T ENTANG F IQIH DAN I JTIHAD
5. Penjelasan atas Contoh-contoh Ijtihad Abad Pertama 1 Ijtihad Nabi saw.
54.1. Zakat dan Sedekah
5.4.5. Ghanîmah dan Maghnam (Harta Rampasan Perang)
5.4.6.2. Periode Islam
Itulah tradisi yang berlaku pada era Jahiliyah. Adapun di dalam Islam, khumus telah diwajibkan di dalam syariat Islami dan hal itu telah disebutkan di dalam kitab dan sunah sebagai berikut ini:
a. Khumus dalam Kitab Allah Allah swt. berfirman:
“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang yang kamu peroleh, maka sesungguhnyaseperlimauntukAllah,Rasul,kerabatRasul,anak-anakyatim, orang-orangmiskin,danibnussabil,jika kamuberiman kepadaAllahdan kepadaapayangKamiturunkankepadahambaKami[Muhammad]dihari Furqân,yaitu di hari bertemunya duapasukan. Dan AllahMahaKuasa atassegalasesuatu.” (QS. Al-Anfâl [8]:41)
1Nihâyah Al-Lughah, jil. 2, hal. 62.
2Nihâyah Al-Lughah, jil. 1, hal. 321; Musnad Ahmad, jil. 4, hal. 257.
‘Adî adalah Abu Thuraif. Ia memeluk Islam pada tahun 9 Hijriah dan pernah
mengikuti misi penaklukan Irak, perang Jamal, Shiffîn, dan Nahrawân bersama Imam Ali as. Matanya terbelah pada saat mengikuti perang Shiffîn. Pada ahli hadis telah meriwayatkan hadis darinya sebanyak 66 hadis. Ia meninggal dunia di Kufah pada tahun 68 Hijriah. Biografinya terdapat di dalam Al-Istî‘âb, Usud Al-Ghâbah, dan At- Taqrîb.
Meskipun ayat ini turun berkenaan dengan kejadian khusus, akan tetapi ia menetapkan sebuah hukum umum, yaitu kewajiban menunaikan khumus atas segala sesuatu yang mereka dapatkan kepada orang-orang yang berhak menerima khumus. Sendainya ayat ini menghendaki kewajiban menunai- kan khumus atas harta yang mereka dapatkan dalam peperangan saja,
selayaknya Dia berfirman: “Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang kamu peroleh dalam peperangan” atau “sesungguhnya apa saja yang kamu per-
oleh dari para musuh”, bukan berfirman: “sesungguhnya apa saja yang kamu peroleh.”
Dalam pensyariatan hukum ini, Islam telah menentukan bagian seperlima sebagai saham pemimpin sebagai ganti dari bagian seperempat (yang berlaku) pada masa Jahiliyah. Ia telah mempersedikit kadarnya dan memperbanyak golongan yang berhak menerimanya. Ia telah menjadikan- nya sebagai hak Allah, Rasulullah saw., para kerabat Rasulullah, dan menetapkan tiga saham (dari seperlima itu) sebagai hak anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnussabil dari kerabat Rasulullah saw. yang fakir. Ia telah mewajibkan khumus ini untuk setiap harta yang mereka dapatkan secara umum dan tidak mengkhususkannya hanya untuk harta yang mereka dapatkan dari peperangan saja, serta manamakannya khumus sebagai lawan dari mirbâ‘ (yang berlaku pada era) Jahiliyah.
Karena arti zakat adalah sama dengan hak Allah swt. berkenaan dengan harta—seperti telah kami paparkan sebelumnya—yang mana seluruh ayat Al-
Qur’an yang berjumlah—kurang lebih—tiga puluh ayat1 menganjurkan umat manusia untuk menunaikan zakat, maka seluruh ayat itu juga adalah sebuah anjuran untuk menunaikan sedekah-sedekah wajib dan khumus yang telah diwajibkan atas seluruh harta yang berhasil didapatkan oleh seseorang. Dan Allah telah menegaskan hak-Nya berkenaan dengan masalah harta ini di dalam dua kelompok ayat: ayat sedekah dan ayat khumus.
