• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Lembaga Permasyarakatan Atau Penjara

Istilah penjara (panitentiary) diambil dari bahasa latin, secara luas digunakan sebagai sinonim kata prison. Awalnya digunakan untuk menjelaskan tempat di mana seseorang dikirim untuk menebus dosa-dosanya terhadap masyarakat. Pemberian hukuman penjara merupakan alat hukuman yang bertujuan untuk memperbaiki perilaku para pelaku tindakan kriminal dan pelanggaran hukum. Berdasarkan asal usul katanya, penjara berasal dari kata penjoro (bahasa Jawa) yang berarti tobat atau jera, di penjara berarti dibuat tobat atau dibuat jera.

Konsepsi permasyarakatan pertama sekali dinyatakan oleh Dr. Sahardjo SH, pada tahun 1963 dimana istilah penjara dirubah menjadi lembaga permasyarakatan. Lembaga permasyarakatan berarti perlakuan mengayomi masyarakat dari gangguan kejahatan sekaligus mengayomi pada narapidana yang

“tersesat jalan” dan memberi bekal hidup bagi narapidana setelah kembali kedalam masyarakat (dalam Soedjono, 1972). Dimana lembaga permasyarakatan melalui pembinaan dan pembimbingan narapidana bertujuan untuk menjaga agar narapidana tidak terasing dari masyarakat dimana ia akan kembali nanti.

Konsep kelembagaan permasyarakatan menjadi lebih jelas sejak tahun 1963, setelah DR Sahardjo S.H mengemukakan dalam konferensi kepenjaraan di Lembang Bandung, bahwa tujuan pemidanaan adalah permasyarakatan, di mana mereka yang menjadi narapidana bukan lagi dibuat jera, namun dibina dan kemudian dimasyarakatkan (dalam Harsono C.I 1995). LP merupakan pelaksana teknis yang berada dibawah direktorat Jenderal Permasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Orang yang tinggal di dalam Lapas disebut Narapidana atau Warga Binaan Permasyarakatan (WBP). Petugas yang menangani pembinaan narapidana dan tahanan di Lapas disebut sebagai petugas permasyarakatan atau yang dahulu dikenal dengan istilah sipir penjara.

Pemidanaan narapidana didalam LP diselenggarakan dalam bentuk pembinaan dan pembimbingan atau permasyarakatan agar menjadi manusia seutuhnya, menyadari kesalahan, memperbaiki diri dan tidak mengulangi perilaku menyimpang sehingga dapat kembali diterima sebagai anggota masyarakat.

Tujuan dari permasyarakatan adalah bahwa pemidanaan terhadap seseorang terpidana, selain menimbulkan rasa derita karena hilang kemerdekaan, LP juga turut ambil bagian dalam mendidik warga binaan agar menjadi warga negara yang baik dan berguna.

Menurut Soerjono Soekanto (2002), lembaga masyarakat memiliki beberapa fungsi yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok manusia, yaitu: memberikan pedoman pada anggota masyarakat tentang bagaimana mereka harus bersikap atau bertingkah laku di dalam menghadapi masalah-masalah di dalam masyarakat, menjaga keutuhan masyarakat dan memberikan pegangan hidup kepada masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial (social

control), yang artinya adanya pengawasan tingkah laku oleh lembaga masyarakat terhadap anggota-anggotanya

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang merupakan salah satu cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid, dengan tujuan dapat ditemukan, dikembangkan dan dibuktikan oleh suatu pengetahuan tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan dan mengantisipasi masalah (dalam Sugiono, 2015). Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong J.

L, 2007) pendekatan kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.

Metode penelitian ini merupakan cara yang lebih menekankan pada aspek pemahaman terhadap suatu permasalahan. Metode penelitian deskritif dengan pendekatan kualitatif ini diharapkan dapat menggambarkan (mendeskripsikan) secara tepat, pola dan proses interaksi sosial kelompok warga binaan dalam kelompok yang sama (in group) dan warga binaan dalam kelompok yang berbeda (out group) yang berlangsung selama masa pembinaan warga binaan di dalam lembaga permasyarakatan kelas II/A Pematang Siantar.

