• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Hadis di al-Andalus dan Indonesia

Dalam dokumen Terorisme, Jihad dan Perdamaian dalam Islam (Halaman 147-156)

Dalam berbagai literatur, tokoh yang dikenal sebagai penyebar hadis ke al-Andalus adalah Mu‘āwiyah bin Ṣāliḥ al-Ḥimṣi (w. 158 H./775 M.) pada tahun 125 H./742 M. yang berprofesi sebagai qāḍī.

Tugas ini dilanjutkan setelahnya oleh Ziyād bin ‘Abd al-Raḥmān al-Lakhmī Syabṭūn (w. 193 H./809 M.) yang juga dikenal sebagai tokoh yang mempopulerkan konsep fiqh dan halal haram di al-Andalus. Tokoh ini tidak disebutkan oleh al-Mazī dalam Tahżib al-Kamāl. Keidentikan tokoh penyebar hadis sebagai seorang fāqih

8 Larry Shiner, “Reading Foucault: Anti-Method and the Genealogy of Power-Knowledge,” History and Theory 21, no. 3 (Oktober 1982): 382–398.

menunjukkan fiqh dan ḥadīṡ saling terkait dan integratif.9 Fenomena ini juga dikuatkan oleh pengetahuan penduduk al-Andalus yang hanya mengetahui kitab Allah (al-Qur’an) dan Muwaṭṭa’ Mālik (lā na‘rif illā kitāb Allāh wa Muwaṭṭa’ Mālik), serta qirā’ah Nāfi‘. Bahkan, pandangan Imam Mālik dalam fikih dijadikan mazhab resmi al-Andalus, dengan pertimbangan bahwa beliau berasal dari Madinah, daerah hijrah Rasulullah.10 Pengenalan masyarakat al-Andalus terhadap Muwaṭṭa’ Mālik tidak dapat dilepaskan dari Yaḥyā bin Yaḥyā al-Layṡī al-Qurṭubī (w. 234 H./848 M.) sebagai periwayat kitab Muwaṭṭa’ yang paling populer dan terbaik di dunia Islam.

Fenomena unik lain yang dimiliki masyarakat al-Andalus adalah pemahaman mereka terhadap teks yang disesuaikan dengan konteks setempat. Hal ini dilakukan oleh ulama’ Mālikiyyah di al-Andalus dalam bentuk adaptasi syari’at dengan konteks lingkungan setempat. Mereka menerapkan hukum zakat buah Tin yang dianggap wajib sebagaimana halnya kewajiban membayar zakat bagi kurma. Alasan yang mendasari pandangan ini karena buah Tin menjadi makanan pokok di al-Andalus.11 Upaya lain juga dilakukan dengan bentuk penerjemahan beberapa istilah dan kalimat Arab ke dalam bahasa lokal al-Andalus. Cara ini banyak dilakukan pada saat memberikan komentar atas Muwaṭṭa’ Mālik, misalnya ‘Abd al-Malik bin Ḥabīb (w. 238 H./852 M.) dalam Tafsīr Gharīb Al-Muwaṭṭa’, menafsirkan jazar (wortel) yang disebut sebagai iṣṭaflīn di Syām dan isfināriyyah (zanahoria, Spanyol) di al-Andalus, serta quf‘ah yang disebut penduduk Andalusia sebagai quffah mustaṭīlah.12 Di samping pemahaman, adaptasi juga dilakukan dalam kajian hadis riwāyah dengan tidak memberi batasan ketat dan kaku sebagaimana

9 G. H. A. Juynboll, Muslim Tradition: Studies in Chronology, Provenance and Authorship of Early Hadith (Cambridge: Cambridge University Press, 1980), 23.

10 Muḥammad bin Aḥmad Maqdisī, Aḥsan Taqāsīm Fī Ma‘rifah Al-Aqālīm (Kairo: Maṭba‘ah al-Madbūlī, 1991), 236–237.

11 Yasin Dutton, The Origins of Lslamic Law: The Qur’an, the Muwaṭṭa’ and Madinan ‘Amal (New Delhi: Lawman, 2000), 216–217.