Ini adalah kesimpulan yang dapat kami pahami dari kitab Allah berkenaan dengan masalah khumus.
f. b. Khumus dalam Sunah
Rasulullah saw. telah memerintahkan (umat manusia) untuk mengeluarkan khumus dari harta rampasan perang dan dari selain harta rampasan perang, seperti tambang emas dan perak, sebagaimana hal itu diriwayatkan oleh Ibn
1 Silakan Anda rujuk kata [ةاكزلا] di dalam Al-Mu‘jam Al-Mufahras ji Alfâzh Al-
Abbas, Abu Hurairah, Jâbir, ‘Ubâdah bin Shâmit, dan Anas bin Mâlik
berikut ini:
Dalam Musnad Ahmad dan Sunan Ibn Mâjah, diriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa ia berkata—redaksi riwayat ini dinukil dari kitab pertama:
“Rasulullah saw. mewajibkan khumus atas tambang emas dan perak (ar- rikâz).”1
Dalam Shahîh Muslim, Shahîh Al-Bukhârî, SunanAbi Dâwûd, SunanAt- Tirmidzî, Sunan Ibn Mâjah, Muwaththa’ Mâlik, dan Musnad Ahmad, diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa ia berkata—redaksi hadis ini dinukil
dari kitab pertama: “Rasulullah saw. bersabda, ‘Binatang tidak mewajibkan qishâsh (jubâr), tambang tidak mewajibkan qishâsh, dan tambang emas dan
perak terkena kewajiban khumus.’” Dan menurut sebuah riwayat: “Seekor
binatang tidak mewajibkan diyat(tebusan).”2
Dalam kitab Al-Kharâj, Abu Yusuf menjelaskan hadis ini. Ia berkata:
“Pada masa Jahiliyah, jika seseorang binasa dalam sebuah sumur, maka
mereka menjadikan sumur itu sebagai diyAt-nya, jika seekor binatang membunuhnya, maka mereka menjadikan binatang itu sebagai diyAt-nya, dan jika ia terbunuh dalam sebuah tambang, maka mereka menjadikan tambang itu sebagai diyAt-nya. Lantas seseorang bertanya kepada Rasulullah saw. tentang hal itu, dan beliau menjawab, ‘Binatang tidak mewajibkan diyat (jubâr), barang tambang tidak mewajibkan diyat, dan sumur tidak mewajibkan diyat, sedangkan di dalam rikâz (tambang emas dan perak)
terdapat kewajiban khumus.’ Seseorang bertanya kepada beliau, ‘Apakah rikâz itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Emas dan perak yang telah diciptakan oleh Allah di dalam bumi pada saat bumi itu diciptakan.’”3
1Musnad Ahmad, jil. 1, hal. 314; Sunan Ibn Mâjah, hal. 839.
2Shahîh Muslim, kitab Al-Hudûd, bab Jarh Al-‘Ajmâ’ jubâr, dengan syarahnya oleh
An-Nawawî, jil. 11, 225; Shahîh Al-Bukhârî, kitab Al-Musâqât, bab Fî Ar-Rikâz Al- Khums, jil. 1, hal. 182 dan bab Man Hafara Bi’ran fî Milkin Lam Yadhman, jil. 2, hal. 34; Sunan Abi Dâwûd, kitab Al-Hudûd, bab Man Qatala ‘Amyan baina Qawmin, jil. 2, hal. 245 dan bab Mâ Jâ’a fî Ar-Rikâz, jil. 2, hal. 70; Sunan At-Tirmidzî, bab Al-
‘Ajmâ’ Jarhuhâ Jubâr wa fî Ar-Rikâz Al-Khums lillâh, jil. 3, hal. 138; Sunan Ibn
Mâjah, kitab Al-Luqathah, bab Man Anshâba Rikâzan, hal. 803; Muwaththa’ Mâlik, bab Zakâh Asy-Syurakâ’, jil. 1, hal. 244; Musnad Ahmad, jil. 2, hal. 228, 239, 254, 274, 285, 319, 382, 386, 406, 411, 415, 454, 456, 467, 475, 482, 493, 495, 499, 501, dan 507; Al-Amwâl, karya Abi ‘Ubaid, hal. 336.
