• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Isu-Isu Strategis

4.1. Permasalahan Pembangunan

Permasalahan yang ada pada saat ini dan permasalahan yang diperkirakan terjadi 5 (lima) tahun ke depan yang dihadapi Pemerintah Kabupaten Bangkalan perlu mendapat perhatian dalam penyusunan dokumen rencana pembangunan jangka menengah 5 (lima) tahun. Dengan mengetahui permasalahan yang ada selanjutnya akan dirumuskan dalam program dan kegiatan untuk mengatasi permasalahan yang ada.

Potensi ekonomi Kabupaten Bangkalan terutama bertumpu pada 3 (tiga) sektor utama yaitu sektor pertanian, sektor perdagangan, hotel dan restoran serta jasa - jasa. Potensi yang sangat besar tersebut memerlukan upaya - upaya sedemikian rupa sehingga dapat menggerakkan roda perekonomian dan pertumbuhan ekonomi rakyat. Upaya yang dilakukan sangat dipengaruhi baik oleh faktor eksternal maupun internal. Faktor eksternal terdiri dari kebijakan Pemerintah Pusat dalam bidang ekonomi, kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur khususnya kebijakan pengembangan ekonomi wilayah Pulau dan Kepulauan Madura, perkembangan perekonomian di Provinsi Jawa Timur umumnya, serta dinamika hubungan perdagangan internasional. Sebagai contoh mulai berlakunya perjanjian Asean Economic Community (AEC) pada tahun 2015. Tujuan dari AEC adalah terciptanya satu pasar asean (single ASEAN Market), dimana beberapa hal yang diatur untuk memudahkan perpindahan barang, investasi, modal dan tenaga kerja ahli lintas ASEAN.

Tingkat pertumbuhan ekonomi suatu wilayah juga sangat dipengaruhi kondisi non ekonomi berupa situasi sosial politik yang kondusif dan stabil. Sedangkan faktor internal terdiri dari serangkaian upaya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Bangkalan dalam mendukung dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui kebijakan fiskal atau APBD, penguatan kemandirian perekonomian melalui pembinaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), koperasi, industri pengolahan, pariwisata dan perdagangan, serta penyediaan infrastruktur, perbaikan dan pemeliharaan pasar-pasar.

IV-2

Adapun permasalahan pembangunan secara umum yang terjadi di Bangkalan adalah sebagai berikut:

1. Belum Optimalnya Pemenuhan Hak Dasar Masyarakat Utamanya Pendidikan Dan Kesehatan

Pembangunan pendidikan harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu, serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk mengahadapi tantangan sesuai tuntutan perubahan kehidupan local, nasional, dan global. Sampai saat ini masih dirasakan rendahnya tingkat pendidikan penduduk dan rendahnya kualitas pelayanan pendidikan. Adapun permasalahan didalam pembangunan pendidikan di Kabupaten Bangkalan adalah:

a. Belum optimalnya pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan seperti ruang kelas dan gedung sekolah yang rusak

b. Masih adanya anak putus sekolah

c. Belum memadainya kualitas dan kuantitas ketersediaan tenaga pendidik

d. Biaya pendidikan cenderung masih tinggi dirasakan oleh masyarakat e. Relevansi pendidikan dengan dunia kerja masih rendah

Sedangkan permasalahan pembangunan Kesehatan di Kabupaten Bangkalan adalah :

a. Tingginya angkanya kematian ibu dan anak b. Masih ditemukannya balita status gizi buruk

c. Belum optimalnya pemerataan sarana dan prasaran kesehatan

d. Masih kurangnya kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan

e. Pelayanan kesehatan yang terjangkau dan bermutu untuk masyarakat miskin.

f. Upaya pencegahan dan penanggulangan narkoba dan HIV/AIDS 2. Laju Pertumbuhan Ekonomi Yang Relatif Lambat

Dari tahun ke tahun sektor pertanian masih mendominasi PDRB Kabupaten Bangkalan. Struktur ekonomi agraris yang menjadi sektor ekonomi Bangkalan belum mampu mengangkat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bangkalan sehingga masih berada di bawah rata - rata pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Timur.

IV-3

Konstribusi sektor pertanian terhadap PDRB sejak Tahun 2009 sampai dengan Tahun 2012 secara pelan tapi pasti mengalami penurunan, disisi lain sektor Perdagangan, restoran dan Hotel secara pelan dan pasti meningkat cukup signifikan. Ini menandakan adanya perubahan perilaku bagi masyarakat Bangkalan dari masyarakat agraris menjadi masyarakat pedagang dan industrialis dan ini perlu direspon oleh Pemerintah Kabupaten Bangkalan untuk melakukan tindak pelatihan dan pendidikan secara optimal bagi masyarakat, seiring dengan pengembangan kawasan Suromadu, sehingga masyarakat Bangkalan kedepannya bukan hanya sebagai penonton tapi secara langsung sebagai pelaku yang akan ikut menentukan arah pengembangan industri dan perdagangan di Kabupaten Bangkalan.

