• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagian-bagian Bunga

Dalam dokumen Morfologi_Tumbuhan.pdf (Halaman 121-144)

BAB 5 BUNGA

2. Bagian-bagian Bunga

Bagian-bagian satu bunga adalah sebagai berikut (gambar 5.9),

1. Dasar bunga (reseptakulum), sumbu bunga tempat melekatnya bagian-bagian lain dari bunga,

2. Diskus, penonjolan resetakel yang biasanya berkelenjar, berbentuk penebalan dari ovarium, cincin atau bantalan, tidak homolog dengan bagian-bagian lain dari bunga, 3. Periantium atau perhiasan bunga, jika tidak ada disebut bunga telanjang. Jika ada dan

hanya satu macam, tidak dapat dibedakan baik warna atau bentuk disebut perigonium dan helaiannya disebut tepal. Jika ada dan dapat dibedakan pada lingkaran luar dan dalam maka, dibedakan menjadi: (a) kaliks (daun kelopak), herbasius, umumnya bewarna hijau, helaiannya disebut sepal. Kaliks ada yang berbentuk rambut (papus), misalnya pada suku Asteraceae. (b) Korola (daun mahkota, membraneus, berwarna, helaiannya disebut petal.

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 118 Bentuk khusus korola: sisik korola, tonjolan pada leher korola sering berfungsi sebagai nektarium menghasilkan nectar, biasanya berasal dari stamen.

4. Stamen atau benang sari, organ reproduksi jantan terdiri dari,

 Filament atau tangkai sari, tangkai dari antera,

 Antera atau kepala sari, biasanya terdiri dari dua teka atau lokus berisi polen (serbuk sari),

 Konektivum, jaringan yang menghubungkan kedua teka.

Stamen yang tereduksi dan steril disebut staminodium.

5. Pistilum atau putik, organ reproduksi betina, terdiri dari,

 Ovarium atau bakal buah, di dalamnya terdapat bakal biji,

 Stilus atau tangkai kepala putik yang menghubungkan ovarium dan stigma,

 Stigma atau kepala putik, tempat melekatnya serbuk sari pada saat penyerbukan.

Pistilum yang tereduksi pada bunga jantan disebut pistilodium

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 119 Gambar 5.9

Bagian-bagian bunga. A. bagan penampang memanjang bunga; B. penampang melintang antera; C. polen; D. perkecambahan polen

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 120 Tangkai Bunga (Pediselus)

Sumbu yang pada ujungnya mengalami modifikasi.

Dasar Bunga (Reseptakulum)

Merupakan tempat daun-daun bunga yaitu, kelopak, tajuk (korola), benang sari dan putik. Dasar bunga dapat mengalami perkembangan sebagai berikut,

a). hipantium, dasar bunga berbentuk seperti cangkir atau tabung dan daun kelopak, tajuk dan benang sari melekat di tepinya (gambar 5.10). contoh pada Suku Rosaceae.

b). torus, dasar bunga berbentuk kubah yang tinggi dan bakal buah melekat di sisinya. Contoh pada arbai (Fragaria sp)

c). androngiofor, dasar bunga memanjang diantara hiasan bunga dengan benang sari serta putik. Contoh pada Pasifloraceae (gambar 5.11)

d). androfor, kepanjangan dasar bunga diantara tajuk dan benang sari ditemukan pada bunga jantan. Seperti pada Myristica corticosa.

e). ginofor, sumbu dasar bunga memanjang diantara benang sari dan putih. Contoj pada kumis kucing (gambar 5.11)

f). diskus, tonjolan yang tumbuh di dasar bunga tetapi tidak homolog dengan daun bunga.

Contoh pada Labiate, Convolvulaceae.

g). kapitulum, dasar bunga berbentuk cawan atau kerucut atau bulat. Contohnya pada bunga matahari.

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 121 Gambar 5.10

Bagan bunga, a. bunga hipogin dengan ovarium superus; b. bunga perigin dengan ovarium superus; c. bunga perigin, ovarium semiinferus; d. bunga efigin, ovarium superus; e. bunga

epigin , ovarium inferus; 1. Hipantium

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 122 Gambar 5.11

Dasar bunga, a. androngiofor pada Pasiflora coerulea; b. ginofor pada kumis kucing (Gynandropsis gynandra); disertai saat biji memencar (b’) dan tanamannya (b”)

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 123 Kelopak (kaliks)

Struktur daun kelopak dapat berupa, a). sepal, berupa lembaran dan herbasius, b). rambut (papus), seperti pada Asteraceae,

c). kelopak tambahan (epikaliks), contohnya pada kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis).

