• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.14 Peran Pemuka Dan Ban Itam

Lembaga permasyarakatan kelas II/A Pematang Siantar merupakan suatu kesatuan sosial yang terdiri dari individu-individu yang hidup secara bersama-sama dengan hubungan timbal balik serta interaksi sosial yang intensif dan teratur.

Layaknya masyarakat secara universal, terdapat nilai-nilai dan norma-norma, baik nilai dan norma yang diatur melalui perundang-undangan yang bertujuan untuk mengatur dan membatasi tingkah laku warga binaan, maupun nilai-nilai dan norma-norma yang lahir dari warga binaan itu sendiri, baik yang tercipta melalui kesepakatan bersama atau tercipta melalui tradisi-tradisi yang telah diwariskan dari generasi-ke generasi.

Secara individu, terdapat dua pihak yang memiliki pengaruh dan dampak yang cukup besar di dalam LP, yaitu pemuka dan ban itam. Pemuka adalah orang-orang yang dihormati dan disegani oleh warga binaan dan mampu mempengaruhi warga binaan yang lain. Pemuka dalam hal ini bukanlah pimpinan suatu kelompok, blok atau suatu genk di dalam penjara, namun pemuka merupakan panutan karena tindakan-tindakannya yang bersifat positif. Pemuka biasanya hanya terdapat satu atau dua orang dalam satu blok, pemuka dapat juga dikatakan sebagai orang yang dituakan di dalam LP.

Pemuka pada umumnya merupakan orang-orang yang menjadi panutan dikalangan para warga binaan, disegani dan dihormati karena sikap dan perilaku

baik terhadap sesama warga binaan di dalam penjara. Masing-masing pemuka pada umumnya memiliki pengikut (massa) yang menjadikannya sebagai panutan, sebagaimana yang disampaikan oleh bapak Bram Azyuda, yaitu:

“Memang didalam penjara bang tidak ada kelompok-kelompok, jadi tidak ada pemimpin, namun adanya orang-orang yang dihormati atau disegani didalam bang tapi bukan karena kekerasan makanya disegani ya. Orang-orang ini bang biasanya karna baik didalam bang, suka menolong, suka membantu napi yang lain”

Hal yang sama juga ditegaskan oleh bapak Horas Martua Lubis yaitu:

“Di dalam penjara tidak ada kelompok, tidak ada geng atau grup, jadi tidak ada pemimpinnya pak, tetapi didalam blok biasanya ada 1 atau 2 orang yang disegani dan dihormati pak, tapi ini bukan bentuk bos ya pak, orang ini biasanya orang-orang yang dermawanlah pak, suka membantu napi yang lain.”

Gelar sebagai pemuka yang disandang oleh salah satu warga binaan di dalam LP tidak diberikan secara langsung, namun gelar tersebut muncul dari warga binaan melalui mulut-kemulut dimana warga binaan mengakui keberadaan si warga binaan tersebut (pemuka) atas jasa dan kebaikannya. Keberadaan pemuka di dalam LP tidak merupakan suatu hierarki kekuasaan, namun pemuka pada umumnya berperan sebagai pendamai ketika ada permasalahan antar sesama warga binaan di dalam LP. Dalam kesehariannya, para pemuka di dalam LP biasanya aktif dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat umum seperti dalam kepengurusan rumah ibadah (aktif di dalam musholah dan gereja) atau kegiatan-kegiatan warga binaan yang universal (memandu kegiatan-kegiatan senam narapidana setiap pagi dan pertandingan olahraga). Seperti yang disampaikan oleh bapak Juli Arfan Gultom, yaitu:

“Di dalam penjara tidak ada kelompok atau geng pak, Cuma ditiap-tiap blok pasti ada orang-orang yag dituakan atau biasa dipanggil pemuka pak, orang-orang ini biasanya dekat dengan petugas dan

dikenal petugas, orang-orang ini memiliki peran untuk mengamankan an mengendalikan kalau ada napi-napi yang ribut. Orang ini pada umumnya dikenal karna dermawan, dan banyak duit, ya orang-orang dermawan ini kalau ngak ada duitnya mana laku, aktif di mesjid, sering memimpin keggiatan-kegiatan, aktif digereja tapi yang pasti dekat dengan petugaslah ini pak.”

