T ENTANG S UNAH N ABI S AW
4. Bagaimana Dua Hadis yang Kontradiktif Bisa Ada?
Di antara hadis-hadis yang telah diriwayatkan pada masa Mu‘âwiyah
berkuasa dan dimasukkan ke dalam golongan hadis-hadis Rasulullah saw. sebagai sunah beliau adalah—mungkin—hadis-hadis berikut ini:
Dalam ShahîhMuslim, SunanAd-Dârimî, dan MusnadAhmad disebut-kan bahwa Rasulullah saw. bersabda—redaksi hadis ini dinukil dari buku
pertama: “Janganlah kamu menulis segala sesuatu yang berasal dariku.
Barang siapa yang telah menulis dariku selain Al-Qur’an, hendaklah ia
memusnahkannya.”1
Menurut sebuah riwayat: “Mereka telah memohon izin kepada
Rasulullah saw. untuk menulis hadis yang disabdakannya, dan beliau tidak
mengizinkan mereka.”2
Di dalam MusnadAhmad dan Sunan AbiDâwûd dari Zaid bin Tsâbit diriwayatkan bahwa ia berkata—redaksi hadis ini dinukil dari kitab per-tama:
1Shahîh Muslim, kitab Az-Zuhd, bab At-Tatsabbuts fî Al-Hadîts wa Huk Kitâbah Al- ‘Ilm, jil. 4, hal. 97, hadis ke-72; Sunan Ad-Dârimî, Muqadimah, bab 42, jil. 1, hal. 119; Musnad Ahmad, jil. 3, hal. 12, 39, dan 56.
“Sesungguhnya Rasulullah saw. telah melarang kami untuk menulis hadis
beliau—apa pun bentuknya, dan beliau telah memusnahkannya.”1
Di dalam MusnadAhmaddari Abu Hurairah bahwa ia berkata: “Kami
sedang duduk menulis segala sesuatu yang kami dengar dari Nabi saw. Tiba-
tiba beliau keluar menjumpai kami seraya bertanya, ‘Apa yang sedang kamu tulis ini?’
Kami menjawab, ‘Segala sesuatu yang kami dengar dari Anda.’ Beliau bertanya lagi, ‘Apakah ada kitab lain selain kitab Allah?’
Kami menekankan, ‘Ini adalah segala sesuatu yang kami dengar (dari Anda).’
Beliau menimpali, ‘Tulislah kitab Allah. Murnikanlah kitab Allah. Apakah kitab lain selain kitab Allah? Murnikanlah kitab Allah.’
Kami pun mengumpulkan seluruh hadis yang kami tulis di atas sebuah
tempat, dan kemudian membakarnya.”2
Jika hadis-hadis ini benar, maka tidak ada tugas lain bagi muslimin kecuali mengumpulkan seluruh buku referensi kajian Islam dan yang memuat hadis-hadis Rasulullah saw. atau buku-buku yang memuat sebagian hadis-hadis beliau, seperti kitab-kitab Shihâh, Sunan, Musnad, sirah, dan tafsir dan membakarnya atau membuangnya ke dasar lautan.
Dengan demikian, aku tidak tahu syariat Islam mana yang akan tersisa jika kita membuang seluruh buku-buku referensi sunah Rasulullah saw. di dasar lautan? Saya pikir tidak demikian realitanya. Rasulullah saw. tidak pernah mengucapkan hadis-hadis tersebut. Yang beliau ucapkan adalah sabda yang telah beliau luntarkan ketika beliau berpidato pada peristiwa haji
Wadâ‘: “Semoga Allah membahagiakan seorang hamba yang telah
mendengar ucapanku, lalu ia memahaminya dan menyampaikannya kepada orang yang belum mendengarnya. Betapa banyaknya pembawa fiqih
yang membawakannya kepada orang yang bisa lebih faqih dari dirinya.”3 Dalam sebuah hadis yang lain disebutkan: “Alangkah banyaknya
pembawa fiqih yang ia sendiri tidak faqih dan alangkah banyaknya
pembawa fiqih kepada orang yang bisa lebih faqih dari dirinya.”4
Dalam sebuah riwayat yang lain, Rasulullah saw. bersabda: “Semoga
Allah membahagiakan orang yang telah mendengar satu hadis dari kami,
1Musnad Ahmad, jil. 5, hal. 182; Sunan Abi Dâwûd, kitab Al-‘Ilm, jil. 3, hal. 319. 2Musnad Ahmad, jil. 3, hal. 12-13.
