VI HASIL DAN PEMBAHASAN
6.2. Analisis Aspek Finansial
6.2.1. Arus Penerimaan ( Inflow )
Komponen penerimaan yang menyusun aliran kas masuk (inflow) Elsari
Brownies and Bakery berasal dari penerimaan penjualan brownies panggang,
penerimaan penjualan kopi, dan pinjaman. Brownies panggang yang diproduksi
oleh Elsari Brownies and Bakery dijual dengan harga Rp 30.000,00 per kotak
dengan berat 500 gram. Strategi harga yang diterapkan Elsari ialah memberikan potongan harga kepada mitra penjualan dan konsumen yang mengunjungi gerai Elsari secara langsung. Potongan harga tersebut berkisar antara Rp 1.000,00 hingga Rp 2.000,00. Elsari memberikan potongan harga sebesar Rp 3.000,00 kepada agen. Kebijakan penentuan harga dari agen ke konsumen akhir diserahkan
sepenuhnya kepada masing-masing agen, namun harga jual kepada konsumen
tidak boleh di bawah harga yang ditawarkan oleh Elsari Brownies and Bakery.
Oleh karena itu, penerimaan penjualan bagi Elsari diasumsikan ialah Rp
27.000,00 per kotak brownies panggang.
1) Skenario Usaha I
Penerimaan penjualan dalam komponen inflow diperoleh dari perkalian
antara jumlah produksi yang dihasilkan oleh Elsari Brownies and Bakery dengan
harga jual produk. Kegiatan produksi Elsari dilakukan berdasarkan jumlah adonan
per kocok. Setiap satu kocok adonan akan menghasilkan 16 loyang brownies
panggang dengan berat 500 gram. Elsari Brownies and Bakery mampu membuat
10 kocok adonan setiap satu hari berproduksi sehingga akan dihasilkan 160
loyang brownies panggang. Dalam satu bulan, karyawan Elsari bekerja selama 26
hari. Oleh karena itu, Elsari mampu berproduksi sebanyak 49.920 kotak brownies
Penerimaan penjualan yang diperoleh Elsari pada skenario I adalah Rp 1.347.840.000,00 per tahun. Hasil ini diperoleh melalui perhitungan perkalian
antara jumlah produksi Elsari dengan harga jual brownies panggang.
2) Skenario Usaha II
Elsari Brownies and Bakery memiliki rencana melakukan pengembangan
usaha berupa pembukaan gerai baru di wilayah lebih strategis yang dilengkapi
dengan counter penjualan kopi. Oleh karena itu, Elsari akan meningkatkan
kapasitas produksinya guna memenuhi kebutuhan pemasaran di wilayah yang baru.
Elsari akan berproduksi dengan membuat 12 kocok adonan sehingga
Elsari mampu menghasilkan 59.904 loyang brownies panggang pada tahun
pertama dan kedua pengembangan usaha. Pada tahun ketiga hingga akhir umur
bisnis, terdapat peningkatan produksi yang dihasilkan oleh Elsari Brownies and
Bakery dibanding dengan sebelumnya. Elsari akan melakukan kegiatan produksi
dengan 15 kocok adonan yang akan menghasilkan 240 loyang brownies per hari.
Karyawan Elsari bekerja selama 26 hari per bulan. Oleh karena itu, akan
dihasilkan 74.880 loyang brownies panggang per tahun dengan berat 500 gram.
Penambahan target penjualan ini dikarenakan produk dianggap telah cukup dikenal oleh konsumen di wilayah pemasaran yang lebih strategis. Selain itu, peningkatan produksi ini didukung pula oleh penambahan barang-barang investasi
guna menunjang kegiatan operasional produksi brownies panggang.
Harga yang ditawarkan kepada pengunjung yang datang langsung ke gerai baru Elsari ialah Rp 27.000,00 sehingga penerimaan penjualan yang akan diperoleh Elsari pada tahun pertama dan kedua berjumlah Rp 1.617.408.000,00. Hasil ini diperoleh melalui perhitungan perkalian antara jumlah produksi Elsari
pada tahun pertama dan kedua dengan harga jual brownies panggang.
Berdasarkan hasil perhitungan penerimaan penjualan, Elsari memperoleh pendapatan sebesar Rp 2.021.760.000,00 pada tahun ketiga hingga akhir umur usaha.
Sumber penerimaan lain yang akan diperoleh Elsari pada skenario usaha II
berasal dari penjualan kopi. Gerai baru Elsari akan dilengkapi dengan counter
dijual dengan harga terjangkau. Layanan ini ditujukan bagi pengunjung yang
ingin menikmati brownies panggang langsung di gerai agar dapat ditemani dengan
suguhan nikmat berupa kopi. Pengunjung juga akan merasa nyaman dengan berbagai fasilitas yang ditawarkan oleh gerai Elsari antara lain fasilitas akses internet gratis.
