• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konteks Historis Nietzsche dan Ibn ‘Arabī

Dalam dokumen Terorisme, Jihad dan Perdamaian dalam Islam (Halaman 34-38)

Biografi Nietzsche

Friedrich Williams Nietzsche merupakan seorang pemikir revolusioner abad ke-19 M. yang banyak memberikan pengaruh terhadap perkembangan pemikiran filsafat Barat.7 Nietzsche menjadi ikon filusuf pada abad ke-19 M. yang dianggap kontroversial pada masanya dengan menyuarakan kebebasan. Apa yang dipikirkan oleh Nietzsche pada masa itu, berlawanan dengan konsep teologi Kristen yang sudah mapan. Puncak perlawanannya terhadap kemapanan doktrin pada saat itu terletak pada adigumnya yang terkenal, gott ist tot (Tuhan telah Mati). Pandangan ini menjadi kontradiktif jika melihat latar belakang kehidupan dan keluarganya yang dikenal sebagai agamawan yang taat.

Nietzsche dilahirkan di keluarga yang agamis. Ayahnya, seorang pendeta di kota Röcken yang bernama Karl Ludwig Nietzsche. Sedangkan sang ibu merupakan seorang Lutheran yang bernama Franziska Öhler. Bahkan, keluarga besarnyapun adalah agamawan yang terpandang di kota tersebut. Dalam konteks ini, beberapa tulisan membagi fase kehidupan Nietzsche dalam empat fase; pertama, fase anak-anak yang tumbuh kembang dalam keluarga yang religius. Kedua, fase menjadi pelajar dan mahasiswa.

Ketiga, fase ketika jenjang pendidikan hingga ia mendapatkan gelar profesor di Basel. Keempat, fase pengembaraan dan merasakan kesepian sebelum meninggal.8

7 Muhammad Roy Purwanto, “Filsafat Eksistensial Nietzsche dan Wacana Agama: Studi Filsafat Nietzsche dan Kontribusinya dalam Dekonstruksi Wacana Agama,” An-Nur: Jurnal Studi Islam 1, no. 2 (2005): 1.

8 A. Setyo Wibowo, Gaya filsafat Nietzsche (Yogyakarta: Galang Press, 2004), 36.

Pada fase anak-anak, Nietzsche mengalami kejadian yang cukup kelam dan lebih banyak hidup bersama sang ibu. Ketika Nietzsche berumur 5 tahun, ayahnya meninggal dunia dan berselang setahun kemudian adik kandung laki-lakinya meninggal dunia. Dari tahun 1849-1958, ia tinggal di kota Naumburg bersama ibu dan kakak perempuannya. Pada saat berumur 6 tahun, ia masuk sekolah dasar setempat, kemudian berpindah ke sekolah swasta. Pada umur 14 tahun, ia memasuki fase pelajar dan mahasiswa dengan mengawali pendidikannya di Gymnasium9 di kota Profta yang hanya berjarak beberapa kilometer dari kota Naumburg. Di sekolah ini, Nietzsche menerima pendidikan klasik dan juga bertemu dengan Paul Deussen, seorang ahli India, yang memperkenalkan pemikiran-pemikiran India kepadanya. Pemikiran-pemikiran-pemikiran tersebut yang banyak memberikan pengaruh bagi Nietzsche.10 Di Pforta, Nietzsche mulai mengagumi para pengarang dan karya-karya klasik Yunani.

Kesukaannya terhadap sastra menjadikan Nietzsche membentuk kelompok sastra bersama dengan kedua temannya, Gustav Krug dan Wilhelm Pinder dengan sebutan Germania.

Pada usia 20 tahun, Nietzsche mendaftarkan dirinya ke Universitas di kota Bonn, namun hanya berlangsung satu tahun.

Dalam perjalanan setahun di Bonn, Nietzsche sempat bertemu dengan David Strauss seorang ahli kitab suci liberal. Ditahun yang sama, Nietzsche melanjutkan studinya di salah satu universitas di Leipzig dengan alasan mengikuti profesornya dalam bidang filologi yaitu Friedrich Ritschl. Nietzsche dan Ritschl mendirikan sebuah asosiasi filologis dan juga menghasilkan karya yang dipersembahkan untuk Rheinisches Museum. Di periode ini bisa dikatakan sebagai periode pembentukan pemikiran Nietzsche.11

Pada saat usianya memasuki umur 24 tahun, Nietzsche ditunjuk untuk membantu Ritschl di fakultas filologi di Universitas Basel dan tidak berselang lama meraih gelar doktor atas

karya-9 Pada jaman tersebut Gymnasium bisa dikatakan setara dengan pendidikan SMA/SMU

10 Wibowo, Gaya filsafat Nietzsche, 38.

11 Wibowo, 41.

karyanya yang di terbitkan di Rheinisches Museum. Selama hidupnya di Basel, Nietzsche menghasilkan beberapa teks konferensi yang berjudul Drama Musikal Yunani, dan Sokrates and the Tragedy. Karya-karya lain yang berbentuk buku banyak dihasilkan, diantaranya Die Geburt der Tragӧdie, Unzeitgemässe Betrachtungen, Menschliches, Allzumenschliches, Morgenröthe, Die Fröhliche Wissenschaft, Also Sprach Zarathustra, Jenseits Von Gut Und Böse, Zur Genealogie Der Moral, Der Fall Wagner, Götzen-Dämmerung, Der Antichrist, Ecce Homo. Karya tersebut terbit selama kurang lebih 17 tahun perjalanan intelektual Nietzsche.12

