BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.8 Pola Interaksi Sosial Warga Binaan Di Luar Sel (Interaksi
Pola interaksi sosial warga binaan di luar sel merupakan proses interaksi sosial tahap kedua setelah interaksi tahap pertama yang berlangsung di dalam sel berhasil di lalui dan berjalan dengan baik. Interaksi sosial tahap kedua pada umumnya terjadi setelah menjalani 3 bulan pertama paskah putusan peradilan.
Sebagaimana yang telah diuraikan pada proses interaksi sosial warga binaan di dalam sel, setiap warga binaan wajib melaksanakan kebiasaan dan tradisi perkenalan diri yang diikuti dengan sosialisasi nilai-nilai tentang apa yang dianggap baik dan buruk oleh sesama warga binaan di dalam LP. Disamping itu, warga binaan baru juga diikat dengan tradisi-tradisi yang sudah melekat di dalam keseharian warga binaan di dalam LP.
Pembinaan dan pemberdayaan warga binaan di dalam LP merupakan suatu proses reintegrasi yang melihat dan melibatkan seluruh pihak (stake holder) di
dalam LP. Suatu sistem kebijakan yang berorientasi kepada kegiatan reintegrasi narapidana yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012, melalu empat proses tahapan (Siti Asisah, Nurhayati. 2017). Tahap pertama merupakan tahapan admisi dan orientasi (maximum security) yaitu masa pengenalan lingkungan warga binaan, dari tahanan menjadi narapidana. Tahap kedua adalah pembinaan kepribadian lanjutan (minimum security) yaitu masa pembinaan lanjutan dari tahapan pembinaan pertama atau 1/3-1/2 masa hukuman pidana yang harus dijalani. Tahapan ketiga adalah tahapan asimilasi yang dimulai dari 2/3 masa hukuman pidana. Sedangkan tahapan keempat adalah tahapan integrasi dengan lingkungan masyarakat yang merupakan tahapan terakhir dari masa pembinaan yang diberikan kepada warga binaan.
Pada proses interaksi sosial tahap kedua ini, warga binaan sudah mulai beradaptasi dengan lingkungan permasyarakatan (penjara), baik di dalam sel maupun di luar kamar. Proses interaksi sosial warga binaan tahap pertama secara keseluruhan dilakukan oleh warga binaan baru di dalam sel kurang lebih tiga bulan pertama di awal masa menjalani hukuman penjara, dalam tahapan ini warga binaan memanfaatkannya untuk mengenal dan mengakrapkan diri dengan senior terutama yang berada di dalam sel (teman sekamar), serta saling membangun kepercayaan satu sama lain.
Warga binaan baru dalam tahap pertama dominan berada hanya disekitar sel, selain adanya tindakan-tindakan sewenang-wenang dari warga binaan senior dari sel yang berbeda, barang milik warga binaan baru juga sering hilang atau diperjual belikan tanpa sepengetahuan ketika warga binaan tersebut meninggalkan selnya. Perlakuan terhadap warga binaan baru yang dilakukan oleh warga binaan
lama terutama warga binaan sekamar pada dasarnya tidak berlangsung dengan waktu yang lama, namun proses tersebut berganti seiring dengan adanya warga binaan yang baru masuk. Sebagaimana disampaikan oleh bapak Muhammad Igbal, yaitu:
“Pertama masuk penjara tekanan paling berat itu pak ya tekanan mental, bagaimana nama baik keluarga, bagaimana masa depanku nanti, masa depanku setelah ini pak. Lama juga waktu itu pak memikirkan hal itu, kira kira satu bulanan lebihlah pak memikirkan itu. Baru ya bulan kedualah, mulailah membaur pak. Pigi kesana kemari untuk menghibur diri pak. Namanya juga kiriman pak, harus mulai menyesuaikan diri pak dengan penjara yang baru dan orang orang yang baru pak. Orang-orang dari medan lah pak, orang kirimanlah yang dijumpa, nanyak bagaimana keadaan didalam, bagaimana peraturan disini, bagaimana kalau ada masalah pak, jadi yang didalam memperkenalkan juga pak bagaimana cara-cara kalau udah disini.”
Sebagai warga binaan kiriman, warga binaan tersebut terlebih dahulu masuk ruang isolasi selama dua minggu, di mana warga binaan makan dan minum serta melakukan aktivitas lainnya di dalam sel tersebut, tidak dapat keluar kamar dan pakaian yang dikenakan hanya sepasang, yaitu pakaian yang dipakai di hari pengiriman itu dilakukan. Secara keseluruhan, warga binaan baru diperhadapkan dengan tekanan mental dan tekanan fisik dari LP, di mana mereka ditempatkan.
Warga binaan membutuhkan waktu untuk menjalani dan menghadapi dilema kepribadian sebelum ia mampu beradaptasi dengan lingkungan permasyarakatan, pada umumnya membutuhkan waktu satu bulan untuk mampu mengahadapi dilema tersebut dan di bulan kedua mulai membaur dengan warga binaan di dalam sel, baik yang berasal warga binaan kiriman maupun dengan warga binaan penduduk setempat. Proses adaptasi tersebut juga diiringi dengan proses sosialisasi nilai-nilai di dalam LP, apa yang layak dan tidak layak dilakukan atau apapun
rahasia-rahasia di dalam LP. Hal yang serupa juga disampaikan oleh bapak Firman yang seperingiman pak, kemarin pertama masuk tekanan mentallah bang, apalagi saya orang kiriman, baru nyampe aja langsung dihajar dan dipukuli sama orang-orang satu kamar, semua barang-barang yang bagus diambili, diperiksai, diambililah pak. Pertengahan bulan ketiga lah pak sudah mulai keluar kamar, tidak mencari siapa siapa sih pak, ya palingan sama orang-orang sepengirimmanlah pak, itupun cuma pada siang hari karna malam kamarnya beda beda.”