3 Silakan merujuk referensinya pada pembahasan sebelumnya tentang definisi fiqih.
Begitu juga rujuk Badâ’i‘ Al-Minan, jil. 1, hal. 14.
lalu ia menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya. Alangkah
banyaknya penyampai yang lebih paham dari pendengar.”1
Dalam riwayat yang lain Rasulullah saw. bersabda: “Hendaknya orang
yang hadir menyampaikan kepada orang yang tidak hadir. Karena mungkin orang yang hadir akan menyampaikannya kepada orang yang lebih
memahaminya daripada dirinya sendiri.”2
Rasulullah saw. bersabda: “Ya Allah, rahmatilah para khalifahku. Ya
Allah, rahmatilah para khalifahku. Ya Allah, rahmatilah para khalifahku.” Beliau ditanya: “Ya Rasulullah, siapakah para khalifah Anda?”
Beliau menjawab: “Orang-orang yang hidup setelahku dan
meriwayatkan hadis dan sunahku.”3
Di dalam kitab ShahîhAl-Bukhârî, bab KitâbahAl-‘Ilm disebutkan bahwa seseorang yang berasal dari Yaman pernah mendengar hadis Rasulullah saw.
Ia berkata: “Tolong Anda tuliskan untukku, wahai Rasulullah.” Rasulullah saw. berkata: “Tolong tuliskan (hadis itu) untuk Abu Polan.”4
Diriwayatkan bahwa salah seorang dari kaum Anshar sering duduk di hadapan Rasulullah saw. dan mendengar hadis dari beliau. Ia merasa kagum dengan hadis itu. Tapi—sayangnya—ia tidak dapat menghafalnya. Ia
mengadukan hal itu kepada beliau. Rasulullah saw. bersabda: “Mintalah tolong kepada tangan kananmu.” Beliau menunjuk tangannya.5
1 Ibid.
2Shahîh Al-Bukhârî, kitab Al-‘Ilm, cet. Baulâq, jil. 1, hal. 24; Kanz Al-‘Ummâl, cet.
ke-2, jil. 10, hal. 133, hadis ke-1126; Sunan Mâjah, jil. 1, hal. 85; Bihâr Al-Anwâr, jil. 1, hal. 152, hadis ke-42.
3 Referensi mazhab Ahlul Bait as.: Ma‘ânî Al-Akhbâr, hal. 374-375; ‘Uyûn Al-Akhbâr,
cet. Najaf Asyraf, jil. 2, hal. 36; Man Lâ Yahdhuruhu Al-Faqîh, penelitian ulang oleh Ali Akbar Ghaffârî, jil. 4/ 420; Bihâr Al-Anwâr, jil. 2/145, hadis ke-7.
Referensi mazhab Khilâfah: Al-Muhaddits Al-Fâshil, karya Râmhurmuzî, bab Fadhl
An-Nâqil ‘an Rasulillah, hal. 163; Qawâ‘id At-Tahdîtz, karya Al-Qâsimî, bab Fadhl
Râwî Al-Hadîts, cet. ke-2, hal. 48; Syaraf Ash-hâb Al-Hadîts, karya Al-Khathîb Al- Baghdâdî, bab Kawn Ash-hâb Al-Hadîts Khulafâ’ Ar-Rasul, hal. 30; Jâmi‘ Bayân Al- ‘Ilm, karya Abdul Barr, jil. 2, hal. 55; Akhbâr Isfahan, karya Abu Nu‘aim, jil. 2, hal.