3.2 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini berada pada lembaga Permasyarakat Kelas II/A Pematang Siantar yang terletak di jalan Asahan KM.7 No. 8 Pematang Siantar.

Pemilihan lokasi ini didasarkan pada: Lokasi penelitian merupakan salah satu lembaga permasyarakatan (LP) yang berada diwilayah Sumatera Utara dan berstatusaktif. Lembaga permasyarakatan Kelas II/A Pematang Siantar memiliki warga binaan yang dibina dan dibimbing petugas permasyarakatan. Lembaga permasyarakatan ini setiap tahunnya mengalami peningkatan jumlah penghuni (warga binaan) hingga melebihi daya tampung pada saat ini (over kapasitas).

3.3 Unit Analisis Dan Informan 3.3.1 Unit Analisis

Unit analisis adalah hal-hal yang diperhitungkan menjadi subjek dalam penelitian dan keseluruhan unsur yang terdapat di dalamnya yang menjadi fokus dalam penelitian (Bungin, 2007). Adapun yang menjadi unit analisis dalam penelitian ini adalah proses interaksi sosial warga binaan yang berlangsung di dalam lembaga permasyarakatan Kelas II/A Pematang Siantar.

3.3.2 Informan

Informan adalah subjek yang memahami permasalahan penelitian sebagai pelaku maupun yang memahami permasalahan penelitian (Bungin, 2007).

Informan penelitian terdiri dari dua yaitu informan kunci dan informan tambahan.

Yang menjadi informan kunci dalam penelitian ini adalah warga binaan yang ada di dalam Lembaga Permasyarakatan kelas II/A Pematang Siantar sedangkan informan tambahan yaitu petugas permasyarakatan atau pegawai atau sipir permasyarakatan.

Penentuan informan dilakukan dengan tenik purposive sampling yaitu pengambilan data sample secara sengaja dengan persyaratan sample yang

ditentukan sesuai dengan sample yang diperlukan. Teknik pengambilan sample ini juga dengan jugmental sampling yaitu pengambilan sample berdasarkan penilaian, mengenai siapa-siapa yang pantas (memenuhi persyaratan) untuk dijadikan sample (dalam Nashihun Ulwan M, 2014).

Dengan demikian Informan yang akan digunakan dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan pada lamanya warga binaan menjalani hukuman pidana, sudah menjalani hukuman di dalam LP, khusus pada warga binaan laki-laki yang ada di lembaga permasyarakatan Kelas II/A Pematang Siantar. Setiap informan mewakili masa tahanan 0 bulan-12 bulan dan mewakilkan secara keseluruhan jenis pelangaran yang ada di dalam penjara.

3.4 Teknik Pengumpulan Data 3.4.1 Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari informan yang ditemukan dilapangan baik melalui observasi, wawancara secara partisipatif maupun secara mendalam. Data primer dapat juga dikatakan sebagai data yang diperoleh secara langsung dari tangan pertama (yang bersangkutan).

3.4.2 Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari objek penelitian, melalui studi kepustakaan yang diperlukan untuk mendukung data yang diperoleh, baik dari buku-buku ilmiah, tulisan ilmiah atau laporan penelitian yang berkaitan dengan topik penelitian yang dianggap sesuai dan relevan dengan permasalahan yang diteliti. Studi kepustakaan dan pengumpulan data dilakukan dengan menelusuri data-data atau literatur-literatur yang terkait dengan penelitian.

3.4.3 Wawancara Mendalam

Wawancara mendalam merupakan proses tanya jawap yang dilakukan peneliti kepada orang-orang yang menjadi objek penelitian atau informan secara langsung yang berhubungan dengan objek yang sedang diteliti. Tanya jawap yang dilakukan peneliti terhadap informan merupakan pertanyaan yang berkaitan dengan permasalahan-permasalahan yang sedang diteliti, secara lengkap dan mendalam disertai dengan interview guide sebagai panduan wawancara.