Namun dalam keseharian proses sosial yang terjadi di dalam LP, warga binaan yang berasal dari daerah di mana penjara itu berada sedikit lebih diuntungkan. Selain adanya dominasi jumlah penghuni warga binaan yang berasal dari kota Siantar-Simalungun, sesama warga binaan Siantar-Simalungun juga diuntungkan dengan adanya kemiripan kultur budaya dan cara pergaulan serta adat-istiadatnya. Penduduk lokal dianggap memiliki kelebihan oleh sesama warga binaan, sehingga pada umumnya warga binaan penduduk lokal lebih saling menyegani dan menghormati. Walaupun dalam proses pertama masuk, warga binaan baru yang berasal dari sekitar lokasi LP tersebut juga wajib melaksanakan perkenalan diri dan tradisi yang berlaku, di sel di mana Ia ditempatkan, seperti beli susu, beli rokok untuk satu kamar, tidur di bawah sampai warga binaan yang baru datang serta tekanan lainnya. Seperti yang disampaikan oleh salah satu informan yang berasal dari Ujung Padang Kabupaten Simalungun, bapak Saimon bin Ridwan, yaitu:
“Pertama divonis dan masuk penjara pak tekanan paling berat ya tekanan mental pak, pasti. Ya, bagaimana biasanya jumpa sama keluarga ini tidak bisa lagi, biasanya bebas skarang ngak lagi, apa
lagi selama 2 bulan pas mask itu paling banyak tekanan pak, baik dari
Selain menghadapi tekanan mental atas hukuman pidana yang harus diterima, warga binaan baru juga wajib melaksanakan tradisi di dalam sel yang ditempatinya. Warga binaan baru untuk mendapatkan rasa aman dan nyaman di dalam menjalani sebagai anggota warga binaan baru di dalam LP juga harus mendekatkan dan mengompakkan diri dengan warga binaan yang berada dalam sel. Hal tersebut terjadi karena warga binaan yang telah lebih dulu berada di dalam sel dianggap lebih mengenal orang-orang di dalam LP, baik di dalam sel yang sama maupun dengan warga binaan di luar selnya.
Diagram alur 4.7 :Pola Interaksi Sosial Warga Binaan Tahap Kedua
Sumber : Hasil Observasi Pada Lembaga Permasyarakatan Kelas II/A Pematang Siantar
Pola interaksi sosial warga binaan pada tahap kedua ini menonjolkan kebiasaan warga binaan permasyarakatan di dalam LP setelah 3 bulan menjalani hukuman penjara, kebiasaan tersebut merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh warga binaan didalam LP untuk menghibur diri atas rasa kebosanan setiap harinya. Pada 3 bulan pertama warga binaan baru menerima berbagai tekanan dari seniornya baik secara mental maupun secara fisik, yang mau tidak mau harus dihadapi. Warga binaan baru mengalami di lema, di mana ketika ia mengikuti tradisi di dalam sel, mereka akan menerima perlakuan yang tidak layak yang tidak diatur di dalam peraturan permasyarakatan, namun di sisi lain, ketika warga binaan baru menolak untuk mengikuti dan melaksanakan tradisi yang berlaku maka warga binaan tersebut akan mengalami kesulitan yang berkepanjangan. Warga binaan akan mengalami berbagai macam tekanan di dalam kesehariannya, baik secara fisik maupun secara nonfisik dari sesama warga binaan karna dianggap sebagai pembangkang.
Pada tahap kedua ini, warga binaan pada umumnya telah mampu beradaptasi dan membaurkan diri dengan sesama warga binaan di sel yang sama. Warga binaan baru mulai mencoba keluar dari selnya untuk mencari teman maupun kenalan-kenalan yang sudah lebih dahulu berada di dalam LP. Warga binaan baru yang telah dibekali dengan nilai-nilai dan norma-norma yang dianggap baik melalui sosialisasi di dalam sel tahanan, sudah mulai memberanikan diri untuk berinteraksi dengan masyarakat di luar sel. Dalam prosesnya, interaksi yang terjadi antar sesama warga binaan di dalam LP tercipta begitu saja, tanpa didapati adanya aturan atau tradisi yang bersifat memaksa yang mengatur jalannya interaksi sosial.
Warga binaan dalam melakukan interaksinya mengalir begitu saja, tergantung
kemauan dan keinginan dari masing-masing pihak yang ingin melakukan interaksi sosial. Warga binaan pada dasarnya menyadari bahwa masyarakat yang menjadi penghuni LP berasal dari berbagai macam latar belakang kehidupan dan kasus yang berbeda. Kesadaran tersebutlah yang mendasari terciptanya interaksi sosial antar individu dapat tercipta dengan mudah dan hanya sekilas. Secara tidak langsung perbedaan menjadikan warga binaan saling menghormati.