• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Perubahan Sosial

Dalam dokumen Islam dan Ilmu Sosial Humaniora (Halaman 186-189)

Perubahan sosial ialah fenomena kehidupan sosial yang tidak dapat dihindari oleh tiap orang ataupun kelompok warga. Terbentuknya perubahan sosial ialah indikasi normal yang timbul sebagai akibat dari proses interaksi manusia di dalam serta dari warga. Perubahan sosial sebagai sesuatu proses pergantian wujud yang mencakup totalitas aspek kehidupan warga. Proses tersebut berlangsung selama sejarah hidup manusia, baik itu dalam lingkup lokal ataupun global. Pergantian sosial tersebut bisa terjalin sebab pada dasarnya warga itu tidak bertabiat statis melainkan dinamis serta heterogen (Jurdi, 2012). Perubahan sosial pula bisa terjalin sebab terdapatnya pergantian dalam unsur-unsur yang mempertahankan penyeimbang warga, semacam pergantian dalam unsur-unsur geografis, biologis, murah, kebudayaan, serta perubahan-perubahan tersebut dicoba untuk membiasakan dengan pertumbuhan era yang dinamis (Salim, 2020).

Bagi William F. Ogburn, perubahan-perubahan sosial terpaut dengan unsur-unsur raga serta rohaniah manusia akibat pertautannya dengan dinamika manusia sebagai sesuatu keseluruhan. Perubahan pola pikir, pola perilaku serta pola tingkah laku manusia (yang bertabiat rohaniah) lebih besar dipengaruhi oleh perubahan-perubahan kebudayaan yang bertabiat material. Misalnya, kondisi-kondisi murah, geografis, ataupun biologis (unsur-unsur kebudayaan material) menimbulkan terbentuknya perubahan-perubahan pada aspek-aspek kehidupan sosial yang lain (pola pikir, pola perilaku, serta pola tingkah laku) (Marius, 2006).

Bagi Gillin dan Gillin, perubahan sosial menunjuk dinamika warga serta reaksinya terhadap area sosialnya baik menyangkut tentang metode dia hidup, keadaan alam, metode dia berkebudayaan, dinamika

kependudukan ataupun filsafat hidup yang dianutnya sehabis dia menciptakan hal-hal baru dalam kehidupannya. Komentar Gillin dan Gillin ini tidak berbeda jauh dengan komentar Samuel Koenig yang berkata kalau pergantian sosial menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang terjalin dalam pola-pola kehidupan manusia (Marius, 2006).

Di lain pihak, sosiolog Indonesia, Selo Soemardjan lebih memandang perubahan sosial itu dari cermin mata pergantian lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam sesuatu warga. Pergantian lembaga-lembaga kemasyarakatan itu memengaruhi sistem sosialnya, terutama di dalamnya nilai-nilai, perilaku, serta pola sikap di antara kelompok-kelompok dalam warga. Penafsiran perubahan sosial bagi Soemardjan ini tidak berbeda jauh dengan Kingsley Davis yang mengartikan perubahan sosial selaku perubahan-perubahan yang terjalin dalam struktur serta guna warga. Kala struktur warga berganti, hingga guna serta kedudukan, pola pikir serta pola perilaku warga juga berganti. Penafsiran perubahan sosial bagi Soemardjan serta Davis ini erat sekali kaitannya dengan pemikiran klasik Durkheim tentang pertumbuhan warga dari sistem yang berkarakteristik mekanik (yang penuh kekeluargaan, keintiman, tiap-tiap orang bisa penuhi kebutuhannya sendiri tanpa membutuhkan dorongan orang, belum terdapatnya spesialisasi pekerjaan, terdapatnya pemahaman kolektif bersama) ke sistem warga yang berkarakteristik organik. Warga organik ini telah maju di mana tiap orang bekerja cocok dengan keahliannya serta saling tergantung satu sama lain, terdapatnya norma hukum yang sudah disepakati, terjadinya ikatan-ikatan atas dasar profesi ataupun pekerjaan, ikatan antara manusia bersumber pada kepentingan, serta sebagainya (Marius, 2006).

