Ini adalah sebuah konsep yang unik dalam Islam bahwa kerja (produktivitas) tidak akan pernah dikaitkan dengan variabel kekayaan. Islam memandang bahwa produktivitas adalah sebuah masalah dan kekayaan adalah masalah yang lain. Artinya, setiap muslim itu dituntut untuk bekerja keras tanpa ada limitasi yang menghentikan
156 Ali Syariati mengkritik keras kemajuani ndustri yang telah memajukan ekonomi namun menyebabkab krisis kemanusiaan manusia modern. Sependapat dengan Herbert Marcuse. Lihat, Marcuse, Herbert, 1964, One Dimensional Man (London: Routledge & Kegan Paul)
proses kerja itu. Kemalasan adalah sebuah musuh utama pribadi muslim dalam kondisi apapun juga. Islam mengatakan, bahwa begitu ada kesempatan maka sebuah pekerjaan harus segera ditunaikan.157
Dalam implementasi kehidupan bernegara hal itu dapat dipahami bahwa sekalipun jaminan ekonomi itu diberikan kepada orang yang tidak mampu atau orang yang telah tidak mampu lagi bekerja, maka hal itu tidak akan menjadi faktor pemicu munculnya kemalasan dalam bekerja. Mengapa demikian? Hal itu dikarenakan prinsip dan etika kerja dalam Islam menekankan bahwa bekerja (al-‘ amal/ al-kasb) adalah bagian dari amal shalih. Kerja keras harus dilakukan meskipun kondisi seseorang itu telah mapan atau bahkan berlebih dari segi ekonomi.
Meski peminta-minta memiliki hak untuk diberi derma maupun tunjangan oleh negara, namun Islam tetap membenci perbuatan meminta-minta. Sebuah hadist Nabi yang berkaitan dengan itu menyatakan: “ Tiada seorang makan makanan lebih baik dari hasil usahanya sendiri. Nabi Daud a.s. juga makan dari hasil tangannya sendiri”.158 Al-Qur’an juga memberikan isyarat bahwa seseorang harus giat bekerja harus menyeimbangkan antara ibadah dan bekerja. Seruan al-Qur’an sangat jelas, “Dan apabila shalat telah ditunaikan segeralah menyebar di muka bumi untuk mencari rezeki yang Allah berikan”159. Sebaliknya, pekerjaan meminta-minta dikecam dengan sebuah hadist Nabi yang menyatakan bahwa tangan yang di atas (orang yang memberi) itu lebih baik dari pada orang yang diberi atau meminta.160
Pada prinsipnya, Islam sangat membenci kemalasan ketidakmauan untuk bekerja keras. Seorang muslim yang baik adalah yang selalu bersedia untuk bekerja keras dan tidak pernah mengenal putus asa meskipun kekayaan sudah berlimpah. Karena bekerja
157 QS. Alam Nasyrah: 7-8.
158 Hadith riwayat Bukhari (al-Khin, Nuzhah, Jilid. 1, hlm. 399)
159 QS.al-Jumu’ah: 10.
dilakukan sebagai sebuah bentuk amal shalih dan bukan untuk kekayaan.
Konsep semacam itulah yang sebenarnya sangat penting dan sangat menarik untuk dicermati. Karena apabila dikaitkan dengan sustainabilitas pertumbuhan negara, maka penanaman mental yang semacam itu merupakan pendorong bagi laju pertumbuhan ekonomi dan tingginya pendapatan per kapita. Seorang warga negara akan dihargai karena etos kerjanya dan bukan karena kekayaannya. Inilah sebenarnya maskot produktivitas yang akan sangat relevan dengan tuntutan era global dari kompetisi ekonomi.
Melalui prinsip semacam itu Islam berambisi bahwa meskipun sebuah negara itu telah melampaui standar kecukupan ekonomi atau bahkan melimpah namun tidak ada alasan bagi seorang warga negara pun untuk hanya berdiam diri menggantungkan jaminan sosial yang diberikan oleh negara. Setiap orang harus tetap giat bekerja.