Menurut perlekatannya, kaliks dibedakan atas (gambar 5.12),

a) Berlekatan (kaliks gamosepalus), tampak bentuknya seperti tabung. Contoh pada kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis),

b) Sepal berpisah (kaliks polisepalus), sepal yang lepas. Contoh pada bunga Alamanda catartica.

Menurut bentuknya dapat berupa teratur atau aktinomorf dan zigomorf.

Gambar 5.12

Bagian-bagian bunga. A. kembang sepatu; B. allmanda; C. bunga Tropaeolum majus dengan kelopak bertaji; D. bunga anyelir dengan petal menyempit di pangkalnya

Tajuk (Korola)

Berdasarkan perlekatan daunnya, tajuk dibedakan, a) petal berlekatan (korola simpetala/gamopetala)(gambar 5.12)

b) petal terpisah (korola koripetala atau polipetala), petal tak rata, berlekuk, bercangap, ataupun berbagai seperti pada Hibiscus. Sering petal menyempit pada bagian pangkal menyerupai

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 124 kuku, dibedakan (1) kuku (unguis), bagian pangkal sempit, (2) papan (lamina) bagian atas lebar dan pipih.

Menurut bentuknya tajuk dibedakan, a) teratur atau aktinomorf (korola regularis),

b) zigomorf, bisa memiliki taji, berbibir dua, memiliki bibir atas dan bawah seperti pada Salvia sp. Pada Labiate bibir atas dua petal dan bibir bawah tiga petal sehingga ditulis 2/3,

c) bertopeng (korola personata), bibir dua, tetapi bibir bawahnya memiliki lipatan ke dalam atau topeng (palatum) sehingga tabung tertutup seperti pada Utricularia sp.

d) seperti kupu-kupu, seperti pada korola bunga Papilionaceae (gambar 5.13). daun-daun tajuk dapat dibedakan, (1) lunas (karina), terdiri dari dua helai daun yang berlekatan di satu sisinya. Rongga yang terbentuk melindungi putik dan benang sarinya, (2) sayap (alae), jumlahnya dua lembar bertempat lateral terhadap lunas, (3) bendera (vexillum), merupakan petal yang paling besar ukurannya dan yang mengarah ke atas. Pada saat mekar bendera posisinya tegak sementara yang lain masih dalam posisi kuncup sehingga terjadi penyerbukan sendiri. Contoh pada suku Papilionaceae.

e) seperti pita (korola ligulata), bagian bawah berbentuk tabung dan bagian atas berbentuk pita.

Contoh pada Suku Asteraceae.

Gambar 5.13

Bagian-bagian bunga Papilionaceae, a. bunga dilihat dari depan; b. petal terpisah; c. diagram bunga; d. benang sari; e. sayatan memanjang; f. benang sari dua tukal

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 125 Tenda Bunga (Perigonium)

Pada umumnya bunga memiliki perhiasan bunga yang dapat dibedakan menjadi kaliks dan korola. Hiasan bunga yang hanya terdiari atas satu macam daun bunga disebut tenda bunga (perigonium). Setiap helai perigonium disebut tepal. Contoh pada bakung. Berdasarkan perlekatan daun satu dengan daun yang lainnya, perigonium dibedakan,

a) tenda bunga berlekatan (perigonium gamophyllus), jika perigonium berlekatan satu dengan yang lainnya sehingga terbentuk seperti tabung. Seperti pada Lilium longflorum di ujungnya terdapat bagian yang lepas.

b)tenda bunga terpisah (perigonium pleiophyllus), seperti pada kembang sungsang (Gloriosa superba).

Bentuk umum dari tenda bunga dibedakan atas (gambar 5.14), 1. Tenda bunga teratur (aktinomorf), dapat dibedakan lagi:

 Berbentuk bintang (stellatus), dengan pinggir luas dan tabung kecil. Contoh pada Solanaceae,

 Berbentuk roda (rotates), seperti pada Petunea,

 Berbentuk tabung (tubulosus), tabung silindris besar, pinggir sempit, seperti pada kelopak anyelir (Dianthus),

 Berbentuk terompet (tubalformis),

 Bentuk piala (urceolatus), tabung membengkak pinggir sempit, seperti bunga jantan bunga kemiri (Myristica fragrans),

 Berbentuk corong (infundibuliformis), seperti tajuk pada Convolvulaceae,

 Bentuk lonceng (compnulatusa), seperti pada Companulaceae,

 Bentuk lonceng bertabung panjang (tubuloso companulatus), bunga tabung sejumlah Compositeae.

