• Tidak ada hasil yang ditemukan

(2) APA YANG TERJADI DI INDONESIA?

Dalam dokumen menguak tabir g30s bagian pertama (Halaman 193-200)

Surat Soekarno kepada Dew

(2) APA YANG TERJADI DI INDONESIA?

Oleh: Prof.Dr. Benedict Anderson dan Prof. Dr. Ruth McVey

Sabtu ini saya publikasikan bagian-2 bahan berjudul "Apa yang terjadi di Indonesia". Bagian pertama telah disiarkan pada tanggal 25 Agustus y.l.

Bahan tsb adalah sepucuk surat yang dikirimkan oleh Prof.Dr. Benedict Anderson dan Prof. Dr. Ruth McVey, tertuju kepada Editor Penerbit New York Review of Books. Surat tsb ditulis pada tanggal 9 Februari 1978. Seperti karya-karya analitis dan studi politik Ben Anderson lainnya mengenai Indonesia yang banyak ditulis dan diwawancarainya, meskipun itu ditulis atau dikatakan beberapa waktu yang lalu, namun, sebagian besar isinya masih relevan. Bahkan amat relevan ketika saat ini sedang dalam suasana mengingat kembali Peristiwa Tragedi Nasional dalam tahun 1965. Luas diketahui di kalangan dunia penelitian politik internasional maupun Indonesia, studi dan analisa Ben Anderson mengenai politik Indonesi,dilakukannya secara luas dan mendalam, independen dan obyektif. Maka, meskipun tulisan tsb dibuat 27 tahun y.l., namun, isinya tetap relevan.

Di bagian (2) ini menarik dan patut diperhatikan apa yang disimpulkan oleh Ben dan Ruth McVey dari studinya sekitar APA YANG TERJADI DI INDONESIA pada bulan Oktober 1965, sbb: (Saya kutip lengkap bagian ini, I.Isa):

Hakikatnya, problim utama bagi Suharto pada tanggal 1 Oktober bukanlah grup kup itu, tetapi Presiden Sukarno, yang menentang klaim Suharto untuk memimpin tentara dan mengedepankan Pranoto yang lebih dipercayainya -- saingan lama Suharto.

Tidak sekali Ben Anderson mengemukakan bahwa apa yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 1965, akhirnya adalah suatu tindakan "pembersihan" di kalangan tentara Indonesia, yang berakhir pada penumbangan Presiden Sukarno dan penghancur- kan samasekali PKI dan kekuatan Kiri lainnya yang mendukung Presiden Sukarno. Tulisannya kali ini yang saya publikasikan kembali secara berseri, ditulis bersama cendekiawan Barat lainnya, Ruth McVey, sebagai respons terhadap tulisan cende- kiawan Francis Galbraith [1913-1986], berjudul "APA YANG TERJADI di INDONESIA? Suatu Pertukarfikiran."Berikut ini adalah sambungan surat Ben Anderson daRuth McVey, kepada Editor NY Book Review:

"Pembersihan" ini -- pembunuhan terhadap enam jendral tingkat atas -- terlaksana pada lewat tengah malam oleh Letkol Untung yang tak terkenal dan satu batalyon pasukan (halaman 64). Suatu cara drastis aneh yang dimaksudkan untuk menjamin suatu perombakan kabinet; aneh sedikit orang untuk menjamin imunitas terhadap retribusi oleh sesama perwira. Komentar Studi CIA tidak kurang mengherankan: Ia memperlihatkan, baik sukses program Biro Khusus melakukan subversi di dalam AD sehingga PKI bisa berbuat seperti melakukan penculikan seluruh komando tertinggi Tentara, maupun terjadinya suatu keadaan dimana terlihat situasi umum ketidak-siapan [sic] PKI pada saat menhadapi tantangan-menyeluruh dari fihak militer. (halaman 180).