12 ‘Abd al-Malik bin Ḥabīb bin Sulaimān Sulamī, “Tafsīr Gharīb Al-Muwaṭṭa’,” ed. ‘Abd al-Raḥmān bin Sulaimān Al-‘Uṡaimīn (Riyād: Maktabah al-‘Abīkān, 2001), 372.

yang dilakukan ulama’ di kawasan Masyriq.13

Sedangkan di Indonesia, kajian hadis riwāyah tidak begitu banyak dibandingkan di al-Andalus. Kajian paling awal tentang hadis di Indonesia ditemukan pada abad XII H./XVIII M. Menurut Fathurrahman, kajian hadis awal di Indonesia memang tidak sebanyak fikih dan tasawuf. Kitab hadis pertama dibuat oleh Nūr al-Dīn al-Rānirī (w. 1068 H./1658 M.), seorang Ulama’ asal Aceh melalui karyanya, Hidāyah al-Ḥabīb fī al-Targhīb wa al-Tarḥib. Kitab ini merupakan kumpulan beberapa hadis dari al-kutub al-tis‘ah dan berisi penjelasan berbagai hadis yang dijelaskan dengan bahasa Melayu dan aksara Arab Jawi.14 Karya ini juga menunjukkan kebutuhan pemahaman hadis dengan bahasa dan aksara lokal yang lebih diutamakan daripada membahas hadis riwāyāh yang penuh dengan kajian akademis.

Kitab hadis awal yang ada di al-Andalus dan Indonesia menunjukkan bahwa kajian hadis di daerah non-Arab membutuhkan penyesuaian dengan realitas masyarakat dan penerapan epistemologi kritis. Komentar hadis yang mengalami proses vernakular, penjelasan atas social setting, dan budaya masyarakat setempat merupakan pembentukan sistem pengetahuan di daerah periferal. Upaya ini dalam pandangan Neuwirth sebagai bagian untuk menempatkan narasi agama dalam ruang epistemik.15 Masyarakat al-Andalus dan Indonesia tidak membutuhkan kajian hadis riwāyah maupun jarḥ wa ta‘dīl yang teoritis dan akademis, namun mereka menginginkan kajian yang aplikatif dan empiris.

Hal ini berkesesuaian dengan pandangan Modarressi yang

13 Muhammad Akmaluddin, “Developments of Ḥadīth Riwāya in al-Andalus (2nd - 3rd Centuries of Hijriyya),” Ulumuna 21, no. 2 (Desember 29, 2017): 228–252, diakses Juni 8, 2021, http://ulumuna.or.id.

14 Oman Fathurahman, “The Roots of the Writing Tradition of Ḥadīth Works in Nusantara: Hidāyāt al-ḥabīb by Nūr al-Dīn al-Rānīrī,” Studia Islamika 19, no. 1 (April 30, 2012), diakses Juni 8, 2021, http://journal.uinjkt.ac.id/index.

php/studia-islamika/article/view/369.

15 Neuwirth Angelika, “Locating the Qur’an in the epistemic space of late antiquity,” Ankara Üniversitesi İlahiyat Fakültesi Dergisi 54, no. 2 (Agustus 1, 2013): 189–203, diakses Juni 8, 2021, http://www.forum-transregionale-studien.

de/zukunftsphilologie/.

menyebutkan pemahaman atas teks agama perlu dilakukan dalam ruang yang empiris.16

Negosiasi yang dilakukan para ulama terkait teks hadis dengan konteks dan tradisi menunjukkan bagaimana mereka memberikan pemahaman alternatif bagi pemahaman hadis. Upaya melakukan negosiasi membutuhkan penilaian atas situasi agar lebih relevan dengan kebutuhannya,17 sehingga akan lebih maju dan lengkap dibandingkan sebelumnya.18 Namun, upaya ini tidak selamanya berjalan dengan baik. Beragam konflik terbuka yang melibatkan ahl al-ḥadīṡ di al-Andalus dengan ahl ra’y dari mazhab Mālikī berdampak pada marjinalisasi kajian hadis selain Muwaṭṭa’.19 Akibatnya, kitab ahl al-ḥadīṡ banyak disensor dan dilarang beredar oleh pemerintah.20 Sedangkan, kajian hadis di Indonesia lebih mengarah pada upaya

16 Matin Modarressi, “The Strait of Gibraltar as the ‘meeting of the two seas’ from the Quran: References in medieval Spanish and North African texts,” International Journal of Maritime History (SAGE Publications Ltd, Mei 1, 2017), diakses Juni 8, 2021, https://journals.sagepub.com/doi/

abs/10.1177/0843871417693999?journalCode=ijha.

