• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.13 Kehidupan Terorisme Di Dalam Penjara

Secara umum bentuk pelaksanaan pembinaan warga binaan terorisme yang dilakukan oleh LP tidak jauh berbeda dengan pelaksanaan pembinaan terhadap warga binaan dengan latar belakang kasus yang lain. Yang membedakan warga binaan terorisme dengan warga binaan yang lain adalah adanya penempatan blok secara khusus atau sel tahanan khusus yang dipisah dengan warga binaan lainnya.

Serta adanya pembatasan ruang gerak warga binaan terorisme di dalam LP, hal tersebut terjadi karena pelaku pelanggaran hukum terorisme dianggap sangat membahayakan ideologi negaradan sebagai wujud antisipasi terhadap penyebaran paham radikalisme di lingkungan LP. Menurut Saifudin Zuhri (Mochamad Nurhuda Febriyansah, Lailatul Kodriah, Raka Kusuma Wardana. 2017), terdapat 6 tujuan program deradikalisasi yaitu, melakukan counter-terrorism, mencegah proses radikalisasi, mencegah masyarakat dari indoktrinisasi radikalisme, meningkatkan pemahaman masyarakat untuk menolak paham terorisme dan memperkaya khazanah atas perbandingan paham serta mencegah provokasi, penyebaran kebencian dan permusuhan antar umat beragama.

Lembaga permasyarakatan yang kita kenal saat ini merupakan tempat pembinaan bagi warga binaan berasal dari berbagai macam jenis pelanggaran hukum dan berbagai macam latar belakang kehidupan warga binaan, yang bertujuan untuk membawa para pelaku kejahatan untuk menyadari kesalahannya dan kembali kejalan yang benar serta mampu diterima di dalam masyarakat kembali (reintegrasi). Sebagai mahluk sosial, manusia tidak terlepas dari interaksi sosial dan ketergantungan dengan mahluk sosial laindalam melakukan aktivitasnya sehari-hari.

Gambar 4.5 : Wawancara Dengan Narapidana Dengan Kasus Hukum Terorisme

Sumber : Lembaga Permasyarakatan Kelas II/A Pematang Siantar, tanggal 15 Oktober 2018

Sebagaimana yang telah diuraikan diatas, interaksi sosial yang terjadi dilakukan tergantung dari keinginan sipelaku interaksi sosial itu sendiri, dalam hal ini pelaku interaksi sosial yang dimaksud adalah warga binaan. Selain itu, interaksi sosial juga dipengaruhi oleh latar belakang pelanggaran hukum yang dilakukan oleh warga binaan itu sendiri, dimana yang dimaksud adalah diskriminasi jenis pelanggaran hukum di dalam LP oleh sesama warga binaan dan petugas LP. Hal tersebut tentunya dipengaruhi oleh nilai-nilai dan norma-norma

yang terdapat di dalam sel, tentang apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk oleh warga binaan. Tetapi tidak sama dengan interaksi sosial yang dialami oleh warga binaan teroris.

Lembaga permasyarakatan Kelas II/A Pematang Siantar memiliki satu warga binaan dengan latar belakang kasus pelanggaran hukum khusus yaitu terorisme. Salah satu warga binaan kiriman yang berasal dari rutan MAKO Brimob, merupakan salah satu warga binaan yang dikirim ke LP kelas II/A Pematang Siantar, pengiriman dilakukan sebagai bentuk upaya untuk menekan berkembanganya sikap radikalisme terhadap masyarakat. Narapidana terorisme di dalam LP tidak memiliki kebebasan dalam berinteraksi, bahkan sama sekali tidak dapat melakukan interaksi sosial dengan warga binaan atau penghuni LP lainnya, sebagaimana yang disampaikan oleh beliau, bapak Junaedi, yaitu:

“Mau bagaimana berinteraksi, isolasi, tidak ada interaksi sama sekali, karna disini cuma sendiri pak, lagian kalau ente napi, bicara sama saya, ente pasti ditangkap dan diisolasi bahkan dipindahkan ente.

Itulah saya ngak tau kenapa demikian (sambil senyum). Justru lebih bebas bicara waktu di mako brimob pak, itu ada 6 orang satu kamar, ia sama-sama teroris. Disini mana ada pak. Kadang interaksinya pak cuma pas menyapa ajalah petugas pak, mungkin memastikan masih hidup atau ngak kurasa pak.”

Warga binaan terorisme ditempatkan pada sebuah ruangan khusus, yang tidak dapat dimasuki oleh warga binaan lain, dengan ukuran ruangan kurang lebih seluas 4 x 4 meter, lengkap dengan pekarangan/halaman dan dibatasi dinding pagar pemisah dengan warga binaan lain dan diawasi oleh petugas permasyarakatan melalui cctv selama 24 jam dalam 1 hari. Keseharian warga binaan terorisme hanya melakukan aktivitas-aktivitasnya sendiri di dalam ruangan, tidak seperti warga binaan lain yang bebas berinteraksi sosial serta memiliki jam

buka tutup kereng (sel warga binaan) dan bebas melakukan aktivitasnya diluar kamar.

Interaksi narapidana terorisme dengan warga binaan lain tidak pernah luput dari pengawasan petugas permasyarakatan, hal tersebut tentunya didasari atas rasa kekwahatiran berkembangnya pemikiran radikalisme di lingkungan LP. Beberapa orang warga binaan yang pernah berinteraksi dan memberikan simpati kepada narapidana terorisme seringkali berujung dengan penahanan dan kurungan diruangan isolasi atau bahkan dikirimkan kepenjara lain. Dalam keseharian warga binaan terorisme, pak Junaedi hanya dapat melakukan interaksi sosial dengan tamping dapur (narapidana yang bertugas mengantarkan makanan) dan interaksi yang terjadi bersifat hanya sekedar dan singkat (hanya saling menegur sapa).

Seperti yang diutarakan oleh bapak Junaedi, yaitu:

“Dalam hal berhubungan atau berinteraksi pak, ente pikirkanlah seperti yang saya bilang tadi, jangankan membicarakan sesuatu, bertegur sapa saja pak, orang itu langsung diisolasi sama petugas, bayangkan entelah. Udah ada 10 orang korban saya selama disini pak, ada yang bicara lewat pagar, ada yang dulu ngasih kue,, semua orang-orang ini ngak pernah nampak lagi pak. Keluar ruangan paling kalau sakitlah pak, ente tau sendirilah bahkan kalau sholat jum’at saya dikawal itu kiri kanan sama petugas permasyarakatan, depan belakang juga dijaga, ente tau sendirilah, jadi ngak ada sama sekali berbicara sama napi yang ada disini. Didalam cuma satu jamlah bisa berjemur pak, baru 23 jam lagi dikamarlah pak. Ya mengisi waktu ya membaca Alquran, menulis menerjemahkan ayat-ayat dalam bentuk-bentuk cerita, itulah kerjaan setiap hari pak.”

Bagi warga binaan dengan pelanggaran kasus umum, melakukan interaksi dengan narapidana terorisme sama saja dengan mengharapkan adanya hukuman baru, seperti memasuki trapsel, pengasingan atau isolasi hingga pada pengiriman kelembaga lain. Hal tersebut sebagai upaya dalam pencegahan berkembangnya pemahaman radikalisme dilingkungan penjara. Narapidana terorisme sepenuhnya

melakukan aktivitasnya di dalam sel tanpa terlibat interaksi dengan narapidana lain. Maka dapat disimpulkan bahwa narapidana terorisme sama sekali tidak melakukan interaksi sosial di dalam LP.