• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah dan Studi Islam

Dalam dokumen Islam dan Ilmu Sosial Humaniora (Halaman 63-68)

Terma sejarah bersumber dari bahasa Arab syajarah, yang memiliki arti pohon. Istilah ini berhubungan dengan kenyataan, sejarah mengenai syajarat al-nasab, pohon genealogis, yang disebut sejarah keluarga (family history), atau kata kerja syajara juga punya arti to happen, to occurred, dan to develop. Dalam perkembangan selanjutnya, sejarah dipahami sebagai makna yang identik dengan tarikh (Arab), istora (Yunani), history, atau geschichte (Jerman), yang secara sederhana berarti peristiwa-peristiwa mengenai manusia pada masa lampau (Haryanto, 2017).

Para sejarawan mendefinisikan istilah ‘sejarah’ yang beragam. Edward Freeman misalnya, menyatakan bahwa sejarah adalah ‘politik masa lalu’.

Sementara itu, Ernest Bernheim menyatakan bahwa sejarah adalah ilmu yang mempelajari kemajuan manusia sebagai makhluk sosial. Menurut Hasan, sejarah atau tanggal adalah suatu bentuk seni yang menggambarkan peristiwa-peristiwa pada waktu itu dalam hal spesifikasi dan waktu; tema manusia dan waktu adalah masalahnya; kondisi yang menjelaskan unsur-unsur ruang lingkup kondisi yang terjadi pada manusia dari waktu ke waktu adalah kondisi yang menjelaskan unsur-unsur ruang lingkup kondisi yang terjadi pada manusia dari waktu ke waktu (Haryanto, 2017).

Sejarawan Indonesia, Sartono Kartodirdjo (dalam Haryanto, 2017) dalam Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah, membagi pengertian sejarah pada pengertian subjektif dan objektif dengan uraian berikut ini.

1. Sejarah dalam arti subjektif ialah suatu konstruk, yaitu bangunan yang dicipta penulis sebagai suatu bahasan atau cerita. Bahasan atau cerita tersebut adalah suatu kesatuan atau unit yang meliputi sejumlah fakta terangkai untuk menggambarkan suatu gejala sejarah, baik proses maupun struktur.

2. Sejarah dalam arti objektif ialah merujuk kejadian atau peristiwa itu sendiri, yaitu proses sejarah dalam aktualitasnya. Peristiwa yang terjadi sekali, tidak berulang atau kembali lagi.

Dari sekian banyak penegasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa sejarah merupakan cerminan dari peristiwa atau peristiwa sebelumnya yang dirasakan oleh umat manusia yang telah dikumpulkan secara ilmiah untuk memuat urutan kronologis tertentu dan memberikan interpretasi dan analisis kritis agar lebih mudah dipelajari dan dipahami. Dengan kata lain, dalam sejarah terdapat objek suatu peristiwa (what), orang yang melakukannya (who), periode waktu (when), lokasi (where), dan konteks (why). Semua aspek ini kemudian diatur secara metodis untuk menggambarkan hubungan yang erat antara masing-masing komponen.

Berbicara tentang studi Islam, dapat disimpulkan bahwa Islam historis dipelajari dari perspektif sejarah, menelusuri evolusinya dari awal hingga saat ini, karena Islam tidak dapat dipisahkan dari masa lalunya (Haryanto, 2017).

Dalam konteks tersebut, Kuntowijoyo (2005) menyuguhkan lima dasar-dasar pikiran yang berkaitan dengan sejarah sebagai ilmu. Lima dasar tersebut sebagai berikut.

1. Sejarah itu memiliki sifat empiris. Sejarah sangat bergantung pada pengalaman manusia sebagai objek (formal dan material) yang terekam dalam dokumen dan memori kolektif manusia. Rekaman itu selanjutnya ditelaah oleh sejarawan untuk memastikan fakta sejarah. Kemudian, fakta itu disintesiskan yang melahirkan interpretasi terhadap fakta. Hasilnya dihimpun dalam tulisan sejarah (historiografi).