81; Al-Fath Al-Kabîr, karya As-Suyûthî, diriwayatkan dari Abi Sa‘îd, jil. 1, hal. 233;
Kanz Al-‘Ummâl, karya Al-Muttaqî, kitab Al-‘Ilm, bab Âdâb Al-‘Ilm, pasa Riwâyah Al-Hadîts wa Âdâb Al-Kitâbah, diriwayatkan dari Ali as. dan Ibn Abbas, cet. ke-2, jil. 20, hal. 128 dan 133, hadis ke-1086 dan 1127 dan jil. 10, hal. 181, hadis ke-1407; Al-
Ilmâ‘, karya Al-Qâdhî‘Iyâdh, bab Syaraf ‘Ilm Al-Hadîts wa Syaraf Ahlih, hal. 11.
4 Shahîh Al-Bukhârî, jil. 1, hal. 22. Dan Abu Polan itu adalah Abu Syât, seperti
disebutkan di dalam Sunan At-Tirmidzî, jil. 10, hal. 135.
Diriwayatkan dari ‘Amr bin Syu‘aib, dari ayahnya, dari kakeknya bahwa ia berkata: “Aku pernah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah kutulis segala sesuatu yang kudengar dari Anda?’ Beliau menjawab, ‘Iya.’ Aku bertanya lagi, ‘Dalam kondisi rida dan marah?’ Beliau menjawab, ‘Iya. Karena aku
tidak mengatakan dalam kedua kondisi itu kecuali kebe-naran.’”
Menurut sebuah riwayat: “Aku mendengar banyak hadis dari Anda. Apakah kutulis semuanya?” Beliau menjawab: “Iya.”1
Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bahwa ia berkata: “Aku
senantiasa menulis segala sesuatu yang kudengar dari Rasulullah saw. lantaran aku ingin menghafalnya. Lalu kaum Quraisy melarangku dan
mereka berkata, ‘Apakah engkau menulis segala sesuatu yang kau dengar
dari Rasulullah saw., sedangkan ia adalah manusia biasa yang bisa berbicara
dalam kondisi rida dan marah?’ Aku pun berhenti dari menulis.
Kuceritakan hal itu kepada beliau. Beliau menunjuk mulut beliau seraya
bersabda, ‘Tulislah. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak
keluar darinya kecuali kebenaran.’”2
Menurut sebuah riwayat lain, setelah riwayat itu disebutkan: “Ia pernah datang menjumpai Rasulullah saw. seraya berkata, ‘Ya Rasulullah, aku meriwayatkan hadis Anda. Aku ingin meminta pertolongan kepada tulisan tanganku, di samping kalbuku (yang berusaha menghafalnya) jika Anda
membenarkan hal itu.’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Jika itu adalah hadisku, maka mintalah tolong kepada tanganmu di samping hatimu.’”3
Diriwayatkan dari ‘Amr bin Syu‘aib, dari ayahnya, dari kakeknya bahwa
ia berkata: “Aku pernah berkata, ‘Ya Rasulullah, kami mendengar dari Anda hadis-hadis yang tidak mungkin kami hafalkan. Bukankah kami
diperbolehkan untuk menulisnya?’ Beliau menjawab, ‘Iya. Tulislah hadis-
hadis itu.’”4
Dengan demikian, Rasulullah saw. selalu memerintahkan dan menganjurkan untuk menulis dan menyebarkan hadis-hadis beliau, sebagaimana telah kita baca bersama di dalam hadis-hadis sahih yang terakhir. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana mungkin bisa muncul
1Musnad Ahmad, jil. 2, hal. 207 dan 215.
2 Kami telah menyebutkan referensinya di permulaan pembahasan “Sikap Dua
Mazhab Dalam Menanggapi Realita Penyebaran Hadis Rasulullah saw. Pada Abad
Pertama”.
3Sunan Ad-Dârimî, Al-Muqadimah, bab Rakhshun fî Kitâbah Al-‘Ilm, jil. 1, hal. 125-
126.
hadis-hadis sebelumnya yang menegaskan bahwa Rasulullah saw. melarang para sahabat untuk menulis hadis-hadis beliau tersebut?
