Dalam lintasan sejarahnya, perekonomian Islam dapat dilacak dimulai dari periode Nabi saw.
1. Masa Nabi Muhammad saw.
Kasus ekonomi yang dibentuk Rasulullah di Madinah dilakukan selepas menuntaskan urusan politik serta permasalahan konstitusional.
Rasulullah meletakkan sistem ekonomi serta fiskal cocok dengan ajaran Al-Qur’an. Al-Qur’an sudah meletakkan dasar-dasar ekonomi. Prinsip Islam yang bisa dijadikan poros dalam seluruh urusan duniawi, tercantum permasalahan ekonomi merupakan kekuasaan paling tinggi hanyalah kepunyaan Allah swt. semata (QS, 3: 26, 15: 2, 67: 1) serta manusia diciptakan selaku khalifah-Nya di muka bumi (QS, 2: 30, 4: 166, 35: 39), selaku pengganti Allah di muka bumi, Allah melimpahkan urusan bumi untuk dikelola manusia sebaik-baiknya. Kemakmuran dunia ialah pemberian Allah swt. serta manusia hendak menggapai keselamatannya bila dia bisa memakai kemakmuran tersebut dengan baik serta bisa membagikan keuntungan untuk orang lain (Karim, 2006).
Dalam sistem ekonominya, Islam mengakui kepemilikan individu, dalam mencari nafkah kalangan muslimin berkewajiban mencari nafkah yang halal serta dengan metode yang adil. Rasulullah juga menyarankan mencari nafkah yang baik lewat perniagaan serta jual beli. Dalam perniagaan, Rasulullah melarang mencari harta kekayaan dengan cara-cara yang ilegal serta tidak bermoral. Islam tidak mengakui pembuatan menimbun kekayaan ataupun mengambil keuntungan atas kesusahan orang lain. Di sisi lain, ada pula cara-cara perniagaan yang dilarang oleh Islam, misalnya judi, penimbunan kekayaan, penyelundupan, pasar hitam, korupsi, bunga, riba serta aktivitas-aktivitas yang sejenisnya (Karim, 2006).
Pada era Rasulullah, telah mulai ditanamkan larangan pembungaan harta ataupun riba, sebagaimana yang biasa oleh orang-orang Yahudi di Madinah. Islam betul-betul menentang praktik-praktik tidak fair dalam perekonomian tersebut. Untuk melenyapkan riba ini, Al-Qur’an memberikan pemecahan dengan metode zakat, shadaqah, serta sejenisnya. Ini diisyarati dengan diwajibkannya shadaqah fitrah pada tahun kedua hijriyah ataupun lebih diketahui dengan zakat fitrah tiap bulan Ramadan tiba, yang didistribusikan kepada para fakir, miskin, budak, amil (pengurus zakat), mualaf, serta lain-lain. Saat sebelum diwajibkannya zakat, pemberian suatu kepada orang yang memerlukan
bertabiat suka rela serta belum terdapat peraturan khusus ataupun syarat hukumnya. Peraturan menimpa pengeluaran zakat di atas timbul pada tahun ke-9 hijrah kala Islam sudah kuat, daerah negara berekspansi dengan kilat serta orang berbondong-bondong masuk Islam. Peraturan yang disusun Rasulullah dikala itu meliputi pengumpulan zakat, beberapa barang yang dikenai zakat, batas-batas serta tingkatan persentase zakat buat beberapa barang yang berbeda-beda (Karim 2006).
Pada intinya, pada era awal-awal Islam pemasukan yang didapatkan oleh negeri Islam Madinah masih sangat kecil. Di antara sumber pemasukan yang masih kecil itu berasal dari sumber-sumber, di antara lain: rampasan perang (ghanimah), tebusan tawanan perang, pinjaman dari kalangan muslim, khumuz ataupun rikaz (harta karun penemuan pada periode saat sebelum Islam), wakaf, nawaib (pajak untuk muslimin kaya dalam rangka menutupi pengeluaran negeri sepanjang masa darurat, amwal fadhla (harta kalangan muslimin yang wafat tanpa ahli waris), zakat fitrah, kaffarat (denda atas kesalahan yang dicoba seseorang muslim pada perkara keagamaan), ataupun sedekah dari kalangan muslim serta bantuan-bantuan lain dari para sahabat yang tidak mengikat (Mudhiiah, 2015).
