• Tidak ada hasil yang ditemukan

Wacana Agama dan Budaya

Dalam dokumen Islam dan Ilmu Sosial Humaniora (Halaman 138-144)

‘All religion as an effort to conceive the inconceivable and to express the inexpreesible, an aspiration to ward the infinite’ (Durkheim, 1995). Kodrat sebagai manusia mempunyai pengetahuan serta energi nalar yang terbatas. Keterbatasan itu memforsir manusia untuk mengakui serta menerima hal-hal yang di luar jangkauannya. Atas dasar keterbatasan tersebut, lahirlah agama ataupun keyakinan tertentu yang dikatakan sebagai ekspresi ketidakmampuan manusia untuk menangkap ataupun menerangkan dengan ide pikiran tanda-tanda yang terdapat di sekitarnya.

Pada sisi yang lain, agama pula dapat timbul sebagai akibat terdapatnya krisis-krisis yang membuat risau dalam kehidupan manusia. Mereka mau kegelisahan itu lenyap serta menciptakan jawaban untuknya dalam agama (Koentjaraningrat, 1994).

Ada pula hal-hal yang mendesak manusia untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang bertabiat keagamaan sebab terdapatnya emosi serta getaran jiwa yang sangat mendalam yang diakibatkan perilaku khawatir, terpesona pada suatu yang gaib serta keramat. Tidak hanya itu pula terdapatnya harapan-harapan yang mengiringi ekspedisi kehidupannya.

Perasaan-perasaan itu terpancar dari energi misterius yang ialah prinsip kesatuan alam semesta (Kholil, 2009).

Lebih lanjut, arti agama dalam The Encyclopedia of Phylosophy pada entri religi terdapat sebagian. Agama bagi Martineau merupakan keyakinan

kepada Tuhan yang senantiasa hidup, ialah kepada jiwa serta kehendak Ilahi yang mengendalikan alam semesta serta memiliki ikatan moral dengan umat manusia. Agama merupakan pengakuan kalau seluruh suatu ialah perwujudan dari kuasa yang melampaui pengetahuan kita (Muqoyyidin, 2013).

Sebagaimana yang tertulis di atas, pembicaraan ataupun pemaknaan menimpa agama berbalik pada perkara Tuhan serta ketuhanan, serta kata ini oleh para pengamat keagamaan, supaya dapat merangkum seluruh tipe keyakinan warga yang lazimnya diucap agama ditukar dengan ‘Kuasa yang Transenden’, Kuasa-kuasa di atas manusia, ‘Suatu yang di luar’,

‘Kenyataan Transenden’, ‘Kenyataan Supranatural’. Ulasan tentang Tuhan ataupun konsep-konsep lain yang berhubungan dengan tema-tema keilahian umumnya diucap teologi. Tetapi demikian, tidak seluruh agama mempunyai konsep tersebut (Kholil, 2009).

Sementara itu, bagi Canadian Commission for Unesco, kebudayaan dinyatakan sebagai: ‘Adynamic value system of learned elements, with asumptions, conventions, beliefs and rules permitting members of a group to relate to each other and to the world, to communicate and to develop their creative potential’. Terdapat elemen berarti di dalam definisi tersebut, ialah kebudayaan merupakan suatu sistem nilai yang dinamik dari elemen-elemen pendidikan yang berisi anggapan, konvensi, kepercayaan serta aturan-aturan yang memperbolehkan anggota kelompok buat berhubungan dengan yang lain. Penafsiran kebudayaan ini tercantum di dalam penafsiran kebudayaan selaku sistem nilai, ialah kebudayaan selaku sistem normatif yang mengendalikan kehidupan bermasyarakat (Syam, 2005).

Penafsiran kebudayaan di atas berbeda dengan perspektif strukturalisme yang memandang kebudayaan selaku produk ataupun hasil dari kegiatan nalar manusia. Dia mempunyai kesejajaran dengan bahasa yang lain ialah produk dari kegiatan nalar manusia. Sumber kebudayaan tidak lain merupakan nalar manusia ataupun human mind (Ahimsa-Putra, 1999).

Penafsiran itu nyaris sama dengan perspektif antropologi kognitif, yang memandang kebudayaan sebagai suatu yang terletak di kepala-kepala orang serta bukan suatu yang shared di warga ataupun kebudayaan sebagai kognisi manusia (Muqoyyidin, 2013). Bagi Goodenough (via Oetomo, 2020), kebudayaan suatu warga terdiri atas apa-apa yang wajib dikenal ataupun dipercayai untuk bisa berperan sedemikian rupa sehingga dikira pantas oleh anggota-anggotanya. Kebudayaan tidaklah fenomena material, tidak terdiri atas benda-benda, sikap, serta emosi. Dia lebih ialah sesuatu pengaturan hal-hal itu. Yang terdapat dalam benak orang merupakan bentuk-bentuk barang serta hal-hal, model-model buat memersepsi, menghubung-hubungkan, serta selebihnya menafsirkan.