2. Tenda bunga zigomorf. Tenda bunga ini terdapat pada Gladiolus, Orchidaceae. Tenda yang terletak di belakang biasanya berbentuk seperti bibir (gambar 5.15).

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 126 Gambar 5.14

Bagan tenda bunga, a. berbentuk bintang; b. berbentuk roda; c. berbentuk tabung; d.berbentuk piala; e. berbentuk terompet; f. berbentuk corong; g, h. berbentuk lonceng; i. berbentuk

topeng bertaji; j. bunga bibir dua.

Gambar 5.15

Bunga anggrek kala jengking (Arachnis sp)

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 127 Berdasarkan warna dan struktur, tenda bunga dibedakan,

a) Serupa kelopak (kalicininus), jika warna hijau seperti daun kelopak seperti pada berbagai jenis suku Palmae,

b) Serupa tajuk (korollinus), jika warnanya seperti warna tajuk, terdapat pada berbagai jenis anggrek dan lilia.

LKM 5.2 Bagian-bagian Bunga Tujuan

Setelah kegiatan ini selesai, mahasiswa dapat, 1. Menggambarkan bagian-bagian bunga,

2. Menjelaskan fungsi masing-masing bagian bunga, 3. Menggambarkan bentuk-bentuk dasar bunga, 4. Menggambarkan bentuk-bentuk kaliks, 5. Menggambarkan bentuk-bentuk tajuk, 6. Menggambarkan tajuk berbentuk kupu-kupu, 7. Membedakan kaliks, tajuk, dan tenda bunga, 8. Menggambarkan bentuk-bentuk tenda bunga.

Alat dan bahan

Alat yang diperlukan : gunting dahan, kater, silet, lup, mokroskup stereo, petridisk.

Bahan yang diperlukan, bunga dari: kangkung darat Ipomea fistulosa, mawar (Rosa sp), arbai (Fragaria), markisah (Fasiflora quadrangularis), Myristica sp. Matahari (Heliantus anuus), kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis), alamanda (Allamanda catartica), kembang telang (Clitoria ternatea)

Prosedur kerja

1. Buat irisan memanjang dari bunga Ipomea fistulosa. Perhatikan (dengan menggunakan lup), bagian-bagian bunganya serta sebutkan bagiannya masing-masing (Gambarkan!), 2. Gambarkan bentuk-bentuk dasar bunga pada bunga mawar (Rosa sp), arbai (Fragaria),

markisah (Fasiflora quadrangularis), Myristica sp.

3. Perhatikan bentuk-bentuk kelopak bunga dari bunga : Matahari (Heliantus anuus), kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis). Gambarkan perbedaan kelopak tersebut.

4. Perhatikan kelopak bunga kembang sepatu dan alamanda. Bagaimana perbedaannya?

Gambarkan!,

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 128 5. Perhatikan tajuk kembang sepatu dan bunga Ipomea fistulosa. Gambarkan perbedaan yang

ada.

6. Gambarkan tajuk bunga kembang telang (Clitoria ternatea), serta sebutkan bagian-bagiannya.

Pertanyaan

Jelaskan fungsi masing-nasing bagian bunga

Benang Sari (Stamen)

Benang sari merupakan alat kelamin jantang pada bunga. Keseluruhan benang sari disebut androsim. Benang sari ini merupakan modifikasi dari daun. Hal ini masih tampak jelas pada bunga tasbih (Canna indica). Pada bunga ini benang sari berbentuk seperti tajuk disebut staminodium.

Secara umum benang sari terbagi atas tiga bagian yaitu (gambar 5.16), a) Tangkai sari (filamentum), bagian ramping berbentuk silinder,

b) Kepala sari (antera), terdapat pada ujung tangkai sari. Antera ini terdiri dari empat kantung sari (loculamentum). Keempat kantung sari itu berpasangan dua-dua menjadi ruang sari (teka) yang di dalamnya terdapat serbuk sari.

c) Penghubung ruang sari (connektivum) bagian ini merupakan kelanjutan tangkai sari yang menjadi penghubung ruang sari.