Sederhananya, perubahan sosial merupakan pergantian yang terjalin dalam struktur warga yang bisa pengaruhi pola interaksi sosial di dalam sesuatu warga yang bisa bertabiat membangun kepribadian manusia mengarah proses yang lebih baik ataupun malah kebalikannya. Perubahan sosial ini memiliki dua konsep dasar yang saling berkaitan, yakni dinamika sosial serta struktur sosial (Salim, 2020). Yang diartikan

dengan dinamika sosial mencakup seluruh perihal yang berganti dari waktu ke waktu yang mendesak manusia buat menggapai sesi penyeimbang baru serta lebih lengkap ataupun lebih besar dari tadinya, sebaliknya struktur sosial menuju pada hierarki warga yang bersumber pada tingkatan pertumbuhan dari sesuatu masa ke masa yang selanjutnya.

Penafsiran perubahan sosial dikemukakan oleh para pakar dengan aksentuasi yang berbeda-beda, cocok dengan sudut pandangnya masing-masing. Terlepas dari perbandingan pemikirannya, yang jelas, para pakar setuju kalau pergantian sosial terpaut dengan warga serta kebudayaan dan dinamika dari keduanya (Marius, 2006).

Tatanan kehidupan manusia dalam kerangka kesejarahannya tetap berevolusi menjajaki pertumbuhan waktu. Semenjak manusia memahami di luar dirinya, semenjak itu pula merambah dunia pergantian. Dengan demikian, bisa dinyatakan kalau pergantian sosial terjalin sebab terdapatnya kontak sosial. Sosial kontak ini terwujud dalam interaksi (Idris, 2013).

Ada sebagian pemikiran yang melaporkan seputar dasar terbentuknya interaksi (Idris, 2013). Pemikiran tersebut sebagai berikut.

1. Pemikiran pertama, menyatakan bahwa hidup bersama dengan orang lain, bukan suatu yang kebetulan, melainkan suatu yang bersangkut paut dengan eksistensi manusia, dengan kata lain hidup bersama bukan saja sesuatu realitas, namun suatu yang wajib terdapat, serta itu memastikan eksistensi manusia selaku manusia. Dalam perihal ini, Heidegger melaporkan, sein ist mif Sein, eksistensi manusia merupakan eksistensi bersama. Jadi, eksistensi itu terjalin sebab kodrat manusia.

2. Pemikiran kedua, melaporkan kalau manusia merasa terdapatnya kebutuhan buat mencari ikatan individu dengan orang lain sedemikian rupa sehingga dia merasa kurang lengkap jika dia mengisolasikan diri, ialah senantiasa merasa kesepian, serta pada tiap orang terdapat pemahaman buat menanggulangi kesepian itu.

Mungkin yang dilihat merupakan dengan menyerahkan diri pada orang lain. Maksudnya, diri sendiri itu dipadati serta disempurnakan dengan orang lain. Dari pemikiran ini tercermin pula kalau interaksi itu betul-betul terwujud di atas kodrat manusia.

3. Pemikiran ketiga, melaporkan kalau ikatan (interaksi) antara individu dengan orang lain merupakan ikatan etis. Sebab manusia selaku makhluk etis, ikatan itu merupakan sesuatu kewajiban.

Dari tiga pemikiran tentang hidup bersama ataupun interaksi sosial di atas, bisa dinyatakan kalau interaksi sosial merupakan sesuatu keharusan sebab tidak hanya ialah kodrat manusia pula ialah sesuatu kewajiban etis. Dengan dasar ini, perubahan sosial merupakan sesuatu keharusan pula. Di sisi lain, bisa pula dinyatakan kalau pergantian itu mencuat sebab terdapatnya kegiatan. Karena kegiatan tidak pernah berakhir, perubahan juga tidak sempat tersudahi. Tiap kegiatan dicoba buat menanggulangi sesuatu permasalahan. Sehabis kegiatan itu berakhir, timbul lagi permasalahan baru yang menuntut terdapatnya kegiatan, demikian seterusnya (Idris, 2013).

Dalam dokumen Islam dan Ilmu Sosial Humaniora (Halaman 186-189)