• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aspek Historis

Dalam dokumen Terorisme, Jihad dan Perdamaian dalam Islam (Halaman 173-178)

Konstruksi Islam Nusantara: Membaca Sejarah dengan Cara Berbeda

1. Aspek Historis

mengungkap proses dinamisasi Islam dalam lokalitas praktiknya yang termanifestasi dalam Islam Nusantara.

Konstruksi Islam Nusantara: Membaca Sejarah

yang pernah singgah di Perlak pada tahun 1292 M. Dalam catatan tersebut, Marcopolo menemukan banyak pedagang India dan pendu duk Perlak yang memeluk agama Islam. Kedua, teori Mekkah. Teori ini meyakini bahwa Islam masuk ke Indonesia dibawa langsung dari Hijaz pada abad ke-7 M., yaitu pada masa kekhalifahan. Dasar teori ini adalah keberadaan perkampungan Islam di pantai barat Sumatera pada abad ke-7 M./674 M. Teori ini mendapat dukungan dari Hamka, Van Leur, dan T.W Arnold.

Menurut teori ini, Islam berkembang secara pesat di Indonesia pada abad ke-13 M. Ketiga, teori Persia. Dalam pandangan teori ini, Islam masuk ke Indonesia melalui jalur Persia pada abad ke-13 M.

Argumentasinya dilandasi oleh keidentikan unsur budaya Islam di Indonesia dengan Islam di Persia, seperti ritual yang memperingati kematian cucu baginda Nabi pada bulan Assyura dan ajaran sufi yang dianut Syech Siti Jennar yang dianggap identik dengan jalan Sufi al-Hallāj. Mayoritas penganut teori ini berasal dari kalangan Syiah.

Identifikasi atas kesamaan ritual menjadi dasar berbagai teori untuk menunjukkan asal Islam Indonesia. Meskipun demikian, keberadaan teori tersebut tidak menutup kemungkinan teori lain dimunculkan dengan dasar pijakan yang sama. Jika melihat pand angan Woodward yang menyebutkan Islam masuk ke Kerala, India Selatan semenjak masa Nabi Muhammad,6 membuka kemungkinan baru dalam mengidentifikasi asal Islam di Indonesia.

Hal demikian, disebabkan karena Kerala merupakan jalur penghubung pedagang Arab yang menuju ke India, Asia Tenggara, dan Cina. Hal ini memungkinkan untuk menyebut Islam di Indonesia berasal dari Kerala. Argumen ini bisa dikuatkan dengan keidentikan penggunaan mazhab al-Shāfi’ī dan arsitektur bangunan antara Kerala dengan Indonesia. Tetapi, dalam pandangan yang lain, Woodward mengidentifikasi konsep kerajaan dan aliran mistik yang ada di Indonesia memiliki keidentikan dengan konsep yang

6 Mark R. Woodward, Islam in Java: Normative Piety and Mysticism in the Sultanate of Yogyakarta (Tucson: The University of Arizona Press, 1989), 84–87.

ada di Indo-Persia.7 Pandangan Woodward tersebut mengarahkan pada kesimpulan bahwa Islam Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh satu kawasan, tetapi dimungkinkan dipengaruhi oleh banyak kawasan yang menyatu dalam konsep Islam Nusantara.

Identifikasi melalui sejarah memberikan gambaran utuh mengenai jaringan, proses transmisi, dan pembentukan Islam di Indonesia. Namun, kajian historis tidak cukup representatif untuk memberikan pemahaman atas dua aspek, yakni corak Islam seperti apa yang datang dan diterima oleh masyarakat Nusantara dan bagaimana proses perkembangannya. Aspek pertama berkaitan dengan penyebab perkembangan Islam yang begitu lama yang membutuhkan waktu 600 tahun dari proses kedatangannya pada abad ke-7 M. hingga berkembang pada abad ke-13 M. Proses perkembangan yang begitu lama memunculkan keraguan baru, apakah Islam yang datang di abad ke-7 M. merupakan Islam yang sama dengan Islam yang berkembang pesat di abad ke-13 M.? Jika Islam abad ke-7 M. merupakan Islam yang sama dengan abad ke-13 M., faktor apa yang mendorong perkembangan Islam baru terjadi pada abad ke-13? Jika Islam abad ke-7 M. berbeda dengan Islam abad ke-13 M., Islam apakah yang datang pada abad ke-7 M., sehingga sulit berkembang, dan Islam apa yang hadir pada abad ke-13 M., sehingga dapat berkembang pesat?

Dalam menjelaskan aspek kedua, analisis terhadap proses perkembangan Islam dengan meninjau lokalitas masyarakat yang sudah mapan sebelum kedatangan Islam dibutuhkan. Islam yang hadir dalam satu komunitas yang mapan secara sosiologis menuntut terjadinya interaksi antar keduanya. Dalam proses interaksi ini, apakah masyarakat Indonesia menjadi objek pasif dari proses islamisasi ataukah menyambutnya secara aktif-kreatif?

Jika argumentasi yang digunakan adalah sifat pasif masyarakat Indonesia dalam menerima Islam, maka Islam yang ada memiliki kesamaan dengan Islam di Arab. Namun, jika argumentasi yang digunakan adalah sifat aktif-kreatif, maka Islam di Indonesia

7 Ibid., 85.

merupakan Islam yang khas yang muncul dari proses dialektis antara kesadaran dan nilai-nilai lokalitas dengan Islam sebagai agama pendatang. Dua aspek ini menjadi kunci penting untuk melihat secara utuh karakter Islam di Indonesia yang memiliki perbedaan dengan Islam di kawasan lainnya.

