Secara horizontal, struktur masyarakat oleh realitas terdapatnya kesatuan-kesatuan sosial bersumber pada perbedaan-perbedaan suku bangsa, agama, adat istiadat dan perbedaan-perbedaan kedaerahan.
Secara vertikal, struktur warga diisyarati oleh terdapatnya perbedaan-perbedaan vertikal, antara susunan atas serta susunan dasar yang lumayan tajam. Perbedaan-perbedaan agama, adat istiadat, serta kedaerahan kerap kali diucap selaku warga majemuk, plural societies, pasti saja ialah modal sosial serta sekalian pula potensial pada terbentuknya konflik sosial yang bukan saja bisa mengusik keserasian sosial, namun lebih dari itu hendak menyebabkan disintegrasi sosial yang lebih luas (Shonhaji, 2012).
Bagi Garna (1996), berdialog tentang warga majemuk, sangat terpaut dengan dua konsep, sebagai berikut.
1. Keragaman etnik merupakan sesuatu kondisi yang sanggup memperlihatkan bentuk pembagian kekuasaan di antara
kelompok masyarakat yang tergabung ataupun disatukan, rasa menyatu melalui kesetiaan, pemilihan nilai bersama serta pembagian kekuasaan.
2. Masyarakat majemuk merupakan warga yang terdiri dari bermacam kelompok ras serta etnik yang berbeda di dasar satu sistem pemerintahan serta paksaan.
Sementara itu, dalam mengkaji masyarakat majemuk Usman Pelly (via Shonhaji, 2012), menganjurkan dua konsep yang berarti buat dicermati, sebagai berikut.
1. Konsep wadah pembauran (melting pot). Pada dasarnya, konsep ini memiliki anggapan kalau sesuatu waktu integrasi itu hendak terjalin dengan sendiri.
2. Konsep pluralisme kebudayaan. Konsep ini memiliki bawah pemikiran kalau kelompok-kelompok suku bangsa yang berbeda satu sama lain seyogyanya didorong buat meningkatkan sistem budayanya sendiri dalam kebersamaan, supaya dengan demikian bisa memperkaya kehidupan warga majemuk mereka.
Dua konsep di atas menggambarkan kalau di dalam masyarakat majemuk meniscayakan terdapatnya wadah pembauran dari bermacam etnik yang mempunyai latar balik adat istiadat yang berbeda. Tiap-tiap etnik didorong buat meningkatkan sistem budayanya sendiri (Shonhaji, 2012).
Pierre L. Vanden Berghe (1969) mengatakan sebagian ciri sesuatu masyarakat majemuk, sebagai berikut.
1. Terbentuknya segmentasi ke dalam wujud kelompok-kelompok yang kerap mempunyai sub kebudayaan yang berbeda satu sama lain.
2. Mempunyai struktur sosial yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang bertabiat non komplementer.
3. Kurang meningkatkan konsensus di antara para anggota terhadap nilai-nilai yang bertabiat bawah.
4. Secara relatif kerap kali hadapi konflik-konflik di antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain.
5. Secara relatif integrasi sosial berkembang di atas paksaan serta saling ketergantungan di dalam bidang ekonomi.
6. Terdapatnya dominasi politik oleh sesuatu kelompok atas kelompok-kelompok lain.
Dari uraian di atas tentang ciri-ciri masyarakat yang majemuk, tampak jelas bahwa pada kenyataannya, konflik dan integrasi keduanya memiliki peluang yang sama. Artinya, baik melalui konflik atau integrasi, dimungkinkan untuk hidup berdampingan dengan banyak warga, karena keduanya memiliki potensi yang sama untuk bereaksi terhadap keragaman, tergantung pada komunitasnya. Suatu masyarakat majemuk dapat diintegrasikan sebagai akibat dari paksaan satu kelompok terhadap kelompok lain atau sebagai akibat dari saling ketergantungan antara kelompok-kelompok atau unit-unit sosial yang berbeda, khususnya dalam bidang ekonomi (Nasikun, 1993).
Jika dilihat melalui kacamata Talcott Parsons tentang aspek yang mengikat masyarakat yang beragam bersama-sama, struktur seperti itu secara alami berbentuk konvensi warga negara untuk nilai-nilai universal tertentu. Dengan kata lain, kelangsungan hidup masyarakat yang beragam tidak hanya membutuhkan pengembangan nilai-nilai tertentu yang diterima secara umum, tetapi juga pengembangan cita-cita universal yang harus benar secara fisiologis melalui proses sosialisasi. Standar universal ini harus mampu menekan pembentukan dan perkembangan prasangka di antara kelompok-kelompok sosial (Shonhaji, 2012).
Dari sudut pandang sosiologis, sentimen keagamaan memainkan peran yang tampak dan tersembunyi. Sosiolog mengacu pada fungsi manifes dari sebuah institusi sebagai yang direalisasikan, disengaja, dan tujuan formal institusi. Di sisi lain, fungsi laten dari bentuk tertentu dari
perilaku kelembagaan disebut sebagai yang tidak disadari, tidak disengaja, dan tujuan formal lembaga. Jadi, ketika mengevaluasi fungsi sosial dari perilaku keagamaan, seseorang harus berhati-hati dalam membedakan antara tujuan anggota kelompok orang percaya tertentu dan akibat yang tidak diinginkan dari tindakan mereka dalam kehidupan orang lain. Tanpa tujuan yang disengaja, aktivitas keagamaan sangat tidak mungkin terjadi. Namun, sosiolog telah melihat bahwa efek yang tidak disengaja dari perilaku keagamaan sering memiliki dampak yang lebih besar pada pemeliharaan masyarakat dari pada niat yang disengaja (Shonhaji, 2012).
