• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bentuk Hidup

Dalam dokumen Morfologi_Tumbuhan.pdf (Halaman 6-0)

Bentuk hidup tumbuhan merupakan salah satu ciri yang dapat digunakan untuk klasifikasi.

Berdasarkan macam batang (klasifikasi klasik), maka dikenal bentuk hidup tumbuhan sebagai berikut.

a. Herba (tumbuhan basah, terna, “herbs”)

Tumbuhan dengan batang yang lunak tidak berkayu atau hanya sedikit sekali mengandung jaringan kayu. Cyperus rotundus (teki), Impatiens balsamina (paca bayu)

b. Perdu (“shrub”)

Tumbuhan berkayu, tidak pernah tinggi, tidak memiliki sumbu batang utama, tetapi mempunyai beberapa batang yang kurang lebih sama besar yang berasal dari percabangan dekat ke tanah. Contoh : Caesalpinea pulcherrima (kembang merak), Cordyline fructicosa (Andong) c. Semak (sufruktikosa, “undershrub”)

Perdu kecil, berkayu dan bercabang, tetapi cabang-cabang mati pada akhir musim, biasanya setelah berbunga. Juga dikatakan pada perdu kecil yang mempunyaipercabangan yang padat.

Contoh : Jasminum sambac (melati), Lantana camaara (saliara, kerasi).

d. Pohon kecil (“Treelet”)

Tumbuhan berkayu yang tidak tinggi, mempunyai satu batang utama. Contoh : Leucaenaleucocephala (petani cina), Muntingia calabura (kersen)

e. Pohon

Tumbuhan berkayu dengan satu batang utama. Di daerah tropis mempunyai percabangan pertama sekitar 10 m diatas permukaan tanah, diameter batang setinggi dada minimal 40 cm.

Contoh : Tectona grandis (jati), Tamarindus indica (asem).

Prof C. Raunkier (1860 – 1938), seorang botaniawan dari Denmark, membuat sistem klasifikasi bentuk hidup berdasarkan jarak antara permukaan tanah dan posisi tertinggi kuncup-kuncup yang membawa tumbuhan melalui musim yang tidak menguntungkan. Klasifikasi yang

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 3 dibuat bermanfaat untuk mempertelakan dan membandingkan struktur berbagai komunitas.

Kalsifikasi bentuk hidup menurut Raunkier adalah sebagai berikut.

a. Fancrofit (tumbuhan tinggi dalam udara).

Kelompok ini terdiri atas pohon dan perdu yang mempunyai kuncup-kuncup tertinggi yang tumbuh dari tahun ke tahun pada pucuk-pucuk yang mencuat ke udara. Berdasarkan ukurannya (Gambar 1.2), dibedakan menjadi :

 Megafanerofit – tingginya lebih dari 30 m

 Mesofanerofit – tingginya 7,5 – 30 m

 Mikrofanerofit – tingginya 2 – 7,5 m

 Nanofanerofit – tingginya 0,25 – 2 m

Sering juga dimasukan dalam kelompok ini adalah fanerofit memanjat (scandentia atau liana), yaitu tumbuhan berbatang berkayu yang memanjat

Gambar 1.1

Bentuk hidup Fanerofit (Lovelles, 1983) b. Kamefit (tumbuhan permukaan tanah)

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 4 Tumbuhan ini mempunyai kuncup-kuncup parenial dekat permukaan tanah (0-0,25 m) dan tidak terlalu terbuka seperti fanerofit. Jika pucuk-pucuk tumbuh lebih dari kira-kira 0,3 m selama musim tumbuh, kemudian akan mati pada akhir musim tersebut dan pada tahun berikutnya diganti dengan pucuk-pucuk baru timbul dari bagian bawah batang-batang tua. Kelompok ini meliputi perdu-perdu kecil dan berbagai tumbuhan batang-batangnya menjalar di atas tanah atau membentuk rumpun yang rapat. Misalnya Tridax procumbent (gletang).

c. Hemikriptofit (tumbuhan setengah di bawah tanah)