Wawancara yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui proses interaksi sosial warga binaan yang berlansung di dalam lembaga permasyarakatan Kelas II/A Pematang Siantar selama dalam masa pembinaan warga binaan

3.4.4 Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi ini merupakan salah satu teknik penghimpunan data yang tidak langsung ditujukan kepada subjek penelitian. Metode ini merupakan salah satu teknik pengumpulan data dengan menganalisis dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis, gambar maupun elektronik. Dokumen yang dihimpun dipilih sesuai dengan tujuan dan fokus masalah yang diteliti. Metode ini bertujuan untuk mendukung metode yang lainnya.

3.4.5 Observasi

Observasi atau pengamatan merupakan salah satu metode yang digunakan dalam menghimpun data penelitian dengan melakukan pengamatan maupun pengindraan (Bungin, 2007). Observasi merupakan pengumpulan data dengan pengamatan secara langsung terhadap objek yang diteliti untuk mendapatkan gambaran yang tetap sesuai dengan objek yang sedang diteliti. Dengan demikian

peneliti dapat mengidentifikasi dan mengkategorikan dan melihat sejauh mana gejala yang harus diamati dan perlu untuk diteliti.

3.4.6 Interpretasi Data

Data yang diperoleh sebagai hasil wawancara melalui bantuan catatan lapangan, hasil observasi langsung dan hasil kajian pustaka akan ditelaah dan diseleksi kembali dan disesuaikan dengan kategori-kategorinya. Kemudian data selanjutnya dievaluasi relevansinya terhadap pokok permasalahan yang diteliti.

Setelah hal tersebut dilakukan, kemudian data-data tersebut dianalisis dengan mengacu kepada tinjauan pustaka.

Data-data yang diperoleh akan dikelompokkan sesuai dengan permasalahan yang telah ditetapkan, lalu dipisahkan secara kategorial dan dicari hubungan yang muncul dari data, yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu analisis data yang baik serta dapat mengungkapkan permasalahan atau hasil dari pelitian yang sedang dilakukan. Sedangkan hasil observasi akan diuraikan untuk memperkaya hasil wawancara sekaligus melengkapi data. Berdasarkan data yang ditemui, data akan diinterpretasikan untuk mendeskripsikan interaksi sosial antar narapidana yang ada di dalam Lapas yang sebenarnya.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

4.1.1 Sejarah Lembaga Permasyarakatan Kelas II/A Pematang Siantar Lembaga permasyarakatan kelas II/A Pematang Siantar berada di Provinsi Sumatera Utara, tepatnya Jl. Asahan Km.VII No.08 Siantar, Kabupaten Simalungun. LP Pematang Siantar berdiri sejak tahun 1926, dimana LP tersebut merupakan penjara peninggalan dari Kolonial Belanda yang sebelumnya beralamat dijalan Sutomo kota Pematang Siantar. Seiring dengan perkembangan kota Pematang Siantar, maka sejak tahun 1982 LP tersebut dipindahkan kejalan Asahan Km. VII No.8 (tempat LP pada saat ini berada), di atas areal tanah seluas 7,08 ha dengan luas bangunan 28.845 meter persegi dan dioperasikan sejak tahun 1988. Pemindahan penjara dari jalan dari jalan Sutomo ke jalan Asahan didasari oleh adanya tuntutan pengelolaan tata ruang kota yang tidak memungkinkan menempatkan LP tepat berada dipusat kota, sehingga dibutuhkan pemindahan lokasi (relokasi).

Lembaga permasyarakatan merupakan sebuah konsep inovasi dari sebuah sistem pemidanaan yang dulu akrab kita kenal dengan istilah penjara, konsep kelembagaan permasyarakatan menjadi lebih jelas sejak tahun 1963, setelah DR Sahardjo S.H mengemukakan dalam konferensi kepenjaraan di Lembang Bandung, bahwa tujuan pemidanaan adalah permasyarakatan, dimana mereka yang menjadi warga binaan bukan lagi dibuat jera, namun dibina dan kemudian dimasyarakatkan. LP merupakan pelaksana teknis yang berada dibawah direktorat

Jenderal Permasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Orang yang tinggal di dalam lembaga permasyarakatan disebut Narapidana (napi) atau Warga Binaan Permasyarakatan (WBP). Petugas yang menangani pembinaan narapidana dan tahanan di LP disebut petugas permasyarakatan atau yang dahulu dikenal dengan istilah sipir penjara.

