• Tidak ada hasil yang ditemukan

Antropologi dan Studi Islam

Dalam dokumen Islam dan Ilmu Sosial Humaniora (Halaman 52-63)

Studi agama yang menggunakan antropologi sebagai landasan metodologi baru-baru ini muncul. Agama-agama yang ada secara empiris akan dapat dilihat serat-seratnya dan latar belakang mengapa agama didirikan dan dirumuskan melalui metode antropologi. Antropologi menyelidiki hubungan antara agama dan berbagai organisasi sosial dalam masyarakat (Nata, 2001).

Dalam perkembangannya, antropologi dapat diketahui melalui empat periode (Bernard, 1994). Empat periode itu sebagai berikut.

1. Periode pertama berlangsung dari abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-19. Pada masa ini, ditemukannya dunia baru yang sekarang kita kenal sebagai benua Afrika, Australia, Asia, dan Amerika, yang mendorong bangsa-bangsa Eropa Barat, khususnya pelaut, pengelana, penyiar agama, dan saudagar, untuk belajar tentang masyarakat adat yang menurut mereka unik. Bentuk tubuh, warna kulit, bahasa, dan artefak budaya yang berbeda dengan budayanya sendiri merupakan contoh keunikan.

2. Periode kedua berlangsung dari abad ke-19 hingga abad ke-20. Fase kedua ini dibedakan dengan koleksi dan integrasi karya-karya tentang budaya manusia yang tersebar di seluruh dunia.

3. Periode ketiga berlangsung dari abad kedua puluh sampai abad ketiga puluh satu. Periode ini mencakup negara-negara Asia dan Afrika.

4. Periode keempat dimulai setelah tahun 1930-an. Selama periode ini, banyak prosedur dan konsep dikembangkan untuk alasan praktis, seiring dengan berkembangnya jangkauan analisis dan metodologi penelitian lapangan.

Antropologi didefinisikan sebagai ilmu tentang manusia, khususnya tentang asal usul, berbagai corak jenis tubuh, praktik, dan kepercayaan masa lalu. Edward Taylor menggambarkan antropologi sebagai konsekuensi dari sikap yang memperoleh dan menyebarkan pengetahuan.

Manusia dapat mengatur ulang domain alami mereka berkat bakat manusia yang luar biasa. Definisi lain yang dikemukakan oleh para antropolog adalah James L. Peacock, yang menyatakan bahwa antropologi berfokus pada penggambaran umat manusia dalam bentuk keragaman yang komprehensif (M. D. Huda, 2016).

Dalam perjalanannya, menurut Koentjaraningrat (1980), spesialisasi antropologi terbagi dua, yaitu sebagai berikut.

1. Antropologi Fisik

Antropologi fisik atau paleontologi diartikan sebagai asal mula manusia, evolusinya, dan sejarahnya. Paleontologi ialah ilmu yang mendalami asal mula manusia dan evolusi manusia dengan mengkaji fosil-fosil. Antropologi fisik terfokus pada segi fisik manusia.

2. Antropologi Budaya a. Arkeologi

Arkeologi ialah ilmu yang mempelajari kebudayaan (manusia) masa lampau melalui studi sistematis terhadap data fisik yang disisakan. Studi

sistematis mencakup penemuan, dokumentasi, analisis, dan interpretasi data yang berwujud artefak (budaya bendawi, seperti kapak batu dan bangunan candi), dan ekofak (benda lingkungan, seperti batuan, rupa muka bumi, dan fosil). Secara spesifik, arkeologi mendalami budaya masa lampau yang telah berumur tua, baik pada era prasejarah (sebelum diketahui tulisan), maupun pada masa sejarah (saat adanya fakta-fakta tertulis). Pada perkembangannya, arkeologi juga dapat mendalami budaya era sekarang sebagaimana dipopulerkan dalam studi budaya bendawi modern (modern material culture).