3Abu Yusuf Ya‘qûb bin Ibrahim Al-Anshârî. Ia dilahirkan di Kufah pada tahun 113
Hijriah dan pernah menjadi murid Abu Hanifah. Ia adalah orang pertama yang menulis buku menurut pendapat Abu Hanifah. Ia pernah menjadi hakim Baghdad para
Dalam Musnad Ahmad, diriwayatkan dari Asy-Sya‘bî, dari Jâbir bin Abdillah bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Binatang yang memakan di gembalaan bebas (sâ’imah) tidak mewajibkan diyat (jubâr), sumur yang dalam tidak mewajibkan diyat, dan tambang tidak mewajiban diyat. Sedangkan di dalam harta rikâz terdapat kewajiban khumus.” Asy-Sya‘bî berkata: “Rikâz adalah barang tambang biasa.”1
Dalam MusnadAhmad, diriwayatkan dari ‘Ubâdah bin Shâmit bahwa ia berkata: “Di antara ketentuan-ketentuan Rasulullah saw. adalah, bahwa tambang tidak mewajibkan diyat, sumur tidak mewajibkan diyat, dan hewan tidak mewajibkan diyat. Dan seluruh binatang ternak dan selainnya termasuk dalam kategori hewan tersebut. Arti jubâr adalah binasa begitu saja tanpa ada kewajiban membayar diyat. Dan beliau mewajibkan khumus di dalam harta rikâz.”2
Dalam Musnad Ahmad, diriwayatkan dari Anas bin Mâlik bahwa ia berkata: “Kami pernah keluar bersama Rasulullah saw. menuju ke Khaibar.
Tiba-tiba salah seorang anggora rombongan kami memasuki sebuah bangunan yang sudah rusak untuk membuang hajatnya. Setelah usai, ia mengambil sebuah batu bata untuk membersihkan kotorannya. Tiba-tiba batu bata itu pecah dan ia mengeluarkan selempengan emas mentah. Ia memungut emas tersebut dan membawanya ke hadapan Rasulullah saw.
seraya meneritakan kisahnya. Beliau berkata, ‘Timbang-lah.’ Orang itu
menimbangnya dan lempengan emas itu bernilai sebesar 200 Dirham. Nabi
saw. bersabda, ‘Ini adalah harta rikâzdan terkena kewajiban khumus.’”3 Dalam MusnadAhmad disebutkan bahwa seseorang yang berasal dari daerah Muzainah pernah bertanya kepada Rasulullah saw. tentang beberapa masalah yang di antaranya adalah: “Bagaimana dengan harta karun yang
masa kekuasaan Al-Mahdî, Al-Hâdî, dan Ar-Rasyîd. Ia meninggal dunia pada tahun 182 Hijriah. Kami menukil komentar tersebut dari bukunya, Al-Kharâj, cet. Mesir, tahun 1346 Hijriah, hal. 26. Ia menulis buku ini untuk Khalifah masanya, Ar-Rasyîd.
1Musnad Ahmad, jil. 3, hal. 335, 336, 353- 354, dan 356; Majma‘ Az-Zawâ’id, bab Fî Ar-Rikâz wa Al-Ma‘âdin, jil. 3, hal. 78.
Asy-Sya‘bî adalah Abu ‘Amr ‘Âmir bin Syarâhîl Al-Kûfî Asy-Sya‘bî. Dan, hal ini adalah penisbatan keapda Sya‘b, sebuah kabilah dari dari Bani Hamadân. Ia telah
meriwayatkan hadis dari seratus lima puluh sahabat Rasulullah saw. Ia meninggal dunia di Kufah pada tahun 104 Hijriah. Silakan Anda rujuk Ansâb Al-Asyrâf, karya As-Sam‘ânî, hal. 336.