Sebagai kompensasi terhadap ketiadaan kekuatan militer yang menyedihkan itu, orang mestinya menantikan para pelaku kup itu akan menggunakan semaksimal mungkin nama dan otoritas Sukarno. Namun, anehnya, mereka tidak berbuat demikian, bahkan tidak dalam siaran mereka pada saat kemenangan pertama. Analisis CIA itu bingung oleh kenyataan ini: Hampir tidak dapat dibayangkan bahwa siapapun yang melakukan kup di Indonesia dalam tahun 1965, tidak akan mencoba untuk menggunakan otoritas Sukarno untuk merebut dukungan umum di belakang gerakan itu

Kenyataan bahwa Sukarno disebut hanya sebagai seseorang "yang dilindungi" (oleh grup pelaku kup) menciptakan suatu kesan yang samar-samar bahwa kup tsb mungkin anti-Sukarno. (halaman 22).Suatu kesalahan aneh yang dibuat kaum komunis yang dilindungi Sukarno. Lebih aneh lagi, sebagaimana halnya dibikin jelas oleh studi CIA itu, para pelaku-kup tidak memobilisasi dukungan massa sesuatu yang dapat dilakukan oleh kaum Komunis:

Bila PKI yang melakukan kup itu. mengapa ia gagal untuk melancarkan propaganda menyeluruh untuk mendukungnya. PKI mampu sekali untuk itu, untuk memobilisasi opini umum di Indonesia (halaman 128).

SAatu-satunya pengecualian terhadap kepasifan yang menimbulkan tanda tanya ini,ialah munculnya editorial dalam suratkabar PKI pada tanggal 2 Oktober, yang, dengan membenarkan tindakan para pemimpin kup telah "memberikan tentara dokumen justifikasi bagi kemusnahan PKI sendiri" (halaman 67). Adalah meng- herankan bahwa tajuk rencana tanggal 2 Oktober itu, munculnya sesudah kup itu gagal, begitu tergesa-gesa, sedangkan pada hari sebelumnya koran-koran Komunis jelas behati-hati. Laporan CIA itu berasumsi bahwa para redaktur berfikir kup masih berjalan lancar ketika suratkabar itu diletakkan di atas percetakan pada sore tanggal 1 Oktober (Halaman 68), namun di tempat lain diberitakan bahwa pada petang hari telah jelas bahwa kup itu telah gagal. Lebih aneh lagi ialah, munculnya surat kabar itu tidak distop oleh Jendral Suharto, yang pada malam hari tanggal 1 Oktober telah menguasai ibukota dan telah menempatkan semua media di bawah kontrol militer yang ketat. Bagaimana bisa editorial yang memberatkan /melibatkan itu muncul di kiosk-kiosk penjualan koran pada keesokan harinya? Laporan CIA tsb mengarahkan bahwa editorial itu dibuat sebelumnya (halaman 68). Barangkali itu yang terjadi, tetapi tidak mesti hal itu dilakukan oleh pimpinan Partai.

Bila, seperti bukti-bukti itu menyarankannya, kup itu dimaksudkan bukan untuk memperluas, tetapi sebaliknya untuk menghancurkan kekuatan kaum Komunis, maka tidak masuk akal bahwa manuver seperti itu diluncurkan oleh pimpinan tentara, hal mana berakhir dengan kematian-berdarah yang bersangkutan. Tetapi eselon yang lebih tinggi tentara Indonesia keadaannya jauh dari bersatu. Salah seorang dari jendral senior yang tidak dimasukkan dalam klik-klik sekitar dua jendral tertinggi Nasution dan Yani -- adalah orang yang oleh kup dinaikkan ke singgasana kekuasaan, yaitu Jendral Suharto. Suharto ketika itu komandan KOS- TRAD, tentara cadangan strategis pilihan, dan sesudah Yani, adalah jendral yang paling senior yang sedang dinas aktif. Ia hanya memelihara hubungan yang sangat dingin dengan Nasution dan Yani. (Catatan Ben dan McVey: Bertindak atas dasar informasi yang diperoleh oleh Pranoto, kepala staf Suharto, Nasution telah memecat Suharto dari jabatannya sebagai komandan divisi Jawa Tengah (maksud- nya Divisi Diponegoro -- I.Isa) dalam tahun 1959 karena ia (Suharto) terlibat penyelundupan. Lihat Harold Crouch, "Tentara Indonesia dalam Politik: 1960-1971 (tesis PH.D, Monash University, 1975), halaman 164,207 dan 228.