Fase terakhir kehidupan Nietzsche ialah fase menjelang kematiannya. Banyak rumor yang menyebutkan penyebab kematiannya. Meskipun secara medis, ia meninggal akibat pheumonia. Keterangan ini diperoleh dari Rumah Sakit tempatnya dirawat yang menyebutkan bahwa Nietzsche terserang kelumpuhan general yang disebabkan oleh sifilis. Penyakit ini, ia alami ketika masa menjadi mahasiswa di Leipzig. Pendapat lain menyebutkan bahwa ia mengalami sakit syaraf atau rumor yang menyebutkannya mengidap kegilaan yang disebabkan faktor keturunan. Namun, sang adik, Elisabeth menutupi dan menyanggah pendapat-pendapat tersebut dengan memberikan alasan lain mengenai kematian Nietzsche, yaitu banyak mengonsumsi obat tidur.13

Biografi Ibn ‘Arabī

Ibn ‘Arabī mempunyai nama lengkap adalah Muhy al-Dīn Muḥammad bin ‘Alī bin Muḥammad ‘Arabī al-Ṭā‘ī al-Ḥātimī. Ibn

‘Arabī lahir di Murcia, sebuah daerah di Andalusia (Spanyol) pada 17 Ramadan 560 H./28 Juli 1165 M. Ibn ‘Arabi lahir dari keluarga terpandang di kalangannya. Ayahnya merupakan pejabat penting di istana Banī Muwaḥiddūn dan dikenal sebagai orang yang

12 Misnal Munir, “Pengaruh Filsafat Nietzsche terhadap Perkembangan Filsafat Barat Kontemporer,” Jurnal Filsafat 21, no. 2 (2016): 136, https://doi.

org/10.22146/jf.3113.

13 Wibowo, Gaya filsafat Nietzsche, 55.

terpercaya.14 Ayah dan tiga pamannya dari jalur ibu merupakan sufi yang masyhur. Ia sendiri menjadi seorang sufi yang saleh dengan mendapat gelar sebagai muhy dīn (penghidup agama) dan al-shaykh al-’akbar (Doktor Maximus).15

Ketika berusia delapan tahun, Ibn ‘Arabī beserta keluarganya pindah ke kota Sevilla. Di kota ini, Ibn ‘Arabī banyak mempelajari berbagai keilmuan, mulai dari ilmu agama hingga filsafat, seperti al-Quran, fikih, tafsir, hadis, hukum Islam, adab, ilmu kalam dan filsafat skolastik.16 Dengan kecerdasannya, Ibn ‘Arabī di beberapa kesempatan menjadi pembantu sekretaris dari berbagai gubernur dan juga berkenalan dengan Ibn Rushd. Ketika itu, Ibn Rushd menjabat sebagai seorang qād}ī dan berteman dengan ayahnya.

Perkenalan ini memberikan dampak besar terhadap konsep-konsep filsafat Ibn ‘Arabī yang terpengaruh dengan konsep filsafat Ibn Rushd.

Ibn ‘Arabī memiliki ketertarikan dan mendalami tasawuf sejak kecil, sehingga pada usianya yang masih remaja, ia sudah dikenal sebagai seorang sufi. Proses kematangan dan pendalaman terhadap praktik-praktik sufi dilakukannya dalam proses yang panjang.

Hingga pada usianya yang mencapai 30 tahun, ia mulai melakukan pengembaraan ke berbagai wilayah untuk memperdalam pengetahuan tentang tasawuf dan spiritualitas. Di beberapa tempat yang disinggahi, Ibn ‘Arabī menyempatkan diri untuk belajar pada tokoh sufi di daerah tersebut, misalnya di Tunisia, ia belajar pada Abd al-‘Azīz al-Mahdawī.17 Pengembaraan Ibn ‘Arabi di berbagai kajian disebut hingga ke Makkah. Di sana, ia sempat menetap beberapa tahun dan menghasilkan karya Tāj al-Rasā’il, Rūh al-Quds, dan al-Futūḥāt al-Makkīyah serta tulisan syair yang terinspirasi dari

14 M. Al-Fayyadl, Teologi Negatif Ibn ‘Arabi; Kritik Metafisika Ketuhanan (Yogyakarta: LKIS Pelangi Aksara, 2012), 25.

15 Raha Bistara, “Wahdah al-Wujud Ibn Arabi dalam Imajinasi Kreatif Henry Corbin,” Academic Journal of Islamic Principles and Phylosophy 1, no. 1 (2020): 6, https://doi.org/10.22515/ajipp.v1i1.2344.

16 Abdullah Mahmud, “Filsafat Mistik Ibnu Arabi tentang Kesatuan Wujud,” Suhuf 24, no. 2 (2012): 86.

17 Mahmud, 86.

pertemuannya dengan seorang perempuan cantik di Makkah yang berjudul Tarjumān al-Ashwāq. Selain itu, terdapat banyak karya lain yang ditulis Ibn ‘Arabī ketika perjalanan mencari ilmu, seperti Risālah al-Anwār dan Fuṣūṣ al-Ḥikām.

Gambaran perjalanan Ibn ‘Arabi sama seperti pada filusuf lainnya yang melakukan perjalanan dari satu tempat menuju tempat lainnya. Beliau mengakhiri perjalanannya dalam mengembara ilmu di kota Damsik. Di kota tersebut, Ibn ‘Arabī menghabiskan sisa kehidupannya setelah berbagai perjalanan yang ditempuh untuk menambah ilmu. Beliau wafat di usia 78 tahun pada malam Jum’at 28 Rabi’ul Akhir tahun 638 H.18

Dalam dokumen Terorisme, Jihad dan Perdamaian dalam Islam (Halaman 34-38)