2Musnad Ahmad, jil. 5, hal. 326.
3 Musnad Ahmad, jil. 3, hal. 128; Majma‘ Az-Zawâ’id, bab Fî Ar-Rikâz wa Al-
kami temukan di bawah sebuah bangunan yang sudah rusak dan batu petunjuk yang biasa ditancapkan di tengah-tengah padang pasir (Ârâm)?” Beliau menjawab: “Di dalam harta karun itu dan rikâz terdapat kewajiban khumus.”1
Dalam NihâyahAl-Lughah, LisânAl-‘Arab, TâjAl-‘Arûs, NihâyahAl-Arab, Al-‘Iqd Al-Farîd, dan Usud Al-Ghâbah, kata [بيس] disebutkan—redaksi
pernyataan ini dinukil dari buku pertama: “Di dalam surat Rasulullah saw. kepada Wâ’il bin Hujr disebutkan, ‘Di dalam suyûb terdapar kewajiban
khumus.’ Suyûb adalah harta rikâz.
Menurut sebuah pendapat, mereka berkata, ‘Suyûb adalah urAt-urat emas dan perak yang terbentuk di dalam tambang dan kemudian nampak. Suyûb adalah bentuk plural dari kata sayb. Yang dimaksudkan oleh Rasulullah saw. dengan kata sayb itu adalah harta yang terpendam pada masa Jahiliyah atau barang tambang, karena harta itu adalah anugerah Allah dan pemberiAn-Nya kepada orang yang menemukannya.”
Perincian surat Rasulullah saw. tersebut terdapat di dalam NihâyahAl- Arab, karya Al-Qalqisyandî.2
Penjelasan Filologis
Dalam SunanAt-Tirmidzîdisebutkan: “Al-ajmâ‘ adalah hewan yang terlepas dari kekangan pemiliknya. Segala sesuatu yang dirusaknya ketika hewan itu lepas, pemiliknya tidak wajib menanggung ganti rugi.
1Musnad Ahmad, jil. 2, hal. 186, 202, dan 207; Sunan At-Tirmidzî, kitab Az-Zakâh,
bab Al-Luqathah, jil. 1, hal. 219, dengan perbedaan redaksi; Al-Amwâl, karya Abu
‘Ubaid, hal. 337.
Hadis-hadis ini juga telah disebutkan oleh At-Tirmidzî di dalam bab Mâ Jâ’a fî Al-
‘Ajmâ’ Jarhuhâ Jubâr dan bab Fî Ar-Rikâz Al-Khums. Ia berkomentar: “Dalam bab
ini, hadis-hadis itu diriwayatkan dari Anas bin Mâlik, Abdullah bin ‘Amr, ‘Ubâdah bin Shâmit, ‘Amr bin ‘Auf Al-Muzanî, dan Jâbir.”
2 Nihâyah Al-Arab, hal. 221, ia meriwayatkannya dari buku Asy-Syifâ’, karya Al-
Qâdhî ‘Iyâdh; Al-‘Iqd Al-Farîd, jil. 2, hal. 48, tentang utusAn-utusan; Usud Al- Ghâbah, jil. 3, hal. 38, di dalam biografi adh-Dhahhâk. Penulis kitab Al-Istî‘âb dan
Usud Al-Ghâbah juga menyebutkan surat beliau tersebut di dalam biografi Wâ’il.
Ayah Wâ’il bin Hujr adalah salah seorang raja Yaman. Ia pernah mengutus suatu
utusan kepada Rasulullah saw. dan beliau menulis sebuah surat perjanjian kepadanya
seperti telah kami sebutkan di dalam teks buku ini. Nabi saw. mengutus Mu‘âwiyah
bin Abi Sufyân bersamanya. Mu‘âwiyah berkata kepadanya: “Ikutkanlah aku.” Ia
menjawab: “Aku bukanlah dari keturunan para raja.” Ia meninggal dunia di permulaan kekhalifahan Mu‘âwiyah. Biografinya terdapat di dalam Al-Ishâbah, jil. 3, hal. 592.