b. Etnologi

Etnologi ialah ilmu yang mendalami asas kebudayaan manusia di dalam kehidupan masyarakat suku bangsa di penjuru dunia, baik mendalami cara berpikir maupun berperilaku. Batasan-batasan kelompok etnik sebagai segi-segi penegas yang penting bukannya ‘hal-hal’ budaya di dalam batasan-batasan itu. Suatu kelompok etnik diketahui bukan hanya dari budayanya saja, melainkan perilaku mereka perlu dipahami.

c. Etnografi

Etnografi ialah penggambaran adat kebiasaan. Etnografi ialah metode penelitian yang memakai pengamatan langsung atas aktivitas manusia dalam konteks sosial dan budaya sehari-hari. Etnografi berupaya untuk memahami sejumlah kekuatan apa saja yang menjadikan manusia mengerjakan sesuatu. Para etnografer ini akan terfokus jika memandang seseorang yang menyatakan suka makanan sehat, tetapi memesan secangkir ice blended coffee dengan cream berlimpah. Hal ini seperti pernyataan Eric Arnould, profesor Marketing dari University of Nebraska,

“Ethnography is a way to get up close and personal with consumers.”

Realitas agama dan budaya dapat dikaitkan karena agama tidak berada dalam ruang hampa yang selalu orisinal. Menolak hubungan antara agama dan realitas budaya berarti mengingkari realitas agama itu sendiri, yang selalu bersinggungan dengan kemanusiaan dan tentu saja dikelilingi oleh

budaya. Realitas seperti itu juga menyiratkan bahwa kebangkitan agama di masyarakat, baik dalam wacana maupun dalam konteks sosial, menunjukkan adanya faktor konstruksi manusia. Pernyataan ini tidak menyiratkan bahwa agama hanyalah buatan manusia, melainkan mata rantai yang tidak dapat diputus antara konstruksi Tuhan, seperti yang diungkapkan dalam kitab suci, dan konstruksi manusia atas terjemahan dan interpretasi nilai-nilai sakral agama yang diwujudkan dalam praktik ritual keagamaan (M. D. Huda, 2016).

Ketika manusia melakukan interpretasi terhadap ajaran agama, mereka dipengaruhi oleh wilayah budaya primordial yang telah tertanam di dalamnya. Hal ini dapat menjelaskan mengapa penelitian agama berbeda antara satu warga dengan warga lainnya. Studi banding Islam di Indonesia dan Maroko yang diulas oleh Clifford Geertz misalnya, adanya pengaruh budaya dalam mengendalikan Islam. Di Indonesia, Islam telah menjadi agama yang sinkretis, sedangkan di Maroko Islam memiliki karakter kekerasan dan gairah. Perbandingan menunjukkan bagaimana manifestasi realitas agama sangat dipengaruhi oleh wilayah budaya.

Antropologi sebagai ilmu yang menekuni manusia, sehingga sangat berarti menguasai agama (M. D. Huda, 2016).

Anthony F. C. Walance menggambarkan agama sebagai komponen seremonial dengan pembenaran mitologis yang memanggil kekuatan supernatural untuk mempengaruhi atau mencegah perubahan dalam situasi manusia atau alam. Konsep ini mengandung pengakuan bahwa jika manusia tidak mampu memecahkan kesulitan yang menimbulkan kecemasan, mereka berusaha untuk melakukannya melalui penggunaan kekuatan supranatural. Setelah itu, ritual keagamaan dilakukan, yang Walance lihat sebagai manifestasi dari agama utama atau ‘agama sebagai tindakan’. Agama didefinisikan dalam konteks ini sebagai ‘keyakinan dan pola perilaku yang digunakan orang untuk mengelola bagian-bagian alam yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia sendiri’. Oleh karena itu, agama merupakan komponen dari semua masyarakat (Haviland, 1986).

Pada hakikatnya, tiap kebudayaan merupakan unik atau tidak sama dengan kebudayaan yang lain. Tiap warga memiliki kebudayaan masing-masing dan tiap agama untuk bisa berpijak di bumi hidup serta tumbuh dan lestari dalam masyarakat haruslah jadi pedoman yang diyakini kebenarannya untuk kehidupan suatu masyarakat. Hal itu juga harus mampu mengubah masyarakat untuk dibawa ke arah cita-cita sosial sebagaimana yang diidealkannya secara doktrinal (M. D. Huda, 2016).

