• Tidak ada hasil yang ditemukan

secara sistematis untuk mengungkap jejaring tradisi tafsir Indonesia, yang, menurut saya, memiliki potensi yang sangat kuat untuk mendefinisikan tafsir Indonesia. Dalam kata lain, kombinasi antara konteks tafsir dan non-tafsir akan memberikan muatan konseptual dan teoretis atas terminologi tafsir Indonesia.

lebih banyak dibaca pada konteks pertama, tapi tidak pada konteks kedua.

Satu hal lagi penting untuk diulangi di bagian kesimpulan ini:

tafsir adalah rekaman interaksi muslim dengan Al-Qur’an, karena itu intrinsik dalam tafsir adalah lokalitas. Dengan asumsi ini, meneliti tafsir untuk mengungkap lokalitas berhasil menguak kekayaan khazanah tafsir Indonesia yang hingga saat ini sebagian besarnya masih tersimpan. Akan tetapi, perspektif ini tidak cukup. Riset tafsir Indonesia harus lebih dari itu, yaitu menghasilkan deskripsi lengkap mengenai tradisi tafsir di Indonesia sebagai sebuah tradisi—tradisi tafsir Indonesia. Perlu digarisbawahi sekali lagi, tradisi tafsir di sini maknanya bukanlah tradisi dalam tafsir. Untuk mencapai titik ini, istilah tafsir Indonesia yang selama ini dijadikan sebagai titik berangkat posisinya perlu digeser menjadi titik tuju.

Dengan itu, terminologi tafsir melangkah dari yang pada awalnya berfungsi sebagai definisi teknis berkembang menjadi definisi teoretis. Karena, sebagai konsep yang belum matang, semestinya ia dibangun terlebih dahulu melalui pendekatan induktif. Jadikan karya-karya tafsir yang memiliki pengalaman kenusantaraan-keindonesiaan sebagai bahan baku untuk direfleksikan demi mencapai konsepsi makna yang lebih kuat mengenai terminologi tafsir Indonesia.

“Menjadi Sejarawan Tafsir” adalah judul yang secara sengaja dipilih untuk tulisan ini dengan latar pemikiran bahwa untuk mengembangkan terminologi tafsir Indonesia, seseorang perlu menjadi sejarawan tafsir.[]

Daftar Pustaka

Abdullah, Amin. “Bentuk Ideal Jurusan TH (Tafsir Hadist) Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga.” Al-Jāmiʻah: Journal of Islamic Studies, no. 47 (1991): 90–96.

———. Studi Agama: Normativitas Atau Historisitas? Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 1995.

Asad, Talal. “The Idea of an Anthropology of Islam.” Qui Parle 17, no. 2 (2009): 1–30.

———. “Thinking About Tradition, Religion, and Politics in Egypt Today.” Critical Inquiry 42, no. 1 (2015): 166–214.

Azra, Azyumardi. “Islam Nusantara (1).” Republika. June 18, 2015, sec. Resonansi.

Baidowi, Ahmad. “Pégon Script Phenomena in the Tradition of Pesantren’s Qur’anic Commentaries Writing.” Jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an Dan Hadis 21, no. 2 (July 29, 2020): 469.

https://doi.org/10.14421/qh.2020.2102-12.

Bauer, Karen. “The Current State of Qurʾānic Studies: Commentary on a Roundtable Discussion.” JIQSA 1 (2016): 29–45. http://

dx.doi.org/10.5913/jiqsa.1.2017.a004.

Bruinessen, Martin van. “Kitab Kuning: Books in Arabic Script Used in the Pesantren Milieu: Comments on a New Collection in the KITLV Library.” Bijdragen Tot de Taal-, Land- En Volkenkunde 146, no. 2/3 (1990): 226–69.

Calder, Norman. “Tafsīr from Ṭabarī to Ibn Kathīr: Problem in the Description of a Genre, Illustrated with Reference to the Story of Abraham.” In Approaches to the Qur’ān, edited by Abdul-Kader Shareef and G.R. Hawting, 101–40. London: Taylor &

Francis, 1993.