Jawab
Telah kita ketahui bersama bahwa kaum Quraisy, yaitu para sahabat dari kalangan Muhajirin, selalu melarang penulisan hadis Rasulullah saw. ketika beliau masih hidup, dan mereka juga telah melarang penulisan wasiat beliau pada saat-saat terakhir kewafatan beliau. Sepeninggal beliau, kita juga telah ketahui bersama bahwa Khalifah Kedua yang berkebangsaan Quraisy itu—
dengan getol—mencegah penulisan hadis beliau, membakar setiap hadis yang telah ditulis, mencegah penyebaran hadis beliau, dan menahan setiap sahabat yang menentang (politiknya). Khalifah Ketiga yang juga berkebangsaan Quraisy, Utsman menjalankan politik yang sama. Dan sangat lumrah sekali jika segolongan sahabat mendukung pihak penguasa.
Di sisi lain, telah kita ketahui juga di kalangan para sahabat terdapat orang-orang yang menentang haluan politik ini dan menyebarkan hadis- hadis Rasulullah saw., seperti seorang sahabat yang bernama Abu Dzar. Dan tentu saja, mereka telah mendapatkan kecaman dan tekanan-tekanan. Pada pembahasan-pembahasan mendatang dalam buku ini akan dijelaskan bahwa Imam Ali as. adalah orang yang mendorong mereka untuk melestarikan hal itu, dan sangat lumrah sekali jika beliau juga mendorong gerakan penyebaran hadis Rasulullah saw. pada saat beliau berkuasa. Ketika
beliau syahid di mihrab (salatnya) dan Mu‘âwiyah berhasil berkuasa, sangat
tidak mudah baginya—setelah itu—untuk melarang penulisan hadis-hadis Rasulullah saw. yang tidak diinginkan olehnya untuk disebarkan. Dan seharusnya ia menciptakan sebuah pendukung dan penguat atas haluan politiknya itu. Dengan demikian, banyak diriwayatkan hadis-hadis yang mencegah penulisan hadis Rasulullah saw. pada masa ini, dan semua itu menyebabkan kita menemukan kontradiksi di dalam hadis-hadis Rasulullah saw; hadis-hadis yang diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Tulislah hadisku”, dan hadis-hadis lain yang diriwayatkan bahwa beliau
bersabda: “Janganlah kamu menulis hadisku.”
Begitulah banyak didapatkan hadis-hadis kontradiktif yang diriwayat- kan dari Rasulullah saw.
Atas dasar ini, ketika kita menemukan hadis-hadis yang saling kontradiktif, selayaknya kita menyingkirkan hadis-hadis yang sejalan dengan haluan pemikiran para pihak penguasa di sepanjang sejarah itu.
Sebagai penutup, hal ini juga jangan dilupakan bahwa pelarang penulisan hadis itu bertujuan untuk menyebarkan keutamaan-keutamaan Imam Ali as. di tengah-tengah muslimin, khususnya pada masa kekuasaan
Mu‘âwiyah yang senantiasa memerintahkan pelaknatan atas beliau di dalam khotbah-khotbah salat Jumat di atas mimbar-mimbar muslimin, seperti telah kita ketahui bersama di dalam jilid pertama, pembahasan
“Penyembunyian Keutamaan-Keutamaan Imam Ali Dan Penebaran Laknat
Dan Celaan atasnya”.
Pada pembahasan-pembahasan yang lalu telah kami paparkan sekelumit realita yang terjadi akibat tuntutan politik pemerintahan
Mu‘âwiyah. Yaitu memalingkan masyarakat dari mazhab Ahlul Bait dan mengarahkan mereka kepada mazhab Khulafâ’. Lebih dari itu, Mu‘âwiyah
melihat perlu adanya perombakan atas keyakinan muslimin terhadap pemimpin mereka lebih banyak lagi. Karena muslimin meyakini bahwa pemimpin Islam pertama adalah Rasulullah saw. Beliau adalah sosok figur kesempurnaan insani, tidak pernah berbuat kemaksiatan, dan tidak pernah tunduk kepada hawa nafsunya.