2. Masa Sahabat
Sehabis Rasulullah meninggal, kalangan muslimin mengangkat Abu Bakar jadi khalifah awal. Dalam melaksanakan pemerintahan serta roda ekonomi warga Madinah, Abu Bakar sangat mencermati keakuratan perhitungan zakat. Abu Bakar pula mengambil langkah-langkah yang strategis serta tegas buat mengumpulkan zakat dari seluruh umat Islam termasuk Badui (‘arabi) yang kembali memperlihatkan isyarat pembangkangan membayar zakat sepeninggal Rasulullah saw. Dalam peluang yang lain Abu Bakar menginstruksikan pada amil yang sama kalau kekayaan dari orang yang berbeda tidak bisa digabung, ataupun kekayaan yang sudah digabung tidak bisa dipisahkan. Perihal ini ditakutkan hendak terjalin kelebihan pembayaran ataupun kekurangan penerimaan zakat.
Hasil pengumpulan zakat tersebut dijadikan pemasukan negara serta ditaruh dalam Baitul Mal buat langsung didistribusikan sepenuhnya kepada kalangan Muslimin sampai tidak terdapat yang tersisa (Karim, 2006).
Prinsip yang digunakan Abu Bakar dalam mendistribusikan harta baitul mal merupakan prinsip kesamarataan, ialah membagikan jumlah yang sama kepada seluruh teman Rasulullah saw. serta tidak membeda-bedakan antara teman yang terlebih dulu memeluk Islam dengan teman yang setelah itu, antara hamba dengan orang merdeka, serta antara laki-laki dengan perempuan. Dengan demikian, sepanjang masa pemerintahan Abu Bakar, harta Baitul mal tidak sempat menumpuk dalam jangka waktu yang lama sebab langsung didistribusikan kepada segala kalangan Muslimin, apalagi kala Abu Bakar meninggal, cuma ditemui satu dirham dalam perbendaharaan negeri. Segala kalangan Muslimin diberikan bagian hak yang sama dari hasil pemasukan negeri. Apabila pemasukan bertambah, segala kalangan muslimin menemukan khasiat yang sama serta tidak terdapat seorang pun yang dibiarkan dalam kemiskinan (Karim, 2006).
Umar bin Khattab ialah pengganti dari Abu Bakar. Dalam pemerintahannya ini, banyak perihal yang jadi kebijakan Umar terpaut dengan perekonomian warga Muslim pada waktu itu (Mudhiiah, 2015).
Banyak perihal itu di antara lain berikut ini.
a. Pendirian Lembaga Baitul Mal. Dalam pemerintahan Khalifah Umar, Baitul Mal berperan selaku pelaksana kebijakan fiskal negeri Islam serta Khalifah ialah pihak yang berkuasa penuh terhadap harta Baitul Mal. Tetapi demikian, Khalifah tidak diperbolehkan memakai harta Baitul Mal buat kepentingan individu.
b. Pajak kepemilikan tanah (Kharaj). Pada era Khalifah Umar, sudah banyak pertumbuhan administrasi dibandingkan pada masa tadinya.
Umar bin Khattab menyadari kalau zona pertanian sangat signifikan dalam membangkitkan perekonomian negeri. Oleh sebab itu, dia
mengambil langkah-langkah pengembangannya serta mengembalikan keadaan orang-orang yang bekerja di bidang itu.
c. Zakat. Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, kekayaan yang dipunyai negeri Madinah telah mulai banyak, berbeda pada awal-awal Islam. Semenjak kala itu, zakat kuda diresmikan sebesar satu dinar.