4.1.2 Letak Dan Kondisi Lembaga Permasyarakatan Kelas II/A Pematang Siantar

Lembaga permasyarakatan kelas II/A Pematang Siantar merupakan lembaga pembinaan warga binaan dengan tekstur bangunan yang terbuat dari beton. LP tersebut terletak diatas areal tanah seluas 7,08 ha dengan luas bangunan 28.845 meter persegi. Kondisi bangunan pada saat ini tergolong baik namun diperlukan rehab dan penambahan blok hunian melihat jumlah penghuni yang melebihi kapasitas..

Tabel 4.1: Jarak Lembaga Permasyarakatan Kelas II/A Pematang Siantar Dengan Instansi Terkait

Jarak Lembaga Permasyarakatan Dengan Instansi Terkait.

Polres Simalungun ± 6 KM

Polres Pematang Siantar ± 7 KM

Kejaksaan Negeri Simalungun ± 3 KM

Kejaksaan Negeri Pematang Siantar ± 7 KM

Pengadilan Negeri Simalungun ± 3 KM

Pengadilan Negeri Pematang Siantar ± 7 KM

RSUD Djasarmen Saragih ± 6 KM

Sumb: Format profil Lapas KELAS II/A Pematang Siantar

Berdasarkan tabel 4.1, LP Kelas II/A Pematang Siantar yang berlokasi di jalan Asahan Km. VII No.8 berjarak 6 kilo meter dari Polres Simalungun dan

RSUD Djasarmen Saragih dan berada 7 kilo meter dari Polres Pematang Siantar, Kejaksaan Negeri Pematang Siantar dan pengadilan Negeri Pematang Siantar, sedangkan Kejaksaan Negeri Simalungun dan Pengadilan Negeri Simalungun dapat ditempuh sejauh 3 kilo meter menuju kearah pusat kota Pematang Siantar.

Kondisi hunian di dalam LP Kelas II/A Pematang Siantar, terdiri atas 10 perkampungan (blok) warga binaan yaitu: perkampungan Dr. Ir Soekarno, perkampungan Jenderal Raden Sudirman, perkampungan Tuanku Iman Bonjol, kampung Sisingamangaraja, kampung pengasingan, kampung Sahardjo, Raden Ajeng Kartini, Drs Mhd Hatta (Tipikor), kampung AA, Kampung BB. Terdapat 1 ruangan poliklinik dengan kapasitas 3 orang, 2 kamar straff cell (register F) atau ruang isolasi dengan kapasitas 1 orang. Fasilitas yang terdapat didalam LP yaitu:

1 unit Gereja, 1 unit Musholah, 1 unit ruang bertamu bagi wargabinaan, 3 unit aula, 4 unit menara penjagaan dan 3 unit pos penjagaan serta perkantoran LP Kelas II/A Pematang Siantar. Sementara diluar bangunan, pada sisi sebelah kiri dan kanan terdapat lahan pertanian yang digunakan oleh petugas permasyarakatan dalam pelatihan dan pembinaan keterampilan bertani warga binaan, dihalaman belakang terdapat 10 unit perumahan yang diperuntukkan bagi petugas permasyarakatan, sementara dihalaman depan terdapat ruang pendaftaran bertamu/ruang tunggu, parkiran dan rumah dinas Kepala Lembaga Permasyarakatan Kelas II/A Pematang Siantar dan pekarangan taman Lapas.