Feener, R. Michael. “Indonesian Movements for the Creation of a

‘National Madhhab.’” Islamic Law & Society 9, no. 1 (April 2002): 83–115.

Gusmian, Islah. “Bahasa Dan Aksara Dalam Penulisan Tafsir Al-Qur’an Di Indonesia Era Awal Abad 20 M.” Mutawatir 5, no.

2 (2015): 223–47.

———. Khazanah Tafsir Indonesia: dari Hermeneutika hingga Ideologi.

Yogyakarta: LKiS, 2013.

———. “Paradigma Penelitian Tafsir Al-Qur’an Di Indonesia.”

Empirisma: Jurnal Pemikiran Dan Kebudayaan Islam 24, no. 1 (2015). https://doi.org/10.30762/empirisma.v24i1.1.

———. Tafsir Al-Qur’an Dan Kekuasaan Di Indonesia: Peneguhan, Kontestasi, Dan Pertarungan Wacana. Yogyakarta: Yayasan Salwa Indonesia, 2019.

———. “Tafsir Al-Qur’an Di Indonesia: Sejarah Dan Dinamika.”

Nun 1, no. 1 (2015): 1–32.

Ichwan, Moch. Nur. “The End of Jawi Islamic Scholarship? Kitab Jawi, Qur’anic Exegesis, and Politics in Indonesia.” In Rainbows of Malay Literature and Beyond: Festschrift in Honour of Professor Md. Salleh Yaapar, 82–101. Pulau Pinang: Penerbit Universiti Sains Malaysia, 2011.

Lukman, Fadhli. “Telaah Historiografi Tafsir Indonesia: Analisis Makna Konseptual Terminologi Tafsir Nusantara.” SUHUF Jurnal Pengkajian Al-Qur’an Dan Budaya 14, no. 1 (2021): 51–79.

Mustaqim, Abdul. Epistemologi Tafsir Konteporer. Yogyakarta: LKiS, 2010.

Nurtawab, Ervan. “Qur’anic Readings and Malay Translation in 18th-Century Banten Qur’ans A.51 and W.277.” Indonesia and the Malay World, 2020, 1–21. https://doi.org/10.1080/13639811.

2020.1724469.

———. “Qur’anic Translation in Malay, Javanese, and Sundanese:

A Commentary or Substitution.” In The Qurʾān in Malay-Indonesian World: Context and Interpretation, edited by Majid Daneshgar, Peter G. Riddell, and Andrew Rippin. London, New York: Routledge, 2016.

———. “The Problems of Translation in Turjumān Al-Mustafīd:

A Study of Theological and Eschatological Aspects.” Studia Islamika 18, no. 1 (2011). https://doi.org/10.15408/sdi.v18i1.440.

Pink, Johanna, and Andreas Görke, eds. “Introduction.” In Tafsīr and Islamic Intellectual History: Exploring the Boundaries of Genre.

London: Oxford University Press, 2014.

Rahman, Arivaie. “Literatur Tafsir Al-Qur’an Dalam Bahasa Melayu-Jawi.” SUHUF 12, no. 1 (June 28, 2019): 91–110. https://doi.

org/10.22548/shf.v12i1.445.

Riddell, Peter. “Earliest Quranic Exegetic Activity in the Malay Speaking States.” Archipel 38, no. 1 (1989): 107–24. https://doi.

org/10.3406/arch.1989.2591.

Riddell, Peter G. “From Kitab Malay to Literary Indonesian: A Case Study in Semantic Change.” Studia Islamika: Indonesian Journal for Islamic Studies 19, no. ii (2012): 277–312. http://

dx.doi.org/10.15408/sdi.v19i2.362.

———. “Literal Translation, Sacred Scripture and Kitab Malay.”