Kebudayaan dimengerti pula dengan totalitas pengetahuan yang dimiliki oleh manusia selaku makhluk sosial, yang isinya merupakan perangkat-perangkat, model-model pengetahuan yang secara selektif bisa digunakan untuk menguasai serta menginterpretasikan area yang dialami serta buat mendesak serta menghasilkan tindakan-tindakan yang diperlukannya (Suparlan, 1986).

Penafsiran kebudayaan di atas berbeda dengan penafsiran kebudayaan dalam perspektif evolusionistik, kebudayaan ialah cipta, rasa serta karsa manusia ataupun kelakuan serta hasil kelakuan. Kebudayaan memiliki tiga perihal utama, ialah sebagai sistem budaya yang berisi gagasan, benak, konsep, nilai-nilai, norma, pemikiran, undang-undang serta sebagainya yang berupa abstrak, yang dipunyai oleh pemangku ilham.

Sistem budaya itu yang diucap sebagai ‘tata budaya kelakuan’.

Kebudayaan selaku kegiatan para pelaku budaya semacam tingkah laku berpola, upacara-upacara yang bentuknya konkret serta bisa diamati yang diucap sebagai sistem sosial yang berwujud ‘kelakuan’. Kebudayaan yang berwujud benda-benda, baik hasil karya manusia ataupun hasil tingkah lakunya yang berbentuk barang ataupun diucap ‘hasil karya kelakuan’

(Koentjaraningrat, 1985).

Dalam pemikiran Keesing (1975) dan Sperber (1975, 1985), kebudayaan yakni sesuatu sistem pengetahuan sadar serta di luar sadar

yang terletak di dalam benak orang. Sistem pengetahuan kebudayaan tersebut diorganisir secara hierarkis (Woodward, 2000). Di dalam pengetahuan kebudayaan ada pengetahuan yang universal serta spesial (kontekstual). Anggapan yang lebih universal tersebut diucap selaku aksioma pengetahuan budaya. Oleh sebab itu, di dalam tulisannya mengenai Islam Jawa, Woodward memperkenalkan konsep serta pendekatan baru di dalam ikatan antara agama serta budaya, yakni aksiomatika struktural. Aksiomatika terpaut dengan landasan teks-teks yang jadi pegangan ataupun mendasari pemahaman keagamaan, serta di sisi lain, struktur terpaut dengan konteks sosio-religio-kultural di mana bacaan tersebut dimengerti serta jadi basis untuk proses pembentukannya. Lewat kajiannya ini diperoleh sesuatu teoritisasi

‘konsep-konsep keagamaan bisa jadi basis untuk pembuatan struktur sosial, ekonomi serta apalagi politik’ (Muqoyyidin, 2013).

Lewat pendefinisian kebudayaan semacam itu hendak membolehkan agama bisa dikaji. Agama tidaklah bentuk dari gagasan ataupun produk pemikiran manusia ataupun kelakuan ataupun hasil kelakuan. Definisi kebudayaan selaku kelakuan serta hasil kelakuan manusia bukanlah bisa digunakan sebab kelakuan serta hasil kelakuan merupakan produk kebudayaan. Agama bukan sekadar produk kelakuan ataupun hasil kelakuan. Penafsiran strukturalisme menimpa kebudayaan pula kurang pas buat memandang agama, karena agama bukan cuma selaku produk kognitif. Oleh sebab itu, digunakanlah pemikiran ataupun perspektif yang memandang agama sebagai sistem kebudayaan (Syam, 2005).

Menjawab agama sebagai sistem kebudayaan, Suparlan (1986) melaporkan kalau pada hakikatnya agama merupakan sama dengan kebudayaan, ialah sesuatu sistem simbol ataupun sesuatu sistem pengetahuan yang menghasilkan, menggolong-golongkan, meramu ataupun merangkaikan serta memakai simbol buat berbicara serta buat mengalami lingkungannya. Tetapi demikian, terdapat perbedaannya kalau simbol di dalam agama merupakan simbol suci.

Lebih eksplisit dari itu, Geertz (via Syam, 2007) pula menguasai agama sebagai sistem kebudayaan. Kebudayaan, dalam pemikiran Geertz didefinisikan sebagai pola untuk kelakuan yang terdiri dari serangkaian aturan-aturan, resep-resep, rencana-rencana serta petunjuk-petunjuk yang digunakan manusia untuk mengendalikan tingkah lakunya.

Kebudayaan dengan demikian dilihat sebagai pengorganisasian pengertian-pengertian yang tersimpul dalam simbol-simbol yang berkaitan dengan ekspresi manusia. Sebab itu, Geertz setelah itu menguasai agama tidak saja sebagai seperangkat nilai di luar manusia, tetapi pula sebagai sistem pengetahuan serta sistem simbol yang membolehkan terbentuknya pemaknaan.

Sebagai suatu realitas sejarah, agama dan kebudayaan bisa saling memengaruhi sebab keduanya mempunyai nilai serta simbol. Agama merupakan simbol yang melambangkan nilai ketaatan kepada Tuhan.