Tumbuhan ini mempunyai kuncup-kuncup parenial pada permukaan tanah dan terlindung oleh tanah di sekelilingnya serta oleh sistem pucuk dari musim sebelumnya. Tumbuhan kelompok ini sering mempunyai akar besar yang membengkak dan pada permukaan tanah ditutupi oleh batang yang memadat dan dari sini daun-daun serta kuncup-kuncup cabang tumbuh setiap tahun. Misalnya Elephantopus scaber (tapak liman)

d. Kriptofit (tumbuhan tersembunyi)

Tumbuhan ini mempunyai kuncup-kuncup perennial yang tertanam dalam tanah, dalam air atau dalam lumpur. Kelompok tumbuh ini dapat dibagi menjadi:

 Geofita (tumbuhan tanah)

Tumbuhan yang memiliki kuncup parenial yang tertanam di dalam tanah, misalnya tumbuhan yang mempunyai umbi lapis, umbi, rimpang dan sebagainya.

 Helofit (tumbuhan tumbuhan rawa)

Tumbuhan rawa musiman dengan kuncup-kuncup parenial terdpat dalam lumpur yang terendam air.

 Hidrofit (tumbuhan air)

Tumbuhan air dengan kuncup-kuncup parenial terdapat dibawah permukaan air.

e. Terofit (tumbuhan anual)

Tumbuhan yang menyelesaikan daur hidupnya, yaitu dari perkecambahan sampai terbentuknya biji yang masak, dalam waktu masa pertumbuhan vegetatif yang terbatas, dan mempertahankan diri selama waktu tidak menguntungkan dalam bentuk biji. Misalnya Zea mays L. (Jagung), Nicotiana tabacum L. (Tembakau)

Selain bentuk hidup seperti di atas dikenal juga tumbuhan sukulen dan epifit. Kedua kelompok tumbuhan ini berkaitan dengan habitatnya. Sukulen, tumbuhan yang tumbuh pada habitat kering, mempunyai batang dan daun tebal berdaging, dan kadang-kadang sama sekali tidak berdaun. Misalnya Opuntia elatior (kaktus). Epifit adalah herba atau tumbuhan berkayu yang

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 5 tumbuh menempel pada batang atau cabang tumbuhan lain. Misalnya Phalaenopsis amabilis (anggrek bulan).

Gambar 1.2

Bentuk hidup kamefit, hemikriptofit, kriptofit dan trofit (Loveless, 1983)

1.4 Lembaran Kerja Mahasiswa

Kegiatan 01.

Pengamatan Bentuk Dasar dan Brentuk Hidup Tumbuhan Berbunga

Tujuan:

Setelah selesai melakukan kegiatan observasi di lapangan, diharapkan mahasiswa dapat : 1. Mendeskripsikan perbedaan organ-organ penyusun sistem pucuk dengan sistem akar, 2. Menunjukkan dan menggambarkan bagian-bagian utama penyusun tubuh tumbuhan

berbunga,

3. Mendeskripsikan perbedaan kerangka tumbuhan antara dikotil dan monokotil, dan 4. Mendeskripsikan bentuk hidup beberapa tumbuhan yang ada di kebun.

Bahan dan Alat

1. Tanaman Jagung (Zea mays), Padi (Oryza sativa), Bayam (Amaranthus sp.), dan Tomat (Solanum lycopersicum)

2. Tumbuhan berbunga yang ada di kebun.

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 6

1. Amatilah dengan teliti bagian-bagian tanaman jagung, padi, bayam dan tomat. Kemudian gambar dan beri keterangan secukupnya.

2. Amatilah 20 tumbuhan berbunga yang ada di kebun dan tentukanlah bentuk hidupnya berdasarkan keadaan batang dan klasifikasi Raunkier. Tulislah data anda dalam bentuk table seperti di bawah ini.

No Spesies Bentuk Hidup Keterangan

Klarifikasi Tradisional

Klarifikasi Raunkier

Pertanyaan

1. Buatlah perbedaan utama bentuk dasar tumbuhan dikotil dengan monokotil ! 2. Apakah manfaat mempelajari bentuk hidup suatu tumbuhan ?