Gambar 5.16

Struktur benang sari, a. dua helai benang sari, b. bagan penampang melintang kepala sari

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 129 Sifat dan susunan benang sari

Berdasarkan jumlahnya dibedakan,

a) Benang sari banyak, pada satu bunga terdapat lebih dari 20 benang sari. Misalnya pada suku jambu-jambuan (Myrtaceae),

b) Benang sari dua kali jumlah daun tajuk. Benang sari yang demikian dibedakan atas: (1) diplostemon, benang sari dalam lingkaran luar berseling dengan daun tajuk seperti pada kembang merak, (2) obdiplostemon, benang sari pada lingkaran dalam duduknya berseling dengan daun-daun tajuk sepeti pada Geranium.

c) Benang sari sama banyak atau kurang dari daun tajuk, dibedakan: (1) episepal, benang sari berhadapan dengan daun-daun kelopak, berarti berseling dengan daun tajuk, contohnya pada bunga ketumbar (Coriandrum sativum), (2) epipetal, benang sari berhadapan dengan daun tajuk atau berseling dengan daun kelopak.

Benang sari tidak selalu duduk pada dasar bunga. Berdasarkan tempat duduknya, benang sari dibedakan, (gambar 5.17)

a) Benang sari duduk diatas dasar bunga, misalnya pada jeruk,

b) Benang sari duduk di tepi hipantium, pada bunga epigen atau perigin, seperti pada bunga mawar (Rosa hibrida),

c) Benang sari duduk pada tajuk bunga, seperti pada kembang vinca (Cataranthus roseus) dan alamanda (Alamanda cathartica)

Gambar 5.17

Duduk benang sari, a. pada dasar bunga; b. pada tajuk bunga; c. pada kaliks; d. pada bakal buah

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 130 Berdasarkan panjang benang sari, dibedakan:

1. Benang sari panjang dua (didynamus), memiliki benang sari dua panjang dan dua pendek. Contoh pada Suku Labiate, Brasicaceae.

2. Benang sari panjang empat (tetradynamus(, memiliki benang sari empat panjang dan dua pendek, seperti pada Suku Cruciferae.

Dilihat dari jumlah berkas yang menyusun benang sari dalam suatu bunga, dibedakan:

a) Bertukal satu atau setukal (monoadelphus), jika semua tangkai sari berlekatan membentuk tabung berongga, seperti pada Suku Malvaceae,

b) Bertukal dua (diadelphus), jika benang sari terbagi menjadi dua berkas. Jumlah tangkai sari pada setiap berkas tidak mesti sama. Seperti pada Suku Papilionaceae (gambar 5.13), c) Isadelpus, benang sari dua berkas dengan jumlah sebanding. Contoh pada Sterculaceae.

d) Bertukal banyak (polyadelpus), seperti pada bunga citrus.

Kepala sari (antera),merupakan bagian benang sari yang terletak pada ujung tangkai sari. Duduk kepala sari pada tangkai sari bermacam-macam, yaitu,

a) Tegak (innatus atau basifixus), jika tangkai sari melekat pada pangkal kepala sari dan menunjukkan batas yang jelas antara kedua struktur itu,

b) Menempel (adnatus), jika ujung tangkai sari menempel pada sepanjang kepala sari tanpa batas yang jelas antara tangkai sari dan kepala sari. Contoh pada Nympaea,

c) Bergoyang (versatilis), tangkai sari melekat pada suatu titik di kepala sari. Tempat melekat itu biasanya di tengah, seperti pada rumput-rumputan (Graminiae).

Setelah kepala sari matang, akan memecah (dehiscentia) untuk mengeluarkan serbuk sarinya. Pecahnya kepala sari melalui beberapa cara, yaitu:

1. Memecah dengan celah memanjang (longitudinaliter dehiscentia). Celah dapat menghadap:

 Ke arah dalam (introrsum), seperti pada suku Compositae,

 Ke arah samping (lateraliter), seperti pada begonia

 Ke arah luar (ekxtrorsum), seperti pada Balamcanda chinensis,

2. Memecah dengan celah melintang (transversaliter dehescen), seperti pada Euphorbiaceae, 3. Membuka melalui pori atau lubang (pora dehicens), yaitu pori yang terdapat pada puncak

kepala sari, seperti pada Solanum sp.