3. Angka Kemiskinan Relatif Cukup Tinggi Dan Masih Terbatasnya Perluasan Dan Penyediaan Lapangan Kerja

Berdasarkan data dari Tim Nasional Percepatan Pengentasan Kemiskinan (TNP2K) pada Tahun 2012, jumlah Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) di Kabupaten Bangkalan sebanyak 65.532 RTSM atau 403.251 jiwa. Jumlah ini setara dengan 44% penduduk Bangkalan berada di bawah garis kemiskinan. Angka kemiskinan relatif cukup tinggi ini disebabkan beberapa hal antara lain:

a. Pemenuhan kebutuhan dasar yang terjangkau dan bermutu bagi keluarga miskin belum optimal

b. Masih rendahnya kemampuan dan ketrampilan keluarga miskin

c. Aksesibilitas keluarga miskin dalam rangka usaha skala mikro masih rendah

d. Belum optimalnya pemberdayaan keluarga miskin.

Beberapa sektor yang perlu diperhatikan dalam penanganan kemiskinan di Kabupaten Bangkalan adalah :

a. Pengembangan Sektor Koperasi dan UKM, melalui perkuatan modal koperasi, volume usaha koperasi, peningkatan jumlah koperasi utamanya sebagai koperasi sehat dan peningkatan jumlah anggota koperasi.

b. Menumbuh kembangkan koperasi utamanya pada wilayah wilayah pedesaan merupakan bentuk pemberdayan dan pengembangan ekonomi kerakyatan berbasis kemampuan lokal, berkembangnya

IV-4

koperasi pada banyak wilayah akan mendukung kelancaran arus distribusi barang dan jasa serta akan meningkatkan jumlah uanmg yang beredar dan berputar yang akan mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi.

c. Pengembangan BLK sebagai tempat pemberdayaan masyarakat utamanya masyarakat pedesaan yang akan dikembangkan sesuai potensi masing masing wilayah/kecamatan.

d. Pengembangan Industri dan Perdagangan,melalui pengembangan kluster/wilayah industri kecil/kerajinan/industri kreatif bercirikan Madura yang Islami, melalui pengembangan industri dan perdagangan dengan model ini, akan mempermudah pembinaan, pengawasan, sehingga kualitas tetap dapat terjaga serta menghindarkan adanya persaingan yang tidak sehat antar pengusaha kecil/mikro dan menengah pada kluster/wilayah yang dikembangkan.

4. Rendahnya Nilai Investasi Berskala Besar

Pasca beroperasinya Jembatan Suramadu tidak serta merta diikuti dengan masuknya arus modal berskala besar di Kabupaten Bangkalan. Penanaman investasi dalam bentuk industri relatif sedikit, sehingga cakupan penyerapan tenaga kerja relative kecil. Berbagai permasalahan yang menghambat investasi antara lain:

a. kesiapan infrastruktur pendukung seperti jalan, pelabuhan, sumber daya air, listrik

b. Harga lahan untuk kebutuhan industri yang dinilai masih terlalu tinggi oleh dunia usaha yang membutuhkan lahan dalam skala besar

c. Kemudahan dalam pelayanan investasi dan perijinan yang belum optimal.

5. Belum Memadainya Infrastruktur Daerah (Jalan/Jembatan, Sumber Daya Air, Perhubungan, Keciptakaryaan)

Permasalahan di sektor perhubungan antara lain, belum optimalnya infrastruktur sarana dan prasarana perhubungan. Pergeseran moda transportasi dari penyeberangan ujung - kamal ke Jembatan Suramadu belum di dukung oleh layanan transportasi yang memadai.

Selain itu dapat diuraikan bahwa panjang jalan dalam kondisi baik di Kabupaten Bangkalan sampai dengan akhir Tahun 2012 sepanjang 501,26 km atau masih 69% dari potensi panjang jalan yang harus

IV-5

dikembangkan 721,97 Km, demikian pula jumlah jembatan dalam kondisi baik sebanyak 214 buah atau 96% dari jumlah potensi jembatan yang wajib dibangun/dikembangkan sejumlah 223 jembatan.

Kepentingan umum lainnya dimaksudkan untuk pengembangan infrastruktur sarana prasarana pengembangan perekonomian, pelayanan dasar dan pemerintahan.

6. Masih Belum Mandirinya Pemerintah Daerah Dalam Pembangunan Di Daerah

Kemandirian bagi tataran Pemerintahan tercermin dalam kemampuan pembiayaan dengan kempuan dan kekuatan sendiri, tanpa harus bergantung dengan pihak luar. Kemandirian ini dapat dilihat dari beberapa aspek yaitu rasio PAD terhadap APBD, rasio keuangan daerah, optimalisasi PDRB, perimbangan perbandingan pendapatan perkapita dengan kebutuhan hidup masyarakat. Adapun rasio PAD terhadap APBD yang ada di Kabupaten Bangkalan rata-rata sekitar 5,3%. Dimana pada masa yang akan datang dalam kurun waktu 5 (lima) tahun kedepan diharapkan rasio PAD kabupaten Bangkalan pada Tahun 2018 dapat mencapai rata-rata sekitar 6% terhadap APBD.

7. Kurang Optimalnya Pelayanan Reformasi Birokrasi Dan Pelayanan Publik

Permasalahan yang terjadi dalam urusan pemerintahan umum antara lain :

a. Belum optimalnya pelaksanaan Standar Pelayanan Minimum (SPM) dan Standar Operasional Prosedur (SOP)

b. Belum optimalnya penerapan Pola Pengembangan Karir.

4.2. Faktor Penghambat Dan Pendorong Permasalahan