3. Apakah perbedaan klasifikasi bentuk hidup tradisional dengan Raunkier ? Jelaskan dengan contoh !

1.5 Rangkuman

Struktur tumbuhan berbunga sangat bervariasi. Secara umum tumbuhan berbunga terdiri dari sistem pucuk dan sistem akar. Sistem pucuk terdiri dari sumbu batang yang mendukung daun, ranting, bunga dan buah, sedangkan sistem akar terdiri dari akar utama (akar primer) dan akar lateral.

Bentuk hidup tumbuhan berbunga juga sangat bervariasi. Berdasarkan keadaan batang dapat dibedakan menjadi herba, perdu, semak, pohon kecil, dan pohon.

Raunkier menggolongkan menjadi fanerofit, kamefit, hemikriptofit, kriptofit, dan terofit.

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 7

BAB 2 DAUN

2.1 Rasional

Daun merupakan organ vegetatif yang melekat pada nodus batang yang pada umumnya lebar, pipih, dah berfungsi dalam fotosintesis. Secara morfologi daun merupakan organ tumbuhan paling bervariasi. Karakter yang terdapat pada daun seperti komposisi daun, morfologi bagian-bagian daun, dan filotaksis (tata letak daun pada batang) perlu dipelajari untuk memudahkan dalam mendeskripsikan suatu tumbuhan dan pengetahuan ini sangat diperlukan dalam klasifikasi tumbuhan. Di samping itu perlu juga dipelajari mengenai perkembangan suatu daun sehingga dapat mengetahui bagian-bagian yang berkembang pada daun dewasa yang menyebabkan terjadinya variasi morfologi daun.

2.2 Sasaran Belajar

Setelah mempelajari pokok bahasan ini melalui diskusi-informasi dan observasi diharapkan mahasiswa dapat :

1. Menjelaskan minimal tiga organ berbentuk seperti daun (filom), 2. Membedakan bagian-bagian daun tunggal dan daun majemuk,

3. Memberi contoh minimal tiga macam daun yang tidak memiliki tangkai daun, 4. Menjelaskan dengan contoh bagian-bagian tambahan pada daun,

5. Menjelaskan variasi susunan tulang daun,

6. Menjelaskan perbedaan perkembangan daun tunggal dan majemuk,

7. Menjelaskan dengan disertai gambar bagan dan contoh morfologi helaian daun (sircumscriptio, apex, margo, dan basis),

8. Menjelaskan dengan contoh macam-macam daun majemuk, 9. Menjelaskan macam-macam varnasi

10. Menjelaskan dengan contoh modifikasi daun, dan

11. Mendeskripsikan susunan daun pada batang dalam bentuk uraian filotaksis, rumus daun, dan diagram daun.

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 8

2.3 Uraian Materi Kuliah

1. Filom

Semua bentuk seperti daun yang terdapat pada tumbuhan disebut filom. Beberapa filom yang umum terdapat pada tumbuhan adalah daun lebar, katafil, hipsofil, profil, dan kotiledon.

a. Daun lebar (folium), daun yang memiliki fungsi utama untuk melakukan fotosintesis (Gambar 2.1a).

b. Katafil (catapphyllum), daun berbentuk sisik yang terdapat pada kuncup dan batang dalam tanah dan berfungsi sebagai pelindung atau penyimpanan cadangan makanan (Gambar 2.1b).

c. Profil (prophyll), daun pertama pada ranting (Gambar 2.1c). Pada monokotil terdapat satu helai dan pada dikotil terdapat dua helai.

d. Hipsofil (hypsophyllum), daun pelindung yang melekat pada bagian dasar perbungaan.

Daun pelindung seperti brakte (bractea) merupakan hipsofil (Gambar 2.1d).

e. Kotiledon (cotyledonae), daun pertama pada tumbuhan, dapat dilihat pada biji dan kecambah (Gambar 2.1e).