2. Memiliki objek. Sejarah menguraikan mengenai apa yang dikerjakan manusia di masa lampau. Fokusnya pada dimensi masa lalu yang membedakannya dengan ilmu lain. Objeknya adalah pada kontinuitas dan perubahan yang diraih oleh manusia karena berhubungan dengan manusia. Dengan ini, sejarah sering juga dikategorikan sebagai ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora).

3. Memiliki teori. Dalam kajian sejarah, teori sering dikenal sebagai filsafat sejarah kritis. Lazimnya, teori berhubungan dengan satu

himpunan mengenai kaidah suatu ilmu atau epistimologi dalam filsafat. Ringkasnya, sejauh mana pengetahuan mengenai masa lampau dapat diperoleh dan bagaimana sifat pengetahuan itu.

Dalam konteks ini, ada tiga perkara yang perlu ditelaah, yakni (a) sejumlah pernyataan tentang masa lampau, (b) sejumlah ungkapan disampaikan kepada para ahli sejarah yang terlukiskan dalam ungkapan itu, dan (c) sejauh mana citra sejarah itu benar dan mencukupi, perlu ditelaah lebih lanjut. Tiga perkara ini adalah prinsip teori dalam sejarah. Usaha untuk menjelaskan dan menyatakan sejumlah sebab dalam kejadian historis mendatangkan pola pikir pada ranah kausalitas. Sampai pada fase ini, sejarah memerlukan ilmu lainnya, khususnya ilmu-ilmu sosial dalam mendalami objek telaahnya.

4. Memiliki generalisasi. Sejarah sebagaimana ilmu lainnya, mengambil simpulan umum. Hanya saja, perlu diketahui bahwa ilmu-ilmu lainnya memiliki sifat nomotetis, sedangkan sejarah pada hakikatnya memiliki sifat ideografis. Sosiologi dan antropologi diperlukan untuk mengambil simpulan-simpulan umum yang berjalan di mana-mana dan dapat dipandang sebagai kebenaran umum. Dalam ranah sejarah, waktu, tempat, dan pelaku sering memengaruhi lahirnya suatu kejadian dan membedakan antara satu dan peristiwa lain. Generalisasi golongan Marxis yang memandang semua revolusi sebagai perjuangan kelas tidak terbukti dalam kasus revolusi Indonesia yang dimotori oleh ide nasionalisme. Intinya, generalisasi sejarah seringkali adalah koreksi atas simpulan-simpulan ilmu lainnya.

5. Memiliki metode. Hal ini berhubungan dengan tujuan ilmu sejarah yakni memaparkan kontinuitas dan perubahan dalam kehidupan umat manusia. Untuk mendalaminya, perlu ada jalan atau metode dalam menguraikannya. Cara sistematis rekonstruksi masa lampau yang mencakup heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi.

Secara historis, metodologi penelitian Islam secara kasar dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori. Pertama, pendekatan komparatif, yaitu teknik mempelajari agama yang melibatkan membandingkan semua aspek Islam dengan agama lain. Strategi ini akan menghasilkan laporan Islam yang tidak memihak dan komprehensif. Kedua, metode sintesis adalah teknik untuk memahami Islam yang memadukan proses ilmiah dengan ciri-cirinya yang rasional, objektif, kritis, dan sebagainya dengan pendekatan teologis normatif. Di satu sisi, pendekatan ilmiah digunakan untuk menguasai Islam sebagaimana ditunjukkan dalam fakta sejarah, empiris, dan sosial. Di sisi lain, teknik teologi normatif digunakan untuk mengelola Islam sebagaimana tertuang dalam kitab suci. Dengan menggunakan pendekatan teologis normatif ini, seseorang memulai dengan meyakini Islam sebagai keyakinan yang benar-benar otentik. Ini karena agama berasal dari Tuhan, dan segala sesuatu yang berasal dari Tuhan adalah benar sepenuhnya, termasuk agama. Setelah itu, ia mengkaji agama sebagai standar pengajaran yang berkaitan dengan berbagai aspek keberadaan manusia yang dianggap sangat sempurna secara keseluruhan (Nata, 2001).