Keberadaan pemuka di dalam penjara bukan hanya mendapatkan pengakuan dari warga binaan lainnya, namun juga medapatkan pengakuan dari petugas permasyarakatan. Keberadaan pemuka dimanfaatkan petugas permasyarakatan untuk mempermudah proses pelaksanaan kegiatan pembinaan narapidana di dalam penjara. Pada umumnya, para pemuka memiliki kedekatan yang intensif dengan petugas permasyarakatan. Terjadi simbiosis mutualisme, dimana petugas permasyarakatan dan pemuka saling menguntungkan, petugas permasyarakatan diuntungkan dengan peran pemuka yang mampu mengendalikan, dan mengontrol warga binaan di dalam LP, termasuk didalamnya ketika terjadi pertikaian antar sesama warga binaan dan pemuka diuntungkan dengan kedekatan yang dapat dengan mudah menyampaikan keluhan atau permasalahan yang dihadapinya kepada petugas permasyarakatan.

Pemuka berperan sebagai mediator dalam menyelesaikan segala permasalahan (konflik) yang terjadi antar sesama warga binaan di dalam LP, walaupun pada dasarnya masing-masing warga binaan berupaya menghindari keterlibatan petugas permasyarakatan dalam penyelesaian masalahnya. Dalam hal inilah pemuka berperan untuk mengendalikan kondisi dan meredakan suasana.

Dalam proses interaksi sosial yang terjadi, pemuka tidak mendapatkan perlakukan khusus layaknya seperti orang yang dihormati. Sama dengan warga binaan lainnya, pemuka menerima hak dan melakukan kewajibannya serta melakukan interaksi sosial sama dengan warga binaan lainnya, dimana interaksi yang terjadi

dengan warga binaan yang lain terjadi, tergantung kemauan dari dirinya sendiri dan kemauan orang yang diajaknya untuk berinteraksi. Pemuka pada umumnya berperan ketika terjadi permasalahan antar sesama warga binaan, sebagai orang dermawan, pemuka tentunya memiliki simpatisan yaitu para warga binaan yang pernah merasakan dan menerima kebaikannya. Hal tersebutlah yang mempengaruhi keberadaan pemuka, sehingga mampu menjadi orang yang dituakan dan didengarkan di dalam LP.

Disamping adanya pemuka sebagai warga binaan yang dihormati dan disegani serta dijadikan sebagai panutan, terdapat juga warga binaan yang dibenci oleh seluruh warga binaan dilembaga permasyarakatan kelas II/A Pematang Siantar, yaitu ban Itam. Ban itam adalah warga binaan yang meresahkan di dalam lembaga permasyarakatan kelas II/A Pematang Siantar, ban Itam bukanlah kelompok, namun sebutan untuk warga binaan yang sering melakukan pelanggaran di dalam penjara. Band itam merupakan warga binaan yang putus asa yang cenderung melakukan kejahatan dalam memenuhi kebutuhannya. Ban itam pada umumnya mencuri dan merampok barang milik warga binaan lain, seperti yang disampaikan oleh bapak Paulus Panagian Tinambunan, yaitu:

“Pemuka itu mampu menggerakkan massa pak, tapi bukan menjadi provokator, itu bergerak individualnya itu pak, sendirian, satu lagi yang dibenci didalam penjara pak ban itam lah. Ban itam itu tahanan yang putus asalah itu pak, tidak memiliki keluarga atau tidak dperdulikan keluarganya lagi pak. ban itam orang-orang putus asanya ini, biasanya mencuri, seperti mencuri pakaian dari jemuran, merampok napi-napi lain yang dianggapnya bisa dirampok. Ban itam ini udah tahan banting ini pak, ngak ada lagi yang peduli dengan ini, udah keluar masuk trapsel lah ini sama petugas. Kalau ban itam biasanya mudah dikenali , cara bicaranya selalu menantang ini, ngak bisa melihat orang lain senang baru sering mengintimidasi ini, bagaimanalah supaya ada permasalahan pak.”

Ban itam yang ada di Lembaga Permasyarakatan kelas II/A Pematang Siantar merupakan warga binaan yang telah putus asa dan kehilangan penguasaan diri, sehingga dalam memenuhi kebutuhannya kerap kali dengan cara melakukan kejahatan. Ban itam merupakan sebutan untuk preman-preman yang sering mencuri pakaian dari jemuran serta merampas barang milik orang lain. Ban itam dalam melakukan aksinya bergerak secara individual. Band itam juga merupakan panggilan kepada setiap warga binaan yang keluar masuk ruang register f atau trafsel (isolasi), sebagai hukuman atas perbuatannya. Ban itam dalam melakukan interaksi sosialnya cenderung melakukan intimidasi dan menciptakan persoalan demi mencari keuntungan dari permasalahan yang akan timbul.