Al-ma‘din jubâr, yaitu jika seseorang menggali sebuah tambang dan orang lain terjerumus di dalamnya, maka ia tidak wajib menanggung ganti rugi. Begitu juga berkenaan dengan sumur. Jika seseorang menggali sumur di sebuah pinggiran jalan dan orang lain jatuh ke dalamnya, maka ia tidak wajib menanggung ganti rugi.
Wafîar-rikâzal-khums; rikâz adalah harta yang ditemukan sebagai sisa- sisa harta kaum Jahiliyah yang terpendam. Barang siapa menemukan harta rikâz, maka ia harus mengeluarkan khumusnya kepada pemimpinnya dan
yang tersisa adalah miliknya.”1
Di dalam Nihâyah Al-Lighah, karya Ibn Al-Atsîr, pada kata [مرا]
disebutkan: “Al-ârâm adalah tanda-tanda. Tanda ini berbentuk tumpukan batu yang dipasang di padang pasir dan digunakan sebagai penunjuk arah. Bentuk tunggalnya adalah iram. Di antara tradisi kaum Jahiliyah adalah, bahwa jika mereka menemukan sesuatu di pertengahan jalan dan tidak mungkin bagi mereka untuk segera membawanya bersama, mereka meletakkan bebatuan di atasnya di mana mereka mengetahuinya dengan alamat batu tersebut. Jika mereka kembali ke situ, mereka akan
mengambilnya kembali.”
Di dalam Lisân Al-‘Arab dan buku-buku kamus bahasa Arab lainnya
disebutkan: “Rakazahu yarkuzuh, berarti memendamnya. Ar-rikâz adalah potongAn-potongan emas dan perak yang dikeluarkan dari dalam bumi atau tambang. Bentuk tunggalnya adalah rikzah; seakan-akan potongAn- potongan emas dan perak itu tertanam di dalam tanah.”
Di dalam NihâyahAl-Lughah: “Ar-rikzah adalah sepotong permata bumi yang terpendam di dalamnya. Bentuk plural dari rikzah adalah rikâz.” Kesimpulan Hadis-Hadis di atas
Kesimpulan dari seluruh hadis tersebut di atas adalah, bahwa Rasulullah saw. memerintahkan untuk membayar khumus atas seluruh harta yang dikeluarkan dari dalam bumi, seperti emas dan perak, baik berupa harta karun maupun barang tambang, dan kedua jenis harta ini tidak termasuk harta rampasan perang, sebagaimana mereka sangka bahwa harta rampasan perang adalah harta yang dimaksud di dalam firman Allah, ghanimtum. Yaitu, bahwa yang dimaksud di dalam syariat Islam adalah seluruh harta yang berhasil dirampas dari musuh dan dari selain musuh.
Dari seluruh penjelasan tersebut dapat dibuktikan bahwa khumus tidak hanya dikhususkan untuk harta rampasan perang di dalam agama Islam. Begitu juga, para fuqaha, seperti Al-Qâdhî Abu Yusuf di dalam Al- Kharâj-nya, menyimpulkan dari riwayat-riwayat tersebut bahwa khumus wajib ditunaikan atas selain harta rampasan perang.1
Abu Yusuf berkata, “Seluruh barang tambang yang berhasil
dikeluarkan, baik sedikit maupun banyak terkena kewajiban khumus. Seandainya seseorang berhasil mengeluarkan lebih sedikit dari ukuran 200 Dirham atau lebih sedikit dari 20 Dirham emas dari sebuah tambang, maka ia wajib mengeluarkan khumusnya. Di sini bukanlah tempat (pembahasan) zakat,2 tetapi tempat (pembahasan) segala keuntungan (maghânim). Dan tanah yang terdapat di dalam tambang itu tidak terkena kewajiban apa pun. Khumus hanya diwajibkan atas emas murni, perak murni, besi, tembaga, dan timah. Dan seluruh biaya yang telah digunakan untuk mengeluarkan tambang itu semua tidak dikalkulasi dari tambang itu, karena kadang- kadang biayanya dapat meliputi seluruh hasil tambang itu, dan—dengan demikian—ia tidak akan terkena kewajiban khumus sama sekali. Tambang itu terkena kewajiban khumus ketika ia telah selesai membersihkannya, baik hasilnya sedikit maupun banyak, dan biaya membersihkannya itu juga tidak dikalkulasi dari hasil tambang itu. Seluruh jenis bebetauan (berharga) yang berhasil dikeluarkan dari tambang tersebut, seperti Yaqut, Firuz, celak, air raksa, belerang, dan lumpur merah (yang biasa dijadikan celup) tidak terkena kewajiban khumus.3 Karena semua barang itu dianggap sebagai
tanah dan lumpur.”
