Dijumpainya monopoli dan oligopoli, monopsoni, posisi dominan, dan berbagai bentuk persaingan tidak sehat lainnya dalam dunia perdagangan, adalah merupakan suatu bentuk nyata atas terjadinya defiasi-defiasi pasar.245 Pasar, sebagai sebuah media untuk transfer dan pertukaran barang perdagangan, sebagaimana filosofi kelahirannya, adalah dimaksudkan untuk memfasilitasi agar terjadi sirkulasi dan transfer barang yang bukan hanya mudah,namun juga mensejahterakan masyarakat.
Dengan terjadinya defiasi-defiasi itu, pasar menjadi sebuah media yang tidak sehat, pasar menjadi disfungsional bagi tujuan pensejahteraan rakyat. Padahal, hanya dengan pasar yang sehat, tertata, mengapresiasi etika bisnis, kesejahteraan akan terwujud, sebagaimana yang diobsesikan oleh Adam Smith, dengan adanya pasar yang sehat dengan segala sifat alamiahnya, akan terwujudlah ‘The Wealth of Nation’.
Tetapi, minimal dalam beberapa dekade terakhir – tentunya setelah adanya the rise of capital246 — di Indonesia bisa disaksikan dengan mudah berbagai bentuk defiasi pasar. Monopoli dan posisi dominan adalah di antara contoh defiasi yang sangat nampak. Sehingga, pasar, bukannya mensejahterakan masyarakat, tapi justeru menjadi medium bagi eksploitasi masyarakat banyak untuk kepentingan ‘borjuasi modern’. Di mana, dengan seenaknya pemilik modal akan menentukan harga, membebankan semua biaya kolusi,
245 Pengertian dari beberapa istilah ini semuanya merefer pada Undang Undang RI No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha tidak Sehat (dalam Lembaran Negara RI Tahun 1999 Nomor 3 serta Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3817).
246 Unraian lebih lanjut tentang kapitalism di Indonesia bisa dilihat dalam, Robinson, Richard, The Rise of Capital (North Sydney: Allen & Uwin Pty, Ltd, 1987)
korupsi dan semua cukai secara bulat-bulat kepada masyarakat. Juga, menguasai dan mempermainkan pasar demi profit individu, merupakan fenomena yang tak jarang dijumpai. Muara terakhir dari mata rantai defiasi pasar ini tidak lain dan tidak bukan kecuali penderitaan konsumen dengan segala ketidakberdayaannya.
Fakta ini memaksa kita harus mengakui bahwa model bisnis yang kapitalistik, sangat tidak resisten terhadap berbagai defiasi yang menyebabkan disfungsionalisasi pasar bagi pensejahteraan masyarakat. Sekaligus, ini memaksa kita semua untuk merenungkan dan mereevaluasi pengakuan yang selama ini dipegang bahwa ‘capitalism is the only way to achieve welfare society’.
Dalam konteks ini, diskusi mengenai bagaimana resistensi bisnis Islami dibandingkan dengan bisnis sekular terhadap defiasi pasar terasa sangat relevan. Diawali dengan mengeksplorasi bagaimana etika bisnis dalam Islam, disusul kemudian hal serupa dalam bisnis sekular (kapitalis dan sosialis), tulisan ini memberikan beberapa catatan tentang bagaimana kelebihan sistem bisnis Islami dalam hal resistensinya terhadap defiasi pasar.
2. Tradisi Berdagang dalam Perspektif Sejarah
Perilaku bisnis yang dalam artikel ini disamakan dengan istilah jual beli atau perdagangan, merupakan salah satu aktivitas yang sudah sangat tua usianya dalam sejarah manusia. Hampir dapat dikatakan bahwa semenjak masyarakat manusia terbentuk, jual beli mulai exist. Dia merupakan salah satu aktivitas yang sudah melekat dengan sifat sosialitas manusia, manusia adalah homo homini sosius, zoon politicon, atau, madaniyyun bi al-thab’i, yang kesemuanya menuju pada satu makna ialah bahwa manusia itu adalah makhluk yang selalu bermasyarakat. Adapun bahwa konsep tentang mata uang baru muncul kemudian, itu memang benar. Namun, kebiasaan untuk menukarkan barang dengan barang lain (barter), yang itu sudah memenuhi definisi dari jual beli, sudah dipraktikkan sejak masa pra sejarah.247
Semakin tuanya usia kehidupan manusia, perilaku jual beli mengalami perkembangn yang sangat pesat, sejalan dengan laju perkembangan peradaban manusia secara keseluruhan. Awal mil-lennium ketiga, dunia perdagangan sudah memasuki sebuah era yang tanpa didapat preseden sebelumnya, ialah era yang dikenal dengan era pasar bebas (free market). Dalam perkembangannya, dunia mod-ern mencatat bahwa ada berbagai model bisnis dengan kelemahan dan kelebihan masing-masing. Fakta juga menunjukkan bahwa cross culture relationship antar berbagai bangsa telah memainkan kontribusi yang signifikan terhadap terbentuknya konsep dan sistem perdagangan yang berkembang saat ini.
3. Bisnis Menurut Hukum Islam
Apa dan bagaimana sistem bisnis (jual beli) dalam Islam, sangatlah berbeda dengan sistem bisnis sekular. Sistem perdagangan Islam dibangun di atas dasar wahyu (revelasi). Namun bukan berarti sistem ini rigid dan eksklusif dari setiap perubahan. Karena, di dalam membangun dan mengembangkan sistem perdagangan Islam, turut berperan penting apa yang disebut filsafat hukum Islam, khususnya dalam masalah filsafat bisnis Islami. Hal ini meniscayakan adanya akomodasi atas perubahan sosial dalam bisnis Islami.
Dari segi setting sejarah, Islam lahir dalam sebuah komunitas yang memandang perdagangan sebagai suatu profesi yang bukan saja mayoritas, namun juga merupakan profesi yang prestisius ketika itu. Al-Qurán dan al-Hadits banyak merekam bagaimana aktivitas perdagangan diapresiasi sebagai sebuah profesi yang ideal. Al-Tijarah adalah sebuah istilah yang di dalam al-Qur’an disebut 8 kali, dan di dalam hadist tidak terhitung jumlahnya, demikian juga dengan kata al-Bai’, al-Qur’an menyebutkan tidak kurang dari 7 kali. Tidaklah berlebihan jika Islam memiliki ketentuan yang sangat detail tentang
masa Fir’aun, itu berarti jauh sebelum manusia mengenal tulisan dalam penertian seperti sekarang. Heilbroner, Robert L, Tokoh-Tokoh Besar Pemikir Ekonomi, terjemah, Boentaran (Jakarta : UI Press, 1986), hlm. 8.
masalah perdagangan. Untuk memahami lebih lanjut tentang bisnis Islami dalam hubungannya denga defiasi pasar, perlu dipahami tentang konsep materi dan mekanisme dalam bisnis Islam.
4. Kosep Materi/ Benda
Dalam konsep jual-beli Islami, materi yang diperdagangkan harus memenuhi kriteria halal, yaitu status hukumnya boleh, tidak terlarang. Konsep tentang materi yang diperdagangkan tetap demikian adanya, dan tidak terkait dengan bagaimana mekanisme atau cara-cara jual beli yang ditempuhnya. Jadi, materi atau objek yang diperdagangkan harus memenuhi syarat halal,248 yakni secara syari’ah materi tersebut tidak dilarang (haram) untuk dikonsumsi. Ada dua macam halal dalam konsep bisnis Islami, yaitu :