Tujuan agama tidak dapat dipisahkan dari kesulitan-kesulitan yang dihadapi manusia dan masyarakatnya (ketidakpastian, ketidakmampuan, dan kekurangan), untuk itu agama dianggap memberikan solusi yang memuaskan. Masyarakat memiliki kebutuhan dasar untuk kelangsungan hidup dan pelestarian. Agama berkontribusi pada pemenuhan beberapa persyaratan ini. Salah satu keinginan mendasar manusia adalah kenyamanan dan kemudahan, yang bervariasi sesuai dengan disiplin penghuninya. Disiplin masyarakat akan tercapai jika ada syarat wajib (Shonhaji, 2012).
Dalam konteks ini, agama menempati dua posisi kritis. Pertama, sejak awal agama telah membantu dalam pembentukan konsensus mengenai sifat dan isi kewajiban sosial ini dengan berbagi nilai-nilai yang bertindak sebagai filter bagi perilaku anggota masyarakat dan membantu menentukan isi kewajiban sosial warga negara. Agama telah memainkan fungsi ini dalam membantu pengembangan sistem nilai masyarakat yang koheren dan komprehensif. Kedua, agama telah berperan dalam membangun kekuatan yang menopang dan memelihara praktik (Shonhaji, 2012).
Sikap religius yang diekspresikan melalui ibadah merupakan salah satu cara untuk mengungkapkan pengalaman religius. Sejauh yang dapat diperhatikan, sosiolog telah melakukan beberapa penelitian tentang sikap terhadap ibadah, upacara, dan doa. Durkheim khususnya, menganggap
ritual sebagai cara pengelompokan sosial untuk secara teratur menyusun kembali diri mereka sendiri. Individu yang mengidentifikasi diri dengan komunitas dengan minat dan tradisi yang sama bersatu dan mengakui kesatuan moral mereka. Dengan demikian, menurut Durkheim, tugas sosial agama adalah memelihara dan melestarikan warga yang ada. Agama berfungsi sebagai katalisator bagi kohesi dan kebersamaan sosial. Hubert dan Mauss melakukan pengamatan yang sama; dia mengamati bahwa beragam ritual keagamaan hanya bertahan selama dan ketika orang-orang hidup berdampingan dan merupakan hasil dari rasa solidaritas yang lebih kuat (Shonhaji, 2012).
Menurut Radcliffe Brown, keberadaan ketertiban manusia yang teratur bergantung pada kehadiran perasaan khusus di otak anggotanya, yang mengatur bagaimana individu berperilaku dalam interaksi mereka dengan orang lain. Dalam parameter tertentu, banyak jenis ibadah muncul untuk melayani fungsi sosial. Menurut dia, ibadah-ibadah tersebut berfungsi untuk mengatur, memperkuat, dan menularkan berbagai perasaan dari generasi ke generasi, sebagai tempat bergantung terjadinya keputusan-keputusan rakyat. Ibadah, menurut Malinowski, memiliki kemampuan untuk mengubah kekhawatiran menjadi keyakinan. Agama mengekspresikan dan membantu pelestarian tradisi, dan layanan keagamaan yang beragam terus dilakukan oleh atau atas nama berbagai komunitas (Shonhaji, 2012).
Menurut Malinowski, walaupun agama diyakini muncul dari pengalaman masyarakat, ritual publik memiliki peran sosial karena tunduk pada struktur sosial, dan agama pasti harus melayani tujuan moral. Selain itu, ia menegaskan bahwa kebiasaan penguburan berkontribusi pada penegasan kembali kesatuan kelompok. Menurut Auguste Comte, agama adalah alat yang diperlukan untuk membangun dan melestarikan konsensus. Sementara itu, seperti yang diamati Brian Morris, ritual tidak hanya membantu meningkatkan hubungan antara orang percaya dan Tuhan, tetapi juga membantu memperkuat ikatan yang mengikat orang dengan pengelompokan sosial di mana mereka diinisiasi
melalui ritual kelompok, yang memungkinkan mereka mengembangkan kesadaran akan diri mereka sendiri (Shonhaji, 2012).
Paparan di atas menampilkan kalau betapa agama dalam aspek ritual peribadatannya memiliki kedudukan serta fungsi yang signifikan dalam mendesak terwujudnya solidaritas sosial. Dalam pengamatan M. Ridwan Lubis (2010), agama memerankan dua fungsi utama, sebagai berikut.
1. Menerangkan sesuatu cakrawala pandang tentang dunia yang tidak terjangkau oleh manusia (beyond) yang bisa melahirkan deprivasi serta frustasi yang bermakna. Tidak hanya itu, agama mengarahkan pemahaman terhadap pemikiran dunia (world view) yang pada kesimpulannya melahirkan etos kerja selaku pengejawantahan balasan sempurna yang hendak diterima seorang kala terletak di alam setelah kebangkitan.
2. Agama selaku sarana ritual yang membolehkan ikatan manusia dengan perihal yang di luar jangkauannya. Ikatan ini berkembang dari penumpukan dua perilaku yang pada dasarnya saling berlawanan (ketakutan serta kerinduan) namun setelah itu larut jadi satu dalam diri manusia.
Terpaut dengan ikatan antarkelompok etnik, konflik antarsuku akan tereliminir manakala anggota suku tersebut terjalin ikatan silang dengan kelompok lain. Oleh sebab itu, tidak bisa disangkal kalau keakraban agama jadi salah satu aspek dominan dalam merekat ikatan antarkelompok sosial.