Agama harus menjadi budaya komunal agar dapat bertahan, berkembang, dan berkelanjutan dalam masyarakat. Karena setiap masyarakat memiliki budaya yang menjadi pedoman bagi penguatan lingkungannya, yang meliputi tuntutan etiket biologis, sosial, dan integratif (M. D. Ridwan, 2001).

Secara global, studi agama dalam antropologi dapat dikelompokkan ke dalam empat kerangka teoretis, yaitu: intellectualist, structuralist, functionalist, dan symbolist. Strukturalis, fungsionalis, dan simbolis muncul dari Emile Durkheim. Buku Durkheim, The Elementary Forms of the Religious Life, telah menginspirasi banyak orang dalam memandang agama. Dengan ini, jika agama dipandang dan dibutuhkan sebagai kebudayaan, yakni sebagai nilai-nilai budaya dari masyarakat yang distudi, agama dibutuhkan sebagai sebuah panduan yang dipercayai kebenarannya oleh masyarakat tersebut, serta panduan bagi kehidupan tersebut dipandang sebagai suatu yang suci dengan sanksi-sanksi gaib sesuai dengan aturan dan peraturan keagamaan yang dipercayai (M. D. Huda, 2016).

Dikatakan bahwa pendekatan antropologis dalam mendalami agama dapat dimaknai sebagai salah satu usaha dalam mempelajari agama dengan cara memandang bentuk praktik keagamaan yang bertumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Dengan pendekatan ini, agama terlihat intim dan dekat dengan permasalahan-permasalahan yang ditemui manusia dan berusaha untuk memaparkan dan menyuguhkan solusinya.

Dengan kalimat lain, cara-cara yang dipergunakan dalam disiplin ilmu antropologi dalam memandang suatu permasalahan dipergunakan pula untuk mendalami agama (Nata, 2001).

Antropologi, sebagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan manusia, menjadi penting dalam mempelajari agama. Antropologi adalah studi tentang orang dan perilaku mereka untuk memahami perbedaan budaya.

Dengan perspektif yang komprehensif dan dedikasi antropologi untuk pemahaman manusia, antropologi adalah ilmu penting untuk studi agama dan hubungan sosialnya dengan banyak budaya. Nurcholish Madjid berpendapat bahwa perspektif antropologis sangat penting untuk mempelajari Islam karena gagasan manusia sebagai ‘khalifah’ (wakil Tuhan) di bumi misalnya, merupakan lambang penting status manusia dalam Islam (M. D. Huda, 2016).

Agama ditujukan untuk kebutuhan manusia. Dengan ini, sejatinya permasalahan-permasalahan manusia merupakan permasalahan agama.

Dalam Islam, manusia dicitrakan sebagai ‘khalifah Allah’ di muka bumi.

Secara antropologis, pernyataan ini memiliki arti bahwa sejatinya kenyataan manusia menjadi unsur kenyataaan ketuhanan. Dari sini, tampak betapa studi mengenai manusia yang itu menjadi sentral atensi antropologi, menjadi amat urgen (M. D. Huda, 2016).

Dalam pandangan Dawam Raharjo (via M. D. Huda, 2016), antropologi dalam konteks ini, risetnya lebih mempergunakan observasi langsung, bahkan memiliki sifat partisipatif. Dari sini muncul simpulan-simpulan yang memiliki sifat induktif sebagai imbangan pendekatan deduktif sebagaimana dipergunakan dalam observasi sosiologis. Dawam menyatakan juga bahwa riset antropologis yang induktif dan grounded, yaitu terjun ke lapangan tanpa berpedoman pada atau setidak-tidaknya berusaha memerdekakan diri dari belenggu teori-teori formal yang pada dasarnya sangat abstrak sebagaimana yang dikerjakan di bidang sosiologi dan lebih-lebih ekonomi yang menggunakan model matematis, banyak juga menyuguhkan kontribusi kepada riset historis.