Keyakinan semacam ini mencegah figur-figur umat yang tidak
menyeleweng ini untuk tunduk kepada Mu‘âwiyah dan menerima Yazîd,
sosok penenggak khamar dan fasik itu sebagai putra mahkota. Dari sini,
Mu‘âwiyah perlu merombak keyakinan muslimin terhadap suri teladan
mereka yang teragung, Rasulullah saw. Atas dasar faktor ini, bermun- culanlah hadis-hadis yang memperlihatkan beliau sebagai sosok yang
sebanding dengan Yazîd dan Mu‘âwiyah dalam bergelimang dalam hawa nafsu. Hadis-hadis semacam ini telah diriwayatkan dari sebagian Ummul Mukminin dan sahabat beliau.1
Begitu juga halnya berkenaan dengan hadis-hadis Israiliyah yang menceritakan para nabi terdahulu dan disebarkan para ulama ahlulkitab di tengah-tengah muslimin sebagai penguat atas politik yang dituntut oleh
pemerintahan Mu‘âwiyah. Dan lebih memperparah kondisi yang sedang
dominan kala itu adanya pelarangan penulisan hadis Rasulullah saw. dan hanya mengandalkan hafalan para perawi berkenaan hadis-hadis yang mereka sampaikan. Akhirnya, hadis-hadis yang benar bercampur aduk
1 Silakan Anda rujuk pembahasan sumber perbedaan pendapat tentang karakteristik
Rasulullah saw. pada pembahasan pendahuluan di dalam jil. pertama dari buku ini supaya Anda dapat melihat bagaimana mazhab Khilâfah menggambarkan kepribadian
dengan hadis-hadis yang palsu dan hadis-hadis Israiliyat dengan hadis-hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah saw.
Begitulah konsep pemikiran Islam di kalangan mazhab Khulafâ’
terbentuk dengan kerangka khususnya pada masa Mu‘âwiyah, dan sebagaimana yang diinginkan oleh Mu‘âwiyah. Konsep pemikiran khusus di
mazhabKhulafâ’ ini adalah Islam yang resmi sejak masa Mu‘âwiyah berkuasa
dan konsep pemikiran yang menentangnya adalah konsep pemikiran yang ditolak dan disingkirkan. Islam resmi atau konsep pemi-kiran Islam yang
diresmikan oleh Mu‘âwiyah itu tetap berjalan dalam bentuk tersebut hingga
hari ini setelah peristiwa kesyahidan Husain as., cucu Rasulullah saw. dan keluarganya itu meletakkan garis pemisah antara (Islam) dan penyelewengan
sepeninggal Mu‘âwiyah, menyingkap realita dari wajah Khalifah Yazîd, dan
menelanjangi kedudukan khilâfah dari tabir kesucian yang selalu digunakan olehnya untuk memolesi kejahatannya. Dengan itu, kerajaan terpisah berada di satu sisi dan figuritas agama berada di sisi yang lain.
Ini adalah sikap mazhabKhulafâ’ dalam menanggapi hadis Rasulullah saw., dan kita akan mempelajari bersama sikap mazhab Ahlul Bait as. dalam menanggapi hadis Rasulullah saw. setelah kita usai membahasa sikap kedua mazhab atas fiqih dan konsep ijtihad pada pembahasan-pembahasan buku berikut ini, insyâ-Allah.
Penutup
Pelarangan penulisan hadis Rasulullah saw. di kalangan mazhab Khulafâ’ berlanjut hingga permulaan abad kedua Hijriah. Hal ini adalah salah satu faktor terpenting yang mendorong mereka untuk membuka pintu ijtihad dalam menentukan hukum-hukum Islam dan mengamalkan pendapat para mujtahid dalam hal ini yang—kadang-kadang—bertentangan dengan sunah Rasulullah saw., sebagaimana akan kita pelajari bersama pada pembahasan berikut ini, insyâ-Allah.◈