Gambar 4.1: Sketsa Lembaga Permasyarakatan Kelas II/A Pematang Siantar

Sumber data: Format Profil Lembaga Permasyarakatan KELAS II/A Pematang Siantar

Secara keseluruhan, wargabinaan LP kelas II/A Pematang Siantar terhimpun di dalam 91 kamar tahanan (selanjutnya di tulis sel), dimana pada perkampungan Dr. Ir Soekarno terdapat 20 sel, perkampungan Jenderal Raden Sudirman terdapat 8 sel, perkampungan Tuanku Iman Bonjol terdapat 8 sel, kampung Sisingamangaraja terdapat 12 sel, kampung pengasingan diisi 6 sel, pada perkampung Sahardjo terdapat 15 sell, Raden Ajeng Kartini dilengkapi dengan 7 kamar hunian, Drs Mhd Hatta (Tipikor) 1 sel, kampung AA terdiri dari 7 kamar wargabinaan dan Kampung BB dilengkapi dengan 7 sel narapidana. Berdasarkan kapasitas daya tampung sel, kita akan menemukan sel tahanan dengan kapasitas 1 orang sebanyak 23 sel, dengan kapasitas 5 orang terdapat 8 sel, daya tampung dengan kapasitas 6 orang terdapat 2 sel, daya tampung 7 orang terdapat sebanyak 17 sel, kamar warga binaan dengan kapasitas 9 orang terdapat 17 sel, ruangan dengan kapasitas daya tampung 11 orang terdapat sebanyak 2 sel dan 2 sel dengan kapasitas 13 orang serta 20 sel dengan kekuatan daya tampung 15 per sel. Maka

berdasarkan kapasitas daya tampung sel tersebut, LP Kelas II/A Pematang Siantar memiliki kapasitas daya tampung sebanyak 695 orang.

Tabel 4.2: Jumlah Kamar Warga Binaan Berdasarkan Kapasitas Daya Tampung Kamar

Sumber : daftar isi penghuni lembaga permasyarakatan KELAS II/A Pematang Siantar, Jumat 02 November 2018

4.1.3 Kondisi Demografi Lembaga Permasyarakatan Kelas II/A Pematang Siantar

Kondisi dan keadaan jumlah petugas permasyarakatan pada saat inisangat berbanding terbalik dengan kondisi jumlah petugas pada tahun 2016 (dapat dilihat pada tabel 4.3), dimana kondisi jumlah petugas permasyarakatan LP Kelas II/A Pematang Siantar meningkat signifikan, peningkatan jumlah tersebut baru terjadi pada satu tahun terakhir (tahun 2018). Terdapat 156 pegawai permasyaraktan yang terdiri dari 22 orang pegawai staf, 14 orang pejabat struktural, dan 42 orang petugas pengamanan serta 78 orang pegawai. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ka. KPLP (Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Permasyarakatan) Sahat Bangun A.Md, Ip, SH, satu tahun sebelumnya hanya terdapat 5 orang petugas

pada blok setiap hari, artinya hanya 5 orang saja yang mengawasi ribuan warga binaan, namun setelah adanya penerimaan pegawai baru yaitu yang dilaksanakan melalui tes CPNS 2016 yang dilakukan oleh KEMENKUHAM, barulah terjadi penambahan kekuatan petugas permasyarakatan secara signifikan.

Tabel 4.3: Jumlah Petugas Permasyarakatan Pada Lembaga Permasyarakatan KELAS II/A Pematang Siantar

Petugas Lembaga Permasyarakatan Kelas II/A Pematang Siantar

Pegawai staf 22 Orang

Pejabat Struktural 14 Orang

Petugas pengamanan 42 Orang

Pegawai 78 Orang

Total Jumlah Pegawai 156 Orang

Sumber : Format profil Lembaga Permasyarakatan KELAS II/A Pematang Siantar Jumlah warga binaan permasyarakatan lapas Kelas II/A Pematang Siantar pada saat ini dihuni oleh 2.458 jiwa dapat kita lihat pada tabel 4.4, dijelaskan bahwa penghuninya terdiri dari warga binaan sebanyak 1.337 jiwa dan tahanan sebanyak 1.121 jiwa. Warga binaan terdiri dari satu orang kasus terorisme, satu orang penjualan manusia (tracfiking), satu orang warga binaan dengan kasus penggelapan dan penipuan cukai, dan 2 orang kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) serta 7 orang tindak pidana korupsi (tipikor). Sementara itu, penyumbang terbanyak wargabinaan berasal dari kasus Narkotika yaitu sebanyak 77% dari keseluruhan jumlah warga binaan atau sebanyak 1.027 jiwa, diikuti dengan kasus pencurian yang menjadi penyumbang terbanyak kedua setelah narkotika sebesar 14,36% yaitu 192 jiwa. Kasus lainnya penyumbang tingginya jumlah warga binaan pada LP Kelas II/A Pematang Siantar adalah kasus pelanggaran hukum perlindungan anak sebesar 4,86% yaitu sebanyak 65 jiwa, pelanggaran hukum penganiayaan 2,01% atau 27 jiwa dan pelanggaran hukum perjudian sebesar 1,04% atau sebanyak 14 jiwa.

