BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.10 Interaksi Sosial Warga Binaan Dalam Kelompok Yang
4.10.2 Aturan Dan Tradisi Konsep Di Dalam Penjara
Aktivitas warga binaan yang pada saat ini berada didalam lembaga permasyarakatan kelas II/A Pematang Siantar dalam kesehariannya hampir meyerupai dengan kehidupan masyarakat umum. Dimana aktivitas yang dilakukan di dalam LP diikuti dengan aturan-aturan dan nilai-nilai yang mengikat satu,antar warga binaan didalam penjara. Aturan-aturan tersebut terdiri dari aturan yang diberikan oleh LP dan aturan-aturan yang diciptakan oleh para warga binaan itu sendiri, baik yang terhimpun di dalam satu sel yang sama maupun dalam satu blok bahkan aturan-aturan yang telah menjadi tradisi dari generasi ke generasi.
Sebagaimana kita ketahui, aturan pada umumnya bertujuan untuk menciptakan keseimbangan sosial antar sesama individu dengan tujuan terciptanya tatanan sosial yang baik serta terstruktur. Demikian juga halnya di dalam LP, para warga binaan memiliki aturan-aturan yang disepakati dan disetujui bersama, yang pada awalnya lahir dari kebiasaan-kebiasaan warga binaan itu sendiri. Pada umumnya aturan-aturan yang terdapat di dalam LP adalah saling menjaga ketentraman di dalam maupun di luar kamar dengan cara tidak ribut, saling menjaga kebersihan dan kerapian dan tidak menciptakan keributan baik secara fisik maupun non fisik, namun aturan yang paling utama di dalam penjara adalah untuk saling menghormati satu sama lainnya. Hal tersebut seperti yang disampaikan oleh bapak Bobby Dermawan, yaitu:
“Aturan-aturan kalau didalam kamar ataupun di blok pak, hampir samanya semua, kalau dikamar sama diblok aturannya paling saling menghormati aja bang, salaing menjaga kebersihan, jangan membuat keributaan apa lagi kalau udah malam bang, itu ajanya bang paling ditekankan jaga kebersihan masing-masinglah yang utama bang.”
Hal yang sama juga disampaikan oleh bapak Dani Syafrizal, yaitu:
“Aturan-aturan yang wajib diikuti didalam kamar atau didalam blok pak, ya apa yang dibilang petugaslah pas pertama masuk pak, ngak ada yang tertulis, peraturannya seperti biasalah pak sama dengan kawan-kawan yang lain, inisiatif, saling menghormati, saling menghargai pak jangan mencampuri urusan orang lain, itu aja kurasa aturannya didalam pak”
Sama halnya dengan individu-individu dalam masyarakat pada umumnya, warga binaan juga merupakan mahluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam memenuhi segala kebutuhannya sehari-hari, baik kebutuhan secara fisik maupun kebutuhan secara sosial yang termasuk didalamnya rasa nyaman dan interaksi sosial. Warga binaan di dalam LP mau tidak mau harus mampu untuk saling
menyesuaikan diri dengan warga binaan yang lain, yang telah ada lebih dulu di dalam LP, guna mengurangi terjadinya tekanan secara sosial maupun secara fisik dalam sel. Di dalam LP juga didapati aturan-aturan yang diciptakan oleh warga binaan dan telah menjadi tradisi dari generasi ke generasi diantaranya yaitu warga binaan baru, wajib tidur dilantai hingga warga binaan baru masuk dan berbagi makanan kalau bertamu. Hal tersebut sesuai dengan yang disampaikan oleh bapak Jamin, yaitu:
“Kalau di dalam kamar aturan-aturan yang biasanya pak ya saling menghargai dan harus saling menghormatilah pak, ngak boleh lain-lain, cuek atau sok sok an didalam pak, aturan yang disepakati dikamar lah pak, termasuk saling menjaga kebersihan dan menjaga untuk ribut didalam pak, tapi pak aturan pada napi baru biasanya ya wajib tidur dilantai pak sampai ada narapidana yang baru lagi masuk, baru dia tidur diatas pak.”