Seperti yang dicatat oleh CIA, ia (Suharto) bukan orang yang disasar oleh grup yang melakukan kup -- "pasti merupakan kesalahan besar para perancang kup". Ini teristimewa menarik karena tiga yang diatas dari perancang kup itu punya alasan khusus untuk mengetahui Suharto itu orang yang seperti apa dan mengapa KOSTRAD itu begitu penting: Letkol Untung, Brigjen Supardjo dan Kolonel Latief pernah atau masih berada langsung di bawah Suharto. Beberapa saat sebelum kup, Latif memimpin latihan-latihan gabungan untuk menguji pertahanan ibukota -- maka tidaklah mungkin bahwa ia tidak tahu instalasi-instalasi apa yang vital bagi penguasaan militer atas kota.

Namun Suharto tidak diganggu. Benar sekali, tidak ada percobaan apa-apa untuk menduduki atau mengepung Markas Besar KOSTRAD, dimana Suharto menegak- kan komando kontra-kupnya. Dan meskipun pasukan-pasukan kup merebut instalasi-instalasi sipil pusat, mereka tidak mencoba untuk menguasai komunikasi KOSTRAD yang amat canggih, suatu sistim darurat militer utama, dengan mana Suharto langsung mengumpulkan kendali kekuasaan di tangannya sendiri.

Hakikatnya, problim utama bagi Suharto pada tanggal 1 Oktober bukanlah grup kup itu, tetapi Presiden Sukarno, yang menentang klaim Suharto untuk memimpin tentara dan mengedepankan Pranoto yang lebih dipercayainya -- saingan lama Suharto.***

Marilah kita ikuti bagian terakhir dari surat Ben dan Ruth tsb:

(3) *APA YANG TERJADI DI INDONESIA, Oktober 1965 ?

Surat Prof Dr Ben Anderson dan Prof. Dr. Ruth McVey* <9 Februari 1978>

Ini adalah bagian terakhir surat Ben Anderson dan Ruth McVey, pakar Indonesianis berbangsa Amerika yang ditujukan kepada New York Times Book Review. Isinya mengkritisi tanggapan pakar lainnya bernama Francis Galbraith yang secara sederhana menarik kesimpulan gampang-gampangan mengenai apa yang terjadi di Indonesia, pada tanggal 1 Oktober 1965. Ben dan Ruth malah menunjukkan fakta-

fakta bahwa analisis CIA lebih patut diperhatikan, karena mengandung fakta-fakta yang banyak orang kurang memperhatikannya.

Dalam bagian terakhir dari surat Ben dan Ruth, mereka minta perhatian pada kenyataan, bahwa apa yang terjadi di Indonesia sesudah 1 Oktober 1965, setelah dibunuhnya 6 jendral dan seorang perwira menengah, -- adalah p e m b a n t a i a n m a s a l, pembunuhan besar-besaran yang tidak ada taranya dalam sejarah Indonesia. Tetapi yang oleh pemerintah Indonesia sampai saat ini seperti terlupakan saja. Tak ada yang dimintai pertanggungan-jawabnya mengapa ratusan ribu, bahkan lebih satu juga manusia Indonesia yang tak bersalah, telah dibunuh, tanpa proses pengadilan apapun.

Sungguh sulit dimengerti, bahwa begitu lama dunia politik, kalangan ilmuwan, khususnya ilmu sejarah di Indonesia bisa bungkam begitu lama mengenai masalah tsb. Kalau ada sesuatu yang teramat serius yang merupakan problim besar dalam hati nurani dan bawah-sadar bangsa ini setelah 60 tahun hidup sebagai bangsa merdeka, ialah k e b u n g k a m a n n y a terhadap pelanggaran HAM terbesar yang terjadi pada dirinya sendiri.

