakaran Memperoleh bantuan terkait pemadaman kebakaran

Pembinaan terkait PLTB tidak secara luas dilakukan, masihd alam skala demplot. Masyarakat tidak memperoleh informasi resiko kebakaran, hanya berupa himbauan kehati-hatian menghadapi musim kemarau panjang. Instansi terkait tidak memiliki kemampuan dan sarana menyebarluaskan info seluas- luasnya tentang resiko kebakaran. Sebaliknya masyarakat juga sulit mendapatkan informasi secara cepat dan mudah karena keterbatasan akses dan jaringan informasi. Bantuan pemadaman yang diperoleh masyarakat juga minim karena lokasi kebakaran umunya sulit ditembus dan pemberitahuan kejadian kebakaran juga tidak bisa disampaikan dengan cepat ke instansi terkait. Sementara istansi terkait masih bersikap birokratif dalam merespon permintaan bantuan pemadaman di lahan masyarakat. Info resiko kebakaran juga bergulir smengikuti jalur birokratis yang sifatnya lambat.

5 (2) : Setiap orang berkewajiban untuk :

a. Melaporkan kepada pejabat daerah setempat tentang kejadian kebakaran tidak terkendali;

b. Melakukan penanggulangan awal terhadap kebakaran lahan dan pekarangan, bilamana terjadi kebakaran yang tidak terkendali.

c. Memelihara dan membersihkan lahan dan

pekarangannya pada musim penghujan dan menjaga dari ancaman kebakaran pada musim kemarau.

Masyarkat Mematuhi aturan ini Sebagian masyarakat sudah melakukan isi aturan ini khususnya pada masyarakat local namun lebih disebabkan oleh kebiasaan mereka yang sudah lama dipraktekkan jauh sebelum atura ini dikeluarkan.

Pasal dan ayat Adressat Perilaku yang diharapkan Perilaku yang terjadi dan analisis 6. TANGGUNG JAWAB

6 (1) : Bupati/Walikota, Camat, Lurah/Kepala Desa dan Ketua RT bertanggung jawab terhadap penyampaian informasi indeks resiko kebakaran dan indeks terkait lainnya, pengendalian pembukaan lahan dan pekarangan bagi masyarakat dengan cara membakar secara terbatas dan terkendali sebagaimana dimaksud Pasal 2, Pasal 3 dan Pasal 4 di wilayahnya masing-masing.

Bupati/Walikota, Camat, Lurah/Kepala Desa dam Ketua Rt

Menyampaikan informasi indeks resiko kebakaran secara luas, cepat dan tepat sasaran

Info resiko tidak secara detil menyebutkan waktu dan lokasi yang rawan seperti info dari BMKG dan BLH (tidak ada info jelas tentang pediksi cuaca dan peta kerawanan). Bupati

menyampaikan kondisi siaga secara birokratis. Arus informasi tidak berjalan cepat dan mudah menjangkau lapisan masyarakat (Communication).

Jenjang informasi masih terlalu birokratis sedangkan BLHD sebagai sumber utama informasi peringatan dini kebakaran tidak menyampaikan info terkait ke masyarakat secara periodic. Info resiko kebakaran hanya disampaiakan pada bulan-bulan yang dianggap rawan atau musim kemarau panjang (process) 6 (2) : Setiap orang bertanggung jawab terhadap

pengendalian kebakaran lahan dan pekarangan yang dimiliki/digarapnya.

Masyarakat/Warga Mengetahui peraturan ini Aturan ini juga tidak jekas terkait tanggung jawab seperti apa yang harus diperankan masyarakat terkait penyampaian informasi indeks risiko kebakaran (Rule).

7. KOORDINASI

7 (1) : Bupati/Walikota, Camat dan Damang melakukan koordinasi terhadap pengendalian pembukaan lahan dan pekarangan bagi masyarakat dengan cara membakar secara terbatas dan terkendali di wilayahnya masing- masing.

Bupati/Walikota, Camat dan Damang

Melakukan koordinasi Bentuk koordinasi tidak jelas apakah dalam bentuk pertemuan atau kegiatan lain. Di lapangan tidak ada pertemuan khusus membahas pengendalian pembukaan lahan dan pekarangan dan pembakaran terkendali. (Communication)

7 (2) : Lurah/Kepala Desa melakukan koordinasi dengan Pemangku Adat/Damang terhadap pengendalian pembukaan lahan dan pekarangan bagi masyarakat di wilayah desa/kelurahannya.