4. Membuka dengan kelep (velvis dehiscens), seperti pada Lauraceae.

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 131 LKM 5.3 Benang Sari (Stamen)

Tujuan

Setelah kegiatan ini selesai, mahasiswa diharapkan dapat:

1. Menggambarkan bagian-bagian benang sari,

2. Menggambarkan bunga-bunga yang memiliki jumlah benag sari yang berbeda-beda pada tumbuhan jambu biji, Geranium dan ketumbar,

3. Menggambarkan duduk benang sari pada bunga jeruk, mawar, vinka dan alamanda, 4. Membedakan benang sari didynamus dan tetradynamus pada kumis kucing dan Brassica, 5. Menggambarkan benang sari monoadelpus, diadelpus dan poliadelpus,

6. Menggambarkan berbagai duduk kepala sari pada tangkai sari (tegak, menempel dan bergoyang.

Alat dan Bahan

Alat yang diperlukan, gunting dahan, kater, lup, mikroskup stereo, petridisk.

Bahan yang diperlukan adalah bunga dari tumbuhan: Ipomea fistulosa, jambu biji (Psidium guajava), Geranium, ketumbar (Coriandrum sativum), jeruk (Citrus sp), mawar (Rosa sp), vinka (Chataranthus roseus), alamanda (Allamanda catartica), kumis kucing (Ortosiphon aristatus), Brassica sp, kembang telang (Clitoria ternatea), kembang sepatu (Hisbiscus sp), teratai (Nympaea), jagung (Zea mays), padi (Oriza sativa).

Prosedur kerja

1. Perhatikan benang sari dari bunga Ipomea fistulosa, gambarkan bagian-bagiannya,

2. Perhatikan benang sari dari bunga jambu biji, Geranium, dan ketumbar. Bagaimana perbedaanya dilihat dari jumlahnya?

3. Gambarkan duduk benang sari pada bunga mawar, vinka dan alamanda.

4. Gambarkan benang sari didynamus pada kumis kucing dan tetradynamus pada Brassica sp.

5. Gambarkan benang sari monoadelpus (pada kembang sepatu), diadelpus (pada kembang telang) dan poliadelpus (pada jeruk).

6. Gambarkan duduk kepala sari pada tangkai sari bunga teratai, jagung dan terong.

Pertanyaan

Jelaskan bahwa jumlah benang sari menunjukkan perkembangan filogeni dari tumbuhan.

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 132 Putik (Pistilum)

Putik merupakan alat kelamin betina pada bunga. Putik tersusun atas daun-daun yang telah mengalami metamorphosis. Daun penyusun putik disebut daun buah atau daun karpel (Carpellum). Menurut banyaknya daun buah yang menyusun sebuah putik, dibedakan :

a) Putik tunggal (simpleks), jika putik hanya tersusun atas selembar daun buah, seperti pada buah polong (Leguminoceae),

b) Putik majemuk (Compositus), jika putik tersusun atas lebih dari satu daun buah.

Untuk melihat jumlah karpel, dapat dilihat dengan jalan membuat irisan melintang bakal buah.

Secara keseluruhan putik disebut gynesium. Bagian putik yang menghasilkan sel telur disebut bakal biji atau ovulum. Bagian-bagian putik dibedakan menjadi (gambar 5.18): bakal buah (ovarium), tangkai kepala putik (stylus dan kepala putik (stigma).

Gambar 5.18

Bagan putik, a. kepala putik; b. tangkai putik; c. bakal buah; d. bakal biji

A. Bakal Buah (Ovarium)

Merupakan bagian putik yang membesar dan duduk pada dasar bunga. Di dalam bakal buah terdapat bakal biji (ovulum). Bagian yang mendukung bakal biji disebut tembuni (plasenta). Letak bakal buah terhadap kedudukan bagian bunga yang lain, dibedakan (gambar 5.10):

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 133

 Bakal buah menumpang (superus), bakal buah duduk di atas dasar bunga sehingga kedudukan bakal buah lebih tinggi, dan terdapat pada bunga hipogin dan perigin. Bunga hipogin yaitu hiasan bunga dan benang sari melekat pada bagian lebih rendah dari bakal buah. Bunga perigin, yaitu bunga yang berbentuk cawan/mangkuk, hiasan bunga dan benang sari melekat pada tepi dasar bunga tersebut.

 Bakal buah setengah tenggelam (Hemiinferus), jika bakal buah hanya separuh menyatu dengan dasar bunga yang berbentuk mangkuk. Bakal buah tertanam lebih rendah dari hiasan bunga dan benang sari. Bunga ini adalah bunga perigin.