Surat Ben dan Ruth itu ditulis 27 tahun yang lalu. Problim-problim dan analisis yang mereka ajukan masih tetap relevan. Masih tetap saja belum terjawab. Ada berita gembira bahwa baru-baru ini dinyatakan oleh kalangan yang bersangkutan mengenai arsip negara, bahwa mereka akan mengadakan penelitian dan pelaca- kan, dimana surat asli yang terkenal dengan nama SUPERSEMAR itu ? Namun, yang lebih penting lagi ialah berusaha mencari kebenaran, mengadakan penelitian dan studi yang mendalam oleh yang bertanggung-jawab, oleh pemerintah, mengenai masalah ini: APA YANG TERJADI DI INDONESIA pada 1 OKTOBER 1965. Demi penulisan sejarah bangsa ini, untuk menjadi pelajaran di masa depan, khususnya bagi generasi baru kita: Adalah tanggung jawaba seluruh masyarakat, terutama penguasa, pemerintah dalam usaha mencari jawaban terhadap masalah tsb; sampai dimana penguasa, aparat, terlibat dan bertanggungjawab atas pelanggaran HAM demikian kolosalnya pada tahun-tahun 1965, 1966 dan 1967? Dalam kenyataannya, problim utama Suharto pada tanggal 1 Oktober bukanlah grup yang melakukan kup itu, tetapi Presiden Sukarno., yang menolak klaim Suharto untuk menjadi pemimpin tentara dan sebaliknya mengajukan Pranoto yang lebih dipersacaya - seorang saingan lama Suharto.

Namun akhirnya, -- setelah mengepung pangkalan udara dimana Sukarno berlindung, dan setelah ia memberikan hakikatnya suatu ultimatum kepada Presiden Sukarno - Suharto memperoleh apa yang dikehendakinya. Apakah perha- tian CIA terhadap semua ini? Barangkali hanya menyerupai suatu keprihatinan historiographis yang keilmiah-ilmiahan. Atau barangkali Lembaga itu (CIA), memiliki koneksi yang lebih erat terbanding pada apa yang disimpulkan oleh analisisnya sebagai yang dikatakan "mungkin terbukti merupakan salah satu peristiwa terpenting pada periode pasca [Perang Dunia II]. Dampak (repercusions) politik dari kup tsb tidak hanya telah mengubah seluruh arah sejarah Indonesia tetapi ia merupakan efek mendalam terhadap cakrawala(scene) politik dunia, khsususnya yang menyangkut Asia Tenggara" (halaman 70).

Memang, bagi CIA, tampaknya hal itu punya nilai tanpa suatu risiko kecil untuk mengakhiri "menggelundungnya dengan lancar ke Kiri" satu bangsa yang kelima besarnya didunia, khususnya pada saat dimana Amerika Serikat sedang sibuk melakukan perlawanan terhadap kemajuan menyeluruh kaum Komunis di Vietnam. Bila memang begitu, Lembaga itu (CIA) rendah hati sekali mengenai apa yang dicapainya. Tetapi hal itu mungkin bisa dimengerti, karena move itu tidak hanya melibatkan enam orang jendral, tetapi, melibatkan suatu pogrom (pengejaran) yang menyertainya, yang merupaikan salah satu dari pembantaian terbesar dalam zaman kita.

Sebagaimana disimpulkan oleh analisa CIA: Dalm hal jumlah yang telah dibunuh, pembantaian anti-PKI di Indonesia merupakan salah satu dari pembunuhan masal yang paling buruk pada abad keduapuluh, sama seperti pembersihan yang dilakukan Sovyet dalam tahun 1930-an, pembunuhan masal Nazi selama Perang Dunia II, dan pertumpahan darah Maois pada permulaan tahun 1950-an.

Pada tanggapan kedua, kup Indonesia itu pasti merupakan salah satu dari peristiwa yang paling penting di abad keduapuluh, jauh lebih penting terbanding peristiwa- peristiwa lainnya yang telah memperoleh banyak publisitas. [halaman 71, nota]. Benedict Anderson

Profesor of Government

Cornel University, Ithaca, New York

Ruth McVey - Reader in Politics, School of Oriental and African Studies, London, England.