Lurah/Kepala Desa Melakukan koordinasi Sama seperti baris diatas, tidak ada bentuk kegiatan khusus dalam koordinasi antara kepala desa dan pemangku adat. Di lapangan masyarakat hanya melaporkan aktivitas pembakaran antar pemilik lahan di sebelahnya.

Pasal dan ayat Adressat Perilaku yang diharapkan Perilaku yang terjadi dan analisis 8. PEMBINAAN, PENGAWASAN DAN

PELAPORAN

8 (1) : Gubernur, Bupati/Walikota, Camat melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pembukaan lahan dan pekarangan bagi masyarakat, dengan pembakaran yang terbatas dan terkendali di wilayahnya masing- masing. Gubernur, Bupati/Walikota, Camat Melakukan pembinaan bagi masyarakat

Di lapangan, pembinaan tidak dilakukan merata, hanya terbatas pada kelompok yang dibentuk pemerintah melalui penyuluh pertanian yang berbasis kelompok tani.

8 (2) : Lurah/Kepala Desa dan Pemangku Adat/Damang melakukan pembinaan terhadap Setiap orang yang melakukan pembukaan lahan dan pekarangan bagi masyarakat, dengan pembakaran yang terbatas dan terkendali yang ada di wilayahnya masing-masing.

Lurah/Kepala Desa dan Pemangku Adat/Damang

Melakukan pembinaan bagi masyarakat

Lurah/Kepala Desa dan Pemangku Adat/Damang melakukan pembinaan hanya terbatas pada pengawasan dan peringatan, tidak terkait teknis pembakaran terkendali dan terbatas.(capacity)

8 (3) : Pembinaan teknis berkaitan dengan pemanfaatan indeks resiko kebakaran dalam mencegah bahaya kebakaran dan pembukaan lahan dan pekarangan bagi masyarakat dengan pembakaran yang terbatas dan terkendali serta PLTB dilaksanakan oleh Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan, Dinas Kehutanan dan Badan/Dinas/Instansi teknis terkait lainnya.

Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan, Dinas Kehutanan dan Badan/Dinas/Instansi teknis terkait lainnya.

sda Pembinaan teknis terkait pemanfaatan indeks resiko kebakaran belum terlihat di lapangan (di desa). Kemampuan SDM (capacity) instansi belum memadai serta sosialiasi

(communication) tentang indeks kebakaran yang sangat kurang.

8 (4) : Setiap orang sejak tahun I (pertama) dan selanjutnya dibina menjadi petani menetap.

Petani Petani menjadi petani menetap

Terkait ideology masyarakat yang tidak mudah mengganti budaya yang sudah dilakukan sejak lama

8 (5) : Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan, Dinas Kehutanan dan Badan/Dinas/Instansi teknis terkait lainnya wajib menyampaikan laporan bulanan pembukaan lahan dan pekarangan bagi masyarakat dengan pembakaran yang terbatas dan terkendali serta PLTB secara berjenjang.

Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan, Dinas Kehutanan dan Badan/Dinas/Instansi teknis terkait

Dinas terkait

menyampaikan laporan bulanan

Tidak terealisasi. Hal ini terkait (Capacity) dari staf dinas terkait, sosialiasi (Comunication) dan aturan yang tidak mudah

dilakukan (terlalu administratif) bagi

Pasal dan ayat Adressat Perilaku yang diharapkan Perilaku yang terjadi dan analisis 9. PEMBIAYAAN

Biaya yang diperlukan dalam melaksanakan Peraturan Gubernur ini, dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi, Kabupaten/Kota serta sumber dana lain yang tidak mengikat, sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Pemerintah Kabupaten

Menyiapkan dana

KETENTUAN PENUTUP

10. Peraturan Gubernur ini tidak berlaku bagi

Perkebunan Besar Sawit (PBS) di Kalimantan Tengah.

Perkebunan Besar Sawit

Perkebunan Besar Sawit menurut hasil wawancara dengan satf Manggala Agni ada yang menempati areal yang beronflik dengan lahan adat. Kebakaran perkebunan terkait konflik, bukan karena pembukaan lahan.

11. Peraturan Gubernur ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Gubernur ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Provinsi Kalimantan Tengah

Pihak-pihak terkait Mengetahui ketentuan ini Pihak-pihak berkepentingan engetahui ketentuan ini, tapi masyarakat (sebagai pemilik sumberdaya hutan) mungkin banyak yang belum tahu, sehingga fungsi control menjadi lemah.