Tradisi tidur dilantai bagi narapidana baru, merupakan bentuk perkenalan dari senior-seniornya yang lebih dulu berada di dalam penjara, tradisi ini merupakan titik awal pengenalan penjara oleh sesama warga binaan kepada warga binaan baru, sebagaimana telah diuraikan dalam proses interaksi sosial warga binaan tahap pertama. Namun tradisi ini mampu tetap bertahan karena dipengaruhi oleh ketidak seimbangnya jumlah kapasitas daya tampung dengan fasilitas LP di mana pada saat ini setiap sel warga binaan dihuni jumlah yang sangat tidak seimbang (Overcapacity). Aturan tersebut, memaksa setiap warga binaan baru untuk tidur dilantai sampai warga binaan yang baru, masuk kedalam sel sebagai anggota yang baru. Ketika terjadi penambahan jumlah warga binaan baru yang bergabung kedalam kamar tersebut, secara otomatis narapidana yang sebelumnya tidur dilantai tidak lagi tidur dilantai namun sudah bergabung dengan warga binaan yang tidur pada tempat tidur, lalu warga binaan yang baru
masuk tersebutlah yang menggantikannya tidur dilantai. Aturan lain yang sudah menjadi tradisi yaitu, aturan tentang bertamu, dimana setiap warga binaan yang menerima kujungan dari keluarga atau orang lain, ketika mendapat titipan makanan atau minuman, maka wajib hukumnya untuk dimakan dan dinikmati bersama warga binaan sekamar. Seperti yang disampaikan oleh bapak Muhammad Iqbal, yaitu:
“Aturan-aturan didalam kelompok ngak ada pak, karna memang kelompok kelompok didalam penjara gak bisa ada, Cuma kalau didalam kamar ada aturan-aturannya pak, biasanya pak kebersihan, kerapian saling menghargailah pak, kalau ada yang bertamu atau ada yang mengunjungi bawa makanan ya wajib dimakan bersamalah pak, bagi-bagi, kita pun kek gitu juga pak dan semuanya kek gitu, karna kalau makan sendiri pak pasti diejek kadang mau dimaki-maki sampai panas telinga pak.”
Aturan yang dimuat tertulis maupun aturan secara tidak tertulis merupakan kesepatan bersama yang harus dilakukan secara bersama oleh setiap warga binaan di dalam lembaga permasyarakatan Kelas II/A Pematang Siantar. Warga binaan yang melanggar aturan dan bertingkah aneh di dalam sel pada umumnya akan menerima perlakuan yang tidak baik secara langsung dari warga binaan lainnya, akan menerima cemooh dan maki-makian atau bahkan pemukulan. Namun ketika aturan sudah tidak dijalankan dan mengganggu kenyamanan bersama, maka akan terjadi perlakuan secara fisik di dalam sel yang disebut dengan istilah “konsep”.
Konsep merupakan istilah untuk menggambarkan kerja sama antar sesama warga binaan untuk menyerang atau mengalahkan salah satu warga binaan di dalam kamar. Contohnya si A yang bertingkah berlebihan dan menyebabkan keributan di dalam sel, maka warga binaan yang ada di dalam sel tersebut secara bersama-sama menyerang, memukuli ataupun menyiksa, namun ketika petugas
permasyarakatan datang, secara bersamaan seluruh penghuni sel mengatakan bahwa si A itu gila, dipukulinya dirinya sendiri, ngigau itu pak dan lain-lain sebagainya yang bersifat untuk menyelamatkan diri dari sanksi petugas. Konsep ini juga berlaku bagi warga binaan yang memasuki bukan kamarnya, ketika hal itu dilanggar, maka secara bersama-sama penghuni kamar akan memfitnah bahwa telah kehilangan ini dan itu lalu kemudian memaksa orang yang memasuki sel tersebut untuk mengganti rugi, walaupun pada dasarnya tidak ada satupun barang yang hilang di dalam sel tersebut.