2. Bagian-bagian Daun

Berdasarkan jumlah helaian daun (lamina), maka daun (folium) dapat dibedakan menjadi dua yaitu: a) daun tunggal dan b) daun majemuk. Bila daun memiliki hanya satu helaian daun, tanpa adanya sendi daun (pulvinus) pada bagian pangkal tangkai daun disebut daun tunggal (folium simplex) dan bila daun terdiri dari dua atau lebih helaian daun (anak daun) dan memiliki pulvinus pada pangkal tangkai daun atau pada tangkai anak daun disebut daun majemuk (folium compositum).

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 9 Gambar 2.1 Filom

a.Daun lebar (folium) pada Colocasia esculentum Schott., b. Katafil pada Costus spiralis, c.

Profil pada Philodendron pedatum, d. Hipsofil pada Aster spectabilis, e. Kotiledon pada Dolicos lablab L.

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 10

 Bagian-bagian daun tunggal

Bagian-bagian daun tunggal tidak sama dengan daun majemuk. Daun tunggal yang lengkap terdiri dari tiga bagian (Gambar 2.2a), yaitu pelepah atau upih (vagina), tangkai daun (petioles), dan helaian daun (lamina).

a. Pelepah atau upih (vagina), merupakan bagian daun yang biasanya memeluk batang, seperti pada daun pisang(Musa sp.) dan padi (Oryza sativa L.).

b. Tangkai daun (petiolus), umumnya berbentuk silindris dan bagian adaksial sering beralur.

Tangkai daun berfungsi untuk menempatkan helaian daun pada posisi tertentu sehingga dapat memperoleh cahaya matahari sebanyak mungkin.

Ukuran dan bentuk tangkai daun bervariasi, ada yang panjang seperti pada daun kaliki atau jarak kepyar (Richinus communis L.) daun yang pendek seperti pada pacar air (Impatients sp.). berdasarkan penampang melintang tangkai daun, maka bentuk tangkai daun ada yang bulat berongga (misalnya pada Carica papaya L.), bulat (misalnya pada Begonia sp.), setengah lingkaran dan beralur (misalnya pada Musa paradisiaca L.), melebar (seperti filodium Acacia auriculiformis), dan bersegi (misalnya pada Pasiflora sp.).

Tidak semua daun memiliki tangkai daun, misalnya pada :

1. Daun duduk (sessilis), daun yang tidak memiliki tangkai daun dan pangkal helaian daun langsung melekat pada nodus batang (Gambar 2.3a). Misalnya pada gewor (Commelina nudiflora L.) dan biduri (Calotropis gigantea R.Br.).

2. Daun memeluk batang (amplexicaulis), pangkal helaian daun lebar dan memeluk atau melingkari batang (Gambar 2.3b). Misalnya pada tempuyung (Sonchus oleraceus L.).

3. Daun saling memeluk (equitans), daun yang lebih bawah menutupi (menyelubungi) bagian dasar dari daun berikutnya atau daun di atasnya (Gambar 2.3c), seperti terdapat pada wordi (Belamcanda chinesis (L.)DC.).

c. Helaian Daun (lamina), merupakan bagian daun yang pipih, melebar, dan umumnya berwarna hijau.

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 11 Gambar 2.2 Bagian-bagian daun

a.Daun tunggal, b.Daun majemuk

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 12

 Bagian-bagian daun majemuk.

Daun majemuk memiliki bagian-bagian sebagai berikut (Gambar 2.2b).

a. Ibu tangkai daun (petiolus communis), tangkai daun sampai anak daun atau cabang tangkai daun terbawah.

b. Rakis (rachis), bagian ibu tangkai daun di atas dari anak daun atau cabang ibu tangkai daun terbawah. Pada daun mejemuk berganda, bisa memiliki rakis sekunder bahan rakis tertier.

c. Tangkai anak daun (petiololus), pendukung anak daun, yaitu melekatkan anak daun pada rakis.

d. Helaian anak daun (foliolum), bagian yang paling lebar dan biasanya berwarna hijau pada daun majemuk.

Gambar 2.3 Beberapa daun tidak bertangkai a.Sessilis, b. Amplexicaulis, c. Equitans

 Bagian tambahan pada daun.