17 J. Sudarminta, Epistemologi Dasar: Pengantar Filsafat Pengetahuan (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2002), 26–27.

18 Harald Motzki, “Dating Muslim Traditions: A Survey,” Arabica 52, no. 2 (2005); Harald Motzki, “The Muṣannaf of ʿAbd al-Razzāq al-Sanʿānī as a Source of Authentic Aḥādīth of the First Century A. H.,” Journal of Near Eastern Studies 50, no. 1 (Januari 21, 1991): 1–21, diakses Juni 8, 2021, https://www.journals.

uchicago.edu/doi/abs/10.1086/373461; Harald Motzki, Nicolet Boekhoff-van der Voort, dan Sean W. Anthony, Analysing Muslim Traditions: Studies in Legal, Exegetical and Maghazi Hadith, Islamic history and civilization, vol. 78 (Leiden:

Brill, 2010).

19 Maribel Fierro, “Local and Global in Ḥadīth Literature: The Case of Al-Andalus,” in The Transmission and Dynamics of the Textual Sources of Islam:

Essays in Honour of Harald Motzki, ed. Nicolet Boekhoff-van der Voort, Kees Versteegh, dan Joas Wagemakers (London: Brill, 2011), 63–88; Maribel Fierro,

“The Introduction of Ḥadīth in Al-Andalus (2nd/8th–3rd/9th Centuries),” Der Islam 66 (1989): 68–93.

20 Maribel Fierro, “Manuscritos en al-Andalus. El Proyecto H.A.T.A.

(Historia de los Autores y Transmisores Andalusíes),” Al-Qanṭara 19, no. 2 (Februari 15, 2019): 473, diakses Juni 8, 2021, http://al-qantara.revistas.csic.es/

index.php/al-qantara/article/view/510; Maribel Fierro, “How Do We Know about the Circulation of Books in Andalus? The Case of Bakrī’s Kitāb al-Anwār,” Intellectual History of the Islamicate World 4, no. 1–2 (Maret 21, 2016):

152–169, diakses Juni 8, 2021, https://brill.com/view/journals/ihiw/4/1-2/

article-p152_8.xml.

pembenaran terhadap praktik agama yang dianggap menyimpang dari Islam, seperti paham waḥdah al-wujūd oleh Ḥamzah Fansūrī (w.

1104/1693) yang populer di Aceh sebelum kedatangan al-Rānirī.21 Kritis atas penyimpangan ajaran ini berlanjut hingga masa Bisri Musthofa (w. 1397/1977). Problem ini tampak dalam karya Bisri yang berjudul Azwād Musṭafawiyyah fī Tarjamah Arba‘īn al-Nawawiyyah yang ditujukan untuk meluruskan dan membenarkan pemahaman bidah yang dilancarkan oleh gerakan pembaharuan di Indonesia pada abad XIV H./XX M.22

Penutup

Pemahaman para ulama di al-Andalus dan Indonesia menunjukkan bagaimana kajian hadis ditempatkan pada ruang epistemiknya.

Situasi politik, sosial, budaya dan tingkat pengetahuan masyarakat dinegosiasikan dengan pemahaman hadis yang berdampak pada kemunculan berbagai komentar alternatif. Komentar ini tidak hanya mengikuti komentar yang telah ada yang memuat ruang epistemik semenanjung Arab, tetapi menyesuaikan dengan tempat dan waktu di masing-masing wilayah. Dengan cara pemahaman ini, masyarakat dapat menganalisis, menafsirkan pengalaman dan peristiwa yang dihadapinya. Di samping itu, mereka juga dapat menilai situasi dan mengambil keputusan dalam aktivitasnya.