Dalam penerapannya, bermacam riset antropologi agama dapat disuguhkan kaitan yang positif antara kepercayaan agama dan keadaan ekonomi-politik. Kelompok masyarakat yang kurang mampu dan golongan miskin yang lain, pada galibnya lebih terfokus kepada aksi

keagamaan yang memiliki sifat menjanjikan perubahan tatanan sosial kemasyarakatan. Orang kaya lebih condong untuk menjaga tatanan masyarakat yang telah mapan secara ekonomi karena hal itu memberi keuntungan padanya (Abdullah, 2002).

Dalam mengerjakan risetnya, Geertz mempergunakan riset dengan pendekatan kualitatif. Riset ini dilandasi pada sejumlah data yang dihimpun melalui interview, observasi (survei) dan riset grounded research, yaitu riset yang perisetnya ikut serta dalam kehidupan masyarakat yang distudinya. Dengan ini, peneliti tidak berawal dari suatu teori atau hipotesis khusus yang hendak diuji kevalidannya di lapangan. Seorang periset datang ke lapangan tanpa ada prakonsepsi apa pun atas gejala keagamaan yang akan ditemuinya. Gejala-gejala itu kemudian dianalisis atau ditafsirkan dengan mempergunakan kerangka teori spesifik (Nata, 2001).

Dalam studi antropologi mengenai Islam, telah dikerjakan oleh para pemikir, baik pemikir dari Barat maupun pemikir muslim itu sendiri. Di antaranya ialah Clifford Geertz dalam karyanya The Religion of Java yang ditulis pada awal tahun 1960-an. Karyanya ini menyuguhkan sumbangan yang luar biasa. Dari sisi metodologi, banyak faedahnya yang bisa diperoleh. Sejatinya, masih banyak lagi karya Geertz yang lain, seperti Tafsir Kebudayaan, After of the Fact, Politik Kebudayaan Islam serta karya-karya Geertz yang lainnya (M. D. Huda, 2016).

Jauh sebelum antropologi Barat, ilmuwan di dunia Islam sudah berkembang, seperti tokoh Muslim Abu Rahyan Muhammad Ibn Ahmad al-Biruni al-Khawarizmi, yang lahir pada Dzulhijjah 362 H/September 973 M dan meninggal pada 1048 M. Menyelesaikan studi sejarah, matematika, fisika, astronomi, kedokteran, linguistik, geografi, dan filsafat. Dia terkenal karena menulis dan menerjemahkan beberapa publikasi tentang budaya India ke dalam bahasa Arab. (M. D. Huda, 2016).

Al-Biruni memperoleh gelar pakar antropologi yang terawal dengan karyanya yang terkenal, Kitab al-Hind. Ia mengerjakan riset selama 13

tahun (1017-1031). Metode yang dipergunakan al-Biruni memungut bahan dari sumber Hindu. Ia mendalami bahasa Sanskerta selain sumber-sumber sekunder, yaitu sejumlah karya terjemahan pakar Arab dan Persia. Ia menyuguhkan deskripsi peradaban India seperti yang digambarkan orang India sendiri, sehingga karyanya dapat mencukupi kriteria dan untuk era itu dipandang sebagai studi yang terbaik tentang agama Hindu, sains, dan adat istiadat India pada abad pertengahan.

Selanjutnya, Ibn Batutah (1304-1337) dengan bukunya, Tuhfah al-Nuzzarfi Qara’ib Amsar wa ’Ajaib Asfar, Mas’udi dan Waliyuddin ’Abd al-Rahman Ibn Muhammad Ibn Abi Bakr Ibn al-Hasan Ibn Khaldun dengan karyanya yang populer, yakni Muqaddimah (M. D. Huda, 2016).