 Bakal buah tenggelam (inferus), bakal buah bersatu dengan dasar bunga dan terletak lebih rendah dari hiasan bunga dan benang sari. Bunga ini adalah bunga epigin.

Dilihat dari jumlah karpel dalam bakal buah, maka bakal buah di bedakan menjadi (gambar 5.19):

a) Apokarp, pada satu bunga terdapat lebih dari satu putik yang masing-masing terdiri atas satu daun buah,

b) Senokarp, yaitu bakal buah terdiri dari atas beberapa daun buah yang berlekatan satu sama lain,

c) parakarp, bila bakal buah terdiri atas beberapa daun buah berlekatan antara yang satu dengan yang lainnya dan membentuk satu ruang,

d) sinkarp, bakal buah terdiri atas beberapa daun buah yang berlekatan dan setiap daun buah tersebut membentuk satu ruang,

Menurut jumlah ruang yang ada dalam bakal buah dibedakan:

a) bakal buah beruang satu (unilokularis), seperti pada papaya dan markisah;

b) bakal buah beruang dua (bilokularis), seperti pada Suku Brasicaceae;

c) bakal buah beruang tiga (trilokularis), seperti pada bakung;

d) bakal buah beruang banyak (multilokularis), seperti pada durian.

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 134 Gambar 5.19

Bagan letak karpel dalam ginesium, suatu anggapan mengenai perkembangannya, a. ginesium apokarp, dari sini berkembang ginesium senokarp yang sinkarp (b). dari b berkembang ginesium yang parakarp dengan plasenta parietal (c,c’) dan ginesium

senokarp-parakarp dengan plasenta sentral (d,d’)

Dilihat sekat yang membagi bakal buah dapat dibedakan:

1. Sekat sempurna (septum completsus), sekat yang membagi bakal buah menjadi lebih dari satu ruang. Berdasarkan asal sekat, sekat sempurna dibedakan:

 Sekat asli (septum), sekat ini berasal dari sebagian daun buah yang melipat kea rah dalam.

Contoh pada durian (durio zebethinus),

 Sekat semu (septumspurius), sekat tidak berasal dari daun buah melainkan suatu jaringan dari sisi karpel, misalnya pada kecubung (datura metel),

2. Sekat tak sempurna (septum incompletes), sekat membagi bakal buah menjadi lebih dari satu ruang tetapi setiap ruang masih ada hubungan antara satu dengan lainnya.

Di dalam bakal buah terdapat bakal biji. Tempat bakal biji melekat disebut plasenta (tembuni). Pada bakal buah yang hanya memiliki satu ruang dibedakan (gambar 5.20),

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 135 a) Parietal (parietalis), yaitu bakal biji melekat pada dinding bakal buah di tengah helaian

karpel (parietalis-laminnalis), dan di tepi karpel (parietalis-marginalis),

b) Sentral (centralis), jika bakal biji terdapat pada suatu poros atau sumbu yang melekat pada pangkalnya. Letak bakal biji pada poros tersebut menghadap ke semua arah dan ke dinding bakal buah,

c) Aksiler (axillaris), bakal biji terdapat pada bakal buah beruang banyak dan biji melekat di sudut tengah.

Gambar 5.20

Bagan tempat bakal biji melekat

Bakal biji (ovulum), duduk pada tembuni (plasenta) dengan cara berbeda-beda. Bakal biji dibedakan menjadi bagian-bagian (gambar 5.21),

1. Tangkai bakal biji atau tali pusar (funiculus), yaitu menghubungkan bakal biji dengan plasenta. Setelah bakal biji lepas dari plasenta, bekasnya pada biji disebut hilum,

2. Badan bakal biji atau nuselus (nucllus), yaitu jaringan yang diselubungi oleh kulit bakal biji (integument). Di dalam jaringan nuselus akan berkembang sebuah sel atau lebih, membelah secara meiosis dan menghasilkan sel kantung embrio. Di dalam kantung embrio berkembang embrio tumbuhan muda dan endosperm.

3. Kulit biji atau integument (integumentum), yaitu sehelai atau dua helai jaringan yang mengelilingi nuselus, tetapi pada ujungnya dibiarkan berlubang (berpori) disebut mikropil tempat masuknya tabung sari. Integument melekat di dasar nuselus yaitu pada kalaza.