****************************** Sumber: TEMPO Edisi 1-7 Maret 2004

REVISI KUHP: JAUH DARI SEMANGAT REKONSILIASI Oleh: Bambang K. Prihandono*

“Nichts ist so erschuetternd wie Schweigen“. Tak ada yang menggetirkan seperti kebungkaman, ungkap Leo Baeck, presiden Reichsvertretung-Jerman Yahudi. Ia, yang menjabat presiden di era kepahitan sejarah bangsa Yahudi 1933-1943, mesti mendokumentasikan dan mengungkapkan kepedihan sejarah holocaust (Zygmunt Bauman, Dialektik der Ordnung, 2002). Mungkin, ia tak pernah membayangkan bahwa sejarah peradaban umat manusia di berbagai belahan bumi, atas nama ideologi dan kepentingan ekonomi-politik, selalu menunjukkan konflik berdarah. Politik barbar. Jutaan manusia mesti lenyap dari muka bumi karena menjadi „yang lain“ atau the other. Ia tak juga membayangkan bahwa di tahun 60-an, di negeri yang demikian jauh dari ladang pembantaian Auschwitz tercipta ladang-ladang baru pembantaian. Di sungai, di jalanan, di depan rumah, bahkan di kantor-kantor resmi penguasa keamanan telah berubah menjadi ruang jagal. Itulah, Jawa dan Bali pada masa pancaroba politik 1965-1966.

Kepentingan politik, ekonomi dan ideologi adalah pemicu konflik, yang berujung pada pembantaian jutaan manusia (tertuduh) komunis. Sebuah ketetapan, Tap MPRS XXV 1966, pun menjadi landasan „moral“ pembungkaman nurani kemanusiaan.

Bertahun-tahun kemudian, sejarah pahit itu terpendam, dengan segala kegetirannya. Pasca kejatuhan rejim Orde Baru, tuntutan akan keadilan bagi korban mulai bermunculan secara terbuka. Tema rekonsiliasi menjadi agenda yang diupayakan berbagai kalangan. Anehnya, ditengah kecenderungan arus gerakan rekonsiliasi, justru ada „perlawanan“ dari pemerintah dengan adanya rencana Revisi KUHP. Salah satu tema pokok „revisi“ adalah tetap mencantumkan ideologi Komunisme dan Leninisme sebagai paham terlarang. Maka, pertanyaannya, nalar apakah yang bersembunyi dibalik gagasan tersebut? Dan apa pula implikasinya?

Pelarangan Ideologi.

Secara sederhana, ada dua hal yang selalu menjadi perdebatan tentang pelarangan ideologi Komunisme/ Leninisme. Pertama, ideologi bisa atau tidak dipidanakan; kedua, landasan „trauma sejarah“ di masa lalu. Kita perlu menelisik lebih jauh, untuk menemukan sesuatu yang berada di seberang (beyond) pelarangan ideologi. Maka, penelusuran akan definisi „ideologi“ pun penting untuk dikerjakan, demi memperoleh keluasan perspektif.

Mengacu pada Philosophisches Wörterbuch (1997), ideologi adalah imagi dan kesadaran dari individu atau kelompok yang berkembang sesuai dengan konteks historis masyarakat. Ideologi juga memerankan sebuah fungsi sosial di masyarakat, yaitu sebagai pemicu motivasi. Maka, Komunisme, Kapitalisme dan bahkan Agama bisa dikategorisasikan sebagai ideologi. Seiring dengan perkembangan historis masyarakat, maka ideologi pun mengalami kerumitan dan keragaman tafsir. Semula, ideologi dianggap netral, namun sejak Marx memblejeti wataknya, terbukti bahwa ideologi juga menyimpan kepalsuan. Marx membongkar ideologi sebagai moda kekuasaan, yang sering digunakan oleh kelas penguasa politik dan kapital untuk menyembunyikan kepentingan-kepentingan kelasnya. Ideologi tak lebih sebagai “kesadaran palsu“, di mana selalu menyembunyikan kebenaran demi kepentingan politik-ekonomi. Ideologi lalu menjadi pembenar dari ambisi kekuasaan. Dalam konteks ini, agama yang sering dianggap berada dalam “langit suci“, bisa pula terjebak menjadi ideologi yang menipu penganutnya sendiri. Penyebabnya adalah elite agama dan politik, yang selalu mengeksploitasi agama demi keuntungan kelasnya sendiri. Sejarah Eropa abad pertengahan dengan peran gereja dan negara yang bercampur menunjukkan kasus tersebut.