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 13 Selain bagian-bagian daun diatas, pada daun sering dijumpai organ pelengkap seperti : a. Daun penumpu (stipulae), merupakan satu atau dua helai daun kecil pada bagian pangkal daun. Fungsi umum daun penumpu ini adalah untuk melindungi kuncup daun yang masih muda. Berdasarkan letaknya, maka daun penumpu dapat dibedakan menjadi :

1. Stipulae liberae, daun penumpu yang bebas terdapat dikanan-kiri pangkal tangkai daun (Gambar 2.4a), misalnya pada kacang tanah (Arachis hypogaea L.)

2. Stipulae adnatae, daun penumpu yang melekat pada kanan kiri pangkal daun (Gambar 2.4b), misalnya pada mawar (Rosa sp.)

3. Stipulae axillaris atau stipulae intrapetolar, daun penumpu yang berlekatan menjadi satu dan terdapat pada bagian tengah-tengah ketiak daun (Gambar 2.4c), misalnya pada Melianthus major.

4. Stipulae petiole opposite atau stipulae antidroma, daun penumpu mengelilingi batang yang posisinya berhadapan dengan tangkai daun (Gambar 2.4d), misalnya pada Platanus.

5. Stipulae interpetiolaris, daun penumpu yang melekat di antara dua tangkai daun pada buku yang sama (Gambar 2.4e), misalnya pada kaca piring (Gardenea augusta Merr.).

b. Selaput bumbung (ochrea atau ocrea), adalah selaput tipis mirip bumbung yang menyelubungi pangkal ruas batang (Gambar 2.5a), seperti pada Polygonum sp.

c. Lidah daun (ligula), berupa selaput tipis atau bulu-bulu yang biasanya terdapat pada perbatasan antara helaian daun dengan pelepah daun (Gambar 2.5b). Fungsi ligula ini adalah untuk mencegah masuknya air ke dalam pelepah daun, sehingga pembusukan pada pelepah dapat dihindari. Misalnya terdapat pada daun jagung (Zea mays L.) dan tebu (Saccharum officnarum L.).

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 14 Gambar 2.4 Beberapa maccam tpe stipula berdasarkan letak stipula

a.Stipula liberae, b. Stipula adnatae, c. stipula intrapetiolar, d. stipula antidroma, e. stipula iterpeitolar.

 Susunan Tulang Daun (Nervatio atau Nervatio)

Tulang daun (gambar 2.6) dapat dibedakan menjadi :

1. Ibu tulang daun (tulang daun utama) atau tulang daun tengah (costa), adalah tulang daun yang merupakan terusan dari tangkai daun yang biasanya agak menonjol, terdapat ditengah helaian daun. Daun yang memiliki ibu tulang daun tepat membagi helaian daun menjadi dua disebut daun simetris, misalnya daun sri rejeki (Aglaonema sp.) dan bila tidak membagi helaian daun menjadi dua bagian yang sama disebut daun asimetris, misalnya daun begonia (Begonea sp.)

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 15 2. Tulang-tulang cabang (nervus lateralis), adalah seluruh cabang dari ibu tulang daun.

Tulang cabang yang langsung berasal dari ibu tulang daun disebut cabang tingkat 1, tulang cabang dari tulang tingkat 1 disebut tulang cabang tingkat 2, dan seterusnya.

3. Urat daun (vena), adalah tulang daun yang amat kecil. Urat daun ini dapat membentuk jalinan urat daun terbuka dan membentuk jalinan urat daun tertutup.

Gambar 2.5 Ochrea dan Ligula

a. Ochrea pada Polygonumsp., b1. Ligula berbentuk membrane pada Poaannua, b2.

Ligula berbentuk bulu pada Phragmites communis.

Berdasarkan arah tulang-tulang cabang, maka susunan tulang daun dapat dibedakan menjadi :

1. Tulang daun menyirip (penninervis), bila tulang-tulang cabang keluar dari ibu tulang daun ke arah samping sehingga kelihatan seperti sirip ekor ikan (Gambar 2.7a), misalnya susunan tulang daun manga (Mangifera indica L.).