Akbar. S. Ahmed, seorang antropolog dan ahli media massa muslim serta komentator mengenai masalah keislaman, menulis buku Toward Islamic Antropology Defenition, Dogma, Direction (1988). Buku ini adalah inspirasi untuk serial Televisi Living Islam dan karya yang bertitel The Future of Antropology (1990) bersama Chris Sorne. Dia menjadi orang Pakistan pertama terpilih sebagai anggota Council of Royal Antropological Institut dan telah diberi penghargaan Star or Excelence sebagai kehormatan akademis oleh pemerintah Pakistan (M. D. Huda, 2016).

Sejatinya, usaha untuk mengislamisasikan antropologi ini telah banyak dikerjakan oleh para pakar. Misalnya, Dawam Rahardjo. Dalam pandangannya, untuk mengerjakan Islamisasi pada disiplin antropologi ini dinyatakan dalam tiga fase (M. D. Huda, 2016). Tiga itu sebagai berikut.

1. Sejumlah teori antropologi itu harus dikembangkan melalui ajaran Islam itu sendiri. Teori ini bisa memiliki sifat teori dasar atau grand theory, dengan mengembangkan teori jangka menengah sehingga berbagai hipotesis dapat diformulakan. Dalam Al-Qur’an, disebutkan bahwa Allah SWT mengharapkan lahirnya umat yang menjadi syuhada

’ala an-naas (saksi atas manusia). Fungsinya antara lain dapat dikonkretkan melalui riset-riset empiris. Dalam konteks ini, perlu

dikembangkan riset antropologis mengenai keadilan musyawarah, takwa, ta’awun, amal saleh, dan lainnya.

2. Untuk mampu memformulakan sejumlah teori dasar itu, sangat diperlukan ketajaman pandangan dan daya kritis yang tinggi. Teori kritis tidak hanya menjadikan alat sebagai rekayasa sosial dan alat legitimasi terhadap sistem sosial yang berlaku. Analisis kritis ialah cara melahirkan teori.

3. Perlu membentuk body of knowledge yang diwujudkan melalui pengalaman teori dan praktik. Untuk pengalaman itu, bisa dilahirkan melalui implementasi peninggalan sosial dari ilmu-ilmu sosial yang ada.

Dalam studi Islam, pendekatan antropologi digunakan sebagai alat metodologis untuk menggali jenis-jenis keagamaan dari suatu komunitas dan penduduknya. Peran berkelanjutan ini adalah untuk memimpin dan memperkuat keyakinan agama anggota masyarakat sesuai dengan ajaran yang benar, tanpa menimbulkan perpecahan dan konflik antar sesama warga. Melalui pendekatan antropologis terhadap studi Islam ini, umat Islam dapat mengembangkan toleransi yang lebih besar terhadap banyak elemen perbedaan antara budaya asli dan ajaran agama. (M. D. Huda, 2016).

Karena hasil dari penjelasan tersebut, maka diperlukan pendekatan antropologis dalam mengkaji ajaran agama, karena ajaran agama mencakup pemaparan dan pengetahuan yang dapat didefinisikan dengan menggunakan antropologi dan cabang-cabangnya (Nata, 2001). Bila kembali pada permasalahan studi antropologi bagi studi Islam, maka dapat dipandang sumbangannya dengan melihat dari dua segi (M. D.

Huda, 2016). Jabarannya berikut ini.

Pertama, paparan antropologis sangat bermanfaat untuk mengeksplorasi agama secara empiris. Artinya, studi agama harus didorong oleh apresiasi terhadap lingkungan sosial di mana agama itu berada. Agama dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu pribadi dan