Ia melanjutkan: “Seandainya orang yang telah berhasil mengeluarkan
emas, perak, besi, timah, atau tembaga itu memiliki utang yang mencekik, kewajiban membayar khumus tidak gugur darinya. Apakah Anda tidak melihat bahwa seandainya sebuah laskar berhasil merampas satu harta rampasan perang dari para musuh, harta rampasan perang itu akan dikeluarkan khumusnya dan tidak pernah dilihat apakah mereka memiliki utang atau tidak? Seandainya pun mereka memilik utang, hal itu tidak
mencegah kewajiban khumus.”
1Al-Kharâj, hal., 25-27.
2 Yang ia maksud dengan ungkapan zakat di sini adalah kewajiban yang berposisi di
hadapan khumus, yaitu sedekah.
3 Pendapat ini bertentangan dengan keumuman ayat khumus dan fiqih para imam
Ia melanjutkan: “Adapun berkenaan dengan harta rikâz, harta rikâz adalah emas dan perak yang telah diciptakan oleh Allah di dalam perut bumi pada waktu bumi itu diciptakan. Harta ini juga terkena kewajiban khumus. Barang siapa berhasil mendapatkan sebuah harta karun biasa di dalam tanah yang bukan milik orang lain yang terdiri dari emas, perak, permata, atau pakaian (berharga), maka seluruh harta itu terkena kewajiban khumus dan empat perlima sisanya adalah milik orang yang menemukannya. Harta ini seperti ghanîmah yang harus dikeluarkan
khumusnya dan selebihnya adalah milik penemunya.”
Ia melanjutkan: “Seandainya seorang kafir harbî menemukan sebuah harta rikâz di dalam negara Islam dan ia telah berhasil memasuki negara tersebut dengan penuh keamanan, maka seluruh harta itu diambil darinya dan ia tidak berhak mendapatkan bagian apa pun darinya. Jika ia adalah seorang kafir dzimmî, maka hanya seperlima dari harta itu diambil darinya, sebagaimana hal ini juga diambil dari seorang muslim dan empat perlimanya diserahkan kepadanya. Begitu juga halnya dengan budak yang berstatus mukâtab. Jika ia menemukan harta rikâz di dalam negara Islam, maka harta itu adalah miliknya setelah dikurangi seperlima darinya ....”
Dan pada pasal Mâ Yukhraju min Al-Bahr, ia pernah berkata kepada Khalifah Harun Ar-Rasyîd: “Aku pernah bertanya, ‘Wahai Amirul Mukminin, barang laut apakah yang harus dikeluarkan khumusnya?!’
Sesungguhnya barang yang dikeluarkan dari dalam laut, seperti permata dan
ikan ‘Anbar terkena kewajiban khumus.”1
Pada pembahasan di atas, kami telah memaparkan hadis-hadis Rasulullah saw. yang memerintahkan untuk menunaikan khumus atas seluruh harta selain harta rampasan perang. Begitu juga pendapat-pendapat yang telah mereka simpulkan dari riwayat-riwayat tersebut. Pada pembahasan berikut ini, kami akan memaparkan surat-surat dan surat-surat perjanjian Rasulullah saw. yang menegaskan pembayaran khumus.