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 16 2. Tulang daun menjari (palminervis), bila beberapa tulang-tulang daun keluar dari ujung

diskal tangkai daun sehingga kelihatan seperti jari-jari pada tangan (Gambar 2.7b), misalnya susunan tulang daun pepaya (Carica papaya L.)

3. Tulang daun sejajar atau pararel (rectinervis), bila tulang-tulang daun keluar dari pangkal ibu tulang daun kemudian membentang hamper sejajar dan akhirnya bertemu lagi di ujung daun (Gambar 2.7c), misalnya daun bambu (Bambusa sp.)

4. Tulang daun melengkung (cervinervis), seperti tulang daun sejajar tetapi arah tulang-tulang daun melengkung (Gambar 2.7d), misalnya susunan tulang daun gadung (Dioscorea hispida Dennst.)

Gambar 2.6 Susunan tulang daun

a.Jenis-jenis tulang daun, b. Daun simetris, c. Daun asimetris

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 17 Gambar 2.7 Macam-macam susunan daun

a.Penninervis, b. Palminervis, c. Rectrinervis, d. Cervinervis.

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 18

3. Perkembangan Daun

Daun dewasa berkembang dari bakal daun (primordium daun) yang berupa tonjolan kecil pada bagian apeks pucuk batang (Gambar 2.8). Sel-sel meristem apeks pucuk membelah dan membesar sehingga tumbuh bertambah tinggi. Setelah mencapai ketinggian tertentu akan dibentuk bakal daun yang berikutnya. Proses ini berulang terus. Urutan pembentukan dan posisi bakal daun akan memberikan filotaksis yang khas pada tumbuhan. Bagian pangkal bakal daun tumbuhan dikotil terbatas posisinya pada sebagian besar apeks batang. Dengan demikian, bakal daun tumbuhan dikotil mirip pasak dan pada tumbuhan monokotil mirip kerah yang mengelilingi bahkan sampai menutupi meristem apeks. Bakal daun akan tumbuh karena aktivitas meristem yang terdapat pada bakal daun itu sendiri.

Mula-mula meristem apeks daun aktif sehingga daun betambah tinggi. Setelah aktivitas meristem apeks mereda, maka meristem interkalar yang terletak pada bagian pangkal aktif memperpanjang daun. Helaian daun yang pipih dan lebar disebabkan oleh aktivitas meristem marginal dan meristem papan. Apabila meristem marginal hanya aktif pada tempat-tempat tertentu disepanjang sumbu daun, maka pada bagian yang aktif tersebut akan menghasilkan tonjolan seperti halnya bakal daun, dan akan berkembang menjadi anak daun dengan cara yang sama seperti daun tunggal. Dengan demikian akan terbentuk daun majemuk. Ibu tulang daun menjadi lebih tebal dari helaian daun karena aktivitas meristem adaksial. Jika meristem adaksial tetap aktif sementara meristem marginal tidak aktif maka daun memipih dalam bidang vertikal sehingga terbentuk daun ensiformis (seperti pedang).

Bagian yang aktif dari bakal daun pada tumbuhan dikotil dan tumbuham monokotil berbeda. Bagian bawah bakal daun tumbuhan dikotil akan berkembang menjadi pangkal daun dengan daun pemumpu jika ada, sedangkan bagian atas bakal daun berkembang menjadi helaian daun. Aktivitas meristem interkalar dan meristem adaksial memisahkan helaian daun dari pangkal daun dengan terbentuknya tangkai daun yang silindris. Pada tumbuhan monokotil seluruh helaian daun, tangkai daun serta pelepah, jika ada dibentuk oleh bagian bawah dari bakal daun. Bagian atas bakal daun menghasilkan ujung daun samping. Pada pisang tampak ujung tersebut berwarna coklat serta sering melingkar.

Dalam perkembangan daun, kadang-kadang terdapat sel daun yang mati, seperti pembentukan lubang daun pada Araceae, misalnya daun Monstera deliciosa Liebm, dan beberapa daun palma

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 19

4. Morfologi Helaian Daun

Dalam mendeskripsikan daun satu jenis tumbuhan biasanya dipertelakan karakter-karakter seperti berikut.