Tafsir ideologi tersebut, tentu berbeda dengan ideologi kapitalisme, yang mengajar- kan bahwa persaingan bebas perlu untuk kemajuan umat manusia. Implikasinya, sistem kepemilikan, alat-alat produksi, dan hak-hak kebebasan pribadi perlu dijamin. Ideologi, dengan demikian, berwajah multi-tafsir dan abstrak (lihat Kurt Lenk, Ideologiekritik und Wissenssoziologie, 1972).

Jika ideologi bermain dalam wilayah kesadaran dan multi-tafsir, maka menjadi ganjil dan demikian sulitnya hal itu dipidanakan. Meski demikian, bagi kalangan “pro- revisi”, ideologi (Komunisme dan Leninisme) bisa dipidanakan dan dikriminalkan. Landasan argumennya pun bukan terletak pada konsepsi ideologi, namun mencari pada basis “trauma-sejarah”, bahwa masa lalu Partai Komunis menciptakan teror dan konflik sosial. Benarkah?

Trauma sejarah akan kekerasan adalah hal yang tak terelakkan, jika sebuah bangsa mengalami peristiwa getir, kejam, dan pelecehan hak-hak azasi manusia di masa lalu. Hanya, bila yang diingat hanya “kekejaman” satu pihak dan melupakan kekejaman pihak lain, hal itu adalah manipulasi sejarah. Itulah yang dikerjakan terus- menerus oleh rezim Orde Baru: mereproduksi terus menerus wacana “anti-komunis”. Rezim simulacra. Hasilnya, rezim ORBA menarasikan bahwa „si komunis“ adalah „yang lain“, sosok pengancam atau penghancur tatanan sosial politik. Dunia kehidupan "si komunis“ mesti pula dibedakan dan dibungkam (Budiawan, When Memory Challenges History, 2000).

Lebih jauh, di sana tak hanya terjadi pemalsuan sejarah, namun bersarang pula "penalaran sejarah“. Penalaran itu adalah “logika politik” yang dibangun dengan mengabaikan dimensi korban dan tindakan politik barbar. Pembungkaman atas lawan politik dianggap sebagai “kewajaran”. Pembunuhan atas jutaan manusia adalah wajar, politik yang mengenyahkan lawan adalah kenormalan. Salah satu jalan „penetralan“ atau „penormalan“ sebuah peristiwa kekejaman adalah dengan institusionalisasi hukum, sebagai bagian tak terpisahkan dari birokrasi. Ketetapan MPRS XXV Th. 1966 pun menjadi bukti, bahwa atas nama hukum, penyingkiran dan pelupaan „yang lain“ menjadi legitim.

Pada titik ini, hukum tidak menjalankan fungsinya sebagai pendorong dan penjaga gawang proses demokrasi, namun hukum lebih menampilkan sebagai pelayan dan pelegitim dari kelompok kepentingan. Rencana Revisi KUHP yang tetap memper- tahankan pelarangan ideologi Komunisme dan Leninisme, pun dapat dibaca tak sekedar sebagai ideologi dapat diadili atau tidak, namun disana bersarang nalar „berpolitik“. Nalar yang mengklasifikasikan antara „kami“ dan „yang lain“. Nalar yang mengesahkan bahwa „yang lain“ wajar untuk dibungkam dan dilenyapkan.

Semangat Rekonsiliasi yang Menjauh.