Pendekatan historis diperlukan dalam penelitian Islam karena Islam hadir di atmosfer semua orang, terutama bagaimana melakukan kajian penelitian Islam yang beragam dengan menggunakan pendekatan sejarah sebagai alat (metodologi) untuk mengatakan kebenaran tentang topik penelitian itu. Perspektif ini menyiratkan bahwa disiplin ilmu biasa dalam Islam tidak dapat dipisahkan dari berbagai peristiwa atau sejarah, terlepas dari periode, lokasi, atau formatnya (Haryanto, 2017).

Dengan pendekatan sejarah, seorang diajak untuk merambah kondisi yang sesungguhnya berkenaan dengan pelaksanaan sesuatu kejadian.

Dari sini, seorang tidak akan menguasai agama keluar dari konteks historisnya, sebab uraian yang keluar dari konteks historis akan dapat menyesatkan. Seorang yang hendak menguasai Al-Qur’an secara benar misalnya, yang bersangkutan wajib menguasai sejarah turunnya

Al-Qur’an ataupun kejadian-kejadian yang mengiringi turunnya Al-Al-Qur’an yang dikenal dengan ilmu asbab al-nuzul. Dengan ilmu ini, seorang hendak mengenali hikmah yang tercantum dalam suatu ayat yang berkenaan dengan hukum tertentu, serta diperuntukkan guna memelihara syari’at dari kekeliruan memahaminya. Dengan pendekatan historis ini, seorang sanggup menguasai nilai kesejarahannya sehingga tercipta manusia yang sadar atas historisitas keberadaan Islam serta sanggup menguasai nilai- nilai yang tercantum di dalamnya (Haryanto, 2017).

Dalam konteks ini, ada filosofis historis atau filsafat sejarah (Al-Falsafah al-Tarikh), seperti cabang lain pada lazimnya, membahas perihal permasalahan-permasalahan kebenaran, kebaikan dan keindahan. Zainab al-Hudhairi mendefinisikan filsafat sejarah sebagai telaah atas kejadian-kejadian sejarah secara filosofis untuk memahami sejumlah faktor esensial yang mengontrol perjalanan historis untuk selanjutnya mengikhtisarkan sejumlah hukum umum yang permanen, yang memandu perkembangan pelbagai bangsa dan negara dalam pelbagai era dan generasi (Muchsin, 2016).

Para pakar membagi filsafat sejarah kepada dua bidang, yakni filsafat sejarah spekulatif dan filsafat sejarah kritis. Menurut C.D. Broad, filsafat sejarah spekulatif atau ‘Speculative philosopy is illustrated by the grandiose metaphysical systems’, (filsafat sejarah spekulatif ialah menguraikan kebutuhan dalam menganalisis sebuah konsep yang berhubungan dengan sistem metafisik). Adapun filsafat sejarah kritis dimaknai dengan pernyataan, ‘Critical philosophy of history, which is similar in many respects to the philosophy of science, attempts toclarify the nature of the historian’s own inquiry. It criticizes the fundamental beliefs of the historian and analyzes the basic concepts he uses, e.g., the conceps of cause, explanation, fact, etc.’ (filsafat sejarah kritis memiliki kesamaan dalam beberapa hubungannya dengan filsafat sains, yang mencoba untuk mengklarifikasi dunia dari penelusuran pakar sejarah; mengurai perkara yang menjadi pokok kepercayaan pakar sejarah dan menganalisis konsep dasar yang dipergunakannya, contohnya konsep

yang menjadi alasan, penjelasan, kebenaran, dan lain-lain) (Muchsin, 2016).

Nilai filosofis historis dalam Islam dijumpai dalam sumber ajaran utamanya, yakni Al-Qur’an al-Karim. Nilai filosofis historis dijumpai padanannya seperti dikemukakan oleh M. Baqir Ash-Shadr, dengan hukum sejarah, norma sejarah, dan sunnatullah. Ketiga terma tersebut harus menjadi barometer untuk kehidupan orang beriman yang menginginkan kesuksesan hidupnya, baik kehidupan dunia maupun kehidupan akhiratnya (Muchsin, 2016).

Dalam dokumen Islam dan Ilmu Sosial Humaniora (Halaman 63-68)