Dalam hal ini, Islam tidak berlawanan dengan kapitalisme yang memiliki etos persaingan (survival for the fittest). Ayat dalam al-Qur’an dengan jelas menyatakan bahwa umat harus berkompetisi untuk tujuan yang lebih baik:
“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari Kiamat).”161
Ini sekaligus memberikan prinsip moderasi Islam, ada unsur kapitalisme yang diterima Islam dengan tanpa melepaskan keseluruhan dari konsep sosialisme.
3. Pelarangan terhadap Konsumsi yang berlebihan.
Dalam kaitannya dengan pemanfaatan sebuah fasilitas atau sumber daya alam atau apapun juga yang merupakan produk dari
161 Toto Tasmara, dalam bukunya yang berjudul Etos Kerja dalam Islam, (Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf, 1994, h. 37), meletakkan ayat ini dalam konteks insting bertanding dan bersaing dalam seala lapangan kebajikan untuk meraih prestasi.
sebuah kerja, Islam menawarkan sebuah prinsip yakni penghindaran terhadap penghamburan (tabdzir). Setiap warga negara meskipun dalam kondisi tertentu mereka bisa menikmati semua hasil kerja dengan sangat mudah, berbagai fasilitas tersedia, tetap saja setiap pribadi muslim dilarang untuk mengkonsumsi atau memanfaatkan sesuatu secara berlebihan. Tabdzir inilah yang dalam kehidupan negara modern sering diabaikan, bagaimanpun juga akan merupakan pemborosan konsumsi yang pada gilirannya pemborosan ini akan berimplikasi juga pada disefisiensi dari anggaran negara.
Dalam etika konsumsi Islam tidak ada alasan apapun bagi tindakan disefisiensi konsumsi atas produk tertentu atau atas sumber daya tertentu. Bukan karena seseorang telah mampu atau diberikan jaminan sosial sehingga mampu memperoleh barang konsumsi dengan mudah sehingga yang bersangkutan memiliki alasan untuk melakukan disefisiensi. Prinsip ini merupakan jaminan atas sustainabilitas pertumbuhan negara agar sebuah negara tetap bisa mempertahankan efisiensi konsumsi atas rakyatnya meskipun kemakmuran telah terwujud.
Maka kalau sebuah negara yang dalam kondisi miskin menuntut rakyatnya agar melakukan efisiensi dalam segalanya maka dalam Islam, bukan hanya negara miskin saja yang harus berlaku semacam itu namun negara kaya sekalipun, tidak akan pernah memiliki justifikasi untuk melakukan pemborosan hanya karena beralasan bahwa ada cukup dana (anggaran) untuk melakukan pemborosan itu.
Ini adalah problem serius yang dialami oleh banyak negara maju, di mana karena warga merasakan adanya jaminan sosial dan mereka merasa mendapatkannya dengan mudah, maka mereka akan cenderung mengkonsumsi berbagai barang dengan cara yang boros.
Itu beberapa prinsip yang bisa dianggap sebagai landasan nilai bagi perwujudan negara kesejahteraan dalam Islam. Dengan adanya itu semua maka kritik yang ditujukan kepada konsep dan praktik
Negara Kesejahteraan barat modern, yakni dengan memberikan tunjangan sosial bagi rakyat dalam sebuah negara yakni tentang ketiadaan sistem nilai yang akan menghindarkan sebuah negara menjadi bangkrut dalam praktik jaminan sosial ini, telah dijawab oleh sistem kenegaraan Islam.
Dalam bab berikut ini akan diuraikan beberapa tulisan yang membahas, Wakaf Produktif: dari Muamalah Klasik Menuju Inovasi Kontemporer; Pemberdayaan Zakat Bagi Kesejahteraan Umat dan Kaitannya dengan Pajak; Sertifikasi Halal Sebagai Bentuk Perlindungan Konsumen Muslim; Apakah Hak Kekayaan Intelektual Dikenal Dalam Hukum Islam?; Anti Monopoli Bisnis dalam Islam; dan Konsep Badan Hukum Ekonomi dalam Islam.