Melalui konsep ini, warga binaan memanfaatkannya untuk memeras warga binaan yang bersikap aneh dan sembarangan memasuki yang bukan selnya, hal itu dapat terjadi karena pada dasarnya warga binaan memang dilarang memasuki yang bukan selnya sendiri. Warga binaan juga tidak ingin berhadapan dengan petugas permasyarakatan sehingga mau tidak mau, orang tersebut wajib mengikuti dan memenuhi permintaan tersebut.
4.11 Interaksi Sosial Warga Binaan Dalam Kelompok Yang Berbeda (Out-Grup)
Warga binaan di dalam lembaga permasyarakatan saling berupaya untuk mengurangi dan menghilangkan deprivasi, terutama deprivasi keamanan melalui cara bergabung dengan sebahagian warga binaan berpengaruh di dalam LP.
Kadang kala dalam upaya untuk mendapatkan rasa nyaman dan jaminan akan keamanan di dalam LP, warga binaan mau tidak mau harus mengikuti sikap dan perilaku yang lazim dilakukan di dalam penjara oleh sebahagian besar warga binaan.
Interaksi sosial yang terjadi antar warga binaan di dalam sel, baik interaksi sosial secara langsung ataupun secara simbolik merupakan kegiatan sosial yang sehari-hari tidak dapat dilepaskan dari kehidupan warga binaan. Melalui proses interaksi sosial yang berlangsung, warga binaan terhimpun dalam 4 kelompok, dalam hal ini kelompok yang dimaksud bukanlah sebagai suatu kelompok yang terorganisir. Kelompok tersebut yaitu kelompok yang didasarkan atas nama blok, kelompok yang didasarkan atas nama sel serta kelompok kiriman dan kelompok Ps (penduduk Setempat).
Secara keseluruhan warga binaan berada di dalam lembaga permasyarakatan kelas II/A Pematang Siantar mengatakan bahwa di dalam LP tersebut tidak terdapat kelompok sosial atau genk-genk warga binaan. Warga binaan menyadari dengan adanya kelompok tertentu di dalam LP, mereka hanya akan diperhadapkan dengan hukuman trapsell (ruang isolasi) bahkan berujung kepada pemidahan kepenjara lain. Sebagaimana yang disampaikan oleh bapak Paulus Panangian Tambunan, yaitu :
“Kalau disini ngak ada yang namanya kelompok-kelompok pak, dilarang petugas, kalau ada issu kelompok didengar petugas pak, langsung dicarilah pak, kalau ngak masuk ruang hukuman atau trapsel ya dikirimlah pak ketempat lain. Disini Cuma ada kamar sama blok pak, jadi ngak ada kelompok-kelompok sosial atau organisasi marga, agama atau apapun ngak adapak, emuanya ngak ada kelompok pak, kalau ada langsung dibasmi petugas itu pak.”
Hal yang sama juga disampaikan oleh bapak Supiyan, yaitu:
“Kalau kelompok-kelompok narapidana dipenjara pak ngak ada, kelompok atau genk ngak ada pak, ngak bisa itu ada. Kelompok kelompok yang ada didalam pak ya Cuma ada perkamarlah pak nampaknya, karna kompak atau solid aja pak. bagaimanalah sudah satu kamar pak, jadi sudah lebih dekat dan lebih kenal satu sama lain pak, lebih sering jumpa dan lebih sering bersama.”
Dalam proses interaksi sosial warga binaan sehari-harinya, ketika sel tahanan telah dibuka dan dapat beraktivitas diluar ruangan, seluruh warga binaan pada umumnya membaur satu sama lain, sehari-harinya tidak terlihat kelompok-kelompok atau grup-grup di dalam LP. Hal ini tentunya dipengaruhi oleh sanksi yang akan diterima oleh sipelaku (warga binaan) ketika membentuk suatu kelompok dan diketahui oleh petugas permasyarakatan. Seluruh warga binaan berupaya untuk menghindari pemindahan penjara, karena setiap kali memasuki penjara yang baru, warga binaan akan memulai dan membangun interaksi sosial dari nol, dimana Ia ditempatkan.