Khumus dalam Surat dan Akta-Akta Perjanjian Rasulullah saw.
a. Dalam Shahîh Al-Bukhârî, Shahîh Muslim, Sunan An-Nasa’î, dan MusnadAhmad disebutkan—redaksi riwayat ini dinukil dari kitab pertama:
“Ketika delegasi Abdul Qais berkata Rasulullah saw., ‘Sesungguhnya antara
1Al-Kharâj, hal. 83. Dalam buku Al-Amwâl, hal. 345-348, Abu ‘Ubaid menukil dua
pendapat tentang masalah ini: pertama, barang itu terkena zakat, dan kedua, barang itu terkena khumus.
kami dan Anda terdapat penghalang kaum musyrikin dari Bani Mudhar dan kami tidak akan dapat berjumpa dengan Anda kecuali pada bulan- bulan haram. Oleh karena itu, perintahkanlah kepada kami beberapa perintah yang jika kami mengamalkannya, niscaya kami akan masuk surga dan kami akan mengajak orang-orang yang tertinggal di kabilah kami untuk
mengamalkannya juga’, beliau menjawab, ‘Kuperintahkan kamu dengan
empat perkara dan melarang kamu dari melakukan empat hal; kuperintahkan kamu untuk beriman kepada Allah. Tahukah kamu apakah iman kepada Allah itu? (Iman kepada Allah adalah) bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, menegakkan salat, menunaikan zakat, memberikan khumus dari segala harta yang kamu dapatkan (maghnam) ....’”1
Ketika Rasulullah saw. memerintahkan delegasi kabilah Abdul Qais untuk memberikan khumus dari setiap harta yang mereka dapatkan (maghnam), beliau tidak akan meminta kepada sebuah kaum yang tidak dapat keluar dari daerah mereka di selain bulan-bulan haram lantaran mereka khawatir terhadap kaum musyrikin dari Mudhar untuk mengeluarkan khumus dari harta rampasan perang mereka (karena memang tidak memungkinkan bagi mereka untuk berperang). Yang beliau maksud dari ungkapan maghnam adalah arti hakikinya di dalam bahasa Arab, yaitu segala sesuatu yang didapatkan tanpa jerih payah, sebagaimana penafsirannya telah dijelaskan sebelumnya. Artinya, hendaknya mereka memberikan khumus dari harta yang mereka peroleh sebagai keuntungan. Atau paling tidak, yang beliau maksud adalah arti hakikinya di dalam syariat Islam, yaitu segala harta yang berhasil dirampas dari musuh dan dari selain musuh.
Begitu juga halnya berkenaan dengan surat-surat penjanjian yang pernah beliau tulis dengan para delegasi dari seluruh kabilah Arab dan juga surat-surat yang pernah beliau tulis kepada para utusan dan penguasa beliau atas mereka. Di dalam Al-Futûh, karya Al-Balâdzurî disebutkan: “Ketika
1Shahîh Al-Bukhârî, kitab At-Tauhîd, bab Wallâhu Khal.awakum wa Mâ Ta‘malûn,
jil. 4, hal. 205, jil. 1, hal. 13 dan 19, dan jil. 3, hal. 53; Shahîh Muslim, bab Al-Amr bi Al-Imân, jil. 1, hal. 35-36, diriwayatkan dari Ibn Abbas dan selainnya; Sunan An-
Nasa’î, jil. 2, hal. 333; Musnad Ahmad, jil. 3, hal. 318 dan jil. 5, hal. 136.
Abdul Qais adalah sebuah kabilah dari Bani Rabî‘ah yang tempat domisili mereka
terdapat di Tuhâmah. Kemudian mereka berpindah ke Bahrain. Delegasi mereka berjumpa dengan Rasulullah saw. pada tahun kesembilan Hijriah. Redaksi surat tersebut di dalam Al-Amwâl, karya Abu ‘Ubaid adalah “... dan kamu menunaikan khumus dari harta yang kamu dapatkan.”
penduduk Yaman mendengar berita kemunculan Rasulullah saw. dan