Studia Islamika 9, no. 2 (2002): 1–28. http://dx.doi.org/10.15408/

sdi.v9i1.672.

———. “Variations on an Exegetical Theme: Tafsīr Foundations in the Malay World.” Studia Islamika 21, no. 2 (August 31, 2014):

259–92. https://doi.org/10.15408/sdi.v21i2.1072.

———. “ʿAbd Al-Raʾūf al-Singkilī’s Tarjumān al-Mustafīd: A Critical Study of His Treatment of Juzʾ 16.” Dissertation, Australian National University, 1984.

Rippin, Andrew, ed. Approaches to the History of the Interpretation of the Qur’ān. Oxford: Clarendon Press, 1988.

Rohmana, Jajang A. Sejarah Tafsir Al-Qur’an Di Tatar Sunda. Bandung:

Mujahid Press, 2014.

Rosihon, Anwar, Asep Abdul Muhyi, Irman Riyani, and Solahuddin, Muhammad. “Menelusuri Pengaruh Pembaharuan Di Mesir Terhadap Tradisi Tafsir Di Nusantara: Kajian Terhadap Tafsir Qur’an Karim Karya Mahmud Yunus.” Bandung: LP2M UIN SGD Bandung, 2020.

Saleh, Walid A. “Preliminary Remarks on the Historiography of Tafsir in Arabic: A History of the Book Approach.” Journal of Qur’anic Studies 12 (2010): 6–40.

———. The Formation of The Classical Tafsīr Tradition: The Qurʾān Commentary of al-Thaʿlabī (d. 427/1035). Leiden - Boston: Brill, 2004.

Ṣuyūṭī, Jalāl al-Dīn al-. Al-Itqān Fī ʿUlūm al-Qurʾān. Madinah:

Mujammaʿ al-Malik Fahd li Ṭibāʿāt al-Muṣḥaf al-Sharīf, n.d.

Wielandt, Rotraund. “Exegesis of the Qur’ān: Early Modern and Contemporary.” In Encyclopaedia of the Qur’ān, edited by Jane Dammen McAuliffe, 2:124–40. Leiden - Boston - Köln: Brill, 2002.

Żahabi, Muḥammad Ḥusain al-. Al-Tafsīr Wa al-Mufassirūn. Vol. 1. 3 vols. Kairo: Maktabah Wahbah, 2004.

Zarkashī, Badruddīn Muḥammad ibn ʿAbdillāh al-. Al-Burhān Fī ʿUlūm al-Qurʾān. Cairo: Dār al-Ḥadīth, 2006.

Sejarah perkembangan ilmu pengetahuan tidak bisa dilepaskan dari kontribusi kajian manuskrip. Manuskrip memberikan sumber data otentik yang dapat digunakan dalam pengembangan keilmuan. Manuskrip juga menyediakan data yang kompleks yang dapat digunakan sebagai sumber bagi beragam penelitian, baik dalam kajian sosiologi, antropologi, sejarah maupun studi Islam.1 Otentisitas dan komplekstitas data tersebut banyak digunakan dalam beragam penelitian sejarah sebagai sumber informasi utama dengan menjangkau naskah yang berasal dari era klasik. Hal ini menguatkan urgensi kajian manuskrip dalam pengembangan pengetahuan.

Otentisitas data yang terkandung dalam manuskrip tidak serta merta menjadikan kajian terhadapnya diminati oleh banyak peneliti di Indonesia. Dibandingkan dengan ilmu-ilmu bantu lainnya, seperti sejarah, hukum, filsafat dan sebagainya, kajian manuskrip cenderung dianggap sebagai ilmu yang kurang menarik dan kuno. Hal ini bisa dipahami, karena kajian manuskrip tidak

1 Oman Fathurahman, Filologi Indonesia : teori dan metode, Cet.1 (Prenadamedia group, 2015), 15.

Achmad Yafik Mursyid

Dalam dokumen Terorisme, Jihad dan Perdamaian dalam Islam (Halaman 98-104)