• Tidak ada hasil yang ditemukan

a. Sistem Kapitalis

Dalam dokumen Drs. Agus Triyanta, MA., MH., Ph.D (Halaman 163-167)

Berbeda dengan etika bisnis Islami, etika bisnis dalam kapitalisme relatif tidak banyak diatur. Hal itu disebabkan karena bisnis kapitalis dilandasi oleh falsafah liberal sebagaimana yang di bawah nanti akan diuraikan secara panjang lebar.

Adapun apabila dibandingkan dengan konsep bisnis Islam, terdapat perbedaan dan kesamaan sebagai berikut :

254 Abdul Mannan, Teori dan Praktek Ekonomi Islam, terjemah, Nastangin (Yogyakarta : PT Dana Bhakti Wakaf, 1995), hlm. 166-167.

1. Konsep substansi / barang

Tidak sebagaimana dalam bisnis Islam dikenal adanya barang yang haram (baik secara maknawiy maupun dzatiy), maka di dalam sistem kapitalis, tidak dikenal adanya keharaman. Kalaupun di tempat-tempat tertentu melarang jual-beli barang-barang tertentu, itu hanyalah kebijakan lokal yang bukan representasi dari sistem kapitalis itu sendiri. Dilarangnya praktik jual-beli obat terlarang, minuman keras, sarana perjudian, adalah inisiatif lokal/regional dan bukan orisinal dari sistem kapitalis.

2. Konsep tentang mekanisme

Dalam persoalan ini, bisnis Islam memiliki tiga prasyarat sedangkan dalam bisnis kapitalis, hanya ada satu prasyarat yang harus dipenuhi, ialah, kerelaan para pihak. Sistem kapitalis menjamin sepenuhnya asas kebebasan berkontrak. Selama mereka saling rela, kesepakatan-kesepakatan yang dalam sistem bisnis Islam dilarang, dalam bisnis kapitalis tidak menjadi masalah. Sehingga, kalaupun sebuah praktik bisnis itu eksploitatif, asalkan ada kerelaan, hal itu tidak mnjadi masalah. Sehingga bisnis dengan spekulasi tinggi pun, tetap tidak ada halangan untuk dilakukan. Itu semua atas dasar kerelaan.

Adapun mengapa etika perdagangan dalam sistem kapitalis seperti itu, sepenuhnya dapat dipahami dari “ general principles” atau asas-asas sistem mereka, sebagaimana diuraikan di bawah ini : 1. Liberalisme individu adalah sebuah hak yang sangat tinggi yang

harus dihormati oleh setiap orang, termasuk juga negara. Inilah yang kemudian bisa disebut juga dengan individualisme. Suatu ciri besar dari budaya perdagangan dunia Barat yang biasa dipraktikkan di negara ini, adalah individualis dan kapitalis. Hal itu merupakan karakter yang rentan terhadap kritik. Ciri itu menjadikan sistem perdagangan Barat dianggap harus banyak bertanggung jawab terhadap timbulnya akumulasi harta yang bersifat sektoral, tereksploitirnya pihak ekonomi lemah dan pihak yang tidak mempunyai bargaining power. Untuk dapat memahami karakter sistem

perdagangan/bisnis Barat, perlu penulis paparkan tinjauan filosofis terhadap kronologi perkembangan bisnis sekular di negara Barat. Menurut Weber, kebangkitan etos kerja di negara Barat dipicu oleh adanya Protestan etik. Ajaran agama Protestan menyerukan kepada umatnya untuk giat bekerja, karena itu merupakan salah satu syarat untuk bisa masuk surga. Meski thesis Weber ini tidak bebas dari kritik, namun menurut hemat penulis, ini relatif dapat dipercaya (ingat teologi penjajahan). Protestan etik ini akhirnya mendorong lahirnya kreativitas dan etos kerja individu. Etos kerja dan kreativitas yang menyala-nyala itu akhirnya menjadikan para pribadi harus berbuat untuk individunya masing-masing. Maka lahirlah kemudian ‘kebebasan individu’. Dari sini sebenarnya, hadirnya konsep liberalisme perdagangan/pasar sudah bisa diprediksikan.

2. Sebagai akibat dari individualisme, maka persaingan bebas menjadi suatu prinsip yang tak terelakkan. Kebebasan tersebut akhirnya mewujudkan apa yang kemudian disebut dengan persaingan tanpa sekat. Dalam konteks persaingan bebas antar individu itulah, ‘keuntungan individu’ merupakan keniscayaan untuk selalu menjadi tujuan. Wajarlah jika kemudian muncul prinsip ekonomi: “dengan modal sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya”.

Adam Smith, pengamat ekonomi yang tersohor lewat karyanya The Wealth of Nations justru membenarkan mekanisme pasar yang seperti itu. Artinya, persaingan bebas itu akan mewujudkan bentuk pasar yang ideal, karena hukum permintaan dan penawaran akan berproses sedemikian rupa sehingga akan terjadi kondisi pasar yang baik. Jika sebuah barang habis di pasaran yang oleh karenanya harga akan menjadi tinggi, maka setiap orang tentu akan berlomba memproduksinya untuk mendapatkan keuntungan yang banyak. Secara otomatis, harga akan menjadi turun karena kemudian terjadi over produksi. Demikian pula sebaliknya, jika barang terlalu banyak di pasar dan karenanya harganya sangat murah, maka

orang cenderung akan menekan produksi sehingga barang yang beredar akan berkurang. Akibatnya, harga barang akan naik dan menjadi normal kembali. Dengan mekanisme demikian itu, tanpa disengaja orang-orang telah mensjahterakan bangsa, lebih dari apabila mereka diperintahkan untuk mengusahakan kesejahteraan.256

Maka kemudian, dengan pengaruh dan inspirasi dari pola pasarnya Adam Smith, survival for the fittest-nya Charles Darwin, atau mungkin juga dengan utilitarianisme-nya Bentham, filsafat bisnis Barat menjadi sekular dan memberikan seluas-luasnya liberasi kepada individu untuk bersaing secara free. Maka, laizzes faire, laizzes fasser de loi le monde meme menjadi sebuah gambaran atas apa yang berjalan dengan bisnis Barat.

3. Kesuksesan individu di dalam bisnis diukur dengan satu parameter, ialah profit atau keuntungan materiil-finansiil. Bukan dengan parameter lain. Prinsip ini, bagaimanapun juga, kemudian menafikan parameter etis dan kepentingan sosial, karenanya, nilai sosial dan humanisme menjadi tidak popular. Kalaupun dalam kondisi tertentu pengabdian sosial dan tindakan untuk humanisme dilakukan, itupun tetap dalam kerangka dan kepentingan untuk mempertinggi keuntungan finansiil tersebut, yang mesti saja diukur dengan cost and benefit consideration.

Jadi, dalam sistem bisnis Barat, hanya pada awalnya saja didasari etika religiousitas yang berbasiskan Protestan –setidaknya menurut Weber, namun selebihnya bisa dikatakan sebagai bisnis sekular yang bebas nilai (values free). Kalaupun ada beban-beban moral dan aturan-aturan tertentu, itu disadari setelah bisnis yang berorientasi kapitalistik itu melahirkan banyak masalah dan menyisakan banyak korban akibat eksploitasi ekonomi.

256 Hart, Michael, H, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, terjemah, Mahbub Djunaidi (Jakarta: Pustaka Jaya, 1994), hlm. 212-215.

Dalam dokumen Drs. Agus Triyanta, MA., MH., Ph.D (Halaman 163-167)