Dengan demikian, kajian hadis pada ruang epistemiknya akan semakin memperkaya kajian hadis sebagaimana dikembangkan oleh para sarjana Barat, yang lebih lengkap dan maju dari sebelumnya. Jika kajian ini diterapkan untuk membaca berbagai

21 Azyumardi Azra, The Origins of Islamic Reformism in Southeast Asia:

Networks of Malay-Indonesian and Middle Eastern “Ulama” in the Seventeenth and Eighteenth Centuries (Sydney: Allen & Unwin/Asian Studies Association of Australia, 2004), 52–54.

22 Bisri Musthofa, Al-Azwād Musṭafawiyyah Fī Tarjamah Arba‘īn al-Nawawiyyah (Kudus: Menara Kudus, 1955); Muhammad Akmaluddin, “Social and Cultural Relations in Islamic Law in Javanese Context: KH. Bisri Musthofa’s Thoughts on Qur’an and Hadith Issues,” ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin 21, no. 2 (Oktober 31, 2020): 221–244, diakses Juni 8, 2021, http://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/esensia/article/view/2355.

manuskrip hadis baru, maka akan membuka berbagai jalur isnād dan pemahaman yang baru dari aliran mainstream.

Daftar Pustaka

‘Itr, Nūr al-Dīn. “I‘jāz al-Nubuwwah al-‘Ilmī.” In Al-Riḥlah Fi Ṭalab al-Ḥadīṡ, diedit oleh ‘Alī al-Khaṭīb Al-Baghdādī. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1975.

Akmaluddin, Muhammad. “Developments of Ḥadīṡ Riwāya in al-Andalus (2nd - 3rd Centuries of Hijriyya).” Ulumuna 21, no.

2 (Desember 29, 2017): 228–252. Diakses Juni 8, 2021. http://

ulumuna.or.id.

———. “Social and Cultural Relations in Islamic Law in Javanese Context: KH. Bisri Musthofa’s Thoughts on Qur’an and Hadith Issues.” ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin 21, no. 2 (Oktober 31, 2020): 221–244. Diakses Juni 8, 2021.

http://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/esensia/article/

view/2355.

Al-Baghdādī, Aḥmad bin ‘Alī al-Khaṭīb. Al-Riḥlah Fi Ṭalab Al-Ḥadīṡ.

Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1975.

Al-Jābirī, Muḥammad ‘Ābid. Isykāliyyāt Al-Fikr Al-‘Arabī Al-Mu‘Āṣir.

Beirut: Markaz Dirāsāt al-Waḥdah al-‘Arabiyyah, 1990.

Al-Jawābī, Muḥammad Ṭāhir. Juḥūd Al-Muhaddiṡīn Fī Naqd Matn Al-Ḥadīṡ Al-Nabawī Al-Syarīf. Tunis: Mu’assasāt ‘Abd al-Karīm bin ‘Abd Allāh, 1991.

Al-Maqdisī, Muḥammad bin Aḥmad. Aḥsan Al-Taqāsīm Fī Ma‘rifah Al-Aqālīm. Kairo: Maṭba‘ah al-Madbūlī, 1991.

Al-Sulamī, ‘Abd al-Malik bin Ḥabīb bin Sulaimān. “Tafsīr Gharīb Muwaṭṭa’.” diedit oleh ‘Abd al-Raḥmān bin Sulaimān

Al-‘Uṡaimīn. Riyād: Maktabah al-‘Abīkān, 2001.

Al-Żahabī, Muḥammad bin Aḥmad. Siyar A‘lām Al-Nubalā’, ed.

Syu‘aib al-Arnā’ūṭ. Vol. 3. Beirut: Mu’assasah al-Risālah, 1985.

Angelika, Neuwirth. “Locating the Qur’an in the epistemic space of late antiquity.” Ankara Üniversitesi İlahiyat Fakültesi Dergisi 54, no. 2 (Agustus 1, 2013): 189–203. Diakses Juni 8, 2021. http://

www.forum-transregionale-studien.de/zukunftsphilologie/.

Azra, Azyumardi. The Origins of Islamic Reformism in Southeast Asia:

Networks of Malay-Indonesian and Middle Eastern “Ulama” in the Seventeenth and Eighteenth Centuries. Sydney: Allen & Unwin/

Asian Studies Association of Australia, 2004.