Kebudayaan pula memiliki nilai serta simbol biar manusia dapat hidup di dalamnya. Agama memerlukan sistem simbol. Dengan kata lain, agama membutuhkan kebudayaan. Akan tetapi, keduanya perlu dibedakan.

Agama merupakan suatu yang final, umum, abadi, serta tidak mengalami pergantian (mutlak). Kebudayaan bertabiat partikular, relatif, serta temporer. Agama tanpa kebudayaan memanglah bisa tumbuh sebagai agama individu. Akan tetapi, tanpa kebudayaan, agama sebagai kolektivitas tidak akan menemukan tempat (Kuntowijoyo, 2001).

Dalam pemikiran Riyadi (via Muqoyyidin, 2013), agama dan kebudayaan memiliki dua persamaan. Pertama, keduanya merupakan sistem nilai serta sistem simbol. Kedua, baik agama ataupun kebudayaan gampang sekali terancam tiap kali terdapat pergantian. Agama dalam perspektif ilmu-ilmu sosial merupakan sistem nilai yang muat beberapa konsepsi menimpa konstruksi kenyataan, yang berfungsi besar dalam menerangkan struktur tata normatif serta tata sosial dan memahamkan serta menafsirkan dunia. Sementara itu, kebudayaan ialah ekspresi cipta, karya, serta karsa manusia (dalam warga tertentu) yang berisi nilai-nilai

serta pesan-pesan religiositas, pengetahuan filosofis, serta kearifan lokal (local wisdom).

Selaku sistem pengetahuan, agama ialah sistem kepercayaan yang sarat dengan ajaran-ajaran moral serta petunjuk kehidupan (baca:

Wahyu) yang wajib dipelajari, ditelaah, serta dipraktikkan oleh manusia dalam kehidupannya. Dalam perihal ini, agama membagikan petunjuk yang baik serta kurang baik, yang pantas serta tidak pantas, serta yang pas serta tidak pas. Nilai-nilai agama bisa membentuk serta mengonstruksi sikap manusia dalam kesehariannya (Paisun, 2010).

Dalam agama selaku sistem simbol, ada simbol-simbol tertentu buat mengaktualisasikan ajaran agama yang dianutnya. Simbol-simbol yang diartikan berbentuk perbuatan, perkata, barang, sastra, serta sebagainya.

Sujud misalnya, ialah sebentuk simbolisasi atas kepasrahan serta penghambaan penganutnya pada pencipta. Sujud ialah simbol keseluruhan kepasrahan hamba, serta pengakuan secara sadar atas kemahabesaran Allah SWT. Dalam perihal ini, sujud yang ada dalam salat ialah bagian dari ritual keagamaan dalam kehidupan warga beragama (Al- Humaidy, 2007).

Ajaran Islam yang termuat di dalam bacaan Al-Qur’an serta hadis merupakan ajaran yang ialah sumber asasi, serta kala sumber itu digunakan ataupun diamalkan di sesuatu daerah sebagai pedoman kehidupan hingga bertepatan dengan itu, tradisi setempat dapat saja memberi warna pengertian warga lokalnya. Sebab pengertian itu bersentuhan dengan bacaan suci, simbol yang diwujudkannya pula ialah suatu yang sakral. Tiap tradisi keagamaan memuat simbol-simbol suci yang dengannya orang melaksanakan serangkaian aksi untuk menumpahkan kepercayaan dalam wujud melaksanakan ritual, penghormatan, serta penghambaan. Salah satu contoh yakni melaksanakan upacara bundaran hidup serta upacara intensifikasi, baik yang mempunyai sumber asasi di dalam ajaran agama ataupun yang dikira tidak mempunyai sumber asasi di dalam ajaran agama (Muqoyyidin, 2013).

Islam datang ke Nusantara melalui pesisir dan kemudian masuk ke pedalaman. Itulah sebabnya ada anggapan bahwa Islam pesisir itu lebih dekat dengan Islam genuine yang disebabkan oleh adanya kontak pertama dengan pembawa islam. Masyarakat Islam pesisiran digambarkan sebagai masyarakat Islam yang punya corak pemahaman keagamaan ortodoks, puritan, dan lebih ketat. Sedangkan masyarakat Islam pedalaman dikenal mempunyai corak pemahaman keagamaan yang lebih sinkretis, longgar, kebatinan, dan lekat dengan kehidupan kejawen (Syam, 2007) ataupun pula ‘Islam Kultural’ dalam terminologi Gus Dur. Pembacaan terhadap Islam di Indonesia dengan memakai kerangka uraian semacam di atas, tidak saja hendak menciptakan keterkaitan historis dengan kenyataan kesejarahan Islam, namun pula hendak menciptakan satu sisi berarti dari proses transformasi intelektual Islam yang bertolak dari nilai-nilai universalisme Islam yang dikategorikan sebagai tradisi besar dengan tata nilai dalam setting kultural serta struktural tertentu yang telah terpola tadinya (Ridwan, 2008).

Dalam dokumen Islam dan Ilmu Sosial Humaniora (Halaman 138-144)