Utsman bin Affan ialah khalifah ketiga sehabis wafatnya Umar bin Khatab. Pemerintahan Khalifah Utsman menata serta meningkatkan sistem ekonomi yang sudah diberlakukan oleh Khalifah Umar. Khalifah Utsman mengadakan 4 kontrak dagang dengan negara-negara taklukan dalam rangka meningkatkan kemampuan sumber energi alam. Dalam perihal pengelolaan zakat, Utsman mendelegasikan kewenangan menaksir harta yang dizakati kepada setiap pemiliknya. Perihal ini dicoba buat mengamankan zakat dari bermacam kendala serta permasalahan dalam pengecekan kekayaan yang tidak jelas oleh sebagian oknum zakat.
Di sisi lain, Utsman berkomentar kalau zakat cuma dikenakan terhadap harta kepunyaan seorang sehabis dipotong segala utang-utang yang bersangkutan (Karim, 2006).
Ali bin Abi Thalib ialah khalifah keempat mengambil alih Utsman bin Affan yang terbunuh. Di antara kebijakan ekonomi pada masa pemerintahannya, dia menetapkan pajak terhadap para pemilik hutan sebesar 4000 dirham serta mengizinkan Ibnu Abbas, gubernur Kuffah, memungut zakat terhadap sayur-mayur segar yang hendak digunakan selaku bumbu masakan. Pada sama pemerintahannya pula, Ali memiliki prinsip kalau pemerataan distribusi uang rakyat yang cocok dengan kapasitasnya. Sistem distribusi tiap pekan sekali buat awal kalinya diadopsi hari kamis merupakan hari pendistribusian ataupun hari pembayaran. Pada hari itu, seluruh penghitungan dituntaskan serta pada hari Sabtu diawali penghitungan baru. Metode ini bisa jadi pemecahan yang terbaik dari sudut pandang hukum serta donasi negeri yang terletak dalam masa-masa transisi (Karim, 2006).
Pada dasarnya, pada era Rasul tatanan perekonomian Islam masih sangat simpel. Landasannya cuma dari wahyu Al-Qur’an serta ijtihad Nabi Muhammad saw. sendiri yang tertuang dalam hadis. Ekonomi Islam mulai timbul kala Nabi hijrah ke Madinah, dikala awal kali datang kondisi Madinah masih kacau. Warga Madinah belum mempunyai pemimpin ataupun raja yang berdaulat. Yang terdapat cuma kepala-kepala suku yang memahami daerahnya tiap-tiap. Suku-suku yang populer dikala itu merupakan suku Aus serta Khazraj. Ketika masih berbentuk suku-suku ini kota Madinah belum terdapat hukum serta pemerintahan. Antar kelompok masih saling bertikai. Kelompok yang terkaya serta terkuat merupakan Yahudi, tetapi ekonominya masih lemah serta bertopang pada bidang pertanian (Mudhiiah, 2015).
Sehabis Rasulullah meninggal, Abu Bakar melanjutkan aplikasi perekonomian Islam dengan menitikberatkan pada keakuratan pembayaran zakat. Dengan menindak tegas serta memerangi suku-suku yang menolak membayar zakat. Pada masa Umar, aplikasi ekonomi Islam terus menjadi luas serta terus menjadi maju bersamaan ditaklukkannya negera-negara di dekat jazirah Arab yang meliputi Romawi timur (Syiria, Palestina serta Mesir) serta segala Persia tercantum Irak, titik berat aplikasi ekonomi Islam pada masa Umar ini pada pengelolaan Baitul Mal serta pajak pengelolaan tanah (kharaj) yang disita dari negara yang ditaklukkan. Pada masa Utsman, dia mengambil kebijakan tidak mengambil upah dari kantornya. Kebalikannya, dia meringankan beban pemerintah dalam hal-hal yang sungguh-sungguh, apalagi menaruh uangnya di bendahara negeri. Pada masa Ali bin Abi Thalib, pajak terhadap para pemilik hutan sebesar 4000 dirham serta mengizinkan Ibnu Abbas, gubernur Kufah, memungut zakat terhadap sayur-mayur segar yang hendak digunakan selaku bumbu masakan. Pada sama pemerintahannya pula, Ali memiliki prinsip kalau pemerataan distribusi uang rakyat yang cocok dengan kapasitasnya (Mudhiiah, 2015).