Dutton, Yasin. The Origins of Lslamic Law: The Qur’an, the Muwaṭṭa’

and Madinan ‘Amal. New Delhi: Lawman, 2000.

Fathurahman, Oman. “The Roots of the Writing Tradition of Ḥadīth Works in Nusantara: Hidāyāt ḥabīb by Nūr Dīn al-Rānīrī.” Studia Islamika 19, no. 1 (April 30, 2012). Diakses Juni 8, 2021. http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/studia-islamika/

article/view/369.

Fierro, Maribel. “How Do We Know about the Circulation of Books in al-Andalus? The Case of al-Bakrī’s Kitāb al-Anwār.”

Intellectual History of the Islamicate World 4, no. 1–2 (Maret 21, 2016): 152–169. Diakses Juni 8, 2021. https://brill.com/view/

journals/ihiw/4/1-2/article-p152_8.xml.

———. “Local and Global in Ḥadīth Literature: The Case of Al-Andalus.” In The Transmission and Dynamics of the Textual Sources of Islam: Essays in Honour of Harald Motzki, diedit oleh Nicolet Boekhoff-van der Voort, Kees Versteegh, dan Joas Wagemakers. London: Brill, 2011.

———. “Manuscritos en al-Andalus. El Proyecto H.A.T.A. (Historia de los Autores y Transmisores Andalusíes).” Al-Qanṭara 19, no. 2 (Februari 15, 2019): 473. Diakses Juni 8, 2021. http://

al-qantara.revistas.csic.es/index.php/al-qantara/article/

view/510.

———. “The Introduction of Ḥadīth in Al-Andalus (2nd/8th–3rd/9th Centuries).” Der Islam 66 (1989): 68–93.

Goldziher, Ignaz. Pengantar Teologi Dan Hukum Islam. Diterjemahkan oleh Hesri Setiawan. Jakarta: INIS, 1991.

Juynboll, G. H. A. Muslim Tradition: Studies in Chronology, Provenance and Authorship of Early Hadith. Cambridge: Cambridge University Press, 1980.

Modarressi, Matin. “The Strait of Gibraltar as the ‘meeting of the two seas’ from the Quran: References in medieval Spanish and North African texts.” International Journal of Maritime History. SAGE Publications Ltd, Mei 1, 2017.

Diakses Juni 8, 2021. https://journals.sagepub.com/doi/

abs/10.1177/0843871417693999?journalCode=ijha.

Motzki, Harald. “Dating Muslim Traditions: A Survey.” Arabica 52, no. 2 (2005).

———. “The Muṣannaf of ʿAbd al-Razzāq al-Sanʿānī as a Source of Authentic Aḥādīth of the First Century A. H.” Journal of Near Eastern Studies 50, no. 1 (Januari 21, 1991): 1–21.

Diakses Juni 8, 2021. https://www.journals.uchicago.edu/doi/

abs/10.1086/373461.

Motzki, Harald, Nicolet Boekhoff-van der Voort, dan Sean W.

Anthony. Analysing Muslim Traditions: Studies in Legal, Exegetical and Maghazi Hadith, Islamic history and civilization.

Vol. 78. Leiden: Brill, 2010.

Musthofa, Bisri. Al-Azwād al-Musṭafawiyyah Fī Tarjamah al-Arba‘īn al-Nawawiyyah. Kudus: Menara Kudus, 1955.

Scheurich, J.J, dan K.B. McKenzie. “Metodologi Foucault: Arkeologi Dan Genealogi.” In The Sage Handbook of Qualitative Research, diedit oleh K. Denzin dan S.L. Yvonna, diterjemahkan oleh Dariyatno. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011.

Shiner, Larry. “Reading Foucault: Anti-Method and the Genealogy of Power-Knowledge.” History and Theory 21, no. 3 (Oktober 1982): 382.

Sudarminta, J. Epistemologi Dasar: Pengantar Filsafat Pengetahuan.

Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2002.

Watt, W. Montgomery, dan Pierre Cachia. A History of Islamic Spain.

Edinburgh: Edinburgh University Press, 1977.

DISKURSUS

Dalam dokumen Terorisme, Jihad dan Perdamaian dalam Islam (Halaman 147-156)