 Bentuk helaian daun (circumscription)

 Ujung helaian daun (apex)

 Pangkal helaian daun (basis)

 Tepi helaian daun (margo)

 Tekstur helaian daun

 Permukaan helaian daun

 Bentuk helaian daun (circumscription)

Bentuk helaian daun dapat ditentukan dengan mengamati letak bagian terlebar pada helaian daun dan memperhatikan ratio antara lebar dengan panjang helaian daun.

Bagian terlebar berada ditengah-tengah helaian daun

1. Bangun bulat (orbicularis), bila panjang : lebar = 1:1 dan ujung distal tangkai daun melekat pada bagian dasar helaian daun (Gambar 2.9a), misalnya pada daun Manihot utilissima Grants.

2. Bangun perisai (peltatus), bangun daun bulat tetapi ujung distal tangkai daun melekat pada bagian agak ke tengah helaian daun (Gambar 2.9b), misalnya pada daun teratai (Nymphaea sp.).

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 20 Gambar 2.8 Bagan perkembangan daun

a.Pucuk dikotil, b. Pucuk monokotil, c. Daerah meristematik sehelai daun sedang berkembang yang dilihat dari atas, d. Penampang melintang

gambar bagan c, e. Daun majemuk

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 21 3. Bangun jorong (ovalis) atau elips (elipticus), bila panjang : lebar = 1,5-2 : 1 (Gambar 2.9c)

misalnya pada nangka (Artocarpus integra Merr.).

4. Bangun memanjang (oblongus), bila panjang : lebar = 2,5-3 : 1 (Gambar 2.9d) misalnya daun sirsak (Annona squamosal L.).

5. Bangun lanset (lanceolatus), bila panjang : lebar = 3-5 : 1 (gambar 2.9e) misalnya pada daun kenyiri (Nerrium oleander L.)

Gambar 2.9 Circumscriptio : bagian terlebar berada ditengah-tengah helaian daun a. Orbicularis, b. peltatus, c. ovalis, d. oblongus, e. lanceolatus

 Bagian terlebar berada di bawah tengah-tengah helaian daun

Bangun daun yang memiliki bagian terlebar berada di bawah tengah-tengah dapat dibedakan dalam dua kelomok, yaitu :

a. Bagian pangkal daun tidak berlekuk. Dalam kelompok ini di kenal bentuk daun sebagai berikut.

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 22 1. Bangun bulat telur (ovatus), Gambar 2.10a, misalnya pada daun cabe rawit (Capsicum

frutescens L.).

2. Bangun segitiga (triangularis), berbentuk segi tiga sama kaki, Gambar 2.10b, misalnya pada daun kembang pukul empat (Mirabilis jalapa L.).

3. Bangun delta (deltoideus), berbentuk segi tiga sama sisi, Gambar 2.10c, misalnya pada daun air mata pengantin (Antigonom leptopus L.).

4. Bangun belah ketupat (rhomboideus), bangun segi empat yang sisinya tidak sama panjang, Gambar 2.10d, misalnya anak daun bagian ujung daun bangkuang (Pachyrrhizus erosus Urb.)

b. Bagian pangkal daun berlekuk. Dalam kelompok ini termasuk bangun daun seperti berikut :

1. Bangun jantung (cordatus), seperti segitiga, tetapi bagian pangkal melekuk, Gambar 2.11a, misalnya pada daun waru (Hibiscus tiliaceus L.).

2. Bangun ginjal (reniformis), bentuk seperti ginjal, ujung disal maupun sisi-sisinya semua tumpul, Gambar 2.11b, misalnya daun kaki kuda (Cantela asiatica Urb.).

3. Bangun anak panah (sagitatus), segitiga dengan ujung distal dan dua kedua ujung kaki runcing, Gambar 2.11c, misalnya daun Sagitaria sagitifolia L.

4. Bangun tombak (hastatus), seperti bangun anak panah tetapi bagian pangkal daun di kanan kiri tangkai daun mendatar, Gambar 2.11d, misalnya pada daun enceng besar (Monocharia hastate Solms.).