Tabel 4.4: Jumlah Penghuni Lembaga Permasyarakatan Kelas II/A Pematang Siantar Berdasarkan Kasus

Komposisi penghuni Lembaga Permasyarakatan Kelas II/A Pematang Siantar Kasus Narapidana Persentase

Sumber : observasi dan data isi penghuni lembaga permasyarakatan KELAS II/A Pematang Siantar, November 2018

Tingginya jumlah penghuni LP Kelas II/A Pematang Siantar juga tidak terlepas dari banyaknya tahanan yang masih menunggu proses hukum serta putusan pengadilan/vonis. Tahanan yang terdapat pada LP tertanggal 01 november 2018 sebanyak 1.121 jiwa, dimana 80,28% dari keseluruh jumlah tahanan berasal dari kasus penyalahgunaan narkotika, yaitu sebanyak 900 jiwa. Kasus lain penyumbang tingginya jumlah tahanan juga diikuti oleh kasus pencurian yang menyumbang 9,63% dari keseluruhan tahanan atau sebanyak 108 jiwa, diikuti oleh kasus perjudian sebanyak 42 jiwa atau 3,74%, kasus penganiayaan sebesar 3,30% dan kasus perlindungan anak sebanyak 27 orang mewakili 2,46% dari keseluruhan jumlah tahanan. Kasus tahanan lainnya adalah kasus penjualan manusia (trackfiking) sebanyak 2 orang, kasus kekerasan dalam rumah tangga

sebanyak 2 orang, kasus kehutanan (ilegal logging) sebanyak 2 orang serta kasus tindak pidana korupsi yang masih menunggu proses hukum sebanyak 1 orang.

4.1.4 Aktivitas Warga Binaan Di Dalam Penjara

Sehari-harinya, warga binaan berada di dalam LP dan melakukan segala aktivitas di dalam LP. Di mulai dari kegiatan pada pukul 06.00 WIB sebagaimana yang diuraikan pada tabel 4.5, warga binaan bangun pagi dan mempersiapkan diri di dalam kamar masing-masing, lalu pada pukul 07.30 wib warga binaan akan makan pagi. Makan pagi warga binaan dilaksanakan di dalam sel masing-masing dengan kondisi kamar terkunci, di mana petugas yang terhimpun dalam tamping (tenaga pendamping) dapur yang berperan melayani makanan kepada seluruh warga binaan.

Tabel 4.5: Jadwal Kegiatan Warga Binaan Dalam Satu Hari

No Pukul Kegiatan Warga Binaan

1

3 08.00 Buka kereng (kamar narapidana) 4

08.00-10.00

Kebersihan, olahraga dan upacara serta kegiatan pribadi lainnya

5 11.30 Melakukan kegiatan masing-masing seperti bertenun, ibadah atau kegiatan pakarya lainnya

9 17.30 Wajib masuk kereng (masuk kedalam penjara) 10 17.30 Makan malam

11 18.00- Aktivitas sendiri di dalam kamar

Sumber : observasi lapangan oktober-november pada Lembaga Permasyarakatan Kelas II/A Pematang siantar

Warga binaan, baru dapat melakukan aktivitas di luar sel permasyarakatan pada pukul 08.00 Wib setelah kereng di buka oleh penghulu. Setelah itu warga binaan akan mengikuti senam yang di pimpin oleh sesama warga binaan dengan fasilitas yang disediakan oleh LP, setelah itu warga binaan akan terkonsentrasi melakukan kegiatannya masing-masing di dalam sel maupun di luar sel. Pada pukul 11.30 WIB, pada umumnya waktu akan dimanfaatkan oleh warga binaan untuk mengikuti pakarya atau kegiatan pembinaan keahlian bagi dibina oleh petugas permasyarakatan.