Elsari masih dalam tahap perkenalan produk kopi kepada konsumen. Target penjualan kopi di tahun pertama dan kedua pengembangan usaha ialah 25 cangkir kopi per hari. Hal ini dikarenakan produk masih tergolong baru. Namun di tahun ketiga hingga umur akhir usaha, Elsari akan meningkatkan target penjualan hingga 50 cangkir per hari. Produk dianggap telah cukup dikenal oleh konsumen sehingga peningkatan kapasitas produksi dapat dilakukan. Harga yang ditawarkan Elsari sangat terjangkau, yaitu Rp 10.000,00 per cangkir. Dengan demikian, penerimaan yang diperoleh Elsari melalui penjualan kopi pada tahun pertama dan kedua ialah sebesar Rp 90.000.000,00 sedangkan pada tahun ketiga hingga kesepuluh ialah sebesar Rp 180.000.000,00.
3) Skenario Usaha III
Arus penerimaan yang diperoleh Elsari di skenario usaha III pada dasarnya sama dengan arus penerimaan di skenario usaha II. Elsari akan melakukan kegiatan produksi sebanyak 12 kocok adonan sehingga akan menghasilkan 4.992
kotak brownies panggang dengan berat 500 gram pada satu bulan masa produksi
(26 hari kerja) di tahun pertama dan kedua pengembangan usaha.
Elsari akan meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi target pemasaran di gerai yang baru pada tahun ketiga hingga kesepuluh. Elsari melakukan kegiatan produksi sebanyak 15 kocok adonan sehingga akan
dihasilkan 6.240 kotak brownies panggang selama satu bulan masa produksi.
Harga jual brownies panggang ialah sebesar Rp 27.000,00 per kotak. Dengan
demikian, penerimaan penjualan yang akan diperoleh Elsari di tahun pertama dan kedua adalah sebesar Rp 1.617.408.000,00 dan Rp 2.021.760.000,00 di tahun ketiga hingga akhir umur usaha.
Penerimaan lain yang diperoleh Elsari pada skenario usaha III adalah penerimaan penjualan kopi. Target penjualan Elsari pada tahun pertama dan kedua ialah sebanyak 25 cangkir per hari. Hal ini dikarenakan produk masih tergolong
baru. Pada tahun ketiga hingga kesepuluh, Elsari akan meningkatkan target penjualan Elsari menjadi 50 cangkir per hari. Penambahan target penjualan ini karena produk dianggap telah cukup dikenal oleh konsumen. Harga jual kopi ialah
Rp 10.000,00 per cangkir. Gerai Elsari dan counter penjualan kopi akan dibuka
setiap hari selama satu bulan. Oleh karena itu, penerimaan penjualan yang diperoleh Elsari pada tahun pertama pengembangan usaha adalah Rp 90.000.000,00 dan Rp 180.000.000,00 pada tahun kedua hingga akhir umur usaha. 6.2.2. Pinjaman
1) Skenario Usaha I
Perusahaan tidak melakukan peminjaman dana tambahan ke lembaga keuangan pada skenario usaha I. Hal ini dikarenakan Elsari masih mampu memenuhi pendanaan kegiatan operasionalnya dengan modal sendiri tanpa bantuan dana dari pihak ketiga. Dengan demikan, tidak terdapat pinjaman dalam
komponen inflow pada skenario usaha I.
2) Skenario Usaha II
Pengembangan usaha pada skenario II membutuhkan tambahan dana pada
komponen inflow. Tambahan dana tersebut diperlukan untuk membeli barang
investasi serta menyewa bangunan yang akan digunakan sebagai gerai baru Elsari. Oleh karena itu, manajemen Elsari akan mengajukan pinjaman kepada Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk membantu pemasukannya. Dana yang akan dipinjam adalah sebesar Rp 100.000.000,00 dengan tingkat suku bunga pinjaman sebesar 9,875 persen. Nilai ini diperoleh melalui rata-rata bunga pinjaman yang
diberikan oleh BRI dari bulan Februari 2012 hingga Maret 2012. Discount rate
yang digunakan adalah opportunity cost of capital (OCC) sebesar 6,81 persen per
tahun.
3) Skenario Usaha III
Pengembangan usaha melalui skenario III memerlukan tambahan dana yang lebih besar dibanding skenario sebelumnya. Tambahan dana ini ditujukan untuk membeli investasi berupa rumah toko (ruko) yang akan digunakan sebagai
pabrik sekaligus gerai Elsari yang dilengkapi dengan counter penjualan kopi.
Pinjaman dana dilakukan kepada Bank Rakyat Indonesia sebesar Rp 400.000.000,00 yang akan dibayar selama sepuluh tahun periode pembayaran.
Tingkat suku bunga pinjaman yang diberlakukan adalah 9,875 persen. Hal ini diperoleh berdasarkan rata-rata tingkat suku bunga pinjaman BRI selama bulan
Februari 2012 hingga Maret 2012. Discount rate yang digunakan dalam skenario
III ini adalah opportunity cost of capital (OCC) sebesar 6,79 persen per tahun.