Integument pada bakal biji dibedakan,

 Selapis integument dengan nuselus berukuran kecil,

 Ada dua lapis integument, yaitu integument luar dan integument dalam dengan nuselus yang besar.

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 136 Perkembangan bakal biji

Pada sel induk kantung embrio (sel induk megaspore), terjadi pembelahan meiosis. Dari sel induk kantung embrio yang diploid (2 n) terjadi empat sel kantung (megaspora) yang masing-masing haploid (n). tiga sel tersebut berdegnerasi dan tidak berfungsi. Sat sel lagi yang dekat dengan kutub kalaza akan membelah tiga kali berturut-turut menghasilkan delapan inti yang menempatkan diri sebagai berikut: tiga inti pada kutub kalaza menjadi tiga sel antipoda, tiga inti dekat mikropil dua diantaranya menjadi sinergid dan satu menjadi sel telur. Dua inti yang lain (satu dari kutub kalaza dan satu lagi dari kutub mikropil) berada di tengah menjadi inti kutub (gambar 5.21).

Gambar 5.21

Perkembangan bakal biji, a. sel induk megaspore; b. pembelahan meiosis; c. meiosis selesai;

d. tiga diantara empat megaspore lenyap; e. inti megaspore membelah menjadi dua; f. mega gametofit berinti empat; g. gametofit berinti delapan; h. bakal biji atrop

Letak bakal biji pada plasenta merupakan cirri khas dan sering digunakan untuk mengidentifikasi tumbuhan. Letak bakal biji ini dibedakan (gambar 5.22),

a). tegak (atropus), jika rongga bakal biji letaknya pada satu garis dengan funiculus,

b). mengangguk (anatropus), jika bakal biji posisinya sejajar dengan funiculus, funiculus membengkok sehingga bakal biji berputar 180°,

c). melengkung (kampylotropus), jika funiculus dan bakal bijinya membengkok sehingga liang bakal biji berkedudukan seperti pada bakal biji yang mengangguk,

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 137 d). setengah mengangguk (hemitropus), jika hanya ujung funiculus yang membengkok

sehingga funiculus dengan rongga bakal biji membentuk sudut 90° satu sama lainnya, e). melipat (kamptotorpus), funiculus tetap lurus, tetapi bakal biji yang melipat.

Gambar 5.22

Bentuk bakal biji, a. atropus; b.anatropus; c.kampilotropus; d.hemitropus, e.kamptotropus

B. Tangkai Kepala Putik (Stylus)

Stylus merupakan kelanjutan dari karpel membentuk struktur tangkai yang ramping dan merupakan tangkai dari kepala putik. Karena stylus merupakan kelanjutan dari setiap karpel , maka sering tampak diatasnya tangkai kepala putik yang jumlahnya sesuai dengan jumlah daun buah penyusun bakal buah.

C. Kepala Putik (Stigma)

Kepala putik adalah bagian putik yang paling atas yang terletak pada ujung tangkai kepala putik atau cabang tangkai kepala pitik. Kepala putik berfungsi menangkap serbuk sari.

Oleh karena itu bentuk dan sifatnya disesuaikan sengan fungsi tersebut. Pada putik yang telah siap diserbuki, stigma akan menghasilkan zat perekat sehingga serbuk sari yang jatuh pada kepala putik tidak akan terlepas lagi. Bentuk kepala putik beraneka ragam sesuai dengan cara penyerbukan bunga tersebut, yaitu:

a). seperti benang, contohnya pada jagung (Zea mays), b). seperti bulu ayam, contohnya pada padi (Oriza sativa),

c). seperti bulu-bulu, contohnya pada kecipir (Psophocarpus tetragonolobus), d). bulat, contohnya pada jeruk (Citrus sp),

e). bentuk lain, seperti daun mahkota, cawan, bibir, dan lain-lain.

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 138 Kelenjar Madu

Berbagai jenis tumbuhan menghasilkan madu (nectar), yang berfungsi menarik serangga sehingga membantu terjadinya penyerbukan. Berdasarkan jaringan yang membentuknya dibedakan atas:

a) Nektarium yang dibentuk oleh modifikasi epidermis dari daun bunga dan sel di bawahnya.

Misalnya pada Lilium terletak pada tepal, pada Malvaceae terdapat pada sepal,

Misalnya pada Lilium terletak pada tepal, pada Malvaceae terdapat pada sepal,

Dalam dokumen Morfologi_Tumbuhan.pdf (Halaman 121-144)