5. Bangun bertelinga (auriculatus), seperti bangun tombak, tetapi pangkal daun di kanan kiri tangkai daun membulat, Gambar 2.11e, misalnya daun sempuyung (Sonchusasper Vill.)

Gambar 2.10 Circumscriptio : bagian terlebar berada di bawah tengah-tengah helaian daun dan bagian pangkal daun tidak berlekuk. a. ovatus, b. triangularis, c. deltoideus, d.

rhomboideus.

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 23 Gambar 2.11 Circumscriptio : bagian terlebar berada di bawah tengah-tengah helaian daun

dan bagian pangkal daun berlekuk. a. cordatus, b. reniformis, c. sagitatus, d. hastatus, e.

auriculatus.

 Bagian terlebar berada di atas tengah-tengah helaian daun

1. Bangun bulat telur terbalik (obovatus), seperti bulat telur tetapi bagian yang terlebar terdapat dekat ujung daun, Gambar 2.12a, misalnya daun sawo kecik (Manilkara kauki Dub.).

2. Bangun jantung terbalik (obcordatus), Gambar 2.12b, misalnya pada anak daun semanggi gunung (Oxalis corniculata L.).

3. Bangun segi tiga terbalik (curneatus), Gambar 2.12c, misalnya pada anak daun semanggi (Marselia crenata Presl.).

4. Bangun sudip (spathulatus), bentuknya seperti spatula dengan bagian distal lebar dan meramping ke dasar, Gambar 2.12d, misalnya daun tapak liman (Elephantopus scaber L.).

 Bagian terlebar hampir sama diseluruh bagian daun

1. Bangun garis (linearis), daun panjang dan penampang melintang daun pipih, Gambar 2.13a, misalnya daun rumput teki (Cyperus rotundus L.).

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 24 2. Bangun pita (ligulatus), seperti daun bangun garis, tetapi lebih panjang dan lebih lebar,

Gambar 2.13b, misalnya daun jagung (Zea mays L.).

3. Bangun pedang (ensiformis), seperti bangun garis tetapi pada bagian tulang daun tengah tebal dan bagian tepi lebih tipis, Gambar 2.13c, misalnya daun nenas sebrang (Agave sisalana Perr.).

4. Bangun paku (subulatus), bentuk daun kecil, agak pipih, kaku dengan ujung daun runcing, dan panjangnya kurang dari 12 mm, Gambar 2.13d, misalnya daun Araucaria cunninghamii Ait.

5. Bangun jarum (acerosus), seperti jarum, kecil, panjang dan ujung meruncing, Gambar 2.13e, misalnya daun Pinus merkusii Jungh & De Vr.

 Ujung helaian daun (apex)

Bentuk-bentuk ujung daun yang sering dijumpai adalah:

1. Runcing (acutus), tepi daun secara perlahan ke arah ujung membentuk sudut yang runcing, Gambar 2.14a, misalnya ujung daun kenyiri (Nerium oleander L.).

Gambar 2.12

Circumscriptio: bagian terlebar berada di atas tengah-tengah helaian daun. a. obovatus, b.

obcordatus, c. cuneatus, d. spathulatus.

Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 25 Gambar 2.13

Circumscriptio: bagian terlebar hampir sama diseluruh helaian daun. a. linearis, b. ligulatus, c. ensiformis, d. subulatus, e. acerosus.

1. Meruncing (acuminatus), seperti ujung runcing, tetapi sudut yang dibentuk diujung daun lebih kecil dan panjang, Gambar 2.14b, misalnya ujung daun kamboja (Plumeria acuminate Ait.).

2. Bersungut (aristatus), tulang daun tengah melewati ujung daun, sehingga tampak seperti sungut (bristle), Gambar 2.14c, misalnya ujung daun vinca (Lohnera rosea Rchb.).

3. Tajam (cuspidatus), ujung daun tajam dan kaku, Gambar 2.14d, misalnya ujung daun lidah

3. Tajam (cuspidatus), ujung daun tajam dan kaku, Gambar 2.14d, misalnya ujung daun lidah

Dalam dokumen Morfologi_Tumbuhan.pdf (Halaman 6-0)