budaya. Memang, agama dimaksudkan untuk membantu umat manusia dalam memenuhi tujuan mereka sekaligus membimbing mereka menuju kehidupan yang lebih baik. Ini menunjukkan dengan tegas bahwa studi ilmiah tentang agama harus fokus pada manusia. Tanpa mempelajari manusia, pemahaman yang menyeluruh tentang agama tidak akan mungkin. Selain itu, sebagai konsekuensi dari sifat kritis studi manusia, studi tentang budaya dan masyarakat yang melingkupi keberadaan manusia menjadi kritis. Kebudayaan sebagai sistem makna yang memberikan makna bagi keberadaan dan perilaku manusia merupakan bagian integral dari pemahaman manusia. Mengutip Max Weber, budaya adalah jaring urgensi yang dibuat orang untuk diri mereka sendiri. Geertz memperluas konsep budaya sebagai pola makna yang diturunkan dari generasi ke generasi dan terekam dalam simbol. Manusia kemudian memiliki komunikasi, perilaku, dan pandangan hidup. Dengan demikian, berbeda dengan sejumlah studi ilmiah, penelitian antropologi budaya dan manusia merupakan studi interpretatif yang bertujuan untuk menjelaskan makna.

Menurut definisi budaya sebelumnya, agama sebagai sistem makna yang terkandung dalam simbol-simbol suci, benar-benar merupakan pola makna yang diwarisi oleh manusia sebagai etos dan pandangan dunia.

Menurut Clifford Geertz, etos adalah nada, watak, dan kualitas keberadaan manusia yang memiliki makna di samping moralitas dan estetikanya. Menurut Geertz, agama telah menganugerahkan manusia dengan kepribadian yang berbeda, yang membentuk perilaku mereka sehari-hari. Selain itu, agama melukiskan gambaran tentang jenis dunia yang dicita-citakan umat manusia. Menurut definisi ini, agama sebagai etos telah membentuk manusia menjadi karakter yang berbeda, yang pada gilirannya dapat membantu manusia memperoleh visi realitas hidup (world view) yang diinginkannya.

Kedua, studi antropologi juga membantu studi Islam dalam memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang berbagai pengaruh budaya pada praktik Islam. Memahami realitas sosial akan membuka

jalan bagi kajian Islam yang lebih empiris. Kajian agama yang memasukkan perspektif lintas budaya akan memberikan potret yang lebih bernuansa keterkaitan antara agama dan budaya. Dengan pemeriksaan menyeluruh terhadap peradaban yang ada, kita mungkin terlibat dalam wacana dan bahkan mungkin membangun gagasan moral global, sebagaimana Tibbi mengacu pada moralitas internasional, berdasarkan keragaman budaya dunia.

Studi antropologi juga membantu studi Islam dalam memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang berbagai pengaruh budaya pada praktik Islam. Memahami realitas sosial akan membuka jalan bagi kajian Islam yang lebih empiris. Kajian agama yang memasukkan perspektif lintas budaya akan memberikan potret yang lebih bernuansa keterkaitan antara agama dan budaya. Dengan pemeriksaan menyeluruh terhadap peradaban yang ada, kita mungkin terlibat dalam wacana dan bahkan mungkin membangun gagasan moral global, sebagaimana Tibbi mengacu pada moralitas internasional, berdasarkan keragaman budaya dunia (M.

D. Huda, 2016).

Antropologi yang mengkaji hubungan mikroskopis antara agama dan masyarakat di tingkat akar rumput mengungkap data yang ada di masyarakat. Para antropolog mempelajari agama dalam masyarakat dengan mengkaji bagaimana agama itu dipraktikkan, dirasakan, dan diyakini oleh para pengikutnya. Oleh karena itu, penting untuk menggali hubungan antara agama dan budaya agar dapat memahami agama yang dianutnya. Urgensi untuk memandang agama dalam masyarakat juga sangat urgen bila dihubungkan dengan isu postmodernisme yang berkembang belakangan ini. Walaupun para ilmuwan antropologi masih berpolemik apakah yang disebut sebagai postmodernis itu adalah

‘fenomena’ atau sebuah kerangka ‘desconstruction theory’, mereka bersepakat mengenai bangkitnya dalam arti diakuinya kembali local knowledge sebagai sebuah kebenaran kultur lokal dalam percaturan dunia global (M. D. Huda, 2016).

Dalam dokumen Islam dan Ilmu Sosial Humaniora (Halaman 52-63)