Rekonsiliasi adalah agenda sebuah bangsa yang punya pengalaman sejarah pahit, untuk membangun peradaban baru. Negeri-negeri pasca-otoritarian, yang selalu haus akan korban, menuntut bahwa peradaban yang lebih baik hanya akan tercapai lewat jalan rekonsiliasi. Jalan ke titik rekonsiliasi biasa melalui proses hukum dan proses kultural. Proses hukum bertujuan untuk memperoleh keadilan bagi korban dan sanksi bagi pelaku kekerasan. Niscaya, proses hukum ini tak bisa berjalan tanpa adanya proses kultural. Proses penyembuhan luka-luka batin. Pada titik inilah perlunya pengakuan, proses "mendengar“ jeritan luka-luka batin. Hal ini penting, sebab para korban telah kehilangan jati-dirinya sebagai manusia akibat pembung- kaman dan pengkambing-hitaman. Marta Minow (Between Vengeance and Forgiveness: Facing History after Genocide and Mass Violence 1998 dalam Budiawan 2003) secara gamblang menyebut, bahwa membiarkan korban bercerita dan memaknai cerita sebagai testimoni adalah sebuah penghargaan dan bantuan untuk korban menemukan jati dirinya kembali.

Jika rekonsiliasi mensyaratkan dua hal tersebut, maka pelanggengan larangan ideologi Komunisme dan Leninisme pada rencana Revisi KUHP jelas semakin "membisukan“ para korban. Maka, persoalannya bukan pada ancaman bangkitnya sebuah ideologi, namun lebih ancaman akan pembrangusan proses rekonsiliasi. Kita bisa membayangkan, bahwa para korban tak akan mampu bersuara, sebab beban

masa lalunya tetap menjadi "tertuduh“, "kambing hitam“ dan biang kerok "kekejaman“. Ketakutan yang tetap menjerat "dunia batin“ para korban kekerasan. Hilangnya empati pada korban, tentu berimplikasi pada hilangnya proses memba- ngun demokrasi. Hal ini disebabkan karena kungkungan nalar, bahwa "yang lain“ adalah musuh telah menjadi kabut penghalang ke arah pencerahan-pencerahan budi. Jauh-jauh hari Theodor Adorno (1971), seorang filsuf dan sosiolog Yahudi yang selamat dari kekejian NAZI, telah merefleksikan bahwa generasi baru (Jerman) mesti tidak lagi mengulangi tindakan barbar. Belajar pada sejarah pahit kamp pembantaian Auschwitz dan “refleksi diri” adalah cara pencapaian pencerahan untuk membangun pendidikan “kedewasaan” (Erziehung zur Muendigkeit). Sebuah pendidikan yang menghargai harkat kemanusiaan.

Meminjam refleksi Adorno untuk meneropong kasus-kasus kekerasan di Indonesia, kita menemukan bahwa empati pada korban masih jauh dari harapan. Alih-alih menghormat para korban, kita masih menyaksikan sebuah peristiwa pembongkaran makam korban kekerasan 1965 pun diserang dengan makian, kekerasan dan penolakan. Dan kini, kita pun dikejutkan kembali oleh gagasan untuk melanggengkan pelarangan ideologi. Maka, gagasan pelarangan itu tak lebih sebagai kontradiksi proses demokratisasi, bahkan semakin menjauhkan diri dari proses rekonsiliasi. Akhirnya, sejarah pahit, memang, mesti menjadi pelajaran berharga untuk memba- ngun peradaban. Jika kita berdiri pada posisi “korban”, tentu korban para kiai atau non-komunis tidak dibenarkan, demikian pula korban terhadap orang-orang (tertu- duh) komunis ditolak untuk dilanggengkan. Kita tidak bisa lagi berdalih bahwa proses politik bunuh-membunuh terjadi karena dalam situasi “dibunuh atau membunuh”. Kita memerlukan pendidikan politik yang mencerahkan, yang menerobos kebekuan dendam. Semuanya demi generasi baru Indonesia sendiri.

* Penulis, staf pengajar tetap Program Studi Sosiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta *************** 0 0 0 0 0 0****************** Soebandrio;

Dalam dokumen menguak tabir g30s bagian pertama (Halaman 193-200)