Untuk menjawab problem tersebut, argumentasi yang sering digunakan selama ini adalah proses pasif masyarakat dalam pembentukan Islam di Indonesia, sehingga proses kreativitasnya diabaikan. Jika argumentasi ini dikaitkan dengan perkembangan Islam yang tersendat pada abad ke-7 M. dan berkembang secara signifikan pada abad ke-13 M., maka argumentasi tersebut tidak menemukan pembuktiannya. Signifikansi perkembangan Islam pada abad ke-13 M. yang tinggi, justru menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menyambut Islam secara aktif dan kreatif.

Menyambut secara aktif bermakna melakukan filter terhadap Islam yang datang untuk disesuaikan dan dipilah nilai-nilai yang sesuai dan nilai-nilai yang bertentangan. Sedangkan, menyambut Islam secara kreatif bermakna memaknai dan menghayati Islam berdasarkan konteks lokalitasnya.

Untuk memberikan gambaran proses aktif masyarakat dalam berdialektika dengan Islam pada masa awal kedatangannya, kita tidak memiliki cukup data. Akan tetapi, fenomena perang Paderi di Sumatera Barat memberikan petunjuk berharga untuk menggambarkan proses pemahaman masyarakat terhadap Islam dengan menggunakan perspektif lokal. Dari peristiwa ini, kita dapat mengajukan pertanyaan kritis, apakah Perang Paderi merupakan perang melawan penjajah–sebagaimana diajarkan di bangku sekolah—ataukah perlawanan kelompok Islam lokal terhadap upaya infiltrasi kelompok Wahabi yang hendak membersihkan Islam dari budaya Minangkabau? Keberislaman masyarakat Minangkabau yang berpedoman pada “adat bersendi syara’, syara’

bersendi kitabullah” merupakan bentuk negosiasi indah antara Islam dan budaya lokal yang diperselisihkan dalam peristiwa tersebut.

Sedangkan proses kreatif, dapat dilihat dari cara yang dilakukan oleh para pendakwah Islam dari masa ke masa. Proses kreatif ini dimulai sejak dakwah Walisongo yang dilestarikan oleh Ulama setelahnya pada abad ke-17 M, 18 M., dan 19 M., seperti Nuruddin Raniri, Abd Ra’uf Sinkili, dan Muhammad Yusuf al-Maqqassari dan dilanjutkan oleh generasi selanjutnya, seperti KH.

Nawawi al-Bantani, Syech Ahmad Khatib Minangkabau, Syech Mahfudz al-Tarmisi, KH. Soleh Darat, KH. Hasyim Asy’ari, dan KH. Ahmad Dahlan. Pengetahuan tentang Islam yang dimiliki oleh para ulama yang langsung diperoleh dari Makkah dan Madinah, tidak menjadikan mereka melakukan imitasi cara berislam Arab ke dalam konteks masyarakat Indonesia. Mereka tidak menggunakan teknik copy-paste, tetapi terlebih dahulu memberikan penawaran kreatif yang membentuk model berislam yang khas Nusantara. Cara ini memunculkan warna dan karakteristik yang khas bagi Islam Nusantara. Proses kreatif dalam memahami Islam juga mengesankan bahwa menjadi Islam tidak harus menjadi Arab.8 Tidak menjadi Arab bukan berarti membenci Arab, tetapi melakukan pembacaan secara kreatif terhadap budaya Arab dan Islam. Nilai-nilai Islam tentu harus diikuti, tetapi mengikuti budaya Arab bersifat optional—

sebagaimana tradisi kebudayaan lainnya, yang boleh diikuti atau tidak. Akan tetapi, yang sering terjadi justru sebaliknya, mayoritas masyarakat menganggap Arab sebagai Islam, sehingga tidak mengikuti Arab dianggap tidak berislam secara sempurna.

Pemahaman terhadap Islam dengan menggunakan perspektif lokal berdampak pada pemahaman bahwa Islam menjadi mata air suci yang menyucikan dan memuliakan peradaban yang ditemuinya.

Hal demikian menjadi keniscayaan, jika meninjau aspek sejarahnya.

Islam lahir dalam ruang dan waktu tertentu yang kandungannya berkaitan dengan konteks tertentu. Pemahaman atasnya tidak dapat dilakukan tanpa pengetahuan atas konteks tersebut. Sedangkan konteks selalu berubah mengiringi perubahan ruang dan waktu.

8 Ah mad Salehudin, Satu Dusun Tiga Masjid: Tarik-Menarik Antaraliran Islam Dalam Masyarakat Jawa (Yogyakarta: Pilar Media, 2007).

Islam, dengan demikian, terus mengalami perkembangan sesuai dengan konteks yang melatarinya. Islam menjadi agama yang selalu berkembang dan terbuka atas segala konteks yang ada, sehingga praktik yang lahir dari pemahaman tersebut dapat berbeda di setiap wilayah. Perbedaan ini bukan menunjukkan perpecahan, tetapi menunjukkan keterbukaan Islam untuk dipahami sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan setting pembacanya. Pemahaman dengan menyesuaikan pada konteks lokalitas menjadi dasar dakwah Walisongo yang dilakukan secara kreatif.

Dalam dokumen Terorisme, Jihad dan Perdamaian dalam Islam (Halaman 173-178)