Makan siang warga binaan dilakukan pada jam 12.00 sampai jam 13.00 WIB, berlangsungnya makan siang dilaksanakan di dalam sel masing-masing.

Kemudian setelah selesai makan siang, warga binaan dapat kembali melanjutkan aktivitasnya sendiri, seperti menerima kunjungan keluarga bagi warga binaan yang dikunjungi atau bercengkerama dengan warga binaan yang lain, setelah itu jam 16.00, warga binaan melakukan kebersihan diri masing-masing hingga 17.30 WIB. Setelah pukul 17.30 warga binaan permasyarakatan wajib masuk kereng atau sel diikuti dengan makan malam pada pukul 18.00 WIB. Pada malam hari, warga binaan memiliki kebebasan untuk melakukan apapun aktivitasnya di dalam sel selama itu tidak menyebabkan keributan dan kerusuhan.

4.2 Profil Informan

4.2.1 Identitas Informan

Dalam proses pelaksanaan penelitian tentang “Pola Interaksi Narapidana Dalam Kelompok Yang Sama (In Group) Dan Kelompok Yang Berbeda (Out Group) Pada Lembaga Permasyarakatan Kelas II A Pematang Siantar”

diperlukan beberapa informan untuk memenuhi data-data dalam proses penyelesaian penelitian ini. Berikut ini beberapa data informan yang terdiri dari nama, usia/umur, pendidikan terakhir informan, pekerjaan terakhir, pelanggaran hukum atau kasus informan dan lama masa tahanan informan serta lama masa tahanan yang telah dijalani informan, sebagai berikut:

Tabel 4.6: Identitas Warga Binaan Sebagai Informan Dalam Penelitian Pada Lembaga Permasyarakatan KELAS II/A Pematang Siantar 7 Danielpin Damanik 42 SMA Petani Pembunuh

an

wiraswasta Terorisme 4 Tahun 1 Tahun

19 Lasrikardo Siahaan 38 S1 Petani Pencurian 4 Tahun 1 Tahun

Wiraswasta Pencurian 4 Tahun 7 Bulan

22 Riko Diko

Sumber : Obeservasi langsung dan data Lembaga Permasyarakatan Kelas II/A Pematang Siantar, Oktober-November 2018

Tabel 8 : Identitas Petugas Permasyarakatan Sebagai Informan Dalam Penelitian pada Lembaga Permasyarakatan KELAS II/A Pematang Siantar Siantar dan 8 Tahun di Lapas Cipinang 2 Liong Huimart

Sinaga

Kepala

BIMKEMASWAT

29 Tahun

15 Tahun dibalai permasyarakatan bengkulu dan 15 Tahun dilapas Kelas II/A Siantar

3 Sahat Bangun A.Md, Ip, SH

Ka. KPLP Lapas Dipadang 6 Tahun Lapas Kabanjahe 9 Tahun

Lapas narkotika Pematang Raya 6 Tahun 9 bulan

Lapas kelas II A Pematang Siantar 1 Tahun

Sumber : Obeservasi langsung dan data Lembaga Permasyarakatan Kelas II/A Pematang Siantar, Oktober-November 2018

4.2.2 Latar Belakang Kehidupan Informan 1. Abdul Roni Simangunsong

Pak Abdul Roni Simangunsong merupakan salah satu warga binaan LP Kelas II/A Pematang Siantar, lahir pada 6 Juni 1980, pendidikan terakhir beliau adalah sekolah menengah pertama (SMP). Pak Abdul Roni Simangunsong mendekam di dalam LP untuk pertama kalinya pada bulan februari 2017 atas tindakan pelanggaran hukum pencurian. Beliau mengutarakan, kurangnya pendidikan dan pengetahuan rendah yang ada padanya, hanya mampu dipergunakan untuk memiliki pekerjaan serabutan. Pak Abdul merupakan anak pertama dari lima bersaudara dan belum menikah.

2. Asina Tupa Pardede

Pak Asina Tupa Pardede adalah warga binaan LP Kelas II/A Pematang

Pak Asina Tupa Pardede adalah warga binaan LP Kelas II/A Pematang